
Sebelumnya aku selaku Author mengucapkan terima kasih kepada readers setia RTB, sekarang ini RTB lagi pengajuan proses kontrak, udah masuk tahap review data mudah²an bisa lulus kontrak. Aku berharap dukungan kalian semua. Karena saat ini belum kontrak, maka level akan berubah setiap harinya. Makanya aku selalu minta dukungan like dan komen itu akan mempengaruhi nasib level karya ini. Semakin banyak like dan semakin banyak komen akan mempengaruhi populeritas karya ini. Jadi jangan lupa kasih like dan kasih komen ya, kalau perlu kasih hadiah (tp ga maksa)🤭 Makasih🙏
_________________________________
" Hiks ... aku benci kamu! Kamu jahat! Kamu tega sama aku!! hiks ... hiks ..." Kirania terus saja menangis atas apa yang sudah Dirga lakukan terhadapnya.
" Ran, Rania ... kamu kenapa?" Sebuah suara terdengar ditambah guncangan kecil terasa, saat sesuatu menimpa bahunya.
Kirania tersentak kemudian menoleh ke asal suara tadi berasal. Dia membelalakkan mata dengan wajah ketakutan. Saat dia menjumpai wajah Dirga di sampingnya, membuatnya saat itu juga tubuhnya beringsut.
" Kamu kenapa? Kenapa teriak-teriak? Siapa yang jahat sama kamu? Siapa yang kamu benci??" tanya Dirga menyelidik sambil mengemudikan mobilnya.
Kirania seakan terkesiap, sontak dia memandang baju yang dikenakannya sambil meraba tubuhnya memastikan tidak ada yang terasa sakit dan tak ada bagian dari dressnya yang robek. Seketika itu juga dia memejamkan mata dan menarik nafas lega. Dia bersyukur jika hal buruk yang terjadi tadi adalah sebuah halusinasinya saja. Dia terlalu takut melihat kemarahan Dirga. Dia juga tak mengerti kenapa bisa sampai berhalusinasi sejauh tadi. Mungkin rumor tentang Dirga yang sering bermain wanita yang mempengaruhinya.
" Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Ada apa kau berteriak ketakutan tadi? Kamu mimpi buruk?" Suara Dirga memang sudah terdengar tidak emosi lagi.
" Iya, kamulah mimpi buruknya." batin Kirania.
" Kita mau ke mana?" tanya Kirania kemudian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat belas lewat tiga puluh menit
" Aku ingin membawamu ke tempat yang tidak bisa diketahui orang lain," sahut Dirga santai.
" Maksud kamu?" Kirania tak memahami ucapan Dirga.
" Aku akan memberikan hukuman kepadamu karena sudah berani-beraninya selingkuh di belakangku."
" Siapa yang selingkuh? Aku nggak selingkuh!" sanggah Kirania cemas, Dia takut jika kejadian yang seperti dia bayangkan akan benar-benar terjadi.
" Kamu masih saja menyangkal, padahal jelas-jelas kamu pergi dengan cowok itu!" ucap Dirga kesal.
" Aku 'kan sudah bilang kalau pakde menyuruhku menemani Yoga pergi," Kirania pun berkata dengan kesal.
" Aku 'kan sudah larang kamu untuk tidak dekat dengan pria mana pun. Kenapa kamu masih saja membandel?!"
Kirania memalingkan wajah ke arah luar jendela. Dia memilih untuk tidak meladeni Dirga. Kerena dirasanya percuma. Dia tidak akan menang berargumentasi dengan pria itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sampai di basement sebuah apartemen.
" Ayo keluar." Dirga membuka seat belt kemudian keluar dari dalam mobilnya. Sementara Kirania hanya berdiam diri tak mengikuti perintah Dirga. Hingga akhirnya Dirga membukakan pintu mobil kursi penumpang. " Mau keluar sendiri atau mau aku gendong?" Pertanyaan Dirga sontak membuat Kirania terkesiap. Dia teringat apa yang ada dalam halusinasinya beberapa saat lalu.
" Kamu mau ngapain aku?"
Pertanyaan Kirania membuat kening Dirga berkerut. Dengan cepat dia membungkukkan badannya memandang ke arah Kirania yang masih duduk di mobil. " Memangnya kamu ingin aku melakukan apa ke kamu?" Dirga mengerlingkan matanya menggoda wanita polos di hadapannya.
" Aku nggak mau kamu perkosa!" Entah karena memang ketakutan atas halusinasinya tadi atau memang karena sikap polosnya, Kirania malah bicara seperti itu.
Dirga tergelak mendengar ucapan Kirania.
" Astaga, kamu sampai segitunya berpikiran buruk seperti itu sama aku. Aku memang kesal dan marah kamu memilih jalan dengan Prayoga, tapi bukan berarti seenaknya saja aku mengambil paksa keperawanan seorang gadis. Kecuali jika gadis itu mau menyerahkannya sendiri, aku nggak akan nolak." Dirga memainkan alisnya turun naik dengan bibir menyeringai.
Buugghh
" Aaww ..." Dirga memekik kaget saat Kirania memukul wajahnya dengan sling bag nya.
" Dasar pria mesum!! Awas ...!!" Kirania mendorong tubuh Dirga yang menghalanginya keluar dari mobil.
***
Dirga membawa Kirania memasuki satu unit apartemen. Dirga menyalakan lampu yang padam saat memasuki ruang dalam apartemen.
" Ini apartemen pribadiku. Masuklah ...."
Dengan langkah ragu Kirania melangkahkan kaki memasuki apartemen Dirga.
" Nggak usah takut gitu, dong, Yank. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, kok." Dirga menarik tangan Kirania hingga kini mereka terduduk di sofa tamu Dirga. " Kamu mau minum apa?'
" Nggak usah," tolak Kirania cepat.
" Kita nonton film saja, ya?" Dirga kembali bangkit dan menyalakan home teather dan memilih beberapa DVD. " Mau nonton film apa? Horor? Komedi? Action? Romantis?"
" Terserah ...."
" Terserah? Kalau aku putar film dewasa, nggak apa-apa, dong?" Dirga menyeringai yang dibalas dengan mata mendelik Kirania.
__ADS_1
Dirga akhirnya memilihkan film yang akan mereka tonton.
" Aku buatkan popcorn sama ambil softdrink dulu." Dirga kemudian beranjak ke arah belakang menyiapkan apa yang diinginkannya. Sementara Kirania mengedar pandangan ke setiap sudut ruang tamu apartemen yang terlihat rapih dengan sentuhan warna dan furniture yang terkesan maskulin. Dan pandangan mata Kirania kini bertumpu pada layar LED yang menampilkan judul film yang akan mereka tonton.
Seketika mata Kirania terbelalak. Dia mungkin tidak berpengalaman dalam urusan asmara. Tapi bukan berarti dia orang yang tidak tahu informasi apa yang sedang marak. Karena dia termasuk orang yang sangat gemar membaca. Dan yang dia tahu film yang dipilih Dirga adalah film yang dicekal ditayangkan di Indonesia tahun ini. Karena banyaknya adegan vul gar dan kekerasan. Kirania mendadak gusar. Bayangan kejadian dalam halusinasinya tadi seolah kembali menghantuinya.
Kirania tidak tahu apa maksud Dirga membawanya kemari dan memutarkan film itu. Apakah Dirga akan melakukan hal yang sama seperti dalam halusinasinya tapi dengan cara yang sangat halus. Yang pasti Kirania mendadak takut jika semua bayangan buruk itu akan menjadi nyata.
Kirania menoleh ke arah pintu masuk apartemen. Dia berpikir dia harus kabur saat ini juga. Dengan segera dia beranjak ke arah pintu dan membuka handle pintu, tapi ternyata handle pintu itu seolah terkunci. Dengan gelisah Kirania terus mencoba membuka pintu tapi tak juga berhasil terbuka.
" Kamu mau ke mana?" Suara Dirga membuatnya terperanjat. " Kamu kenapa?" Dengan tangan penuh dengan kaleng softdrink dan mangkuk berisi popcorn, Dirga berjalan meletakan makanan dan minuman ringan itu di meja, sebelum akhirnya dia mendekati Kirania.
" A-aku mau pulang saja." Kirania beringsut dengan punggung merapat ke pintu.
" Nanti aku antar pulang, kok. Tapi nanti setelah kita selesai nonton filmnya. Kita habiskan waktu kita dulu di sini. Aku masih kesal karena kamu tidak menolak menghabiskan waktu dengan pria lain, tapi keberatan menemani pacar kamu sendiri." Dirga melipat tangannya di dada.
" Aku nggak mau nonton film itu," protes Kirania. Membuat Dirga menyeringai.
" Kenapa? Nonton film itu biar kamu pinter, lho!" Dirga terkekeh.
" Aku nggak butuh pintar dari film itu!" ketus Kirania.
" Memang kamu tahu film itu film apa?" Dirga semakin mendekat ke arah Kirania. Tangan Dirga kini seolah mengurung tubuh Kirania dengan bertumpu ke daun pintu, membuat Kirania terasa sulit untuk bernafas.
" Sudah masuk waktu Ashar. Kita sholat saja dulu. Biar nonton film nya enak. Biar kamu juga bisa berdoa supaya aku nggak kemasukan setan dan berbuat aneh-aneh ke kamu." Dirga mengedipkan matanya lalu menjauhkan tubuhnya dari Kirania. Membuat pasokan oksigen kembali lancar masuk dalam rongga pernafasan Kirania.
*
*
*
Bersambung ..
Otor dapet pesen dari Bang Dirga, katanya ini bulan puasa, jgn pada suudzon bilangnya🤭🤭🤭🤭🤭 Kaboooorrr 🏃🏃
Happy Reading❤️
__ADS_1