
Kamu kenal siapa wanita tadi, Lang?" tanya Vonny saat mendapati Gilang terlihat menatap dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan ke arah Karina yang dibawa paksa oleh Ricky.
" Emm ..." Gilang tersadar saat mendengar ucapan Vonny. " Kamu tadi bilang apa?"
" Apa kamu mengenal wanita tadi?" tanya Vonny kembali.
" Tidak." Gilang menjawab singkat.
" Oh, aku pikir kamu kenal, soalnya aku tadi sepintas mendengar dia menyebut nama kamu," ungkap Vonny membuat Gilang mendengus.
Vonny merasakan perubahan dari Gilang sejak berpapasan dengan Karina, karena itulah dia menanyakan.
" Ya sudah, kamu makan dulu." Vonny langsung mengambil piring dan menyerahkan ke Gilang.
" Kamu duluan saja yang makan, Von." Entah mengapa Gilang kehilangan selera untuk makan.
" Kok gitu? Kalau kamu nggak mau makan, ya sudah aku juga nggak makan, deh." Vonny menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
" Kalau kamu sudah lapar, kamu makan dulu saja. Jangan ditunda-tunda nanti bisa terkena maag." Gilang menasehati.
" Kamu bisa menasehati orang lain tapi kamu sendiri nggak mau makan. Memangnya kamu sendiri nggak lapar? Biasanya wanita itu lebih kuat menahan lapar ketimbang pria." Vonny melipat tangan di dadanya.
Gilang sedikit menarik sudut bibirnya.
" Karena wanita tadi, kan?" selidik Vonny.
Gilang melirik ke arah Vonny lalu menghela nafas dalam-dalam seraya menelan salivanya.
" Wanita tadi menyukaiku." Entah mengapa tiba-tiba Gilang berkata terus terang kepada Vonny.
Vonny membulatkan matanya mendengar pengakuan Gilang.
" Wanita itu menyukaimu? Lalu pria yang tadi itu siapa?" tanya Vonny heran.
" Entah." Gilang mengedikkan bahunya.
" Dia cantik, kenapa kamu seolah acuh tak mengenalnya tadi?" Vonny tertarik ingin tahu. " Sorry, kalau aku kepo." Vonny terkekeh.
Gilang mendengus. " Dia adik mantan tunanganku."
Vonny mengeryitkan keningnya, dia sedikit bingung dengan ucapan Gilang.
" Adik mantan tunanganmu, dan dia menyukaimu? Apa ini cerita tentang cinta segitiga?" Vonny terkikik menyindir.
Gilang tersenyum hambar.
" Cepatlah makan, aku mesti kembali ke kantor." Gilang sengaja mengalihkan pembicaraan, tak ingin terlalu lama membahas tentang Karina
__ADS_1
***
Pak, saya mohon sama Bapak. Tolong jangan ceritakan apa yang Bapak dengar tadi kepada Kak Dirga dan Mbak Rania." Karina menangkupkan tangan di depan dadanya saat dia dan Ricky berada dalam lift.
" Berani bayar berapa kamu suruh saya tutup mulut?" tantang Ricky melihat Karina yang ketakutan dia membongkar fakta tentang wanita itu.
Karina terdiam seraya berpikir keras. " Hmm, terserah Bapak mau suruh saya lakukan apa saja, saya siap lakukan."
" Termasuk jika saya ingin menikmati tubuhmu?" sindir Ricky melirik sinis.
Karina mendengus kesal mendengar perkataan Ricky. Jika saja dia berada di posisi yang aman dia rasanya ingin menyumpal mulut Ricky dengan rawit se*tan agar pria itu tak bisa berkata-kata karena menahan rasa pedas. Karina merasa kesal karena setiap hal yang terucap dari bibir pria itu selalu terdengar pedas di telinganya.
" Bagaimana?? Masih mikir, ya? Apa terhadap pria itu juga kamu mesti berpikir seperti ini, atau kamu justru suka rela menawarkannya?" Ricky kembali mencibir Karina membuat wajah Karina saat itu juga seketika memerah menahan emosi
***
Ini adalah hari pertama Kirania harus berada di rumah mertuanya. Agak canggung memang harus berada di rumah orang tua dari suaminya itu.
" Kamu suka merawat tanaman, Ran?" tanya Mama Utami kepada Kirania saat mereka berdua berada di taman belakang.
" Kalau di Cirebon, aku suka bantu mama rawat tanaman hiasnya, Ma." Kirania menyahuti.
" Oh iya, Mama lihat di rumah kamu sangat rindang dan banyak tanaman hias, ya?"
" Iya, Ma."
" Belum, Ma." Kirania menjawab pelan, karena dia tahu arah pertanyaan mertuanya itu akan ke mana.
" Oh ya sudah nggak apa-apa. Jangan stress-stress mikirinnya." Mama Utami berucap bijak. Satu jawaban yang membuat Kirania terkesiap, tidak menyangka mertuanya itu akan bersikap lembut terhadapnya. Ya walaupun sejak dia menikah dengan Dirga, setiap bertemu mertuanya itu Mama Utami selalu bersikap baik. Tapi rasa was-was selalu saja terselip di hatinya.
" Setelah kamu lulus kuliah kamu langsung kembali ke kota kamu atau kerja di Jakarta ini?" tanya Mama Utami tiba-tiba menanyakan.
" Aku pulang ke Cirebon dan langsung kerja, Ma."
" Oh gitu, kamu kerja di mana?" tanya Mama Utami lagi.
" Di Angkasa Raya Grup cabang Cirebon, Ma."
Mama Utami terkesiap seraya membulatkan matanya.
" Kamu kerja di cabang Cirebon?"
" Iya, Ma. Tapi aku nggak tahu jika itu adalah perusahaan Papa Poetra."
Mama Utami tersenyum seraya berkata, " Mungkin kalian memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh. Walaupun dipisah jarak dan waktu, dan ditentang oleh Mama dulu, tapi kuasa Tuhan memang besar. Dia sudah menentukan dengan jalan-Nya untuk menyatukan kalian." Tangan Mama Utami terulur mengusap wajah cantik Kirania. " Seandainya Mama dari dulu menyadari kekuatan cinta kalian sangat besar, mungkin kalian sudah bahagia sejak lama. Mama juga melihat Nadia terlihat bahagia bersama Edo sekarang. Dia akhirnya mendapatkan pria yang tepat, yang mencintai dia apa adanya."
" Iya, Ma. Aku juga turut bahagia dengan keputusan Kak Nadia."
__ADS_1
" Iya, Mama sangat menyanyangi dia layaknya anak Mama sendiri. Kasihan Nadia, dia juga menjadi korban atas keegoisan Mama." Mama Utami nampak sedih.
Kirania kini yang mengusap punggung mertuanya.
" Yang penting sekarang ini semua sudah berakhir dengan kebahagiaan, Ma."
" Iya, Mama bahagia mempunyai menantu-menantu seperti kalian. Seandainya saja Bima masih ada ..." Mama Utami menjeda ucapannya. Dia rasanya tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.
" Kak Bima sudah tenang di sana, Ma. Mama harus mengikhlaskannya." Kirania terus berusaha menenangkan ibu mertuanya yang mulai melow karena teringat akan putra sulungnya.
" Kita ke dalam saja, yuk. Kamu bisa masak, kan? Mama ingin coba masakan menantu Mama."
" Iya, tapi mungkin standart saja rasanya, Ma." Kirania tersipu malu.
" Dirga suka kamu masakan makanan apa?" tanya Mama Dirga.
" Abang nggak kasih ijin aku masak, Ma." Kirania mengadukan kelakuan suaminya kepada mama mertuanya itu.
" Kenapa?" Mama Utami tersenyum mendengar aduan menantunya itu.
" Abang takut kulit aku luka, padahal aku biasa dengan urusan dapur waktu di Cirebon dulu," gerutu Kirania mengerucutkan bibirnya.
Mama Utami tertawa kecil mendengar alasan anaknya melarang menantunya itu berurusan dengan dapur.
" Abang ada-ada saja ya, Ma?" Komentar Kirania menanggapi Mama Utami yang terkekeh.
" Dirga itu persis papanya, nggak membolehkan Mama memasak. Makanya Mama kalau masak menunggu papa berangkat kerja. Kalau Mama antar masakan ke kantor, Mama bilang itu masakan bibi. Padahal itu Mama sendiri yang masak." Mama Utami menceritakan.
" Begitu ya, Ma?" tanya Kirania hampir tak percaya jika sikap suaminya itu adalah warisan yang diturunkan dari sang papa mertuanya.
***
" .
*
*
*
Bersambung...
Akun IG ku menghilang, Jadi readers yang follow akun lama silahkan beralih ke akun baru rez.zha29
Mohon dukungannya untuk karya aku yg lain, MSI dan KCA. Dukung terus dengan Like juga komen karena dukungan itu ibarat nafas untuk Othor agar bisa bertahan di sini. Makasih🙏🙏
__ADS_1