RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Dirga Yang Senewen


__ADS_3

Dirga mengerjapkan matanya. Dia menatap ruangan saat dia membuka matanya, dia langsung terkesiap saat dia menyadari ternyata semalam dia tertidur di sofa ruang tamu.


Dirga memijat keningnya saat mengingat kejadian semalam, saat Kirania berlari meninggalkannya dengan kemarahan. Setelah Kirania meninggalkannya, Dirga memilih membiarkan Kirania menyendiri dengan emosi. Sementara dirinya memilih kembali mendudukkan tubuhnya di sofa.


Sejujurnya pertemuan kembali dengan Kirania merupakan suatu kejutan untuknya. Setelah enam tahun berpisah, akhirnya dia bisa berjumpa kembali dengan wanita yang benar-benar telah membuatnya bertekuk lutut. Dirga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya saat mengetahui jika Kirania ternyata adalah karyawannya, terlebih lagi setelah dia tahu ternyata wanita itu masih sendiri tak terikat hubungan dalam bentuk apapun dengan seorang pria. Tapi rasa kesal saat mengingat bagaimana dulu Kirania memutuskannya secara tiba-tiba, dan saat dia tahu Kirania pernah jalan dengan dosennya dulu hingga wanita itu mengkhianatinya, membuat rasa bahagia itu tertutupi oleh rasa ego untuk mengakui jika dia teramat sangat merindukan Kirania.


Apalagi saat dia tahu perubahan sikap Kirania yang sekarang berwatak lebih keras, bahkan menentangnya, walaupun wanita itu tahu jika dia adalah atasannya. Karena itulah dia berusaha menekan Kirania dengan mengikat wanita itu dengan kontrak kerja yang dia sadari itu tidak masuk akal. Tujuannya adalah agar Kirania tidak akan bisa menjauh darinya. Dia ingin membuat Kirania luluh terhadapnya, bahkan kalau bisa membuat wanita itu memohon agar kembali kepadanya. Karena sejujurnya kehadiran Kirania mengobarkan kembali keinginan untuk memiliki Kirania yang sejatinya keinginan itu memang tidak pernah mati.


Dirga melirik arloji di dinding yang telah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Dia segera melangkah ke arah ruang makan. Piring bekas makan semalam masih tergeletak di atas meja makan. Dia kemudian menghubungi orang yang biasa mengurus apartemennya untuk segera datang.


Empat puluh lima menit kemudian Dirga sudah rapih dengan setelan blazer berwarna denim dan keluar dari kamarnya menuju arah meja makan.


" Roti panggang sudah saya buatkan, Pak," ucap seorang wanita berumur empat puluh tahunan bernama Ibu Lina saat melihat kehadiran Dirga di ruang makan.


" Terima kasih, Bu." Dirga mendudukkan tubuhnya, kemudian Dirga menyantap sarapannya. Sepuluh menit berselang, Dirga sudah keluar dari apartemennya beranjak ke kamar sebelah yang ditempati Kirania.


Dirga menekan tombol bel apartemen Kirania. Lima menit menunggu, pintu apartemen itu tak juga terbuka. Dirga membuka handle pintu tapi pintu dalam posisi terkunci. Jam sudah menunjukkan hampir jam sembilan, membuatnya berpikir tidak mungkin Kirania masih tidur atau sedang mandi. Dirga kemudian kembali ke kamarnya guna mengambil access card cadangan apartemen Kirania.


Saat dia berhasil membuka pintu kamar Kirania, dia mendapati access card kamar wanita itu di bawah pintu. Dengan langkah tergesa Dirga melangkah lebar menuju kamar Kirania. Tak dijumpainya siapapun di kamar itu. Dirga membuka lemari yang ada di kamar itu, terlihat kosong tak ada satu helai pun baju di sana.


" Shit ....!!"


Dirga kemudian membuka laptop yang menyambungkannya dengan cctv yang terpasang di apartemen itu. Dirga mempercepat rekaman itu hingga dia melihat saat Kirania menangis selepas dari apartemennya, hingga saat terakhir Kirania keluar mendorong kopernya keluar apartemen dan itu terjadi pada pukul dua puluh lewat dua puluh lima menit.


" Pergi ke mana dia?" geram Dirga, dengan cepat tangannya menghubungi nomer seseorang.


" Pak Bildan, kirimkan nomer telepon orang yang atur tempat tinggal untuk Kirania Ambarwati," perintah Dirga kepada Pak Bildan


" Baik, Pak. Nanti saya kirim secepatnya."


Tak berapa lama dia memperoleh nomer telepon Adit yang dikirim oleh pak Bildan.


" Halo, Adit. Tolong kamu cek apartemen yang kemarin ditempati Kirania, apa dia ada kembali ke sana."


" Mbak Kirania? B-baik, Pak. Saya cek segera ke sana." Adit sepertinya paham siapa yang memerintahnya.


Sembari menunggu kabar dari Adit, Dirga kembali memutar rekaman cctv terutama saat Kirania menangis terduduk sambil menelungkupkan wajahnya. Dirga menelan saliva seraya mengusap kasar wajahnya. Dia bisa melihat jika apa yang telah dilakukannya membuat wanita itu terluka. Dirga mendengus kasar kembali mengusap wajahnya. Tak lama ponselnya berbunyi, dan notif pesan masuk yang dia terima.


" Selamat pagi, Pak. Saya Adit. Saya cek orang yang biasa urus apartemen di sana, katanya kamarnya kosong tidak ada siapa-siapa, Pak." Adit melaporkan via pesan WhatsApp.


" Oke." Dirga membalas.


" Pergi ke mana kamu?" Dirga terlihat gelisah. " Apa jangan-jangan dia kembali ke kotanya?"


Dirga kembali menghubungi Adit. " Tolong kamu cek jadwal keberangkatan kereta tujuan Cirebon jam keberangkatan terdekat jam berapa? Dan pesankan satu untuk saya, nanti saya kirim foto KTP saya." Setelah menghubungi Adit, Dirga menghubungi Lisna sekretarisnya.


" Halo, selamat pagi, Pak." Lisna lebih dahulu menyapanya.


" Lis, jadwal saya hari ini apa saja? Tolong kamu undur lusa. Hari ini saya tidak akan ke kantor, saya akan ke luar kota."


" Baik, Pak. Hari ini Pak Dirga ada janji dengan Pak Zulkarnaen dari PT. Cakrawala Persada," jawab Lisna.


" Pak Zul? Kalau begitu biar saya saja yang menghubunginya."


" Baik, Pak." Lisna menyahuti.


Dirga segera menutup panggilannya dengan Lisna saat dia melihat ada panggilan masuk tertunda di ponselnya yang berasal dari Adit.


" Halo, bagaimana?" tanya Dirga sembari melangkah keluar dari apartemen yang sebelumnya ditempati Kirania.

__ADS_1


" Maaf, Pak. Jam keberangkatan kereta arah Cirebon pukul sembilan lewat sepuluh menit. Dan jadwal selanjutnya ada di sore hari, sekitar jam limaan, Pak."


Dirga melirik arlojinya, hanya sisa tiga menit dari jadwal keberangkatan kereta. Rasanya tidak mungkin dia menggunakan kereta itu. Akhirnya tanpa pikir panjang Dirga memutuskan menggunakan mobilnya untuk menuju Cirebon.


***


Dirga memperhatikan rumah yang pernah dia kunjungi enam tahun lalu. Ada beberapa bagian bangunan yang nampak baru tapi halaman masih tetap asri dan rindang seperti dulu dengan pintu pagar terlihat lebih tinggi dari sebelumnya. Dirga menekan tombol yang ada di tembok pagar, karena dia melihat ada motor terparkir di sana, menandakan jika ada penghuninya saat ini.


Tak berapa lama muncullah seorang wanita yang dia kenal adalah Karina, adik dari Kirania.


" Cari siapa, Mas?" tanya Karina saat menghampiri pintu pagar.


" Assalamualaikum, hai Karina." Dirga berusaha ramah menyapa adik dari Kirania itu.


" Waalaikumsalam, Mas ini siapa, ya? Kok kenal saya?" Karina mengeryitkan keningnya merasa heran ada seorang pria tampan mengenali dirinya.


" Kamu lupa siapa aku?" Dirga tersenyum. " Kirania nya ada?"


" Mas ini temannya Mbak Rania, ya?" tanya Karina sembari membukakan pintu pagar.


" Kamu sudah ingat aku siapa?"


" Iya, temannya Mbak Rania, kan?"


Dirga menganggukan kepalanya. " Kamu apa kabar?"


" Alhamdulillah, baik ...."


" Mama Saras sehat juga?"


" I-iya Alhamdulillah."


" Iya, kok Mas ini tahu mendetail sekali? Memang Mas pernah ke sini sebelumnya?" Karina terheran mengetahui Dirga terlihat hapal dengan dengan keluarganya.


" Ternyata kamu belum ingat sama aku. Aku teman kuliah Kakak kamu."


" Oh ... iya-ya-ya. Siapa tuh, namanya?" Karina mencoba mengingat.


" Dirgantara."


" Ah, iya ... Kak Dirga? Ya Allah, Kak Dirga apa kabar? Kak Dirga tambah ganteng, deh," pekik Kirania sembari melonjak kegirangan. " Iiihh ... Kak Dirga tambah keren saja, deh. Sudah seperti bos gayanya." Karina melirik mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya. " Itu mobil Kak Dirga?"


Dirga terkekeh mendengar celotehan Karina. " Itu punya bos aku." Dirga berbohong. " Oh ya, Kirania ada di sini?"


" Yah, sayang banget, deh. Mbak Rania sekarang 'kan kerja di Jakarta, Kak."


" Apa dia nggak pulang ke sini?"


" Kemarin sih bilang ke mama mau pulang ke sini, katanya dapat tugas, ada yang mesti dikerjakan di sini. Tapi semalam kasih kabar cancel."


Dirga mendengus kasar saat mengetahui ternyata Kirania tidak kembali ke Cirebon.


" Hmmm, apa kalian punya kerabat di Jakarta?"


Karina menggeleng. " Setelah Pakde Danang meninggal, sekarang sudah nggak ada saudara di Jakarta."


" Lalu dia di mana?" gumam Dirga.


" Kenapa, Kak?"

__ADS_1


" Kakak kamu kabur."


" Kabur? Maksud Kak Dirga?"


" Aku sama Kakak kamu satu kantor, dan ... aku kemari karena disuruh menjemput Kakak kamu."


" Memang kenapa Mbak Rania sampai kabur?" Karina terlihat bingung.


" Entahlah, tapi aku mesti bawa pulang kembali Kakak kamu ke Jakarta, kalau tidak dia harus membayar denda uang tujuh ratus juta kepada perusahaan."


" Tujuh ratus juta??" Karina terperanjat. " Kok bisa Mbak Rania harus membayar sebanyak itu? Memang Mbak Rania melakukan kesalahan apa?" Karina seketika cemas.


" Itu denda yang mesti kakak kamu bayar kalau kakak kamu mengundurkan diri sebelum kontrak kerja selesai."


" Ya Allah, lalu Mbak sekarang di mana?"


" Kalau aku tahu, aku nggak akan ke sini cari tahu."


" Kak Dirga sudah hubungi telepon Mbak Rania?"


" Nomernya tidak bisa dihubungi."


Karina langsung menghubungi nomer kakaknya dengan ponsel yang dipegangnya.


" Assalamualaikum, Mbak. Mbak ada di mana?"


Dirga terbelalak saat nomer ponsel Kirania bisa dihubungi oleh Karina, sedangkan dari tadi dia telepon susah sekali tersambung dengan wanita itu.


" Waalaikumsalam, ada apa, Rin? Mbak ada di tempat kerja."


" Di tempat kerja? Serius di tempat kerja?"


" Iya, kenapa memang?"


" Beneran di tempat kerja ini? Mbak nggak kabur?"


" Kabur? Kabur ke mana? Mbak ada di kantor, kok."


" Mbak nggak bohong, kan?"


" Astaghfirullah, kamu nggak percaya? Kamu video call, deh."


Karina pun kemudian mengganti panggilannya menjadi video call.


" Lihat, nih. Suasana kantor, kan?"


Karina melihat kakaknya memang sedang berada di ruangan kantor.


" Oh, ya sudah. Selamat bekerja ya, Mbak. Assalamualaikum." Karina segera menutup panggilan video call nya. Lalu dia menoleh ke arah Dirga yang terlihat tercenung.


" Mbak Rania kerja kok, Kak. Nggak kabur."


Dirga menelan salivanya, saat mengetahui ternyata Kirania ada di kantornya. Bagaimana mungkin dia bisa senewen, bertindak tanpa pikir panjang saat mengetahui Kirania menghilang, hingga membawanya sampai ke Cirebon sedangkan Kirania saat ini masih berada di Jakarta.


Bersambung ...


Abang Bos, emang enak dikerjain?😜😜


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2