RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tidak Seperti Seorang Dirgantara


__ADS_3

Kirania memperhatikan mobil mewah berwarna putih berlogo kuncing besar yang terparkir di depan jalan rumahnya, saat motor yang dia kendarai sampai di rumahnya. Kirania merasa hapal dengan mobil itu. Seketika jantungnya berdebar kencang jika mengingat siapa pemilik mobil itu. Ada apa orang itu kemari? Apa kepergiannya menjauh dari Dirga tak cukup puas untuk wanita itu? Itulah sebagian pertanyaan yang berkecamuk di benak Kirania.


" Mobil siapa itu, Ran?" tanya Mama Saras seraya turun dari jok belakang motor matic yang dikendarai Kirania.


" Hmmm, nggak tahu, Ma." Kirania memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Mama Saras. Dan segera memasukan motornya ke pekarangan rumah setelah Mama Saras membukakan pintu gerbangnya.


Mama Saras hendak menutup pintu gerbang tanpa menguncinya kembali, karena seperti hari-hari biasanya menunggu Karina pulang kerja terlebih dahulu.


" Permisi, Tante ..." Sapa Nadia yang kini sudah berdiri di dekat pintu gerbang.


" Cari siapa, Mbak?" tanya Mama Saras ramah.


Sedangkan Kirania sendiri yang mengenal suara yang menyapa mamanya langsung menolehkan kepala selepas memarkirkan motornya. Wajahnya menegang seketika saat mendapati orang yang dia duga benar adanya.


" Saya mau bertemu dengan Kirania, Tante." Nadia menjawab pertanyaan Mama Saras.


" Rania?" Mama Saras pun kemudian menoleh ke arah putri sulungnya. " Ran, ada yang mencarimu," ucapnya kemudian.


Kirania berjalan perlahan mendekat ke arah pintu gerbang dan dengan suara tercekat di tenggorokan dia menyapa Nadia, " Bu Nadia?"


" Hai, Kirania ..." Nadia tersenyum saat melihat Kirania.


" Kamu kenal, Ran?" selidik Mama Saras saat melihat sikap Kirania nampak kaku menyapa tamunya itu.


" I-iya, Ma."


" Ya sudah, suruh masuk dulu ke dalam. Saya permisi dulu ya, Mbak," Mama Saras tetap ramah saat berpamitan untuk lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.


" Ah, iya, Tante ... terima kasih," sahut Nadia.


" Silahkan masuk, Bu." Kirania mempersilahkan Nadia.


" Makasih ..." Nadia pun mengikuti langkah Kirania.


" Maaf, ada perlu apa Ibu Nadia kemari?" tanya Kirania to the point.


" A-aku minta maaf. Aku minta maaf atas kesalahan yang aku buat sejak enam tahun lalu kepadamu, Kirania. Seperti yang pernah kau katakan kemarin, bahwa aku berharap bisa meluluhkan hati Dirga saat kalian berpisah. Tapi ternyata aku salah."


" Saya sudah melupakan hal itu, dan saya sudah lama memaafkan ibu ..." sahut Kirania menanggapi perkataan Nadia.


" Aku sudah bersedia bercerai dengan Dirga, sebentar lagi aku dan Dirga resmi berpisah."


Deg

__ADS_1


Seperti dihimpit beban yang sangat berat rasanya dada Kirania saat mengetahui hal itu, dan dia dengar sendiri dari Nadia.


" Aku rasa tidak ada lagi hal yang menghalangi kalian untuk bersatu." Nadia menyunggingkan sedikit senyum tipis di bibirnya.


Kirania menelan salivanya. Miris ... disaat Dirga memperjuangkan agar bisa terbebas dari ikatan agar bisa bersama dirinya, tapi dia malah mengikat hubungan lebih serius dengan pria lain.


" Dirga sudah mengetahui jika aku dan Mama Utami yang menyuruh kamu pergi dulu. Karena itu dia marah besar saat mengetahui rahasia itu."


Kirania menoleh ke arah Nadia. Selama ini dia selalu menutup rapat rahasia itu, dia yakin Nadia juga mamanya Dirga tidak mungkin membuka kesalahannya sendiri. Lantas siapa yang membuka rahasia itu.


" Aku mohon kamu bisa kembali dengan Dirga," ucap Nadia kemudian.


Kirania langsung menundukkan kepalanya, sungguh rasanya dia ingin menangis sekencang-kencangnya saat itu juga, mendapati dia tidak mungkin mundur dan mengingkari keputusannya.


" Kalau kamu nggak keberatan, aku mau jemput kamu untuk bertemu Dirga hari ini juga. Kamu mau 'kan Kirania, ikut ke Jakarta? Aku rasa hanya kamu yang bisa menenangkan Dirga saat ini."


Mata Kirania yang seketika berembun tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Dan saat Kirania memejamkan matanya, cairan bening itu langsung berhamburan jatuh tak tertahankan.


" Maaf tapi saya nggak bisa ..." suara Kirania terdengar seperti tercekat.


" Kenapa? Bukankah kamu juga mencintai Dirga? Aku minta maaf jika selama ini menghalangi kalian. Aku rasa ini saatnya kalian bersama."


Kirania menghela nafas yang sungguh terasa susah sekali dihirupnya. " Saat terakhir kali saya bertemu dengan ibu, saya sudah berjanji akan pergi dari kehidupan kalian. Saya berjanji untuk tak lagi terlibat dengan kalian. Dan saya ..." Kirania menjeda ucapannya saat melihat Mama Saras keluar membawakan minuman dan toples makanan di atas nampan.


" Terima kasih, Tante ..." Nadia menyahuti.


Mama Saras walaupun penasaran dengan apa yang terjadi pada Kirania memilih untuk meninggalkan mereka, karena Mama Saras memang tak melihat ada perdebatan atau ribut-ribut dalam obrolan mereka.


" Sebaiknya Ibu Nadia pulang saja." Kirania meminta agar Nadia pergi dan tak membahas lagi masalah yang dibicarakan tadi.


" Tapi aku harus membawa kamu untuk Dirga, Kirania," tegas Nadia.


" Saya nggak bisa, Bu ...."


" Tapi kenapa?"


" Karena saya sudah memutuskan untuk menerima pria lain, dan saya sudah bertunangan dengannya." Kirania memperlihatkan cincin di jari manisnya.


" Apa??"


***


Sementara itu beberapa jam sebelumnya di Jakarta ...

__ADS_1


" Kalian ini bisa kerja atau tidak, hahh?! Percuma saya menggaji kalian besar jika untuk menangani proyek seperti ini saja gagal!!" Bentak Dirga kepada kedua orang karyawannya.


" Saya kasih waktu satu Minggu ini untuk menyelesaikan semuanya. Jika dalam satu Minggu ini kalian tidak bisa mengatasinya, sebaiknya kalian mengundurkan diri atau kalian saya pecat dengan tidak hormat!!" hardik Dirga kembali dengan wajah merah padam.


" B-baik, Pak. Kami akan berusaha mengatasi secepatnya," ucap salah satu karyawan itu.


" Keluar kalian semua !!" usir Dirga geram yang langsung dituruti dua karyawannya tadi.


Dirga kembali ke kursinya seraya memijat pelipisnya.


" Ehemmm ...."


Dirga langsung menolehkan pandangannya saat mendengar orang berdehem. Suara dengusan langsung keluar dari hidungnya.


" Apa masalah apa, sampai kau marah-marah seperti itu, Bro?" tanya Edward kemudian melangkahkan kaki menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya dengan bertumpang kaki.


" Aku kemarin ke apartemenku dengan Nadia tapi kau tak ada. Padahal apa yang ingin kami sampaikan itu sangat penting untuk kelanjutan hubunganmu dengan wanitamu itu."


" Apa yang kalian sampaikan sudah tidak ada gunanya lagi sekarang," tegas Dirga dingin.


" Benarkah? Apa keputusan Nadia untuk bersedia bercerai dengamu itu tidak ada artinya?" sindir Edward yang memang tidak mengetahui jika Kirania telah bertunangan dengan pria lain.


" Apa gunanya status single jika Kirania sudah memilih bertunangan dengan pria lain?!"


" What??" Mata Edward terbelalak lebar. " Kirania bertunangan? Tapi dengan siapa?" Edward kemudian bangkit dan kini berjalan mendekati Dirga dan menarik kursi di depan meja Dirga kemudian duduk di atasnya.


" Tak pentinglah kau tahu dengan siapa, yang pasti sekarang ini aku sudah tidak punya kesempatan untuk bersamanya."


Edward tergelak mendengar ucapan Dirga. " Come on, dude. Kenapa kau ini tidak seperti seorang Dirgantara yang aku kenal?? Mereka baru tunangan, kan? Kau masih punya kesempatan untuk merebutnya dari tunangannya itu."


Dirga mengetuk-ngetuk pena di tangannya ke atas meja seraya menghela nafas yang terasa berat. " Masalahnya aku sudah berjanji pada keluarganya untuk menghormati keputusan Kirania."


" Dan kau akan bertahan dengan janjimu, Bro? Apa kau bahagia dengan keputusan dia? Apa dia juga bahagia dengan keputusan yang diambilnya? Ah, shit!! Kenapa aku dipusingkan dengan masalah yang mestinya dengan mudah kalian selesaikan." Edward menggerutu.


*


*


*


Bersambung ...


Bang Edo, percayalah bukan cuma dirimu saja yang dipusingkan sama masalah mereka,. tapi readers juga, benar, kan?!😁

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2