RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tempat Berkeluh Kesah


__ADS_3

Kirania termangu mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Dirga. Matanya kini menatap Dirga yang tengah menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. Sungguh menyebalkan menurutnya, bisa-bisanya pria itu menanyakan hal seperti itu kepadanya. Padahal justru pria itulah yang selama ini seolah membelenggunya dengan kisah mereka yang belum tuntas, atau bisa dibilang dipaksa berpisah karena kemauan orang tua dan mantan kekasih Dirga saat itu.


" Apa bedanya dengan Bapak? Bapak sendiri sudah menikah, kenapa masih belum bisa menerima dan mencintai istri Bapak? Kenapa Bapak masih saja bersikukuh mengejar masa lalu Bapak?" sindir Kirania telak membuat Dirga langsung tergelak tak mengucapkan alasan yang sesungguhnya kenapa dia tidak bisa menerima Nadia karena dia memang belum bisa melepaskan rasa cintanya terhadap Kirania.


" Kalau saja dulu kamu tak meminta putus dariku, mungkin saat ini kamu bisa seperti teman-teman kamu itu. Mungkin saat ini kita sudah bisa punya dua atau tiga anak." Perkataan Dirga yang sedang berandai-andai tentu saja langsung membuat wajah Kirania seketika bersemu. " Aku masih nggak mengerti, kenapa kamu dulu meminta kita pisah? Apa aku punya salah sama kamu? Atau, kamu masih belum yakin kalau aku benar-benar mencintaimu? Apa kamu masih meragukan keseriusanku, Rania?" tanya Dirga kemudian.


Kirania mengerjapkan matanya, seandainya dia mampu dan punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. ingin rasanya dia mengadu dan langsung menangis di pelukan pria pujaan hati yang ada di hadapannya saat ini. Ingin dia mengungkapkan bahwa Mama Dirga dan Nadia lah yang memintanya untuk meninggalkan kekasih hatinya itu.


" Tidak usah mengingat hal itu lagi," ucap Kirania cepat menangkis pertanyaan Dirga. Dia tak ingin Dirga terus menyelidikinya hingga membuatnya secara tak sengaja menceritakan yang sebenarnya kepada pria yang dia cintai itu. " Terima kasih untuk makan malamnya. Dan sepertinya saya nggak akan pulang ke apartemen malam ini, saya ingin tidur di sini saja bersama keluarga saya." lanjutnya.


" Okelah, ayo aku antar ..." Dirga pun mempersilahkan Kirania jalan terlebih dahulu di depannya.


" Rania, sedang apa kamu di sini?"


Kirania menghentikan langkahnya saat suara yang dia kenal menyapanya saat mereka hendak keluar restoran.


" Kak Gilang?" Kirania membelalakkan matanya saat melihat Gilang kini muncul di hadapannya, seketika itu juga dia melirik ke arah Dirga yang langsung memandang dengan tatapan tajam ke arah Gilang. Baik Dirga maupun Gilang sama-sama terperanjat ketika saling bertemu.


" K-kak Gilang. ada di sini juga?" tanya Kirania seketika mendadak kikuk.


" Iya, aku ada meet up sama salah seorang nasabah." Gilang menatap penuh selidik ke arah Dirga. Saat itu juga, dua orang pria yang sama-sama sedang berusaha mendekati Kirania saling beradu pandang dengan sorot mata saling menebar aura permusuhan.


" Kamu sedang ada acara apa di sini?" tanya Gilang menatap penampilan Kirania yang malam itu menggunakan gaun dibawah lutut dengan tangan sebatas siku berwarna rose gold yang terlihat sangat cantik. Gilang menyadari jika acara yang dihadiri Kirania bukanlah acara biasa.


" Hmmm, i-iya ... aku tadi habis makan malam sama mama, bude sama Karina juga tadi," ucap Kirania jujur.


" Mama kamu ada di sini? Mana?" Gilang langsung mengedar pandangan ke seluruh sudut ruang restoran.

__ADS_1


" Ayo, aku antar kamu kembali ke tempat." Dirga yang merasa terusik dengan kehadiran Gilang langsung meraih tangan Kirania dan menautkan jemarinya dengan jari jemari berkulit halus dan menarik tangan Kirania agar segera pergi dan menjauh dari Gilang.


" Kak aku duluan," seru Kirania sebelum akhirnya dia berjalan meninggalkan Gilang yang hanya diam termangu dengan kepergian Kirania.


" Dia sekarang ada di kota ini?" tanya Dirga dengan nada suara setengah emosi.


" I-iya , dia pindah tugas jadi kepala cabang Bank xxx di sini."


Dirga menghentikan langkahnya kemudian menatap dengan sorot tajam. " Kamu sering berkomunikasi dengan dia?"


" Iya, kemarin kami beberapa kali bertemu."


" Kamu sering ketemuan sama dia?" Dirga tersentak.


" Iya, tapi itu juga nggak disengaja. Waktu saya menginap di hotel kebetulan Kak Gilang juga menginap di hotel yang sama."


Kening Dirga semakin berkerut. " Kalian menginap di hotel yang sama? Trus kalian sering ketemuan?"


" Dengar, mulai sekarang aku tak akan mengijinkan kamu untuk berhubungan lagi dengan pria itu atau dengan Edo! Kamu mengerti?!" Dirga mencengkram kedua lengan Kirania.


" Bapak nggak berhak melarang saya berhubungan dengan siapapun. Bapak mesti ingat kalau status saya itu masih karyawan Bapak!" Kirania menjadi kesal karena Dirga yang dengan seenaknya membatasi gerak-geriknya.


" Aku nggak bermaksud melarang, aku cuma ingin membatasi agar pria-pria itu nggak terus-terusan mengganggu kamu." Dirga berkelit. " Aku nggak ingin mereka beranggapan kamu memberi harapan ke mereka jika kamu terlalu dekat dengan mereka." Dirga beralasan agar Kirania mengerti akan maksudnya.


" Ayo, kita ke kamar mamamu." Dirga mengakhiri perdebatan lalu kembali menggenggam tangan Kirania dengan erat dan membawanya ke arah lift menuju kamar yang dia sewa untuk keluarga Kirania.


***

__ADS_1


Satu malam sebelumnya ...


" Sedang apa kamu di sini?" tanya seorang pria pada wanita yang baru saja ditolongnya.


Wanita itu yang adalah Nadia mendegus saat mendapati pria yang tadi menolongnya. " Bukan urusanmu aku sedang apa di sini."


Pria penolong itu terkekeh menanggapi jawaban Nadia. " Apa kamu tidak takut akan anggapan orang-orang, lebih tepatnya anggapan kaum sosialita teman-temanmu jika mengetahui seorang Nyonya Dirgantara Poetra Laksmana sedang menyendiri di sebuah club malam?" sindir pria itu.


" Kalau kau ingin mencemoohku seperti itu, sebaiknya kamu menyingkir dari sini!" ketus Nadia.


" Oh, come on, babe ... aku baru saja menolongmu, kan?"


Nadia menoleh sebal ke arah pria penolongnya tadi. " Bagiku kamu sama saja dengan pria breng*sek tadi, sama-sama menggangguku!" Nadia langsung menengguk minuman dalam gelasnya hingga tandas.


" Sejak kapan kamu suka minum-minuman seperti ini? Apa ada sesuatu yang sedang membuatmu gelisah hingga membuatmu lari ke minuman?" Pria itu mencegah Nadia yang terlihat hendak menuang kembali minuman beralkohol itu ke dalam gelasnya.


" Ck, kamu bisa nggak? Jangan ganggu aku, hahh??" Nadia terlihat membentak. " Aku mau mabuk atau nggak itu bukan urusanmu!!" Nadia seketika terisak pilu.


' Hei, ada apa? Ada masalah apa sebenarnya? Kau bisa cerita padaku." Pria itu mencoba menenangkan Nadia yang kini menelungkupkan wajahnya di atas meja. " Jika kau butuh seseorang yang ingin kau ajak bicara, aku bisa mendengarkannya. Jika kau punya beban pikiran yang menyesakkan di hatimu, kau bisa berbagi denganku, siapa tahu aku bisa membantumu. Jangan memendam segala permasalahan sendirian. Kau butuh tempat untuk mengeluarkan segala keluh kesahmu, Nadia. Ceritakanlah, ada masalah apa? Apa ini bersangkutan dengan rumah tanggamu?"


Bersambung ...


Readers said ; Thor, up lagi dong penasaran, nih.


Othor said ; Ayo dong, kasih like kasih komen,


NT/MT said ; Yuk, komen agar Author update lagi

__ADS_1


Tuh kan NT/MT juga nyuruh 😂


Happy Reading❤️


__ADS_2