RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Terusik


__ADS_3

Dirga langsung mengeratkan giginya saat mendengar saudara sepupunya itu dengan terang-terangan menyatakan ketertarikannya kepada Kirania, walaupun itu dalam bentuk candaan.


Walaupun Edward lebih banyak mengurus bisnisnya di luar negeri, tapi dulu mereka sekolah di SMA yang sama. Dirga saat mengenal karakter kebanyakan pria-pria di lingkungan keluarga besarnya. Mereka adalah pria-pria pecinta wanita yang selalu gigih mendapatkan apa yang diinginkannya.


" Hey, Sweety ... siapa namamu?" Edward kemudian berjalan mendekati Kirania, membuat Kirania bergerak sedikit menjauh dari posisi Edward.


" Jaga sikapmu! Jangan membuat karyawanku menjadi ketakutan," geram Dirga memperingatkan Edward.


Edward terpingkal mendengar ucapan Dirga. " Apa wajahku sangat menyeramkan sampai membuatmu ketakutan, Sweety?" Edward menatap Kirania, dengan mengedipkan sebelah matanya.


Tentu saja sikap Edward itu semakin membuat dada Dirga bergejolak. Dengan cepat dia melangkah menghampiri Edward, sementara Kirania semakin tak nyaman dengan keberadaan tamu Dirga itu.


" Ada apa kemari?" tanya Dirga dingin.


" Hey, hey, hey ... ada apa ini? Kenapa sambutanmu tak mengasyikan seperti ini? Bukankah kau sendiri yang suruh aku mampir kemari jika aku sampai Jakarta, bro?" Edward menautkan kedua alisnya mendapatkan sambutan berbeda dari sepupunya itu.


Ucapan Edward membuat Dirga terdiam. Dia teringat beberapa hari lalu saat Edward meneleponnya, dia sendiri yang meminta sepupunya itu untuk singgah ke kantornya. Tapi dia tidak memikirkan akan keberadaan Kirania. Kedatangan Edward kali ini benar-benar tak tepat waktu. Dirga langsung melirik Kirania yang berdiri tak jauh darinya masih dengan memeluk nampan di dadanya.


" Kau kembalilah ke pantry, setelah itu bantu pekerjaan Lisna sementara ini." Dirga langsung memberikan perintah, tujuannya tentu saja agar Edward tidak terus menerus menggoda Kirania.


" Baik, Pak."


" Hey, tunggu dulu, kau belum memberitahu siapa namamu, Sweety." Langkah Kirania tertahan oleh ucapan Edward.


" Pak Edward Wiranata, berhentilah menggodanya," ketus Dirga kesal. " Kamu cepatlah keluar dari sini." Dirga menyuruh Kirania pergi.


Kirania mengeryitkan keningnya, kata-kata perintah Dirga terdengar pedas di telinganya. Tapi dia tak terlalu memperdulikan karena dia merasa lebih baik keluar dari ruangan Dirga karena dia merasa tidak nyaman dengan tamu Dirga itu.

__ADS_1


" Maaf, Pak. Permisi ..." Kirania memutar tubuhnya dan segera beranjak meninggalkan dua pria yang masih punya hubungan darah itu


" Hey, ada apa ini? Kau sama sekali tak memberiku kesempatan untuk mengenal asistenmu itu. Apa ada yang kamu sembunyikan? Apa jangan-jangan dia itu wanita simpananmu? Dan posisi Aspri itu hanya kedok untuk menutupi affair kalian?" selidik Edward menyindir membuat rahang kokoh Dirga semakin mengeras.


" Aku rasa kau kemari bukan untuk membahas itu, Edo." Dirga segera menepis apa yang ingin Edward ketahui tentang hubungannya dengan Kirania. " Oh ya, bagaimana bisnismu di luar negeri? Aku dengar kau ingin buka outlet di Filipina?" Dirga mengalihkan pembicaraan seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


Edward pun mengikuti apa yang dilakukan Dirga. " Ya, tentu saja ... bagaimanapun juga leluhur dari mamaku berasal dari sana, jadi aku tak boleh mengabaikannya." Edward menyahuti. " Dia masih single?"


Dirga memicingkan matanya ketika Edward kembali menyinggung tentang Kirania.


" Ayolah, Ga. Kasih aku informasi tentang wanita itu. Dia terlihat sederhana tapi tetap terlihat cantik, Apalagi saat cemberut tadi dia sangat


menggemaskan.." Edward tersenyum membayangkan wajah Kirania yang memberengut tadi.


" Berhenti memikirkan tentang dia!" geram Dirga.


" Sebaiknya kau segera keluar dari sini, nanti kita ketemu di tempat lain saja." Dirga berdiri menyuruh Edward segera meninggalkan ruangannya.


Edward tergelak menanggapi sikap Dirga yang terkesan mengusirnya. " Kau tahu, Bro. Sikapmu ini sangat mencurigakan. Aku semakin tertarik dengan wanita itu."


" Aku peringatkan jangan coba-coba kau berani dekati dia," ancam Dirga dengan sorot mata menghunus tajam.


Edward semakin tergelak. " Ada apa dengan seorang Dirgantara? Selama ini kita tak pernah ribut dalam urusan tentang wanita. Tapi kenapa kali ini kau terlihat marah sekali saat aku tertarik dengan asisten pribadimu itu?" Edward masih tertawa mengejek.


" Cepatlah keluar." Dirga menggerakkan dagunya ke arah pintu, dengan maksud agar Edward segera meninggalkan ruangannya


" Jika kalian tidak ada hubungan spesial, pasti kau tak akan semarah ini. Benar, kan?" selidik Edward pun bangkit dari duduknya. " Dia sangat sederhana, dia tak pantas untuk dijadikan simpanan, Dirga. Sebaiknya berikan dia untukku. Aku akan bisa memberikan tempat yang layak untuk wanita spesial seperti dia."

__ADS_1


" Aku peringatkan sekali lagi, jangan kau coba mengusik dia!" ancam Dirga kembali, dengan tangan langsung mencengkram kerah baju yang dipakai Edward.


" Woi ... santai, bro!" Edward menepis tangan Dirga. " Kita tidak pernah beradu fisik karena memperebutkan seorang wanita, bukan? Siapapun wanita itu untukmu, kamu ingatlah akan satu hal. Statusmu itu pria yang telah menikah, dan aku pria single. Aku pasti lebih layak untuk bisa mendekati dia, bukan?" Edward mengibas bahu Dirga dengan punggung jemari tangannya. " Kau uruslah Nadia, biar aku yang mengurus wanita asisten pribadimu itu." Seringai tipis tercetak di sudut kanan bibir Edward sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Dirga dengan langkah penuh percaya diri. Namun langkahnya terhenti saat melihat Kirania yang sedang duduk di dekat meja Lisna.


" Kita pasti akan bertemu lagi, Sweety." Edward mengerlingkan matanya, membuat Kirania memalingkan wajahnya, malas menanggapi sikap pria itu.


Edward yang melihat sikap acuh Kirania kembali tersenyum menyeringai. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia diacuhkan oleh seorang wanita. Dan inilah yang membuat dirinya semakin merasa tertarik dengan asisten pribadi sepupunya itu.


" Ran, masuk!" tiba-tiba suara Dirga terdengar cukup menyentak, membuat Kirania dan Lisna cukup terperanjat. Kirania pun beranjak menuruti apa yang diperintahkan Dirga, membuat Edward tak berhenti menyeringai. Tak lama pria berwajah tampan blasteran Indonesia - Filipina itu pun berjalan menuju lift.


" Bagaimana kamu bisa bertemu dia?" tanya Dirga menyelidik saat Kiranis telah kembali ke tempatnya.


" Saya tadi satu lift dengan dia," sahut Kirania.


" Jika lain kali kamu bertemu dengannya, sebaiknya kamu segera menghindarinya," ujar Dirga.


" Memangnya dia itu siapa, Pak?" tanya Kirania.


" Dia sepupuku."


Kirania terkesiap mendengar jika pria tadi adalah sepupu Dirga, tak lama dia mendesah. " Pantas saja, setali tiga uang." Kirania bergumam.


" Apa katamu tadi?" Dirga yang mendengar Kirania mengumpat langsung menodongkan pertanyaan.


Kirania langsung membelalakkan matanya, merasa ketahuan sedang mengatai bosnya itu. " Tidak, saya tidak bicara apa-apa, Pak." Kirania langsung berjalan ke arah mejanya. Sedangkan Dirga tetap memperhatikan Kirania. Kedatangan Edward seketika membuatnya terusik. Rasa gelisah pun mulai merayap di hatinya. Tak beda jauh dengan Dirinya begitu juga Almarhum abangnya, Edward adalah sosok pria yang banyak dikagumi kaum hawa. Tak sedikit wanita yang akan bertekuk lutut pada pesona pria berdarah blasteran itu. Walaupun dia yakin jika Kirania adalah wanita yang tidak mudah takluk pada sembarang pria, apalagi selama enam tahun berpisah pun tak membuat wanita itu jatuh hati pada pria lain. Tapi dengan status dirinya yang masih terikat pernikahan dengan Nadia, Kedatangan Edwar bisa saja membuat posisinya saat ini tak aman.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2