
Tok tok tok
" Masuk ...!"
Karina segera memasuki ruang kerja suami kakaknya setelah mendapat jawaban dari ketukan pintunya.
" Kak, Mbak Rania mana?" tanya Karina pada Dirga yang terlihat sedang memakai dasinya.
" Ada di kamar, masuklah ..." ucap Dirga tak menghentikan gerakan tangannya memasang dasi itu di kerah kemejanya.
Karina tersenyum tipis mendapati apa yang dilakukan suami dari kakaknya itu kemudian melangkahkan kaki menuju ruangan kamar di samping ruang kerja Dirga.
" Mbak, hayo habis ngapain?" goda Karina saat melihat kakaknya sedang memandang bagian lehernya yang terlihat memerah.
Kirania terkesiap saat tiba-tiba melihat Karina sudah muncul di dalam kamar istirahat Dirga.
" Kamu, Dek." Kirania langsung menutupi leher dengan rambutnya.
" Habis ngapain, Mbak?" Karina tersenyum menggoda. " Habis gituan, ya?" lanjut Karina.
" Apaan sih kamu, Dek." Wajah Kirania seketika merona mendengar sindiran adiknya itu.
" Ada apa kamu cari Mbak?" Kirania segera mengalihkan pembicaraan agar adiknya itu tak terus menerus mengulitinya.
" Ciee, yang sengaja memutar arah pembicaraan." Karina langsung merangkul pundak Kirania. " Aku senang lihat Mbak bahagia dengan Kak Dirga. Mbak benar-benar beruntung." Kemudian Karina menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya itu.
" Tentu saja Mbak bahagia, Abang benar-benar buat hidup Mbak sempurna." Kirania mengungkapkan rasa bahagianya.
" Oh ya, kamu ada apa? Pasti ada yang ingin disampaikan sama Mbak, kan?" tanya Kirania karena dia merasa jika adiknya itu ingin mengatakan sesuatu.
" Hehe ... iya, sih." Karina menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Apa?" todong Kirania langsung.
" Aku mau minta ijin Mbak dan Kak Dirga. Besok malam aku mau ada acara keluar." Karina menggigit bibirnya. Dia takut kalau kakaknya itu akan menolak permohonannya.
" Keluar? Nanti malam? Mau apa? Sama siapa kamu pergi?" Benar saja dugaan Karina, karena Kirania langsung tersentak dan memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
" A-aku pergi sama Kak Gilang."
" Kak Gilang? Mau apa kamu pergi sama Kak Gilang?" selidik Kirania.
__ADS_1
" Kak Gilang minta aku menemani dia untuk datang ke acara salah satu nasabahnya." Karina menjelaskan tujuan Gilang mengajaknya.
" Boleh kan, Mbak?" tanya Karina kembali.
" Kamu masih saja mengejar Kak Gilang? Bukankah kamu bilang sendiri jika Kak Gilang menolak kamu? Jadi untuk apa kamu berharap padanya?" Kirania lalu menepuk bahu Karina. " Jangan melakukan sesuatu yang akan menyakiti hatimu sendiri, Dek." Kirania mencoba menasehati Karina.
" Bukan aku yang minta kok, Mbak. Ini Kak Gilang sendiri yang ajak. Lagipula kemarin 'kan Kak Gilang sudah tolong aku, nggak enak kalau aku tolak ajakan dia, Mbak." Karina memberikan alasan.
Kirania mendesah, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika adiknya itu benar-benar menjalin hubungan dengan Gilang, pasti suaminya akan bereaksi keras menentang hal itu.
" Abang pasti nggak akan mudah memberikan kamu ijin, Dek."
" Kenapa memangnya?"
" Abang nggak suka kamu dekat dengan Kak Gilang. Abang nggak mau mengambil resiko, jika kamu sama Kak Gilang, kemungkinan besar nantinya Kak Gilang akan sering bertemu Mbak. Itu yang Abangmu nggak suka." Kirania menjelaskan suaminya itu menentang kedekatan Karina dan Gilang.
" Ck, egois sekali sih Kak Dirga itu," umpat Karina.
" Dek, jangan bicara seperti itu," tegur Kirania.
" Kenyataannya memang begitu, kok!" sergah Karina. " Lagipula kenapa Kak Dirga masih saja cemburu pada Kak Gilang? Kalian sudah menikah sekarang. Kak Dirga sudah memiliki Mbak Rania, dan Mbak pun nggak akan berpaling dari Kak Dirga. Secara Mbak sudah mempunyai suami kaya raya, nggak mungkin tertarik pada Kak Gilang." Karina terus menggerutu.
" Dek, kenapa bicara seperti itu? Mbak menikah dengan Abang karena Mbak memang tulus mencintai Abang, bukan karena Abang seorang yang kaya raya." Kirania memprotes anggapan adiknya yang seolah menganggap dia lebih memilih Dirga karena status ekonomi Dirga yang jauh di atas Gilang.
" Jadi, Mbak kasih ijin aku, kan?" tanya Karina menuntut kepastian dari Kirania.
Kirania menghela nafas dalam-dalam kemudian dipandangnya wajah adiknya itu.
" Mbak nggak masalah, tapi jika Abang nggak kasih kamu ijin, Mbak nggak bisa berbuat apa-apa," ucap Kirania.
" Ck, Mbak payah, deh." Karina mencebikkan bibirnya kemudian melangkahkan keluar ruang istirhat kakak iparnya itu.
***
" Aku nggak akan mengijinkan kamu pergi, Karina!" tegas Dirga saat Karina menyampaikan rencananya pergi bersama Gilang.
" Ck, Kak Dirga egois!" umpat Karina kesal.
" Dek ..." Kirania menggelengkan kepala memberi kode agar adiknya itu tak membantah Dirga.
" Apa kejadian kemarin masih belum bisa kamu jadikan pelajaran, Karina?! Aku ini hanya ingin melindungi kamu." Nada bicara Dirga mulai meninggi.
__ADS_1
" Melindungi aku? Melindungi kenyamanan rumah tangga kalian lebih tepatnya." Karina pun tak kalah berbicara dengan nada bicara tinggi.
" Dek ...!" Kirania sungguh tak menyangka adiknya itu akan berani menentang perkataan Dirga.
" Kak Gilang nggak pernah berbuat jahat terhadap kalian, tapi kenapa kalian seperti memusuhi Kak Gilang? Aku yakin jika Kak Gilang tidak akan mencelakaiku, aku akan aman berada di dekat Kak Gilang. Dan Kak Dirga mesti ingat posisi kakak. Kak Dirga itu hanya kakak ipar aku, Kak Dirga nggak punya hak mengatur hidup aku termasuk aku ingin dekat dengan siapapun!" geram Karina.
" Karina, jangan bersikap kurang ajar kepadaku!" Dirga meradang karena Karina bersikap tak sopan terhadapnya.
" Aku nggak suka dikekang oleh Kakak. Aku akan pulang ke Cirebon dan resign dari pekerjaanku!" tandas Karina kemudian dengan bergegas keluar dari ruang kerja Dirga.
" Dek, tunggu dulu ..." Kirania berusaha menghalangi langkah Karina namun perintah Dirga lebih dahulu menghentikan langkahnya
" Biarkan dia sesuka hatinya!" tegas Dirga masih dengan sorot mata penuh emosi.
" Abang, kenapa berkeras hati seperti itu? Kasihan Karina, Abang." Kirania mulai cemas karena tentu saja perdebatan tadi akan memperburuk hubungan adik dan suaminya itu.
" Aku hanya tidak ingin adikmu itu salah jalan." Dirga mendengus kesal, karena selama hidupnya hanya Kirania dan Karina lah yang selalu berani membantah ucapannya.
" Lalu kalau Karina ingin pulang ke Cirebon gimana?"
" Biarkan saja! Adikmu itu sulit untuk diatur," ketus Dirga.
Kirania mendesah, menghadapi sikap suami dan adiknya itu sama-sama keras kepala.
Sementara di ruang kerjanya Karina sedang terisak. Larangan yang diberikan oleh kakak iparnya itu membuat hidupnya seakan terkurung dalam sangkar emas. Dia tidak menginginkan apa yang dia dapat dari kakak iparnya itu. Yang dia inginkan hanya bersama Gilang, karena itu adalah tujuan utamanya.
Karina lalu meraih ponselnya, dia lalu mengetikkan pesan kepada Gilang.
" Assalamualaikum, Kak. Maaf aku nggak dapat ijin untuk pergi besok malam."
Lima menit berselang jawaban pesan dari Gilang langsung muncul di ponselnya.
" Waalaikumsalam, Oh ya sudah nggak apa-apa. Maaf jika mengganggu waktu kamu. Assalamualaikum." Gilang menjawab dan langsung mengakhiri percakapannya.
Jawaban Gilang tentu saja membuat hati Karina mencelos, karena dari kata-kata dari balasan Gilang terlihat jika pria itu sangat kecewa dengan penolakan darinya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️