RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Selamat Bergabung


__ADS_3


Coba dihitung, sudah berapa purnama Bang Dirga ga muncul??šŸ˜‚ (ga termasuk di mimpi)


_________________________________


Mobil yang dikendarai Pak Beni memasuki sebuah area gedung pencakar langit yang tinggi menjulang, entah berapa lantai yang ada di gedung yang Kirania duga apartemen itu.


" Ini alamatnya, Mbak?" tanya Pak Beni selepas mengantar Kirania mengunjungi bekas rumah pakdenya dulu.


" Iya benar, Pak. Sesuai yang diarahkan sama aplikasi waze, kan? Orangnya juga kirim serlok di sini, kok." Kirania langsung menghubungi orang yang sudah berjanji dengannya untuk mengantar dia ke tempat kost dia tinggal.


" Jadi di sini nanti tinggalnya di apartemen, Mbak?" tanya Pak Beni kemudian.


Kirania terkekeh. " Ya nggaklah, Pak. Masa iya tinggal di apartemen, paling juga di mess gitu." Kirania masih menyahuti karena dia belum berhasil menghubungi orang yang sudah berjanji dengannya.


" Assalamualaikum, dengan Pak Adit?" sapa Kirania saat sambungan telepon telah terhubung.


" Waalaikumsalam, iya saya dengan Adit. Ini Mbak Kirania?" jawab suara di telepon itu.


" Benar, saya Kirania yang dari kantor cabang Cirebon, Pak."


" Saya ada di pintu masuk lobby F, ada di sebelah barat, Mbak Kirania bawa kendaraan?" tanya Pak Adit lagi.


" Bawa, Pak."


" Ya sudah, ke arah barat saja, Mbak. Saya menunggu di depan pintu lobby sekarang."


" Baik, Pak. Terima kasih ... Assalamualaikum." Kirania langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mendapatkan balasan dari salam yang diucapkannya.


" Pak, kita ke arah barat pintu masuk lobby F." Kirania lalu memerintahkan kepada Pak Beni.


" Baik, Mbak ..."


Sekitar lima menit berselang Kirania sampai di tempat yang dituju.


" Dengan Mbak Kirania, ya?" sapa seorang pria berumur di atas tiga puluh tahunan menyapa Kirania. " Saya Adit, Mbak." Pria bernama Adit itu mengulurkan tangannya menyalami Kirania.


" Oh, iya saya Kirania." Kirania menerima uluran tangan Adit.


" Barang-barang Mbak Kirania di mana?" tanya Adit karena tidak melihat Kirania membawa koper.


" Barang-barang saya masih ada di mobil, Pak."


" Kalau begitu diturunkan aja, nanti ada yang bantu bawa barang-barang Mbak ke kamar." Adit menerangkan.

__ADS_1


" Ini maksudnya, saya tinggal di sini, di apartemen, Pak?" Kirania dibuat bingung.


" Iya, Mbak. Nanti Mbak Kirania menempati apartemen tipe studio," jawab Adit.


" Oh begitu, sebentar ya, Pak." Kirania kemudian menghubungi Pak Beni untuk kembali ke lobby F, guna mengambil koper-kopernya.


" Apa semua yang dari daerah tinggal di apartemen ini, Pak?" tanya Kirania, saat dia, Adit dan salah seorang pegawai wanita berada di dalam lift menuju lantai tujuh.


" Tidak semua, Mbak. Kebetulan saja Mbak sedang beruntung. Biasanya sih di tempatkan di kos-kosan, cuma kali ini kebetulan kami nggak mendapatkan tempat kost. Dan kebetulan unit tipe studio di apartemen ini ada yang kosong jadi sementara bisa dipakai dulu, sambil kita mencari tempat kost yang cocok dan dekat dengan perusahaan." Adit menerangkan secara detail.


" Apa apartemen ini disewakan, Pak? Kenapa milihnya di apartemen? Apa biaya sewanya nggak terlalu mahal? Apalagi saya ini 'kan termasuk baru di kantor pusat ini."


" Apartemen ini masih milik PT. Angkasa Raya Group kok, Mbak. Jadi ya ... walaupun itungannya sewa, uangnya pasti masuknya ke situ-situ juga." kelakar Adit.


Tak lama kemudian mereka sampai di unit apartemen nomer 7F2. Pegawai wanita bernama Ibu Ima yang membukakan pintu apartemen.


" Silahkan, Mbak ..." Ibu Ima mempersilahkan Kirania masuk.


" Saya antar sampai sini saja ya, Mbak. Nanti biar Bu Ima yang bantu Mbak Kirania. Besok setengah delapan usahakan sudah sampai di kantor ya, Mbak," kata Adit.


" Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Adit."


" Sama-sama, Bu. Saya langsung permisi saja, Assalamualaikum ..." pamit Adit.


" Waalaikumsalam ..." Kirania membalas sebelum akhirnya memasuki unit kamar apartemen itu. Satu ruangan dengan kamar mandi, spring bed, lemari, sofa, kulkas, mini kitchen set dengan kompor tanam, dan balkon kecil untuk menjemur pakaian. Mirip kamar kost tapi dengan tampilan sedikit lebih luas dan terkesan elit.


" Oh iya, Bu."


" Sudah semua, nggak ada barang yang mesti dibawa kemari, Mbak?" tanya Bu Ima lagi.


" Nggak ada kok, Bu. Saya memang nggak banyak bawa barang."


" Ya sudah, kalau begitu saya permisi ya, Mbak. Ini kunci kamarnya." Bu Ima kemudian pamit meninggalkan Kirania sendiri di kamar apartemennya.


Sepeninggal Bu Ima, Kirania segera merekam ruang apartemennya dari sudut ke sudut, kemudian dia mengirimkan video itu ke Mama Saras.


" Rania tinggal di sini sementara waktu, Ma." Kirania mengirimkan pesan itu ke mamanya, tapi tidak langsung ada respon dari mamanya itu. Mungkin saat ini mamanya itu masih repot di toko kelontongnya.


***


Jam setengah delapan tepat Kirania sudah sampai di kantor PT. Angkasa Raya. Kirania kemudian diarahkan ke ruangan bagian HRD, karena dia menunggu arahan dari atasannya, di mana dia akan ditempatkan.


Sekitar hampir satu jam Kirania menunggu dengan sangat jenuh. Dari kantor masih nampak sepi sampai akhirnya ramai karyawan yang datang. Tak sedikit pula karyawan yang memandang ke arahnya dengan sikap yang berbeda. Ada yang tersenyum menyapa, ada juga yang hanya melirik dengan tatapan mata sinis dan meremehkan.


Kirania mencoba mengacuhkan orang-orang meremehkannya. Bukankah dia sudah terbiasa menghadapi orang-orang semacam itu sejak kuliah dulu.

__ADS_1


" Mbak Kirania, silahkan masuk. Pak Bildan sudah menunggu di dalam," ucap seorang karyawan wanita yang bernama Risa di name tag nya.


" Terima kasih, Mbak Risa," sahut Kirania ramah membuat karyawan itu langsung melirik ke name tag nya sendiri.


Kirania kemudian melangkah ke ruang HR Manager. Setelah mengetuk pintu dan mendapat perintah untuk masuk, Kirania pun masuk ke dalam ruangan Pak Bildan yang merupakan HR Manager di perusahaan itu.


" Selamat pagi, Pak. Saya Kirania, dari kantor cabang Cirebon, yang mendapat kesempatan bekerja di kantor pusat ini." Kirania memperkenalkan dirinya kepada pria yang terlihat yang mempunyai fisik tegap meskipun saat ini sedang duduk di depan mejanya.


Pak Bildan, pria yang disapa Kirania itu melirik sebentar ke arah Kirania, sebelum akhirnya menjawab ucapan Kirania. " Oh iya, silahkan duduk."


" Baik, Pak." Kirania menarik kursi dan duduk di hadapan meja kerja Pak Bildan.


Pak Bildan kemudian mengambil file yang merupakan data diri Kirania.


" Kamu salah satu karyawan terbaik yang dipromosikan kantor cabang di Cirebon. Sudah berapa lama kerja di sana?" tanya Pak Bildan.


" Lima tahun, Pak."


" Pernah kerja di mana sebelum gabung di Angkasa Raya?"


" Saya pertama kali kerja di PT. Angkasa Raya ini, Pak."


" Oke-oke, lima tahun bekerja, saat ini menduduki bagian SPV marketing." Pak Bildan menganggukkan kepala. " Jika kamu saya tempatkan di divisi lain apakah kamu bersedia?"


Kirania menatap Pak Bildan, ini salah satu yang dia khawatirkannya. Dia akan ditempatkan di posisi yang berbeda, yang belum dia kuasai sebelumnya.


" Jika kebijakan dari perusahan mengharuskan saya di tempatkan di posisi yang beda dengan posisi saya sebelumnya, saya mesti siap, Pak. Mungkin saya harus lebih banyak belajar dengan divisi yang akan saya tempati nanti. Karena selama ini, saya terbiasa di bagian marketing. Tapi saya siap jika harus dimutasi di divisi lain." Kirania menjawab pertanyaan Pak Bildan setenang mungkin.


" Oke-oke. Saya rasa sebaiknya saya tetap menempatkan kamu di divisi marketing."


Kirania menarik nafas lega mendengar keputusan dari Pak Bildan.


" Kamu jangan kaget jika di sini kamu akan memulai dari awal sebagai staff marketing, ya. Tapi kamu nggak usah khawatir untuk salary ada perbedaan. Selama enam bulan ke depan salary yang akan kamu terima sebesar satu seperempat dari jumlah yang kamu terima di kantor cabang, itu belum termasuk insentif. Untuk fasilitas tempat tinggal juga kami sudah sediakan untuk kamu. Jadi kamu nggak perlu repot bayar kost atau kontrakan. Sejauh ini apa kamu paham?"


" Saya paham, Pak. Terima kasih."


" Baiklah, kalau kamu setuju, untuk kontrak kerja nanti kami buat menyusul." Pak Bildan kemudian berdiri dan mengulurkan tangan menyelamati Kirania. " Selamat bergabung dan berkarir di kantor pusat PT. Angkasa Raya, Kirania," sambungnya kemudian.


Kirania pun ikut bangkit dan menerima uluran tangan Pak Bildan. " Terima kasih, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan dari kantor pusat yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengembangkan karir saya di sini."


Bersambung ...


Kalo ada yang tanya kenapa Othor lebih senang kasih visual tokoh cowok? Karena Othor kan tau, para gadis dan mantan gadis senengnya liat yang cowok yang seger² & bening² šŸ˜‚


Othornya keasyikan memanjakan readers RTB sampe lupa punya novel lain yg brp hari ini ga up🤦

__ADS_1


Happy Readingā¤ļø


__ADS_2