
" Ada apa Bude? Ada rahasia apa yang tidak aku ketahui selama ini?" Dirga terus mendesak Bude Arum untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Akhirnya Bude Arum menceritakan apa yang terjadi enam tahun lalu saat orang tua Dirga beserta tunangannya itu menemui Kirania. Termasuk saat Kirania langsung kesulitan bernafas saat harus menerima keputusan itu.
" Waktu itu mama dan tunangan Nak Dirga datang ke rumah Bude, mereka meminta Rania untuk menjauhi Nak Dirga, itulah alasannya kenapa Rania memutuskan untuk berpisah dengan Nak Dirga." Bude Rania menjelaskan tanpa ada yang ditutupi. Pun hari-hari penuh kesedihan yang dilalui Kirania setelah putus dari Dirga
" Mama? Nadia?" Wajah Dirga langsung memerah menahan marah, deru nafasnya mulai tak beraturan turun naik. Tangannya saat ini mencengkram kencang stir mobilnya. Kalau saja tidak ada yang mesti dia urus di sini rasanya dia ingin langsung menemui kedua orang yang bertanggung jawab atas retaknya hubungan asmara dirinya dan Kirania, dan melampiaskan amarahnya kepada kedua orang itu.
" Bude harap, Nak Dirga bisa menerima keputusan dari Rania. Mereka mungkin sudah bertunangan sekarang. Dua keluarga sudah sepakat untuk menjalin silaturahmi. Jika Nak Dirga bersikeras menggagalkan rencana pertunangan, bukan hanya memutuskan hubungan Rania dan Nak Gilang, tapi berpotensi merusak atau memutuskan tali silaturahmi kedua keluarga. Jadi Bude mohon sama Nak Dirga, agar Nak Dirga bisa berlapang dada dan mengikhlaskan Rania untuk mencari kebahagiannya dengan Nak Gilang."
Dirga menarik nafas yang seketika terasa sesak di dadanya. Tentu saja sangat berat untuknya melepas wanita yang dicintainya untuk pria lain. Dan yang menyesakkan adalah, jika memang dia tidak berjodoh dengan Kirania, kenapa dia mesti dipertemukan kembali dengan Kirania setelah terpisah jarak dan waktu yang cukup lama.
Beberapa menit sebelumnya di dalam rumah Kirania ...
" Ran, kamu kenapa?" Gilang langsung melingkarkan lengannya di pinggang Kirania saat terlihat wanita itu agak limbung.
" Ng-nggak apa-apa, Kak." sahut Kirania mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.
" Ada apa di luar ribut-ribut?" Pak RT langsung berdiri mencoba menengok ke arah luar.
" Biar saya saja yang lihat, Pak RT. Silahkan acaranya dilanjut saja." Bude Arum bergegas meninggalkan ruangan.
" Gimana, acaranya bisa dilanjut sekarang?" tanya Om Malik.
" Dilanjut saja, Om," pinta Gilang yang menyadari kedatangan Dirga akan membahayakan posisinya jika dia tidak segera mengikat Kirania.
" Ya sudah, kalau begitu silahkan kalian bertukar cincin. Ananda Gilang silahkan pasangkan cincinnya di jari Ananda Kirania, begitupun sebaliknya." Om Malik menuntun apa yang harus dilakukan kedua pasang muda mudi di hadapannya.
" Silahkan Ananda Gilang terlebih dahulu," ucap Om Malik kembali.
Gilang pun mengambil cincin yang disodorkan Mbak Wulan. Kemudian tangan kirinya meraih tangan kiri Kirania.
" Bismillahirrohmanirrohim ..." ucap Gilang mantap menyematkan cicin untuk Kirania di jari manis tangan kiri wanita itu.
" Alhamdulillah, sukses ya, Mas Gilang masukinnya, pas ukurannya." Pak RT berkelakar yang disambut tawa beberapa orang di sana.
" Sekarang giliran Ananda Kirania, silahkan memasang cincin ke jari Ananda Gilang," ujar Om Malik memerintahkan keponakannya untuk mengambil cincin dan menyematkan cincin pertunangannya.
Dengan pandangan nanar Kirania menatap satu buah cincin yang disodorkan Mbak Wulan.
__ADS_1
" Ayo, Ran. Pasangkan ke Gilang." Suara Mbak Wulan membuyarkan Kirania yang sedang termangu.
Dengan tangan sedikit bergetar Kirania meraih cincin itu dan perlahan mengarahkan ke jari manis Gilang. Kirania menaikan pandangannya ke arah wajah Gilang yang kini tengah memandangnya dengan penuh cinta, senyum terus mengembang di bibir pria itu.
Kirania memejamkan matanya, saat itu tiba-tiba rasa sesak menjalar di sekitar dadanya. Dia tidak bisa berputar arah, ini sudah keputusannya. Apapun yang akan terjadi, semoga dia tidak menyesali keputusannya.
Akhirnya dengan perlahan Kirania menyematkan cincin pertunangan dirinya bersama Gilang di jemari manis pria itu, yang langsung disambut ucapan syukur semua anggota keluarga.
***
Dirga mengendarai kendaraannya kembali ke Jakarta dengan kesetanan. Tujuan utamanya saat ini adalah menemui mamanya. Sesampainya di rumah mamanya, dia keluar dari mobil dengan langkah lebar memasuki rumah megah kediaman keluarga Poetra Laksmana.
" Mana mama?" dengan aura kelam di wajahnya Dirga bertanya kepada Bi Mus, ART di rumahnya.
" Mama Mas Dirga ada di taman belakang." Bi Mus menjawab dengan kening berkerut, karena dia melihat amarah di wajah anak majikannya itu.
Dirga berlari menuju taman belakang rumahnya, ternyata mamanya sedang duduk di kursi santai di dekat kolam renang sembari membaca majalah.
" Dirga, kamu mengangetkan Mama." Mama Dirga langsung tersentak saat mendapati Dirga kini berdiri menjulang di depannya.
" Jadi ini yang Mama sembunyikan dariku?" suara Dirga terdengar dingin.
" Kenapa Mama lakukan semua ini ke Dirga, Ma? Kenapa?!" Hardik Dirga seraya menghantamkan tangannya ke meja kaca yang ada di samping mamanya hingga membuat benda yang ada di atas meja itu terpental.
" D-Dirga kamu kenapa, Nak?" Mama Dirga langsung berdiri dan meraih tangan Dirga yang tadi dipakai untuk memukul meja tapi Dirga menepis tangan mamanya.
" Apa Mama puas sudah memisahkan aku dengan Rania? Apa Mama melihat aku bahagia selama ini? Kenapa Mama tega menyuruh Kirania mejauhiku?! Aku sangat mencintai Rania, Ma. Aku sudah tegaskan saat itu, apapun keputusan Mama, aku hanya ingin Rania, bukan yang lain!!" geram Dirga dengan wajah memerah. " Aaarrrgghh ...!!" Dirga menendang kursi yang tadi digunakan mamanya duduk.
" Dirga, maafkan Mama, Nak. Mama salah, Mama terlalu memaksakan kehendak." Mama Dirga menangis sambil memeluk tubuh Dirga melihat anaknya murka.
" Aku sudah kehilangan dia, Ma. Dan itu karena Mama penyebabnya!! Mama tidak memikirkan kebahagian anak Mama, Mama hanya memikirkan kebahagian diri Mama sendiri. Aku yang menjalaninya, bukan Mama!! Mama tega menyiksa aku, Setelah memisahkan aku dan Rania, lalu menyuruh aku menggantikan posisi Bang Bima."
" Mama minta maaf Dirga, Mama minta maaf." Mama Dirga semakin terisak terus memeluk putranya.
" Aku tidak bisa memaafkan Mama, Aku sangat kecewa sama Mama!" Dirga mengurai pelukan mamanya lalu bergegas meninggalkan mamanya yang terus saja menangis.
***
" Papa ..." Kehadiran Dirga di rumah yang ditempati Nadia langsung disambut Kayla yang berlari ke arahnya dengan membentangkan kedua tangan mungilnya. Mendapati gadis kecil itu tentu saja amarah Dirga seketika menguap. Meskipun Kayla bukanlah darah dagingnya tapi Dirga sangat menyanyangi anak itu seperti anak sendiri, karena bagaimanapun juga gadis mungil itu berdarah Poetra Laksmana.
__ADS_1
" Kayla, mama mana?" tanya Dirga mengusap lembut kepala Kayla.
" Mama pelgi cama Ongkel Do," jawab Kayla.
" Pergi sama Uncle Edo? Ke mana?"
" Kela nda tau, Pa." Kayla mengedikkan bahunya. " Pa, kata Onty Nomi, Papa mau celai cama mama, celai itu apa, Pa?" tanya Kayla dengan wajah polosnya menatap ke arah Dirga.
Dirga langsung terkesiap mendengar perkataan Kayla tadi.
" Kak Dirga, Kak Dirga ada di sini?" tanya Naomi yang tiba-tiba muncul di hadapan Dirga.
" Kakakmu mana?" tanya Dirga dingin.
" Kak Nadia sama Bang Edo bukannya mau menemui Kak Dirga? Memang kalian belum ketemu ya?"
" Bertemu denganku? Ada apa?" selidik Dirga.
" Ingin memberitahukan jika Kak Nadia bersedia bercerai dengan Kak Dirga."
Hati Dirga setika mencelos, ini yang dia harapkan sejak bertemu dengan Kirania kembali. Tapi apa sekarang itu masih penting? Karena harapannya untuk bisa bersama wanita yang dicintainya itu telah pupus. Saat ini wanita itu sudah menjadi tunangan pria lain.
*
*
*
Bersambung
R : Eh, Thor ... di cerita² sinetron tuh ya, kalo tunangan gini, kalo pacarnya datang tuh tunagannya jadi batal. Ini kok kenapa malah tetap tunangan, sih?! Bisa ga bikin cerita yang nyenangin readers, ga bikin readers kesal, ga bikin readers eskimo eh esmosi?!
A : Ini kan bukan sinetron, Kak. Apalagi sinetron Ikan Terbang yg kumenangis ... 😁😁😁
R : Sakarepmu lah, apa jare bae 😏🙄
A : Kakakakakakkkkabuuuuuurrr
Happy Reading❤️
__ADS_1