
Sebuah mobil Chevrolet berwarna hitam berhenti di depan rumah kediaman Kirania sekitar pukul setengah sepuluh malam. Gerbang di rumah itu masih terlihat sedikit terbuka dengan ada beberapa orang berbincang di teras rumah.
" Sepertinya benar ini rumahnya, Bro," ujar seorang pria yang memegang kemudi.
" Ya sudah parkir di sini saja," sahut pria satu lagi seraya melepas seat belt yang melingkar di dadanya, kemudian keluar memasuki rumah Kirania.
" Selamat malam, apa benar ini rumah dari Ibu Saraswati?" sapa pria itu kepada dua orang pria yang sedang berbincang di teras itu.
" Benar, maaf ... Bapak siapa ya?" Om Malik yang sedang berbincang dengan Pak RT menjawab pertanyaan pria itu seraya mengeryitkan keningnya memperhatikan dua orang asing yang mempunyai tubuh tinggi dan atletis.
" Saya Rizal dan ini rekan saya Vito, kami Intel, Ibu Saras nya ada, Pak?" Pria yang ternyata Rizal itu memperkenalkan dirinya.
" Oh, ada ... mari silahkan masuk." Om Malik mempersilahkan Rizal dan Vito masuk ke dalam ruangan tamu.
" Mbak, ada tamu orang Intel," ucap Om Malik kepada Mama Saras yang terlihat terduduk lemah dan bersandar di bahu seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya.
" Selamat malam, Bu Saras. Saya Rizal dan ini rekan saya, Vito. Kami ditugaskan Pak Dirgantara untuk mencari keberadaan Mbak Kirania."
Mama Saras langsung menegakkan kepalanya saat mengetahui jika tamunya yang datang adalah orang suruhan Dirga.
" Maaf kalau kami datang kemalaman, karena sore tadi baru diperintahkan Pak Dirga, Jika Ibu tidak keberatan saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan? " kata Rizal kembali yang hanya dibalas dengan anggukkan kepala Mama Saras.
" Bisa Ibu beritahu saya bagaimana kronologis kejadiannya, Bu?" tanya Rizal mulai mengintrogasi.
Mama Saras pun menceritakan dari mulai pamitnya Kirania pulang ke rumah sebelum Dzuhur sampai sepeda motor yang terparkir di halaman dengan gerbang tertutup dan kunci yang tercecer di pelataran.
" Menurut orang yang nongkrong di pos, sempat ada mobil terparkir sebentar siang tadi di rumah sebelah. Posisinya menghalangi penglihatan ke arah pintu gerbang dari arah pos kamling." Om Malik ikut memberikan keterangan.
" Apa di rumah ini atau tetangga sebelah dan depan rumah ada yang memasang CCTV?" tanya Rizal.
" Sepertinya tidak ada." Mama Saras menjawab.
" Kalau sepanjang jalan ini menuju arah jalan besar, apa tidak ada sama sekali yang rumahnya memasang kamera CCTV?"
" Saya tidak tahu, Pak. Mungkin Pak RT tahu, sebentar saya panggilkan." Om Malik kemudian keluar teras memanggil Pak RT.
" Ada apa, Mas?" tanya Pak RT setelah muncul di ruang tamu.
" Sepanjang jalan ini menuju arah jalan besar, apa ada warga Bapak yang rumahnya memasang CCTV?" tanya Rizal.
" CCTV? Ada di rumah ujung pas dekat jalan raya itu." Pak RT menjawab.
Rizal melirik arlojinya yang menunjukkan jam sepuluh lebih.
__ADS_1
" Apa bisa minta bantuannya melihat rekaman CCTV siang tadi ya, Pak? Sudah malam masalahnya."
" Kalau urusannya genting begini, mudah-mudahan sih bisa, Mas. Biar nanti saya bantu bicara." Pak RT menyahuti.
" Baik kalau begitu." Rizal menoleh ke arah Vito. " To, ikut Pak RT lihat rekaman CCTV nya, lihat kira-kira jam berapa Mbak Kirania datang? Lalu amati sekitar jam sebelas sampai selepas Dzuhur lihat mobil warna hitam yang sama, lewat pulang pergi dalam waktu berdekatan," perintah Rizal kepada Vito.
" Oke." Vito menyahuti seraya bangkit. " Mari, Pak. Kita temui si pemilik rumah." lanjut Vito melangkah keluar dibarengi dengan langkah Pak RT.
" Maaf, Bu. Apa selama ini Mbak Kirania pernah berselisih paham atau bersitegang dengan orang lain?" tanya Rizal kembali setelah Vito dan Pak RT meninggalkan rumah Kirania
" Rania anaknya pendiam, dia jarang berinteraksi dengan banyak orang. Saya tidak pernah melihat dia berselisih paham dengan siapapun." Mama Saras menjelaskan. Tapi tiba-tiba Mama Saras teringat akan kedatangan Nadia ke rumahnya. Mama Saras ragu apakah dia harus menceritakan wanita yang Gilang bilang adalah istri Dirga itu kepada Rizal.
" Kenapa, Bu? Ada yang ingin Ibu sampaikan?" Rizal menangkap kegelisahan Mama Saras.
" I-iya, beberapa hari lalu ada tamu dari wanita dari Jakarta."
" Nadia? Skip saja kalau dia. Saya rasa hilangnya Mbak Kirania tidak ada hubungannya dengan dia," ucap Rizal meyakinkan, karena sebelumnya dia sudah mendapat info dari Dirga jika Nadia sempat mengunjungi Kirania dan Dirga juga sudah meyakinkannya jika Nadia tidak terlibat dalam kasus ini.
***
" Bagaimana keadaan dia, Bi?"
Pendengaran Kirania mendengar suara pria dari luar kamarnya berbicara dengan wanita, yang Kirania duga adalah Ibu yang membawakannya makanan.
" Saya mau lihat keadaannya sebentar."
" Mangga, Den."
Tok tok tok
Tak lama pintu pun terbuka seiring berakhirnya suara ketukan pintu. Dan dari balik pintu itu nampak seorang pria berusia di atas tiga puluh tahunan, berwajah tampan bertubuh atletis mengunakan jeans dan jaket denim tersenyum ke arahnya.
" Selamat pagi, Nona Kirania," sapa pria itu tak menghilangkan senyumannya.
Kirania mengeryitkan keningnya. Siapa pria itu? Dia tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya, tapi pria itu mengenal namanya.
" Anda siapa? Kenapa saya dibawa ke sini? Apa mau Anda sebenarnya?" Kirania memberondong pertanyaan kepada pria itu.
" Wah, saya harus menjawab pertanyaan kamu yang mana dulu?" pria itu terkekeh seraya memandang lekat ke arah Kirania.
" Siapa Anda dan apa tujuan Anda menculik saya kemari?!" Kirania terlihat kesal karena pria itu tak langsung menjawab pertanyaannya.
" Kamu orangnya tidak sabaran rupanya."
__ADS_1
" Tuan, apa Tuan tidak sadar jika tindakan Tuan ini adalah suatu tindakan kriminal?" geram Kirania kesal.
Pria itu tersenyum melihat Kirania yang terlihat kesal." Saya tidak menyakiti kamu, kan? Tidak mengikat kamu, tidak juga menaruh kamu di gudang yang kosong. Lagi pula saya hanya menyelamatkan kamu." pria itu dengan santai berjalan ke arah balkon dan duduk di kursi yang ada di balkon membuat Kirania pun mengekorinya tapi memilih berdiri di dekat pintu balkon.
" Menyelamatkan saya? Menyelamatkan saya dari apa?"
" Dari para pria yang mengejarmu." Pria tampan itu kembali mengulum senyuman.
Deg
Kirania menelan salivanya mendengar perkataan pria itu.
" Apa Tuan suruhan dari Pak Dirga? Apa Pak Dirga yang menyuruh Tuan membawa saya kemari?"
" Tidak ada yang menyuruh saya dan saya melakukan ini atas keinginan saya sendiri, bukan atas perintah siapa pun."
" Lantas apa untungnya Tuan menculik saya? Saya tidak kenal siapa Tuan."
" Menculik seorang wanita cantik siapa bilang tidak ada untungnya?" Pria itu berdiri seraya menyeringai lalu berjalan mendekati Kirania, membuat Kirania mencengkram erat kusen pintu itu, apalagi pria itu terus menatapnya dengan lekat membuat Kirania terpaksa menelan salivanya.
" Kamu jangan takut seperti itu, saya hanya akan menjagamu, tak sedikit pun berniat menyakiti kamu." desis pria itu di telinga Kirania, sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam kamar. " Semoga kamu betah di sini." pria itu kemudian beranjak keluar kamar meninggalkan Kirania yang masih termangu hingga akhirnya Kirania tersadar saat terdengar suara pintu ditutup.
Kirania segera berlari menyusul pria tadi. " Tuan tunggu!" teriak Kirania menghentikan langkah pria itu yang sedang menuruni anak tangga.
" Siapa Tuan sebenarnya? Siapa nama Tuan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pria itu hanya tersenyum tak membalas pertanyaan Kirania dan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
*
*
*
Bersambung ...
Readers said : Aduh Thor, nanggung amat kasih taunya, pake ga mau sebut nama lagi. Rasanya pengen ta pites Othor satu ini ... 😂😂
Oh ya Readers Budiman, GA pulsa @50k untuk Kisah Cinta Azzahra udah ditutup ya, buat 5 orang mak² yg ada di list ini silahkan setor nope nya ya 👇
Selamat buat yang menang👏👏
__ADS_1
Happy Reading❤️