RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Insecure


__ADS_3

Kirania memandangi layar ponselnya dengan perasaan resah. Sedari sore dia tidak mendapat kabar dari Dirga. Dia melihat last seen di kontak Dirga. Pria itu ternyata terakhir aktif jam empat sore. Sedangkan kini waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Biasanya Dirga tidak pernah telat menghubunginya. Walaupun sudah menghabiskan waktu bersama dengannya di kampus dan dilanjut sampai sore mengobrol di rumah Pakde Danang. Malam harinya Dirga pasti akan tetap meneleponnya. Tapi kali ini kekasihnya itu sedang ada di luar kota dan terakhir menghubunginya selepas Ashar tadi. Sampai menjelang malam ini tak juga ada panggilan masuk atau sekedar pesan WhatsApp di ponselnya.


Kirania mendengus nafas kasar. Dia mencoba mengirim pesan, tapi hanya centang satu. Menandakan WhatsApp pria itu tidak aktif. Ada apa dengan Dirga? Kenapa tak menghubunginya lagi? Apakah sesuatu yang buruk menimpa kekasihnya itu? Perasaan gelisah pun kini menggelayuti hatinya.


Kirania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan posisi tengkurap. Tangannya masih menatap layar ponselnya. Dia memperhatikan gambar dirinya juga Dirga, yang Dirga ambil di dalam mobil saat pria itu memberikan bunga mawar untuknya.


Ddrrrttt ddrrrttt


Suara ponsel bergetar. Kirania langsung melihat layar ponselnya. Matanya langsung berbinar saat melihat nama Dirgantara yang kini sedang memanggilnya. Dengan cepat dia bangkit dari posisi tidurnya, dan mengangkat panggilan telepon dari Dirga.


" Assalamualaikum, Kak," Sapa Kirania bersemangat.


" Waalaikumsalam. Kamu belum tidur?"


" Belum, Kak."


" Kenapa? Gelisah nunggu kabar dari aku, ya?" Dirga terkekeh.


" Kakak ada di mana sekarang?" tanya Kirania mengacuhkan pertanyaan Dirga.


" Aku masih di Bandung. Kemungkinan juga besok aku masih belum bisa pulang, deh."


" Kenapa?" Ada nada kecewa dalam ucapan Kirania.


" Masih ditahan di sini. Nggak boleh pulang sama tuan rumahnya."


" Lalu pulang kapan?" tanya Kirania penasaran.


" Kenapa? Kangen, ya?" ledek Dirga.


" Nggak, kok. Biasa saja," sanggah Kirania berbohong.


" Benar nggak kangen?" Dirga semakin semangat meledek kekasihnya itu.


" Nggak."


" Ya sudah, kalau kamu nggak kangen. Aku tutup teleponnya."


" Kok ditutup?" protes Kirania cepat.


" Ya habis percuma, dong. Aku telepon tapi nggak dikangenin. Mending aku sudahi saja teleponnya. Assalamualaikum ...."


" Kak, jangan ..." pinta Kirania memohon.


" Jangan apa?"


" Jangan ditutup teleponnya."


" Bilang dulu kalau kamu kangen."


" Hmmm, iya aku kangen ..."


" Kangen siapa?"


" Kamu ...."


" Yang lengkap dari awal ngucapinnya, dong."


Kirania menghela nafas perlahan. Dia sadar kalau dia sedang dijebak oleh kekasihnya itu.

__ADS_1


" Cepat bilang, kalau nggak aku tutup, nih!" ancam Dirga lagi.


" Aku kangen kamu, Kak." Dengan cepat Kirania berucap. Sepertinya dia tak rela jika Dirga memutuskan sambungan teleponnya.


Terdengar suara tawa kecil Dirga di ponsel Kirania. Karena dia sudah berhasil membuat Kirania mengucapkan kalimat, yang sepertinya susah sekali keluar dari mulut wanita itu.


" Kalau gitu, kamu buka jendela kamar kamu, deh."


Kirania langsung menoleh ke arah jendela. " Memangnya kenapa?"


" Buka jendelanya."


Kirania menuruti perintah Dirga. Dia berjalan menuju arah jendela. Perlahan dia membuka daun jendela itu. Matanya langsung terkesiap saat mendapati Dirga berdiri di jalan depan rumah pakdenya.


" Sudah hilang kangennya?" Dirga masih berbicara di telepon.


" Kamu ngerjain aku, deh. Katanya masih di Bandung." Kirania mencebik.


Dirga terkekeh. " Aku mau bertamu tapi sudah malam. Jadi kita ngobrol begini saja sebentar, ya. Yang penting kamu bisa lihat aku. Aku juga bisa lihat kamu. Kita bisa melepas kangen kita ini."


" Iya, Kak."


" Aku sayang kamu ..."


Kirania tidak membalas tapi senyuman mengembang di bibirnya. Matanya pun masih lekat memandang pria yang sukses membuatnya jatuh hati itu.


" Kok nggak dibales? Kamu sayang aku nggak?"


" Iya, Kak."


" Iya apa?"


" Sayang siapa?"


Kirania kembali terdiam. Dia sadar Dirga seorang pria yang pandai berkata-kata.


" Aku pulang sekarang saja, deh. Kalau kamu nggak mau jawab." Dirga kembali mengancam membuat Kirania langsung memicingkan matanya.


" Iya aku sayang kamu ..."


Di bawah sinar lampu jalan terlihat seulas senyum tercetak di bibir Dirga. Dan pemandangan itu bisa terlihat oleh Kirania.


" Ya sudah, kamu tidur ya. Besok aku jemput kamu berangkat kuliah. Have a nice dream. I love you. Assalamualaikum ..."


" Waalaikumsalam." Kirania lalu menatap kepergian Dirga dengan senyum penuh kebahagiaan.


***


Dirga menatap lekat wajah Kirania yang sedang menyantap mie ayam, sepulang kuliah.


" Kenapa dilihatin sih, Kak?" Kirania dibuat salah tingkah oleh Dirga.


Dirga tersenyum, lalu menarik tissue dan membersihkan saos yang menempel di sudut bibir Kirania. " Makannya belepotan kaya anak kecil saja."


Kirania yang terkaget langsung menjauhkan wajahnya dari tangan Dirga. " Modus banget, deh."


" Lho, aku bantu kamu, kok." Dirga mengelak.


" Namanya juga lagi makan mie ayam, belepotan sedikit nggak apa-apa. Kalau sudah selesai makan nanti aku bisa lap sendiri, kok."

__ADS_1


" Tapi ada orang menawarkan jasa jangan ditolak, dong." Dirga terkekeh.


Kirania lalu menyumpit mie ayam kemudian mengarahkan ke mulut Dirga, membuat Dirga menaikkan alisnya. " Kode, nih?" Mulutnya kemudian melahap mie yang disuapkan Kirania untuknya.


" Kode apa?"


" Kode kalau kita next bisa bersentuhan bibir." Dirga tersenyum sambil mengedipkan matanya.


" Dih, mesum saja yang ada di pikiran kamu itu," celetuk Kirania. " Terbiasa sama mantan-mantan pacarannya bebas, ya?"


Dirga tekekeh. " Pacaran bebas itu yang seperti apa, sih?"


" Iya yang bebas."


" Apanya yang bebas?"


" Ya pacarannya."


" Iya pacarannya yang seperti gimana?"


" Tahu deh, ngomong sama kamu muter-muter terus dibawanya." Kirania mengerucutkan bibirnya kesal.


" Setelah ini kamu ikut aku, ya?" Dirga meneguk air mineral.


" Kemana, Kak?"


" Ke kantor papaku."


Deg


Kirania seketika menelan salivanya mendengar perkataan Dirga.


" K-kantor p-papa kamu?" Kirania langsung diserang rasa gugup.


" Iya."


" T-tapi u-untuk apa?"


" Untuk aku perkenalkan sebagai calon menantu, dong."


Seketika nafas Kirania seakan tercekat di tenggorokan. Dia masih belum percaya diri jika harus diperkenalkan kepada orang tua Dirga. Bukannya dia tidak mau. Tapi untuk berjumpa apalagi dikenalkan sebagai calon menantu orang tua Dirga, sepertinya hal itu jauh dari angan-angannya.


" Apa ini nggak terlalu cepat, Kak?" tanya Kirania kemudian.


" Maksud kamu?" Dirga mengeryitkan keningnya.


" Aku rasa belum saatnya Kak Dirga kenalkan aku ke keluarga Kakak."


" Kenapa? Apa kamu nggak serius dengan hubungan kita? Apa kamu berpikir aku main-main dengan hubungan ini?" Terdengar dingin kalimat yang diucapkan Dirga.


Kirania kemudian tertunduk. Sebenarnya bukan hanya tidak percaya diri saja yang dia rasakan. Tapi juga karena dia takut jika ada penolakan. Karena dia cukup sadar diri jika status ekonomi keluarga Dirga dan dirinya bagaikan langit dan bumi. Keluarga Dirga adalah pengusaha yang sukses, sedangkan dia adalah golongan dari rakyat jelata.


" Kenapa diam?" Pertanyaan Dirga membuatnya semakin menunduk.


" Apa mungkin kamu yang sebenarnya menganggap hubungan ini hanya main-main? Apa kamu nggak sungguh-sungguh sayang sama aku?!" tuding Dirga dengan nada ketus.


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2