RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Boss Menyebalkan


__ADS_3

Kirania memperhatikan langkah Dirga yang sedang menarik koper warna pink miliknya. Entah akan dibawa ke mana dirinya saat ini. Yang pasti sepulang dari kantor, bosnya itu menyuruh dia mengambil barang-barangnya yang ada di apartemen.


" Pak, kenapa saya tidak tinggal di sini saja?" Kirania terlihat keberatan harus berpindah tempat tinggal.


" Sudah jangan memprotes!" sergah Dirga memasukan koper milik Kirania ke dalam bagasinya.


" Tapi saya mau dibawa ke mana, Pak?" tanya Kirania.


" Kamu maunya saya bawa ke mana? KUA?"


Kirania langsung mendelik saat mendengar kata terakhir yang diucapkan Dirga.


" Jika Bapak berniat berpoligami, carilah wanita lain. Saya tidak berminat jadi pelakor." sungut Kirania kesal, yang dibalas seringai tipis oleh Dirga.


Kurang lebih sejam kemudian, mobil yang dikendarai Dirga berhenti di sebuah basement bangunan apartemen mewah. Dan Dirga membawa Kirania ke bangunan tower satu lantai sepuluh. Dirga kemudian membuka pintu dengan access card salah satu unit apartemen di lantai sepuluh itu.


" Mulai sekarang kamu tinggal di sini." Dirga memasuki apartemen itu.


Kirania melangkahkan kakinya dengan ragu. Dia meperhatikan ruangan apatemen yang terkesan mewah untuknya. Ruangan yang luasnya mungkin sekitar empat kali lipat kamar apartemen yang sebelumnya di tempati. Dengan masing-masing ruangan terpisah dengan dinding.


" Apa ini tidak berlebihan untuk saya, Pak?" Kirania merasa sebagai karyawan biasa apalagi baru seminggu bekerja, fasilitas yang diberikan Dirga sangatlah tidak pantas diterimanya.


" Apa yang sudah Dirgantara putuskan, tidak ada seorang pun yang bisa menentangnya. Termasuk pemilihan tempat tinggal yang akan kamu tempati," tegas Dirga.


" Tapi saya tidak enak dengan karyawan lain, Pak. Apa jadinya jika mereka tahu saya mendapatkan fasilitas seperti ini? Saya juga tidak enak dengan istri Bapak. Saya takut istri Bapak akan menuduh saya yang tidak-tidak," ungkap Kirania cemas.


Dirga diam sesaat, biasanya apapun yang dikatakan Kirania, dia selalu merespon dengan cepat.


" Ikut ke kamar sebelah." Setelah meletakkan koper Kirania di ruang tidur, Dirga melangkah keluar ruang apartemen yang akan ditempati Kirania.


Kirania yang bingung pun akhirnya mengikuti arah langkah Dirga yang berjalan ke apartemen sebelah.


" Saya tinggal di sini selama ini, jadi jika saya membutuhkan kamu, kamu tinggal melangkah ke sebelah."


Kirania membelalakkan matanya saat mengetahui dirinya dan Dirga bersebelahan kamar apartemen. Apartemen milik Dirga lebih luas, karena dua unit menjadi satu, yang dilengkapi dengan fasilitas sistem smart home.


" Bapak dan keluarga Bapak tinggal di sini? Apa tidak jadi masalah jika saya tinggal di sebelah Bapak? Saya tidak enak dengan is ...."


" Saya tinggal sendiri di sini." Dirga memotong kalimat Kirania.

__ADS_1


" Lalu istri dan anak Bapak?" Kirania menanyakan dengan sangat hati-hati.


" Kamu kepo sekali sama kehidupan saya?" sindir Dirga.


Kirania menghela nafas sesaat mendengar sindiran Dirga. " Saya 'kan tadi sudah bilang, Pak. Kalau saya tidak enak dengan istri Bapak kalau beliau sampai tahu Bapak memberikan fasilitas ini terhadap saya." Dengan sedikit menggerutu Kirania membalas sindiran Dirga tadi.


" Mereka tidak tinggal di sini, kamu tenang saja. Mereka tidak akan tahu jika kamu berniat menggoda saya." Dirga menyeringai sehingga membuat Kirania mencebikkan bibirnya.


Tapi dalam hati Kirania bertanya-tanya, kenapa anak dan istri Dirga tidak tinggal bersama dengan Dirga? Kenapa mereka tinggal terpisah dari Dirga? Apakah rumah tangga Dirga tidak berjalan harmonis? Apakah Dirga dan istrinya kini telah bercerai? Kirania sampai mengeryitkan keningnya memikirkan hal itu.


" Hayo, sedang mikir apa?"


Suara Dirga ditelinga Kirania membuat dia terkesiap.


" Kenapa mereka tidak tinggal bersama Bapak di sini?" Demi apapun juga Kirania meruntuki dirinya yang entah karena dorongan apa berani melontarkan pertanyaan itu.


Dirga terkekeh mendengar pertanyaan Kirania tadi.


" Kamu beneran kepo rupanya."


" Maaf atas kelancangan saya. Lupakan saja, anggap saya tidak bertanya seperti tadi." Wajah Kirania dibuat bersemu, karena dia ketahuan seperti orang yang penasaran dengan kehidupan pribadi Dirga.


" Kehidupan rumah tangga saya selama ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami memang tinggal saling terpisah sejak lama," ungkap Dirga.


Sebenarnya Kirania ingin tahu siapa istri dari bosnya itu, tapi tidak mungkin dia tanyakan tentang hal itu.


" Bapak mempunyai anak perempuan yang sangat cantik, lucu dan cerdas. Biasanya seorang Papa itu sangat dekat dengan anak perempuannya. Apa Bapak tidak merindukan anak Bapak jika harus tinggal terpisah seperti ini?" tanya Kirania penasaran.


" Kamu lakukan saja tugas kamu, tak perlu turut campur tentang urusan saya itu. Sekarang kamu kembalilah ke kamarmu." Dirga memerintahkan Kirania kembali ke kamarnya, tanpa menjawab pertanyaan yang Kirania lontarkan.


" Maaf, Pak. Permisi ..." Kirania akhirnya pergi meninggalkan Dirga menuju kamar apartemennya.


Sesampainya di kamarnya Kirania membuka ponselnya, ternyata ada pesan dari mamanya yang belum sempat dia baca.


" Assalamualaikum, Ran. Kamu jadi pulang sore ini? Nanti kalau sudah sampai stasiun Cirebon kasih kabar, biar Mama suruh Karina jemput kamu."


Itu isi pesan Mama Saras. Kirania memang sempat bilang kepada mamanya jika dia akan kembali ke Cirebon hari ini. Tentu saja dia tidak memberitahukan alasannya kenapa, dia pikir nanti saja sesampainya di kota asalnya itu dia akan menceritakan apa permasalahannya.


Dengan cepat Kirania menghubungi mamanya itu. Dia berniat mengabari mamanya jika dia tidak jadi kembali ke kampung halamannya.

__ADS_1


" Halo Assalamualaikum, Ma," sapa Kirania kepada Mama Saras saat sambungan teleponnya terhubung.


" Waalaikumsalam, kamu sudah di kereta ini, Ran? Perkiraan sampai sini jam berapa?" sahut Mama Saras dari seberang.


" Maaf, Ma. Rania nggak jadi pulang ke sana."


" Lho, memangnya kenapa?"


" Rencananya 'kan Rania disuruh mengerjakan sesuatu di sana sama atasan Rania, Ma. Tapi ternyata cancel, nggak jadi, Ma," ucap Kirania berbohong seraya menggigit bibirnya. "Maaf, Rania mesti bohong, Ma." batin Kirania.


" Tapi kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" Sepertinya Mama Saras menyadari ada hal yang tidak beres yang menimpa anak sulungnya.


" Rania baik-baik saja kok, Ma. Mama nggak perlu khawatir, ya." Kirania mencoba menenangkan kegelisahan mamanya.


" Tapi di tempat kerja kamu yang baru, orang-orangnya semua pada baik 'kan sama kamu, Nak? Atasan kamu juga semua baik-baik 'kan orangnya?"


Kirania mengambil nafas sejenak. " Semua baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir, deh." Kirania kembali berdusta. Seandainya bisa, dia rasanya ingin menceritakan kondisi yang dia hadapi saat ini. Tapi tidak.mungkin juga dia menceritakan masalah sebenarnya karena dia tak ingin membuat mamanya cemas.


" Ya sudah kalau begitu, kamu sudah isya?" tanya Mama Saras kemudian.


" Belum, Ma. Ini Rania baru sampai apartemen."


" Ya sudah kamu mandi, terus sholat jangan lupa, ya. Assalamualaikum ..." Mama Saras mengakhiri obrolannya.


" Waalaikumsalam ..." Kirania kemudian menutup panggilannya.


Selepas membersihkan diri dan melaksanakan sholat Isya, Kirania berniat mengistirahatkan tubuhnya di atas spring bed berukuran king size, namun selularnya tiba-tiba saja berbunyi.


Kirania meraih ponselnya, dan pesan masuk dari kontak Boss menyebalkan yang masuk ke chat WhatsApp nya, karena tadi siang Dirga meminta nomer teleponnya dan menyuruh dia menyimpan nomer telepon pria itu di kontak ponselnya.


" Aku lapar, cepat kemari. Buatkan aku makanan."


Kirania membelalakkan matanya membaca isi pesan yang Dirga kirimkan untuknya.


Bersambung ...


" Pak, Bapak Mau makan apa? Mau saya campur sianida di makanannya, Pak."😂


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2