RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Dia Bukan Tipeku


__ADS_3

Jam belum menunjukkan pukul enam pagi tapi Dirga sudah mendatangi rumah Kirania sejak jam setengah enam tadi.


" Rania masih di kamar, sepertinya lepas Shubuh tadi dia tertidur kembali," ucap Mama Saras pada Dirga yang duduk di teras rumah.


" Oh, pantas tadi pesan aku sehabis Shubuh nggak dia balas lagi, Ma ..." sahut Dirga menyesap teh hangat yang disodorkan Mama Saras untuknya.


" Keluarga kamu apa ada yang akan datang nanti, Dirga?" tanya Mama Saras kemudian.


" Mama aku pasti datang kok, Ma. Kemungkinan sepupu aku juga bisa datang," jawab Dirga.


" Ya syukurlah kalau begitu." Mama Saras menarik nafas lega. " Kalian berniat melakukan resepsi juga?"


" Tentu saja, Ma. Setidaknya relasi bisnis keluarga Poetra Laksmana harus tahu jika aku sudah menikah dengan wanita yang aku cintai." Dirga berucap bangga.


" Hmmm, kalau bisa jangan dalam waktu dekat ini ya, Dirga."


Dirga mengeryitkan keningnya. Permintaan Mama Saras boleh dibilang aneh. Kalau kebanyakan calon ibu mertua mengharapkan disegerakan resepsi pernikahan, Mama Saras malah ingin menundanya.


" Memang kenapa, Ma?" tanya Dirga heran.


" Kamu ini 'kan baru saja bercerai dengan istri kamu, rasanya nggak enak jika harus mengadakan resepsi dalam waktu dekat ini." Mama Saras mengungkapan alasannya.


" Ya sudah, nggak apa-apa terserah Mama saja enaknya gimana? Yang penting aku dan Rania menikah lebih dulu saja, Ma."


" Mama tengok Rania sebentar ya, sudah bangun atau belum anaknya." Mama Saras bangkit ingin membangunkan Kirania.


" Ma, aku saja yang bangun 'kan Rania, boleh? Cuma membangunkan saja kok, Ma. Nggak akan macam-macam." Dirga menyeringai.


Mama Saras berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata, " Iya sudah, sana ...."


Dirga langsung bergegas masuk ke dalam setelah mendapat ijin dari Mama Saras.


***


" Maaaa ... aku ngantuuukk ..." Kirania menutup wajahnya dengan selimut saat dia merasakan tepukan lembut di pundak Kirania. Dia menduga jika yang membangunkan itu adalah mamanya.


Dirga tersenyum melihat wanita yang dia cintai itu bertingkah manja.


" Memang semalam habis ngapain jam segini masih mengantuk, hmm?" Goda Dirga, padahal dia sendirilah yang membuat Kirania semalaman tidur hingga larut, karena dia mengajaknya melakukan video call hingga hampir jam satu malam.


Kirania yang samar mendengar suara Dirga langsung membuka selimut yang menutup wajahnya. Dia terbelalak saat matanya mendapati .Dirga yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.


" Kak, sedang apa Kak Dirga di sini?" tanya Kirania seraya bangkit dari peraduan. " Kamu masuk dari mana?" Kirania mengecek jendela kamarnya, dia takut jika Dirga masuk ke rumahnya sembunyi-sembunyi.


" Kamu pikir aku pencuri pakai masuk dari jendela?"


" Memang kamu pencuri, kok!" Kirania mencibirkan bibirnya, membuat Dirga langsung menyeringai.


" Pencuri apa, hmm?" Dirga langsung menarik pinggang Kirania hingga membuat Kirania berada dalam rengkuhannya.


" Kak, astaga ...!! Lepaskan ...!! Nanti mama lihat!" Kirania mencoba melepaskan diri dari belitan lengan kokoh Dirga sementara matanya tertuju ke arah pintu. Dia takut jika tiba-tiba mamanya muncul di sana.


" Kasih aku ciuman dulu baru aku lepasin kamu," ancam Dirga.


" Kak, lepaskan!! Nanti ada yang lihat." Kirania merasa kesal dengan ulah Dirga.


" Bagus dong kalau ada yang lihat, bisa nikahin kita sekarang juga." Dirga menggoda dengan mainkan alisnya turun naik.


" Kak ...!!"


" Apa sih, Sayang?"


" Jangan sampai aku tendang lagi itu kamu, ya!" ancaman Kirania kali ini berhasil membuat Dirga mengurai pelukannya.


" Kita mau menikah lho, Yank. Kamu tega merusak sumber kebahagian yang bisa membuat kamu merasakan nikmatnya surga dunia?" Dirga tak henti-hentinya menggoda Kirania hingga membuat wajah wanita itu terus saja bersemu merah.

__ADS_1


" Keluar ...!!" Kirania mendorong tubuh Dirga sampai ke pintu kamar, menyuruh pria itu keluar dari kamarnya.


" Jahat banget sih calon suami diusir-usir gini. Awas loh, nanti kalau sudah menikah pasti kehilangan kalau aku pergi."


" Keluar!! Aku mau mandi ...."


" Mau aku mandiin nggak?" Dirga mengerlingkan matanya.


" Kak ...!!"


" Kamu harus membiasakan diri untuk kita mandi bersama, karena kita akan melakukannya tiap hari jika sudah menikah nanti."


" Keluaaaarrr ...!!" Kirania sampai meninggikan suaranya, sementara sudah dipastikan warna mukanya sudah seperti kepiting rebus saat ini karena Dirga terus saja menggodanya.


" Aku sudah nggak sabar ingin menikahimu, menghalalkan kamu, Yank."


" Keluar, nggak?!" Kirania kemudian mengambil botol body lotion dan siap dilempar ke arah Dirga.


" Aku nggak butuh itu kok, Yank. Bentar lagi sudah sah, nggak perlu pakai itu." Dirga menyeringai.


Ucapan Dirga sontak membuat Kirania mengeryitkan keningnya lalu menoleh botol body lotion yang dipegangnya tanpa memahami apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


" Ada kamu, nggak perlu pakai itu."


" Keluaaaarrr!!" Kirania sudah mengayunkan botol body lotion itu.


" Iya, iya aku keluar ... sekalian pamit ya, aku mau langsung ke Jakarta." Dirga kemudian melangkah pintu.


" Kamu mau pulang sekarang?"


Langkah Dirga terhenti saat Kirania bertanya kepadanya.


" Iyalah, buat apa juga lama-lama di sini? Sudah diusir sekarang mau dilempar botol. Mending aku pulang saja ke Jakarta."


" Ke sini lagi kapan?"


Jawaban Dirga seketika membuat wajah Kirania itu sendu. Rasanya benar-benar tak rela harus berpisah dengan pria itu.


" Kenapa? Nggak rela ya aku tinggal?" Kirania kembali digoda Dirga.


" Nggak juga, biasa saja." Kirania melipat tangan di dada seraya memalingkan wajah seolah dia tak butuh dengan kehadiran Dirga.


" Yakin?"


" Iyalah ..." Kirania kemudian duduk di tepi tempat tidur denga tangan meraih ponsel berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


" Aku pamit ya ...."


" Hmmm ...."


" Assalamualaikum ...."


" Hmmm ...."


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam, sudah sana pergi!" Kirania langsung kembali menghempaskan tubuhnya dan menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi wajahnya tak perdulikan senyuman Dirga yang merasa bahagia menggoda kekasih hatinya itu.


***


" What's up, Bro?"


Suara Edward terdengar dari sebrang saat panggilan teleponnya terhubung.


" Sial, sembuyi di mana kau?"

__ADS_1


Edward terkekeh. " Memang masih butuh?"


" Sialan, ternyata semua itu ulahmu. Mestinya kau katakan di mana Rania saat itu, kenapa mesti kau tutupi?"


" Hahahaha ... dan kau langsung menemui wanitamu itu dengan mudahnya? No way ...."


Dirga menarik nafas perlahan. " Thanks, Bro ...."


" Aku nggak salah dengar? Seorang Dirgantara mengucapkan terima kasih? Mesti aku catat baik-baik tanggal dan hari bersejarah ini." Edward tergelak mengejek.


" Akhir pekan ini aku dan Rania akan menikah."


" Wow ... gerak cepat juga kau rupanya. Lantas bagaimana dengan tunangannya itu?"


" Sudah kami bereskan."


" Bereskan?"


" Aku dan Rania sudah menemui dia."


" Dia menerima begitu saja?"


" Ya, dengan memberikan luka memar di wajah dan tubuhku."


" Kau kalah darinya?"


" Kau pikir aku mudah begitu saja dikalahkan? Aku memilih diam menerima kemarahan dia. Luka memar yang aku rasakan nggak sebanding dengan rasa sakit hati dia akibat putusnya pertunangan dia."


Edward kembali terkekeh. " Sejak kapan kau perdulikan perasaan orang lain?"


" Apa kau bisa ikut hadir di acara ijab qobul nanti?" Dirga memilih tak menjawab sindiran Edward.


" Sorry, Bro. Besok aku sudah tidak di sini, jadi sepertinya aku tidak akan bisa datang.".


" Kau jadi akan pergi? Lalu bagaimana dengan Nadia?"


" Nadia? Memang kenapa dengan Nadia?"


" Bukankah kau dan Nadia sedang dekat?"


" Hahaha ... oh come on, Dude. Jangan kau berpikiran kalau aku ini sedang berusaha menaklukan dia."


" Aku rasa Nadia sudah mulai menyukaimu."


" Dia bukan tipeku ..." Edward kembali tergelak.


Sementara itu dari balik pintu seseorang yang sejak tadi mendengar percakapan Dirga dengan Edward yang sengaja di loudspeak oleh Dirga langsung merasa sesak saat mendengar pengakuan dari Edward hingga dia berniat meninggalkan kantor Dirga dan ....


" Buuugghh ...."


" Oh, maaf Bu Nadia, saya tidak tahu Ibu berdiri di sini," ujar Lisna yang menabrak Nadia, seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan Dirga dan Edward.


" Nadia?? Sejak kapan kau di sana?" tanya Dirga pada Nadia.


" Nadia?? Dia ada di sana?" suara Edward dari telpon terdengar kaget.


*


*


*


Bersambung ...


NT/MT error' ya, jadi up nya agak telat munculnya.

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2