RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Rencana Licik Dirga


__ADS_3

Big Boss kita yang nyebelin plus ngangenin nih😘😜



Kirania melangkah ke arah ruangan kerjanya dengan langkah gontai, menemui rekan-rekan kerjanya yang sedari tadi menunggu kedatangan Kirania dengan harap cemas.


" Gimana, Ran?" tanya Pandu saat melihat Kirania membuka pintu ruangan divisi marketing.


Kirania menghempas nafas berat. " Aku disuruh membereskan barang-barangku, kalian paham maksudnya, kan?" tanya Kirania tersenyum miris.


" Astaga ... jahat banget sih, big bos sampai pecat kamu. Aku nggak rela kamu harus dipecat begini, Ran." Sherli langsung memeluk tubuh Kirania. Walau baru sekitar seminggu lebih mereka kenal, tapi Sherli sudah merasa cocok berpartner dengan Kirania.


" Ini semua gara-gara, lu." Pandu menunjuk ke arah Winda.


" Yeee ... mana aku tahu akan begini jadinya." Winda mengelak. " Lagipula kalau aku jadi Rania, bakal aku biarkan saja anaknya bos itu terkurung di lift sendirian, daripada aku yang kena masalah."


" Gila lu, ya! Nggak ada otak lu, dasar!" umpat Pandu masih tampak kesal.


" Lalu sekarang gimana, Ran?" tanya Sherli masih belum melepas rangkulannya pada pundak Kirania, bahkan kini kepalanya dia sandarkan di bahu Kirania.


" Ya ... aku pulang ke kampung halamanku lagi yang pasti. Mau apa juga di kota ini? Nggak ada sanak saudara, nggak ada kerjaan, mending pulang ke Cirebon."


" Balik ke kantor cabang di sana?" tanya Pandu.


Kirania mengedikkan bahunya. " Kalau aku nggak kena blacklist mungkin aku bisa kembali ke sana, tapi kalau kena, ya tamat."


" Ya Tuhan, sayang banget kalau kamu mesti berhenti dengan cara begini, Ran." April turut berempati. " Apalagi kamu bisa sampai sini karena promosi performa kerja kamu bagus."


" Ya ... mungkin memang belum rejeki aku, Pril." Sebijak mungkin Kirania berusaha legowo menerima keputusan Dirga yang terkesan berlebihan dan tidak masuk akal sehat itu. Tapi yang ada dipikiran Kirania saat ini adalah, Dirga sengaja menjegalnya karena mungkin pria itu masih sakit hati dan kecewa atas sikapnya yang memutuskan hubungan asmara mereka secara sepihak.


***


Sekitar jam setengah sepuluh pagi Dirga sampai di kantornya.


" Selamat pagi, Pak." Lisna langsung berdiri menyapa Dirga saat bosnya itu melintas di hadapannya.


" Pagi ..."


Balasan Dirga seketika membuat Lisna terkesiap.


" Gue mimpi nggak sih ini? Beneran tadi Pak Dirga balas sapaan gue? Tumben banget." gumam Lisna yang nampak surprise mendengar bosnya membalas sapaannya, karena selama dia bekerja di sana, bosnya itu terkenal dingin, kalau disapa pun hanya membalas dengan 'Hmmm ...' saja.


Sementara sesampai di ruang kerjanya, Dirga langsung menghubungi Pak Leo.


" Halo, Pak Leo. Tolong suruh karyawan baru itu ke ruanganku sekarang juga!" perintah Dirga tegas.


" Karyawan baru? Maksud Pak Dirga, Kirania?" Terdengar nada suara bingung Pak Leo membalas perintah Dirga.


" Memangnya karyawan baru di divisi marketing ada berapa orang?" Nada kesal mulai terdengar dari suara Dirga karena menganggap Pak Leo tidak cepat tanggap atas perintahnya tadi.


" Tapi, Pak. Bukankah dia sudah Bapak pecat?"

__ADS_1


Ucapan Pak Leo membuat mata Dirga terbelalak. " Saya pecat?! Apa maksud Pak Leo bilang saya pecat dia? Saya tidak memecat dia," geram Dirga.


" Ta-tapi, Pak. Kemarin Kirania pamitan ke saya, dia bilang jika Pak Dirga menyuruh dia membereskan barang-barangnya di sini."


Dirga mengusap kasar wajah dengan telapak tangannya. " Saya suruh dia bereskan barangnya itu bukan berarti saya memecat dia! Dan kenapa Pak Leo membiarkan dia pergi? Kenapa Pak Leo tidak konfirmasi dulu ke saya?!" Dirga semakin emosi mendengar Kirania sudah tidak ada lagi di kantornya sekarang.


" Maaf, Pak. Saya pikir Pak Dirga memang memberhentikan dia." Pak Leo mengucapkan dengan nada penuh penyesalan.


" Kenapa menghandle hal seperti itu saja Pak Leo tidak bisa?!" Dirga menutup kasar panggilan teleponnya. " Aaarrgghh ... dasar keras kepala!" umpat Dirga. Dia kemudian kembali menekan nomer extension untuk disambungkan ke bagian HRD.


" Halo Pak Bildan, tanya anak buah Bapak di mana Kirania Ambarwati diberikan fasilitas tempat tinggal. Saya minta lima menit dari sekarang datanya sudah saya dapatkan," ujar Dirga saat sambungan teleponnya dengan Pak Bildan sudah tersambung.


" Baik, Pak. Akan saya kabari secepatnya."


" Dan satu lagi, kontrak kerja yang kemarin saya revisi segera antar hardcopy nya di meja saya secepatnya."


" Baik, Pak." Pak Bildan dengan cepat menyahuti.


Dirga pun kembali menutup sabungan teleponnya.


" Aku tidak akan membiarkanmu bebas berkeliaran sesuka hatimu, Rania. Saat ini kamu ada dalam genggamanku." Dirga tersenyum penuh kemenangan dengan rencana licik yang ada di otaknya.


***


Di dalam kamar apartemen tipe studio, Kirania masih bergelung dengan selimutnya. Setelah membersihkan diri lalu melaksanakan kewajiban sholat Shubuh, Kirania memang memilih untuk bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Keputusan yang diambil Dirga dengan memecatnya tentu saja membuat hatinya sakit dan kecewa. Semalam dia memang sempat menangis tapi itu tidak berlangsung lama. Kirania berpikir untuk apa terus menangisi Dirga. Pria itu sudah membencinya. Bukankah itu tujuan dia memutuskan Dirga, agar pria itu membencinya. Lagipula Dirga pun sudah berkeluarga dan punya anak. Jadi dia bertekad untuk menutup rapat-rapat kisahnya dulu bersama Dirga, juga mengikis rasa rindu kepada Dirga yang selama ini semakin menumpuk di hatinya.


Kirania berencana kembali ke Cirebon dengan menggunakan kereta jam keberangkatan sore dari Stasiun Gambir. Dia sengaja meminta Bu Ima untuk datang ke tempatnya menginap agak sorean, karena dia akan keluar dari apartemen jam empat. Sementara seluruh barang-barang dan baju-baju dia sudah dia masukan kembali ke dalam kopernya.


Kirania melihat ponselnya yang bergetar, dia tersenyum melihat pesan yang diterimanya dari Sabilla yang mengirimkan gambar seorang bayi mungil dengan pesan teks.


" Hai Tante Rania. Perkenalkan, aku Ghibran Haedar Al Rasyid. Aku sudah lahir kemarin malam, Tante."


Itu pesan yang diterimanya dari Sabilla, dengan cepat dia melakukan panggilan video call dengan Sabilla.


" Assalamualaikum ..." sapa Kirania.


" Waalaikumsalam, hai, Ran. Lho, kamu nggak kerja? Kok bisa video call?" tanya Sabilla dari seberang.


" Nggak, Bil. Mana ponakan baru aku? Lucu banget, sih. Gemesin lihat fotonya."


Sabilla terlihat mengarahkan kamera telepon ke bayinya yang sedang tertidur pulas.


" Lahir kapan, Bil?"


" Semalam jam sembilan."


" Tinggi, berat berapa?"


" Lima puluh sentimeter berat tiga koma lima kilogram."


" Normal atau caesar?"

__ADS_1


" Kali ini caesar, Ran."


" Selamat ya, Bil. akhirnya komplit cewek-cowok anaknya."


" Makasih, Ran. Iya Alhamdulillah jadi komplit anaknya ada cewek ada cowok. Terus kapan kamu mau kasih aku keponakan, Ran? Si Hasna juga sedang isi sudah dapet empat bulan, lho."


Kirania tersenyum miris. " Nikah saja belum, gimana mau kasih kamu keponakan?" Kirania terkekeh, namun ada nada getir dalam tawanya.


" Makanya buruan nikah. Move on, dong, Ran. Jangan inget mantan terus, belum tentu mantan kamu itu juga ingat kamu. Siapa tahu dia malah sudah nikah punya istri dan anak."


Perkataan Sabilla membuat hati Kirania mencelos, Kirania tidak bisa menutupi ekspresi kesedihannya.


" Ran, eh ... sorry, aku nggak maksud mengingatkan kamu ke dia." Sabilla yang melihat ekspresi wajah sedih Kirania langsung meminta maaf. Karena dia menjadi saksi bagaimana terpuruknya Kirania setelah putus dari Dirga, Kirania justru semakin tertutup dan lebih senang menyendiri ketimbang berkumpul bersama dia dan Hasna. Sabilla memaklumi keadaan Kirania saat itu. Dirga adalah cinta pertama Kirania, Dirga yang memaksa terus agar Kirania bisa jatuh hati pada pria itu. Dan saat rasa cinta itu telah tumbuh, Kirania dipaksa harus memutuskan hubungan dengan Dirga karena permintaan dari orang tua Dirga. Untuk orang yang tidak berpengalaman dalam urusan asmara seperti Kirania, tentu saja hal itu membuat hatinya merasa down. Tapi untung saja sejak kembali ke Cirebon dan bekerja, Kirania mulai bisa kembali berinteraksi dengan banyak orang. Itu yang sedikit membuat hati Sabilla dan Hasna merasa senang dan tenang.


" Dia memang sudah menikah dan punya anak, Bil." lirih Kirania, tanpa terasa air mata menetes di pipinya.


" Hah?? Kamu ketemu dia? Di mana?" Sabilla terkesiap mendengar penuturan Kirania.


" Ternyata dia bos dan pemilik perusahaan Angkasa Raya di kantor pusat, Bil."


" Serius? Jadi dia bos kamu? Kamu sekarang jadi karyawan dia?"


Kirania menggelengkan kepalanya. " Sudah nggak, kok." Kirania mencoba menghapus air mata di pipinya.


" Maksudnya? Bukannya kemarin kamu cerita kamu ditarik kerja di kantor pusat?"


" Iya, tapi aku sudah keluar dari sana. Aku dipecat Bil. Dia yang pecat aku."


" Kak Dirga pecat kamu? Kok bisa? Kenapa? Apa dia dendam sama kamu karena dulu kamu yang mutusin dia?"


Kirania mengedikkan bahunya. " Entahlah aku nggak ngerti."


" Dia tahu kamu karyawan dia lalu dia pecat kamu gitu saja? Sentimen pribadi itu namanya, Ran. Tanpa alasan yang jelas dia main pecat-pecat kamu gitu saja. Nggak profesional banget," umpat Sabilla terbawa emosi.


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu apartemennya.


" Bil, nanti sambung lagi ya, sepertinya ada yang datang. Mungkin petugas yang biasa urus kamar ini yang datang, Soalnya sore ini aku keluar dari apartemen ini kembali ke Cirebon."


" Oke, deh. Nanti kita sambung lagi ngobrolnya, ya. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Kirania mematikan panggilan video callnya dan langsung melangkah menuju pintu apartemennya guna mengetahui siapa yang datang menemuinya.


Bersambung ...


Jika berkenan bolehlah tengok novel aku yang lain. Untuk kisah cintanya Yoga bersama Natasha ada di Novel " Mengejar Suami Impian " sudah end kisahnya, setelah itu lanjut di novel terbaru aku " Kisah Cinta Azzahra " Makasih yang sudah Sudi mampir🙏



Happy Reading,❤️

__ADS_1


__ADS_2