
Dirga berhenti tepat di belakang Kirania berdiri. Dengan mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Kirania dia berbisik " Kenapa belum menikah? Apa kamu tidak bisa move on dari mantan kamu dulu?"
Deg
Suara dan hembusan nafas Dirga di telinga Kirania seketika membuat darah Kirania berdesir, terlebih lagi dengan kalimat terakhir yang diucapkan Dirga kepadanya. Kirania memejamkan mata dan menelan salivanya, karena tindakan yang baru saja dilakukan Dirga. Kirania yakin Dirga tahu kalau telinga adalah adalah salah satu titik lemah dirinya, sehingga apa yang dilakukan Dirga bahkan membuatnya merinding hingga menegakkan bulu kuduknya.
Kirania menghela nafas perlahan. " Maaf, Pak. Sebenarnya maksud Bapak meminta saya menghadap ke sini itu karena apa? Saya rasa apa yang Bapak tanyakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan." Kirania tak menggubris pertanyaan Dirga.
" Kamu lupa kalau saya ini bos di sini? Saya punya hak menanyakan pertanyaan apa saja kepada karyawan saya." Dirga kini kembali melangkah menuju kursi kebesarannya. " Jawab saja pertanyaan saya!"
" Masalah saya belum menikah, mungkin memang belum rejeki saya, dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan saya move on atau tidak dari mantan saya," tegas Kirania melirik sebal ke arah Dirga yang sedang menyeringai.
Dirga tak membalas perkataan Kirania. Dia justru asyik menatap lekat wanita cantik di hadapannya ini tanpa berkedip. Wanita yang dulu sempat menggetarkan jiwa dan raganya. Wanita yang dulu membuatnya sanggup melakukan hal-hal konyol. Wanita yang membuat dirinya kehilangan jati dirinya sebagai seorang Dirgantara.
" Jika tidak ada lagi yang ingin Bapak sampaikan sebaiknya saya kembali ke tempat saya, Pak." Karena Dirga tak juga bersuara akhirnya Kirania berinisiatif untuk pamit. Karena dia sendiri merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu oleh Dirga yang notabene adalah bosnya terlebih lagi pria itu adalah mantan terkasihnya.
" Kamu sepertinya tidak betah berada dalam ruangan saya. Padahal saya belum menyampaikan tujuan saya memanggil kamu kemari," ujar Dirga.
" Lalu apa alasan Bapak memanggil saya kemari? Apa ada hubungannya dengan apa yang terjadi dengan anak Bapak tadi?" Kirania berusaha lepas dari intimidasi yang dilakukan Dirga terhadap Dirga.
Dirga sedikit terkesiap saat Kirania menyinggung tentang anak tadi. " Kamu benar sekali. Kamu tadi sudah membuat Kayla ketakutan dan menangis. Kamu tahu, saya tidak pernah mentolerir siapapun juga yang mengusik Kayla, apalagi sampai membuat dia ketakutan seperti tadi."
Kirania mengangkat wajahnya ke arah Dirga. " Apa artinya Bapak ingin memecat saya?"
" Kenapa tidak? Saya bisa pecat siapa saja orang yang mengusik keluarga saya, termasuk kamu." Dengan sangat angkuh Dirga berkata sembari menaikkan sedikit dagunya ke atas.
Kirania berkali-kali harus menelan salivanya menghadapi pria yang sedari awal kenal memang sering membuatnya kesal.
" Saya rasa alasan Bapak terlalu berlebihan jika menganggap saya bersalah dalam hal ini. Lagipula saya sudah sampaikan tadi saat Pak Leo bertanya, jika saya hanya berniat menolong anak Bapak. Tidak ada sedikit pun niat jahat di hati saya untuk menakuti apalagi mencelakai anak Bapak." Sanggah Kirania.
__ADS_1
" Oh, jadi kamu ingin saya berterima kasih sama kamu, karena kamu merasa telah menolong Kayla, begitu?"
" Saya tidak mengharapkan itu, Pak. Saya hanya berharap Bapak bisa bijak dalam mengambil keputusan."
" Kamu mengajari saya?!" Dirga meninggikan nada suaranya membuat Kirania kembali harus menelan salivanya karena harus berdebat dengan Dirga yang kini menjadi atasannya.
" Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengajari Bapak. Saya hanya tidak ingin Bapak berburuk sangka terhadap saya. Bukankah seharusnya Bapak mencari bukti terlebih dulu sebelum menuduh saya melakukan kejahatan seperti yang Bapak tuduhkan tadi."
Dirga menautkan alisnya, dia tidak menduga jika Kirania akan berani menangkis setiap perkataannya yang menyudutkan wanita itu. " Kamu tahu, kamu satu-satunya karyawan yang berani berkata lantang dan membangkang terhadap saya."
Kirania menoleh ke arah Dirga. " Terima kasih, Pak. Saya tersanjung dengan predikat yang baru saja Bapak berikan kepada saya." Kirania menjawab dengan mengembangkan senyum sinis di sudut bibirnya, membuat Dirga terkesiap.
Dirga sungguh tidak menyangka wanita yang ada di hadapannya sekarang ini sungguh jauh berbeda dengan wanita yang dia kenal dulu. Kirania yang ada di hadapannya saat ini terlihat sangat percaya diri, tidak mudah diintimidasi dan pembangkang, sama sekali tidak dijumpainya Kirania yang cengeng yang selalu bersikap insecure.
" Apa ada hal lain lagi yang ingin Bapak sampaikan kepada saya?" tantang Kirania penuh percaya diri. " Jika tidak ada, saya permisi untuk kembali ke tempat." Kirania sedikit menundukkan sedikit badannya berpamitan.
" Baiklah, kembalilah ke tempatmu dan segera bereskan barang-barangmu di sana," tegas Dirga.
" Bapak benar-benar ingin memecat saya?" tanya Kirania tak percaya menatap dengan sorot mata tajam ke arah Dirga.
" Kenapa? Keberatan karena tidak bisa berdekatan dengan saya lagi?" tanya Dirga menyindir.
" Maaf, Pak. Jika Bapak ingin memecat saya karena kinerja saya yang buruk, saya masih bisa terima. Tapi jika Bapak ingin memecat saya karena hal yang tidak jelas seperti ini, saya keberatan diberhentikan secara tidak hormat seperti ini," tegas Kirania kesal.
" Tidak jelas katamu? Kayla menangis dan ketakutan, kamu bilang itu tidak jelas?!" Dirga kembali berdiri dan berjalan mendekat ke arah Kirania.
" Bukan begitu maksud saya, Pak." Kirania meralat.
" Bukan begitu maksudnya gimana? Jelas-jelas kamu meremehkan ketakutan Kayla," geram Dirga.
__ADS_1
" Saya minta maaf, Pak." Kirania tertunduk, dia merasa salah menggunakan kata-kata yang tepat menyampaikan maksudnya tadi. " Jika memang keputusan Bapak seperti itu, baiklah ... saya akan segera menuruti apa yang menjadi keputusan Bapak. Permisi, Pak." Kirania berpamitan dan melangkah bagaikan prajurit yang kalah berperang. Dia tidak menyangka pertemuannya dengan Dirga akan sesulit ini dan akhirnya akan menghambat karir yang sudah dia rintis selama lima tahun bekerja di perusahan PT. Angkasa Raya ini.
Sementara di dalam ruangannya Dirga menatap punggung Kirania yang semakin menghilang dari pandangannya. Dia kemudian melangkah mendekati telepon dan menekan extension bagian HRD.
" Hallo, Pak Bildan ... saya minta salinan kontrak kerja atas nama Kirania Ambarwati segera," perintah Dirga kepada Pak Bildan.
" Maaf, Pak. Untuk kontrak kerja karyawan promosi masih dalam proses belum selesai dibuat, Pak. Memangnya ada apa, Pak? Apa ada masalah?" tanya Pak Bildan melalui sambungan telepon.
" Tidak ada, kalau begitu saya minta softcopy nya saja, ada poin-poin yang ingin saya tambahkan dalam kontrak kerja dia."
" Baik, Pak. Nanti saya email ke alamat email Pak Dirga."
" Oke, terima kasih." Dirga lantas mengakhiri penggilan teleponnya.
" Kamu pikir, kamu bisa lepas begitu saja dariku, setelah menyiksaku selama enam tahun ini, Rania?!" gumam Dirga, sembari mengembangkan senyum licik di sudut bibirnya.
Bersambung ..
Bang Dirga kemarin dirimu dicari-cari, dirindukan ditanyain ke mana ga muncul², sekalinya muncul dibully emak² reader 😜😜
#TimDirga
#TimRania
Kalian Tim mana?
Ayo pecinta Bang Dirga intip novelku yang lainnya, yg mau gabung di GC juga silahkan masuk aja.
__ADS_1
Happy Reading❤️