
Kirania berjalan bolak-balik di kamarnya dengan sesekali mengusap tengkuknya yang tidak terasa gatal. Sejak dia mengetahui jika adiknya itu berbohong padanya juga Mama Saras, seketika itu juga pikirannya mendadak tak tenang. Ada apa sebenarnya dengan Karina? Apa yang terjadi dengan Karina sampai harus berbohong seperti ini? Di mana Karina sekarang? Itulah beberapa pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.
" Kamu sedang apa?" tanya Dirga yang baru saja memasuki kamar setelah menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya.
" Aku masih mencemaskan Karina," keluh Kirania. " Apa teman Abang sudah memberikan kabar lagi tentang Karina? Apa nggak Abang hubungi saja teman Abang itu, siapa tahu sudah dapat kabar lagi soal Karina."
" Kalau Rizal sudah dapat kabar terbaru, pasti dia cepat hubungi aku, Sayang." Dirga membalas ucapan Kirania. " Kemarilah, duduk sini." Dirga kemudian menuntun Kirania untuk duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengannya.
" Kamu ingin aku selalu jujur ke kamu, kan? Tidak menutupi permasalahan dan selalu terbuka sama kamu?" tanya Dirga, sementara tangannya merapihkan rambut Kirania ke belakang telinga.
" Iya, aku ingin Abang selalu jujur sama aku." Kirania menganggukkan kepala.
" Aku tadi sebenarnya nggak ingin memberitahu kamu soal Karina, karena aku tahu kamu pasti akan senewen seperti ini. Aku tahu rasanya gelisah saat orang yang kita sayangi menghilang tanpa kabar, pasti sangat cemas. Maka dari itu awalnya aku nggak berniat menyampaikan soal kebohongan Karina ke kamu. Tapi karena pertimbangan butuh informasi tentang teman-teman Karina makanya aku kasih tahu kamu. Karena itu kamunya mesti tenang. Serahkan padaku urusan mencari Karina, kau hanya cukup berdoa supaya adikmu baik-baik saja dan tidak sedang dalam masalah." Dirga berusaha menasehati, karena dia sendiri pun pernah merasakan kegusaran yang sama saat beberapa kali harus kehilangan Kirania.
" Kamu jangan terlalu stress mikirinnya." Dirga langsung merengkuh tubuh Kirania dan menyandarkan kepala istrinya itu di bahunya. Dia membelai lembut kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
***
" Kamu suka?" tanya Gilang saat mengajak Karina ke arah balkon. Di sana sudah tersedia meja dan kursi dan beberapa makanan dan minuman yang disajikan lengkap dengan dua buah lilin yang diletakan di dalam candle holder dan setangkai mawar merah yang diletakan di tepi meja mempermanis candle light dinner yang sudah disiapkan Gilang untuk Karina.
" Ya ampun, Kak. Kakak menyiapkan ini untuk aku?" Karina nampak surprise dengan apa yang disiapkan Gilang untuk dirinya.
" Suka?"
" Banget, Kak. Makasih Kak Gilang sudah repot-repot menyiapkan ini." Karina tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
" Duduklah ..." Gilang menarik kursi dan mempersilahkan Karina untuk duduk.
" Terima kasih, Kak." Karina pun menuruti apa yang diperintahkan Gilang.
" Sudah makan?"
Karina menggeleng cepat. " Belum, Kak."
" Makanlah kalau begitu, Ratih sudah membuatkan chicken berbeque dan cheese cake dan juga orange squash " Gilang menunjuk ke arah menu makanan dengan arahan matanya.
" Wah, ini Mbak Ratih sendiri yang membuatnya? Sepertinya enak." Karina yang memang belum sempat makan sore tergugah untuk menyantap makanan itu. Namun tiba-tiba sekelebat keraguan muncul di hatinya, sehingga dia tidak segera mengambil makanan yang sudah tersaji.
" Kenapa? Katanya belum makan." Gilang merasa heran karena Karina tidak juga mengambil makanan ke dalam piringnya.
" Apa kamu berpikir aku memasukkan sesuatu dalam makanan dan minuman ini?" sindir Gilang.
__ADS_1
" Ah, oh ... nggak kok, Kak. Aku nggak berpikir sejauh itu." Karina segera mengambil chicken barbeque dan beberapa french fries dan segera menyantapnya setelah membaca doa terlebih dahulu di dalam hatinya.
" Kamu di sini menginap di mana?" tanya Gilang.
" Di hotel xxx ..." Karina menyahuti.
" Keluarga kamu tahu kamu ke sini?"
Karina menelan salivanya saat Gilang menanyakan hal itu. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
" Mama nggak tahu aku kemari menemui Kak Gilang," ucap Karina pelan.
" Kenapa? Kenapa kamu nggak cerita pada mamamu?"
" A-aku takut mama marah," lirih Karina.
" Pekerjaan kamu gimana? Sudah berapa lama kamu ada di Jakarta ini?"
" Aku cuti kerja, Kak. Aku sudah tiga hari ini di Jakarta."
" Kamu di sini ada keperluan lain atau sengaja ingin bertemu saya?" selidik Gilang kemudian.
" Soal perkataanmu tempo hari, bahwa kau menyukai saya, maksudnya apa?"
Karina melirik ke arah Gilang yang sedang menatapnya lekat dengan kedua tangan bertautan menyanggah wajah tampan di hadapannya itu.
" I-itu, i-iya aku suka Kak Gilang." Karina berkata lirih seraya menggigit bibir bagian bawahnya.
" Kamu benar menyukai saya atau hanya kasihan terhadap saya?"
" Tidak, Kak. Aku benar-benar suka sama Kakak, tapi Kak Gilang lebih menyukai Mbak Rania." Kembali Karina berbicara sejujurnya membuat Gilang terdiam beberapa saat.
" Maaf kalau aku lancang mengatakan hal itu terhadap kakak." lanjut Karina saat dilihatnya Gilang hanya terdiam tak bereaksi apa-apa dengan pengakuannya hanya terus menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti Karina.
" Makanlah, habiskan makanannya," perintah Gilang kemudian, dia sendiri pun kemudian menyantap makanan yang tersaji di meja.
Setelah setengah jam berlalu berbincang dan menyantap menu candle light dinner, Gilang mengajak Karina kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia mengarahkan Karina untuk duduk di sofa besar yang ada di ruang kerjanya itu.
" Kau bilang kau siap menerima hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh kakakmu? Kenapa kamu mau melakukan hal itu?" tanya Gilang saat mereka sudah terduduk di sofa dengan Gilang yang menyandarkan kepalanya di punggung sofa dan tangannya memainkan rambut Karina dan menyampirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu.
Sontak sikap Gilang itu kembali membuat jantung Karina berdetak lebih kencang padahal saat dinner tadi dia bisa lebih rileks meskipun tak pernah lepas dari pandangan mata Gilang.
__ADS_1
" I-itu karena aku mencintai Kak Gilang. Seperti yang aku katakan kalau aku menyukai kakak, karena itu aku bersedia menggantikan posisi Mbak Rania." Karina mencoba menetralisir gelenyar aneh setiap kali Gilang menyentuh bagian dari tubuhnya.
" Apa kau yakin akan mau menerima apapun hukuman yang saya berikan?" Kini giliran punggung jari Gilang yang menyentuh pipi berkulit halus Karina.
" I-iya, Kak." Mendapati sikap Gilang yang lembut terhadapnya malam ini, Karina tidak berpikir Gilang akan mencelakakannya karena itu dia menjawab pertanyaan Gilang bahwa dia siap menerima hukuman apapun juga.
" Tidak akan menyesal?"
" Tidak, Kak." Karina menggelengkan kepalanya.
Gilang diam beberapa saat sebelum akhirnya berucap, " Saya menginginkanmu malam ini, apa kamu bersedia melakukannya?"
Deg
Jantung Karina seakan berhenti berdetak, nafasnya pun seketika terasa sesak saat mendengar permintaan Gilang. Karina kini menatap takut ke arah Gilang, dia bahkan berkali-kali harus menelan salivanya saat harus bertatap mata dengan pria yang sejak dulu dia pendam rasa sukanya itu.
" Apa kamu bersedia?"
Pertanyaan Gilang kembali membuat dada Karina bergemuruh. Dia bingung harus menjawab apa, dia seperti terjebak dalam masalah yang dia buat sendiri.
" Kalau kau tidak yakin bisa menerima hukuman dari saya, sebaiknya kamu pulang saja." Gilang beranjak bangkit dari sofa namun tangannya terlebih dahulu dicengkram Karina.
" A-aku bersedia, Kak."
*
*
*
Bersambung ...
A : Nah, loh. Kalau udah begini siapa yg salah?
R : Salah Othor lah salah Othor, kenapa coba bikin ceritanya kaya gini?
A : Wkwkwkwkkkaaabuuurrr
Apa yg akan terjadi selanjutnya? Apakah dewa penolong akan datang? Iiisshh ga mungkinlah, dia lagi sibuk ama Mami Tata🤭. Atau Ricky yg muncul sebagai penyelamat? Apa Rizal yg menolong? Atau mungkin Abang sendiri yg menyelamatkan adik ipar? Atau ... sebaiknya tunggu aja kemunculan bab berikutnya?😁😁
Happy Reading❤️
__ADS_1