RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kirania Yang Tersulut Emosi


__ADS_3

Dengan mengumpat Kirania melangkahkan kaki ke kamar sebelah. Dia bahkan menekan bel terus menerus tak berhenti hingga Dirga membukakan pintu apartemennya.


" Sabar, dong! Kamu pikir saya The Flash yang bisa bergerak cepat?!" gerutu Dirga membuat Kirania mendengus kesal.


Bisa-bisanya pria itu marah karena Kirania tak henti memencet bel. Lalu bagaimana dengan pria itu yang dengan seenaknya menyuruh dirinya menyiapkan makanan.


" Nih, kamu pegang access card apartemen saya ini. Jadi kalau lain waktu saya butuh kamu, tidak perlu pencet-pencet seperti tadi," ketus Dirga menyodorkan kartu akses kepada Kirania. " Password-nya kosong sembilan, kosong enam, sembilan empat."


Kirania tercenung mendengar angka-angka yang disebutkan Dirga sebagai password pintu apartemen Dirga, karena itu adalah angka tanggal lahir dirinya. Dia menghela nafas karena Dirga ternyata masih saja mengingat tanggal lahirnya.


" Kenapa malah melamun? Bukannya cepat siapin makanan," tegur Dirga membuat Kirania terkesiap.


" Memangnya Bapak mau makan apa?" tanya Kirania.


" Carilah di dapur, apa yang bisa kamu masak," sahut Dirga mendudukkan tubuhnya di sofa dengan kaki selonjor ke atas meja.


" Kenapa tidak order online saja sih makanannya?" protes Kirania.


" Saya mau makan masakan kamu." Dirga kemudian serius dengan laptop di pangkuannya .


" Kenapa tidak minta istri Bapak saja yang disuruh masak?" Kirania terus saja memprotes.


Dirga melirik ke arah Kirania. " Ck, kamu banyak sekali protes, cepat masak! Jangan buat saya semakin lapar dengan segala ocehan kamu itu."


Kirania mendengus kesal seraya melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dia membuka kulkas, ternyata isi dalam kulkas pintu empat itu cukup penuh dengan bahan makanan. Kirania kemudian melirik arah magic com yang menyala. Tidak mungkin seorang Dirgantara melakukan ini sendiri, bahkan untuk menyetok bahan makanan. Apa ada orang lain di apartemen ini? Atau ada pegawai apartemen yang mengurus keperluan Dirga? Tiba-tiba Kirania teringat Ibu Ima, yang mengurus apartemen yang dulu dia tempati.


" Mau masak apa memang malam-malam begini? Nasi goreng saja kali, ya?" Kirania berkata sendiri, kemudian mengambil bahan-bahan yang tersedia. Cabe, bawang, baso, sosis, telur, sayuran pokcoy dan sepiring nasi yang dia takar untuk makan Dirga.


Sepuluh menit kemudian, Kirania sudah menyelesaikan masakannya dan menyediakan sepiring nasi goreng itu di atas meja, ditambah potongan tomat dan taburan bawang goreng.

__ADS_1


" Makanannya sudah matang, Pak," kata Kirania memanggil Dirga untuk menuju meja makan. Dirga pun segera menaruh laptopnya di meja lalu beranjak menuju ruang makan.


" Baunya sih sedap, ntah rasanya seperti apa?" Dirga mengomentari nasi goreng yang ada di hadapannya. " Ini tidak ada racunnya, kan?"


Kirania mendelik kesal. " Kalau saja tadi saya lihat ada racun di sini, pasti saya tambahkan di makanan itu," ketus Kirania membuat Dirga terkekeh.


" Saya permisi ..." Kirania hendak pamit kembali ke kamar apartemennya tapi suara Dirga menahannya.


" Mau ke mana?"


" Saya mau kembali ke kamar."


" Duduk! Saya belum menyuruh kamu pergi."


" Tapi, Pak ...."


" Saya bilang duduk!"


" Yang suruh kamu duduk di situ siapa? Duduk di sini." Dirga menunjuk dengan matanya kursi di sebelah Dirga.


" Nih ..." Dirga menyodorkan satu sendok nasi goreng ke arah mulut Kirania saat Kirania telah duduk.


Kirania mengeryitkan keningnya sembari memandangi Dirga dan sendok berisi nasi itu bergantian.


" Kamu 'kan yang masak, jadi kamu yang mesti coba makanan aman tidak untuk saya makan. Kalau kamu menolak, artinya ada yang tidak beres dengan makanan ini."


Akhirnya dengan sangat terpaksa Kirania membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dirga. Tanpa menunggu reaksi Kirania seperti apa, dia langsung menyendok kembali nasi itu kemudian dimasukan ke mulutnya sendiri. Setelah itu Dirga kembali menyuapkan nasi ke arah Kirania.


" Nasinya aman, saya rasa cukup sekali saja saya ikut mencicipinya." Kirania menolak suapan kedua dari Dirga.

__ADS_1


" Bantu habiskan nasinya, kamu tahu 'kan porsi makan saya tidak sebanyak ini." Dirga memaksa Kirania untuk menerima suapannya. Akhirnya sepiring nasi goreng itu tandas tak tersisa oleh Kirania dan Dirga yang memakannya bergantian layaknya sepasang kekasih.


" Besok pagi setelah Shubuh kamu harus sudah ada di sini. Bangunkan saya, siapkan setelan baju yang akan saya pakai dan siapkan sarapan buat saya. Seperti itu tugas kamu tiap paginya."


Kirania memicingkan matanya demi mendengar perintah Dirga yang harus dia kerjakan setiap pagi.


" Apa saya harus melakukan itu, Pak?"


" Tentu saja, itu perintah saya."


" Maaf, Pak. Saya rasa apa yang Bapak perintahkan itu tidak sesuai dengan pekerjaan saya." Dengan tegas Kirania menolak tugas yang diberikan Dirga kepadanya.


" Kamu menentang saya?"


" Saya akan menentang pekerjaan tak masuk akal yang Bapak berikan kepada saya." Dengan nada ketus Kirania berucap sementara dadanya terasa bergejolak.


" Kamu tahu apa konsekuensi yang akan kamu terima jika menentang saya?!" geram Dirga karena Kirania selalu saja menentang keinginannya.


Ucapan Dirga semakin membuat emosi Kirania yang tersulut semakin meledak-ledak. " Bapak Dirgantara yang terhormat. Jangan merasa karena Bapak berkuasa, lantas Bapak bisa seenaknya bersikap semena-mena terhadap saya! Bapak sengaja menjebak saya dengan kontrak yang tidak masuk akal itu. Kenapa Bapak tidak memperlakukan saya selayaknya seorang karyawan? Jika Bapak ingin dilayani seperti itu, kenapa tidak meminta kepada istri Bapak sendiri? Kenapa malah saya yang mesti Bapak korbankan? Kenapa Bapak merendahkan saya seperti ini? Saya punya harga diri, Pak. Saya tidak terima bapak menginjak-injak harga diri saya." Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya mengalir deras di pipinya. " Saat ini juga saya resign dari pekerjaan saya. Saya tidak punya uang untuk membayar ganti rugi atas kerugian yang telah saya buat terhadap perusahaan Bapak. Jika Bapak ingin mempidanakan saya ke jalur hukum, silahkan! Lakukan sesuka hati Bapak!" Dengan dada yang terasa sesak dan nafas tersengal Kirania berusaha terus berucap.


Kirania mengambil access card yang tadi Dirga berikan kepadanya dan menaruh kartu itu di atas meja. " Berikan ini kepada istri Bapak, dia yang seharusnya pantas menerima ini, bukan saya!" Kirania lalu berhambur keluar apartemen Dirga dan memasuki kamar apartemennya.


Kirania menangis tersedu di balik pintu sembari menyandarkan tubuhnya yang semakin lama semakin luruh jatuh ke bawah. Kirania memeluk lututnya sambil terus menangis hingga membuat bahunya berguncang.


" Ya Allah, bantu hamba keluar dari lingkaran ini." Kirania kembali tenggelam dalam tangisannya. Dia merasa sakit hati dengan perlakuan Dirga seperi tadi. Apa pria itu tidak memikirkan akan pandangan negatif orang-orang terhadap Kirania. Apa yang akan orang katakan jika mereka tahu dia harus melayani tugas yang sepantasnya dilakukan seorang istri terhadap suaminya. Apa Dirga tidak memikirkan bagaimana jika orang mencemoohnya karena dia harus melayani seorang pria beristri? Mengingat semua itu Kirania kini menenggelamkan wajahnya di atas lutut yang kini sedang dipeluk oleh kedua tangannya.


Bersambung ...


Terima kasih buat yang udah meramaikan di komen, di GC juga di IG yang mau gabung grup silahkan masuk aja ya, yg mau gabung di ig silahkan follow rez_zha29 jangan lupa baca novel aku lainnya juga ya. soalnya tiap-tiap novel saling berkaitan🙏

__ADS_1



Happy Reading ❤️


__ADS_2