
Mobil yang dikendarai Dirga memasuki pelataran rumah Mama Saras setelah pintu gerbangnya dibuka oleh Tante Erlin, istri dari Om Malik, adik dari Papa Kirania.
Selepas membuka seat belt dan pintu mobil, Kirania langsung menghampiri Tante Erlin.
" Tante ...." Kirania mencium punggung tangan Tante Erlin lalu memeluknya.
" Kamu baik-baik saja, Ran?" tanya Tante Erlin merangkum wajah Kirania yang masih terlihat sembab di sekitar matanya karena terlalu banyak menangis kemarin.
" Aku baik-baik saja, Tante. Mama di mana, Tan?" tanya Kirania kemudian.
" Ada di dalam, sejak kamu menghilang mama kamu lebih banyak di rumah. Meskipun dapat kabar dari orang yang membawamu kalau kamu baik-baik saja, tapi mama kamu tetap saja merasa khawatir, Ran." Tante Erlin menceritakan kondisi Mama Saras beberapa hari terakhir ini.
" Rania ke dalam dulu ya, Tan. Mau melihat mama ..." pamit Kirania yang dijawab dengan anggukan kepala Tante Erlin.
Kirania langsung berlari masuk ke dalam rumah mamanya sementara Dirga selepas memarkirkan mobilnya ia lebih dulu menemui Tante Erlin dan menyalami wanita yang baru pertama kali dilihatnya itu.
" Assalamualaikum, Ma ..." teriak Kirania saat dia memasuki rumahnya. Tapi dia tak menjumpai mamanya di ruang tamu. Lalu dia melangkah menuju kamar mamanya, tak juga ditemui sosok wanita nomer satu yang paling disayanginya.
" Ma ..." Kirania langsung menuju arah dapur dan akhirnya dia temukan mamanya yang baru saja mematikan kompor.
" Rania??" Mama Saras nampak terkejut dengan kemunculan Kirania.
Kirania langsung berlari dan memeluk tubuh mamanya. " Ma, maafin Rania, Ma. Hiks ... Rania yang salah. Rania yang sudah bikin kekacauan ini, Ma ..." Kirania langsung terisak di pelukan Mama Saras.
Tangan Mama Saras membelai kepala Kirania penuh kasih sayang. " Sudah, sudah ... jangan menangis, semua sudah terjadi." Mama Saras mengurai pelukannya.
" Rania terlalu gegabah mengambil keputusan itu, Ma. Rania nggak berpikir sampai sejauh ini." Kirania masih tersedu, dia benar-benar menyesali, apa yang telah dia lakukan bisa mencoreng nama baik keluarganya yang selama ini sangat dipandang baik oleh masyarakat sekitar.
" Nanti kita bicarakan ini baik-baik. Kamu sama siapa?" tanya Mama Saras.
" Kak Dirga, Ma."
" Ya sudah, kita bicarakan sama-sama masalah ini," ujar Mama Saras.
Mereka berdua pun melangkah ke ruang tamu menemui Dirga yang sudah menunggu di sana dan berbincang dengan Tante Erlin.
" Ma ..." Dirga langsung bangkit dari duduk menghampiri Mama Saras dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
" Wajah kamu kenapa?" tanya Mama Saras saat mendapati wajah lebam Dirga.
Dirga melirik ke arah Kirania, nampak wanita itu langsung menggigit bibirnya.
" Biasalah Ma, kerjaan anak laki-laki ya seperti ini." Dirga menanggapi santai.
__ADS_1
" Dengan Gilang?" Mama Saras sepertinya sudah bisa menebak.
" Apa yang Dirga rasa ini nggak sebanding dengan apa yang akan Dirga dapatkan dari anak Mama nanti," Masih sempat-sempatnya Dirga menggoda Kirania, membuat wajah Kirania yang tadinya menegang kini terlihat bersemu.
" Mama tidak menyangka jika akan seperti ini. Kamu dan Gilang akan memperebutkan anak gadis Mama yang kuper ini." Mama Saras berseloroh.
" Ma ..." Kirania mencebikkan bibirnya mendengar ucapan mamanya.
Sementara Dirga justru terkekeh. Dia teringat saat mereka kuliah dulu teman-teman kampus menjuluki Kirania adalah cewek kuper, tapi siapa sangka justru cewek kuper inilah yang sudah meluluhkan hati seorang Dirgantara.
" Justru karena kuper itu yang bikin dia jadi spesial, Ma. Khususnya di hati aku ..." Dirga berucap seraya mengulum senyuman menatap lekat wajah cantik Kirania yang memberengut.
" Jadi bagaimana sekarang?" Mama Saras mulai serius membicarakan apa yang akan dilakukan Kirania dan Dirga selanjutnya.
" Ya ... sudah pasti anak Mama harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Dirga menggoda Kirania yang tengah berpikir serius.
" Mama mengerti jika posisi kamu saat itu yang masih terikat pernikahan membuat Rania bingung dan memutuskan untuk menjauh dari kamu. Mungkin Mama juga jika ada di posisi Rania akan melakukan hal yang sama. Mama juga di sini salah, karena membiarkan Rania mengambil keputusan yang terlalu terburu-buru itu. Mama memang pernah berharap Rania berjodoh dengan Gilang, karena Mama kenal Gilang adalah laki-laki yang baik." Mama Saras menghela nafas dalam-dalam menjeda ucapannya. " Mama bisa bayangkan bagaimana perasaan Gilang dan keluarganya, mereka pasti sangat kecewa ..." lanjutnya.
" Maafkan Rania, Ma ... Rania sudah bikin malu Mama." Kirania yang memilih duduk di samping mamanya langsung memeluk kembali Mama Saras.
" Rania mesti bicarakan hal ini baik-baik dengan keluarga Gilang, Mbak." Tante Erlin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar turut angkat bicara.
" Ma, aku takut ... Tante Dini pasti marah banget sama aku," lirih Kirania.
" Dirga akan menemani Rania menemui keluarga Gilang, Ma." Dirga tentu saja bersedia menjadi penyemangat Kirania.
" Jangan!" sergah Tante Erlin. " Sebaiknya kamu jangan ikut, Dirga. Kehadiran kamu hanya akan memperburuk keadaan. Biar nanti suami Tante dan Mbak Saras yang antar Rania bertemu Pak Burhan dan keluarganya." Tante Erlin menyarankan.
" Tapi, Tan ..."
" Apa yang dikatakan Tante Erlin benar, Dirga. Akan sangat menyakitkan untuk mereka jika orang yang menjadi penghalang anaknya bersama dengan Rania ikut hadir di sana." Mama Saras sepikiran dengan Tante Erlin.
" Baiklah jika itu yang terbaik, Ma. Dirga akan menunggu di sini saja." Dirga pun menuruti apa yang diminta Mama Saras dan Tante Erlin.
***
Kirania hanya tertunduk tak berani memperhatikan sorot mata penuh kekecewaan dari Om Burhan dan Tante Dini, saat selepas Maghrib dia ditemani Mama Saras dan Om Malik berkunjung ke rumah Gilang.
Om Malik lah yang mewakili pihak keluarga Kirania menyampaikan permintaan maaf dan penyesalannya karena harus memutuskan tali pertunangan Kirania dan Gilang. Dan sepertinya Gilang sudah memberitahukan terlebih dahulu perihal hubungannya dengan Kirania hingga membuat keluarga Gilang tak terlalu terkejut dengan kedatangan Kirania dan keluarganya.
" Tante sangat kecewa dengan kamu, Ran. Gilang itu sangat mencintai kamu, dari dulu dia sangat mencintai kamu tapi kamu selalu menghindar. Dan saat kamu memutuskan ingin bertunangan ternyata kamu lakukan itu hanya sebagai suatu permainan saja," ketus Tante Dini. Dia sangat tahu jika anaknya sedari dulu sangat mengagumi dan menyukai Kirania. Karena itu saat Gilang mengabarkan akan bertunangan dengan Kirania, sudah bisa dibayangkan bagaimana bahagianya sebagai seorang ibu mengetahui anaknya berhasil meluluhkan hati wanita yang sejak lama diinginkan anaknya itu.
Kirania menelan salivanya, apapun kata-kata pedas yang keluar dari mulut keluarga Gilang dia harus menerimanya, terutama ucapan yang baru saja diucapkan mama dari Gilang itu.
__ADS_1
" Apa kurangnya Gilang untuk kamu, Ran? Apa dia bukan pengusaha besar seperti mantan kekasihmu itu hingga membuat kamu kembali kepadanya dari pada tetap setia dengan komitmen kamu bertunangan dengan Gilang?" sindir Tante Dini lagi.
Kirania hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Bibirnya terasa kelu sehingga tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun bahkan untuk melakukan pembelaan diri atas tudingan yang disampaikan Tante Dini.
" Sekali lagi saya mewakili Kirania dan keluarga Mas Dimas menghaturkan permohonan maaf yang sedalam-dalamya atas sikap Kirania yang sudah sangat mengecewakan Pak Burhan, Bu Dini juga Mas Gilang sudah pasti. Tapi jika memaksakan pertunangan ini tetap berlanjut pun saya rasa tidak akan baik untuk kedua belah pihak. Untuk itu kami mohon kelapangan hati Pak Burhan beserta keluarga untuk bisa menerima keputusan anak kami ini. Karena bagaimanapun juga mereka yang akan menjalani ke depannya." Om Malik terus berusaha memberikan pengertian kepada keluarga Gilang.
" Gimana, Pa?" Tante Dini meminta pendapat suaminya yang sedari tadi terdiam.
" Ya mau gimana lagi, Ma? Kita tidak bisa memaksa Rania untuk tetap bersama Gilang. Papa takut jika tetap dipaksa itu justru akan membuat Rania tak bahagia. Apa yang dijalankan dengan tidak ada keikhlasan dan dipaksakan, tidak akan berakhir dengan baik. Jadi ... ya sudah kita harus berbesar hati menerima keputusan ini." Om Burhan lebih bijak menyingkapi permasalahan yang terjadi.
" Terima kasih banyak atas pengertian Pak Burhan, sekali lagi atas nama Rania dan keluarga Mas Dimas, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Om Malik merasa lega karena Om Burhan lebih bisa mengerti.
" Kalau begitu kami mohon pamit, Pak Burhan. Saya tetap berharap, putusnya pertunangan Gilang dan Rania tidak sampai memutusakan tali silahturahmi kedua keluarga yang sudah terjalin baik selama ini, Pak Burhan, Bu Dini ..." Om Malik menyampaikan harapannya.
" Insya Allah semua ini tidak berpengaruh dengan silahturahmi kami." Om Burhan menjawab dengan nada penuh ketenangan.
" Kalau begitu, kami permisi Pak, Bu ... Assalamualaikum ..." Om Malik dan Mama Saras berpamitan.
" Waalaikumsalam ..." sahut papa dan
mama Gilang.
" Om, Tante ... Rania minta maaf, hiks ..." Rania mencium punggung tangan Om Burhan yang dibalas Om Burhan dengan tepukan di pundak Kirania. Sementara Tante Dini tak menyambut uluran tangannya. Kirania bisa menyadari jika wanita paruh baya itu marah dan mungkin kelak akan membencinya.
Tak lama mereka pun meninggalkan rumah Gilang. Sementara itu tak jauh dari rumah Gilang sepasang mata mengawasi kepergian Kirania, Mama Saras dan juga Om Malik. Kemudian pandangannya beralih ke dalam rumah Gilang di mana Om Burhan dan Tante Dini masih berdiri di teras rumahnya.
*
*
*
Bersambung ...
Hayo mata siapakah gerangan?
Jangan lupa mampir Di Mengejar Suami Impian dan Kisah Cinta Azzahra ya Readers Budiman.
Othor tunggu kehadirannya di sana.
Jangan lupa juga like juga komennya sebagai dukungan untuk karya Othor ini. Hatur nuhun🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1