
Kirania melirik ke arah Dirga yang sedari tadi hanya diam di belakang kemudinya. Dia menyadari jika pria itu sedang kesal terhadapnya akibat atraksi yang dia lakukan siang tadi.
Dirga sendiri terlihat fokus menatap jalanan di depannya. Dirinya masih merasa kesal, bukan hanya karena Kirania yang pergi makan siang bersama pria lain, tapi juga karena aksi Kirania yang menendang area sensitifnya. Jika saja bukan Kirania yang melakukan hal tadi, mungkin saja saat itu dia akan marah besar. Sungguh di luar dugaannya Kirania nekat melakukan hal seperti itu. Wanita yang selalu terlihat manis itu sekejap berubah menjadi bar-bar.
Mobil yang dikendarai Dirga memasuki area parkir sebuah butik berukuran sangat besar, dan banyak mobil-mobil mewah terparkir di sana.
" Besok acara wedding party Yoga, kan? Kamu pilihlah gaun untuk besok malam, kita akan datang bersama. Kamu turunlah, nanti supir yang akan jemput kamu ke sini. Aku nggak bisa menunggu kamu, karena aku ada janji meet up dengan Angela lewat Isya nanti."
Kirania langsung mengerucutkan bibirnya mendengar nama Angela disebut Dirga. Apalagi ternyata Dirga menyetujui ajakan kencan yang ditawarkan wanita itu.
Seraya mendengus kesal Kirania berkata, " Saya besok datang dengan teman saya. Jadi Bapak datang dengan istri Bapak saja atau dengan Nona Angela," ketus Kirania, sepertinya api cemburu belum padam di hatinya, ditambah lagi Dirga hendak meninggalkannya dan memilih pergi bersama wanita seksi tadi malam ini.
" Teman kamu? Siapa? Pria itu?" Dirga langsung bereaksi saat Kirania berkata ingin pergi dengan teman. Karena setahunya sekarang ini Kirania tidak mempunyai banyak teman di Jakarta ini. Tapi saat siang tadi dia mengetahui Kirania pergi dengan Gilang, kecurigaannya langsung mengarah pada pria itu yang akan Kirania ajak pergi.
Kirania diam, dia hanya melempar pandangan ke arah luar jendela dan tak berniat menjawab pertanyaan Kirania.
" Saya mau pulang saja. Jika Bapak keberatan mengantar saya pulang, biar saya naik kendaraan umum saja." Kirania langsung membuka handle mobil, hendak beranjak turun dari mobil tapi tangan Dirga mencengkram lengannya dengan cepat.
" Mau ke mana?"
Kirania langsung menepis tangan Dirga, dan dengan cepat keluar dari mobil lalu berlari keluar area parkir butik menuju arah jalanan.
" Rania, tunggu!!" teriak Dirga keluar dari mobil dan mengejar langkah Kirania.
" Saya suruh kamu pilih gaun, bukan pulang sendiri seperti ini!" Dirga kembali menarik lengan Kirania hingga langkah kaki wanita itu terhenti.
" Bapak nggak usah perdulikan saya, Bapak kencan saja sana dengan Nona Angela!" sergah Kirania dengan emosi meletup-letup hingga membuat deru napasnya tak beraturan.
Dirga mengembangkan senyumannya, tentu saja perkataan Kirania menandakan jika wanita itu tak rela melihat dirinya pergi dengan wanita lain.
" Kamu nggak senang ya, aku pergi dengan Angela?"
Kirania membuang muka tak ingin menatap wajah Dirga.
" Katakan, katakan jika kau tidak menyetujui aku bertemu dengan wanita itu." Dirga menyampirkan helaian rambut Kirania ke belakang telinga tapi dengan cepat tangan Kirania menepis.
" Nggak usah pegang-pegang!" tangkis Kirania.
Dirga terkekeh. " Kamu galak sekarang, hmm?" goda Dirga. " Oke deh, karena kamu cemburu, aku cancel saja rencana meet up dengan Angela." Dirga kemudian mengambil ponsel dari saku dalam blazernya.
" Nggak usah!! Kalau Bapak mau pergi, silahkan pergi saja." Tak mau kalah dengan Dirga, Kirania pun langsung mengambil ponsel dari tasnya.
__ADS_1
" Mau apa?" selidik Dirga saat terlihat Kirania menghubungi seseorang.
" Mau minta jemput Kak Gilang ...."
" Nggak boleh!!" Dirga langsung merebut ponsel Kirania dan mematikan panggilan yang Kirania tuju. " Jangan pernah meminta bantuan apapun darinya!" larang Dirga.
" Bapak itu egois banget, ya?! Bapak bebas pergi bertemu dengan wanita siapapun, sedang saya Bapak larang-larang pergi dengan pria lain. Semestinya Bapak itu ingat, saya ini wanita single, Pak! Saya bebas dekat dengan siapapun, termasuk Kak Gilang yang benar-benar ingin serius dengan saya. Dan yang mesti Bapak ketahui, Kak Gilang lelaki lajang, dia berhak mendekati saya!" tegas Kirania dengan penuh emosi.
" Aku nggak akan biarkan satu pria pun mendekati kamu. Kau hanya milikku, Rania! Aku sedang berusaha mengurus perceraianku dengan Nadia. Edo pun sedang berusaha memberi pengertian kepada Nadia agar menerima keputusan ini. Aku minta kamu bersabar sebentar lagi," pinta Dirga.
" Bapak suruh saya bersabar, tapi Bapak sendiri bisa bebas kencan dengan wanita lain!" geram Kirania.
" Aku nggak berkencan dengan wanita manapun. Angela itu sahabat dari Nadia, aku meminta bantuan dia untuk membantu membujuk Nadia. Dia tahu rumah tangga aku dan Nadia bermasalah, karena Nadia sering curhat kepadanya. Angela malah sering menasehati dan memberi pandangan kepada Nadia untuk berpisah denganku adalah jalan terbaik, tapi Nadia selalu menolak. Karena itulah aku meminta bantuannya lagi kali ini. Aku, Edo dan Angela terus berusaha untuk meluluhkan kekerasan hati Nadia, agar urusan perceraian ini lancar." Dirga mengungkapkan hal yang sebenarnya.
" Kamu tahu sendiri, selama enam tahun ini aku tak berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Dan setelah aku bertemu denganmu, bertemu wanita yang aku cintai, mana mungkin aku berkencan dengan wanita lain. Lagipula Angela itu sudah punya suami, suaminya pun aku kenal baik."
Kirania menghela nafas panjang, entahlah ... kisah cintanya bersama Dirga sangatlah rumit. Kadang rasanya ia ingin pergi sejauh mungkin agar tak bertemu lagi dengan pria yang dicintainya itu. Meskipun pernikahan Dirga-Nadia dijalankan dengan keterpaksaan, tapi tetaplah mereka itu berada dalam satu ikatan yang suci. Apakah dia berdosa jika akhirnya membuat ikatan suci itu terpisahkan?
***
Kirania menghentikan langkahnya diikuti bola matanya yang langsung membulat sempurna saat melihat seorang wanita cantik berdiri di depan kamar apartemennya.
" Bu Nadia?" ucapnya dengan nada tercekat di tenggorokan.
Kirania menelan salivanya, seketika rasa gelisah kembali menyerang dirinya.
" Di apartemen sini ada kafe, kan? Kita bicara di sana saja, bagaimana?" Nadia langsung mengarahkan tempat mereka bicara, walaupun belum mendapat persetujuan dari Kirania.
" Kamu beruntung bisa dicintai begitu dalam oleh Dirga," ujar Nadia saat mereka berdua duduk berhadapan di kafe.
" Aku pikir dengan memisahkan kamu dan Dirga dulu, akan membuat Dirga bisa kembali mencintaiku, tapi ternyata aku salah. Cinta Dirga ternyata tidak bisa berpaling darimu." Nadia menengadahkan wajahnya, menahan buliran air mata yang siap tumpah di pipinya. " Aku rasa ini semua tak adil untukku, kau tahu ... Kak Bima menjebakku hingga aku hamil Kayla, tapi dia meninggalkan aku berdua dengan janin yang aku kandung. Dirga pun meninggalkan aku di saat aku begitu mencintainya. Mereka berdua yang telah membuat aku seperti ini. Tapi mereka berdua yang akhirnya seakan mencampakkan aku." Nadia akhirnya menceritakan dari awal tentang kejadian dengan Bima.
" Aku tak berniat menjalin hubungan dengan pria lain dan akan mengalami penolakan dari pria itu atau keluarganya jika tahu siapa sebenarnya Kayla. Aku takut, Kirania. Karena itulah aku memilih bertahan dengan Dirga meskipun Dirga bersikap acuh terhadapku," sambung Nadia.
Tak terasa setetes air mata meleleh di pipi Kirania, mendengar semua cerita Nadia.
" Lantas Bu Nadia ingin saya melakukan apa?" tanya Kirania menyeka air matanya
" Tolong bujuk Dirga agar membatalkan gugatannya, dan aku akan merestui kalian menikah."
Terasa sakit di hati Kirania mendengar Nadia mengijinkan dia menikah dengan suaminya asal suaminya itu tidak menceraikannya. Bagaimanapun dia seorang wanita, wanita mana yang ingin dimadu? Tapi Nadia rela melakukan hal itu.
__ADS_1
" Sungguh saya tidak pernah ingin berada di posisi seperti ini. Saya juga tidak mengharapkan berjumpa kembali dengan Pak Dirga." Dengan nada tercekat Kirania terus berkata-kata. " Saya pun wanita, dan saya juga punya perasaan ..." Kirania menjeda ucapannya. " Kalau Bu Nadia bisa bantu saya, saya janji akan pergi jauh dari kehidupan kalian selamanya."
" Bantu kamu? Membantu apa?" Nadia mengeryitkan keningnya.
" Tebus saya dengan uang sebesar tujuh ratus juta, agar saya terbebas dari kontrak kerja yang dibuat Pak Dirga terhadap saya."
" Tujuh ratus juta??" Nadia membulatkan bola matanya mendengar ucapan Kirania.
" Iya, suami Bu Nadia mengikat saya dengan kontrak kerja yang tidak masuk akal untuk orang seperti saya. Saya harus membayar ganti rugi sejumlah itu jika saya ingin keluar dari pekerjaan saya ini. Seandainya saya punya uang sebanyak itu dari awal saya memilih mundur dari sana. Karena itu saya minta bantuan Bu Nadia, lepaskan saya dari kontrak kerja itu dan saya akan resign dari Angkasa Raya."
Sementara itu Dirga yang baru saja keluar dari bathroom meraih ponselnya saat nada panggil berbunyi di ponselnya.
" Ada apa, Do?" tanya Dirga menyahuti panggilan masuk di ponselnya yang berasal dari Edward.
" Bro, aku mau minta ijin membawa Kayla ke Jepang Minggu depan, bolehkah?"
Dirga mengeryitkan keningnya. " Ke Jepang? Untuk apa??"
" Aku janji membawanya jalan-jalan ke Disneyland di sana. Kebetulan Minggu depan aku ada ketemu relasi bisnis di Tokyo. Kalau kamu tak berkeberatan aku mau ajak Kayla dan pengasuhnya ke sana."
-
-
-
Bersambung ...
R : Aduh Thor kapan Rania akan bahagia, sih?
A : Rania akan bahagia, kok. Percayalah, dia akan menemukan kebahagiannya.
R : Tapi kapan? Lama banget, konflik melulu yang ada udah bab 100+ loh
A : Tenang baru 100+, belum nyampe 200+ kan?
R : Kalo kelamaan konflik, males deh bacanya. Aku unfavorit juga nih lama².
A : Jangan, dong😭😭😭😭😭😭😭
R : Makanya buruan dibuat Rania&Dirga bersatu, ga usah pake alasan ini itu ini itu! Boseeeeennn!!
__ADS_1
A : 🤔🤔🤔( mikir keras ) 🤭
Happy Reading❤️