RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bertemu Kayla


__ADS_3

Di tempat barunya ini Kirania tetap ditempatkan di divisi marketing. Luas ruang divisi marketing di tempat barunya ini lima kali lipat dari ruang kerja dia dan staffnya dulu. Ruangan itu disekat menjadi empat ruangan, masing-masing ruangan ditempati tiga orang staff, termasuk dirinya yang kini mempunyai dua orang partner dalam satu ruangan itu. Pandu dan Sheril, mereka berdua yang menjadi partner kerjanya sekarang.


Dan kini sudah satu Minggu Kirania bekerja di kantor pusat, kantor yang menjadi tempat kerjanya sekarang. Dia juga harus mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar termasuk mulai membuka komunikasi dengan karyawan lain, meskipun tidak satu divisi dengannya.


" Mumpung kita lagi di luar, kita cari makan siang saja, yuk!" ajak Sheril kepada Kirania, saat mereka berdua selesai mengunjungi pameran expo properti yang diadakan di salah satu mall di Jakarta.


" Boleh, kamu mau makan apa?" sahut Kirania melirik arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.


" Ayam bakar kamu suka? Dekat sini ada restoran ayam panggang paling enak." Sheril menawarkan pilihannya pada Kirania.


" Oke, nggak apa-apa." Kirania menyahuti.


" Pak, ke restoran ayam bakar yang biasa, ya!" perintah Sheril kepada Pak Jaka, driver mereka.


" Siap, Mbak." Pak Jaka menyahuti.


" Nanti Pak Jaka sekalian ikut makan saja bareng kita." Kirania menyuruh supir perusahaan itu untuk tak menunggu di depan.


" Nggak usah, Mbak. Biar saya tunggu di depan saja, nanti saya cari makan di warteg terdekat yang murah meriah," tolak Pak Jaka.


" Nggak apa-apa, Pak. Nanti saya yang bayarin, rejeki jangan ditolak, Pak," ucap Kirania.


" Oh, ya sudah ... makasih ya, Mbak," jawab Pak Jaka.


" Aku ditraktir kamu juga nggak, Ran?" tanya Sheril cengengesan.


" Boleh, tapi besok giliran kamu yang traktir." Kirania balas menjawab Sheril seraya tergelak.


" Yeee ... itu sama saja gantian, bukan traktir." Sheril mencebikkan bibirnya.


Kirania terkekeh. " Dulu jaman kuliah aku sama teman-temanku kalau makan yang bayar giliran begitu. Hari ini giliran aku, besok si A, lusa si B, dan harganya itu nggak boleh lebih dari lima puluh ribu, maklum aku anak rantau." Kirania mengingat masa-masa kuliahnya bersama kedua sahabatnya, Sabilla dan Hasna. Kedua sahabatnya itu kini sudah berkeluarga. Hasna awal tahun lalu menikah dan kembali ke Lampung, karena mendapatkan suami sama-sama orang Lampung. Sedangkan Sabilla malah saat ini sedang hamil besar anak kedua.


" Masa-masa kuliah memang tak terlupakan ya, Ran?"


Kirania tersenyum tipis mendengar ucapan Sheril. Masa kuliah memang tak terlupakan olehnya. Kisah persahabatan yang kuat antara dia dengan Sabilla dan Hasna yang masih terjalin hingga saat ini meskipun terpisah jarak, juga kisah cintanya yang harus terpaksa berakhir dengan pria yang menjadi cinta pertamanya, Dirgantara.


Kirania memalingkan wajah ke arah jendela seraya memejamkan mata. Mengapa hatinya masih saja terasa sakit tiap kali mengingat pria itu.


Tak berapa lama mobil yang dikendarai Pak Jaka memasuki halaman restoran ayam bakar. Kirania sedikit terkesiap menatap bangunan rumah makan itu. Dia masih ingat jelas jika tempat ini adalah tempat pertama yang dia kunjungi bersama Dirga, saat pria itu pertama kali mengantarnya sepulang kuliah.


" Ya Allah, kenapa harus menemukan hal-hal yang membuat aku harus teringat dia?" keluh Kirania membatin.


***


" Pril, tolong antar ini ke Pak Leo, lagi di ruang big bos sekarang."

__ADS_1


Kirania baru saja keluar dari toilet saat mendengar suara Winda memerintah April. Ruangan mereka bersebelahan dengan ruangan Kirania dan rekan-rekannya.


" Ogah, kamu saja Win, yang disuruh 'kan kamu," tolak April.


" Aku segan kalau disuruh ke ruangan big bos, takut bikin salah." Winda beralasan.


" Kan cuma antar arsip ini doang ke Pak Leo, bikin salahnya di mana?" April memutar bola matanya.


" Ya sudah, kalau gitu kamu saja ini yang antar." April mengedikkan bahunya.


" Ck, kamu ini nggak setia kawan banget." Winda mencebik, namun ekor matanya melihat Kirania yang melintas melewati ruangan mereka.


" Eh, Ran ... Ran, tunggu sebentar!" seru Winda kepada Kirania yang sepintas lalu mendengar obrolan mereka berdua.


" Ada apa?" tanya Kirania.


" Hmmm, bisa minta tolong, nggak?" tanya Winda.


" Minta tolong apa?" Kirania mengeryitkan keningnya.


" Tolong antar ini ke Pak Leo, sekarang Pak Leo sedang ada di ruang big bos di lantai delapan." Winda menyodorkan map berisi arsip.


" Oke." Kirania menerima map itu dari tangan Winda.


" Apaan sih, lu! Rania-nya saja nggak keberatan, kenapa lu yang protes?!" sergah Winda.


" Ya lu main perintah-perintah seenaknya saja." Pandu membalas.


" Yang kasih perintah itu bukan gue, tapi Pak Leo!" Winda menyangkal.


" Tapi yang diperintah Pak Leo itu lu, bukan Rania," balas Pandu lagi.


" Sudah--sudah, kenapa kalian mesti bertengkar sih? Memang apa susahnya, cuma antar ini doang, kan?" Kirania mencoba menengahi.


" Kamu nggak tahu big bos itu seperti apa, Ran," Sheril yang mendengar ribut-ribut ikut keluar ruangan.


" Seperti apa memangnya? Monster??" kelakar Kirania terkekeh.


" Astaga, Ran. Sempat-sempatnya kamu mengatai big bos. Kalau sampai big bos denger ucapanmu tadi, bisa-bisa kamu digantung, lho!" Sheril mendramatisir.


" Serius? Memang jaman sekarang ada bos begitu? Kenapa nggak kalian demo saja dia suruh lengser." Kirania terkekeh seraya berjalan ke luar ruangan dengan arsip di tangannya yang akan diserahkan ke Pak Leo.


***


Ting

__ADS_1


Bersamaan pintu lift terbuka dan saat Kirania hendak melangkahkan kaki ke luar lift, tiba-tiba seorang anak kecil menabrak kaki Kirania.


Anak kecil itu memasuki lift yang tadi mengantar Kirania ke lantai delapan.


" Ssssttt ... Ateu jangan biyang-biyang encus Kela umpet sini, ya." ( Tante jangan bilang-bilang suster, Kayla bersembunyi di sini ) ucap anak kecil itu sembari mendekatkan jari telunjuk ke dekat bibirnya. Awalnya Kirania hanya tercenung, tapi saat melihat pintu lift mulai tertutup Kirania langsung terkesiap.


" Adik cantik jangan main di dalam, ayo keluar." Lengan kiri Kirania mencengkal pintu lift agar tak tertutup, sedang tangan kanannya terulur ke arah anak kecil berwajah cantik itu.


" Nda mau, Kela mau umpet." Anak kecil bernama Kayla tak menuruti apa yang diminta Kirania.


" Adik sayang, nggak boleh main di dalam lift, bahaya. Sini pegang tangan Tante." Kirania semakin mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kayla.


" Nda mau!!" pekik Kayla memukul tangan Kirania agar menjauh darinya.


Melihat gadis kecil itu keras kepala tak juga keluar dari dalam lift, akhirnya Kirania mengalah dengan masuk kembali ke dalam lift.


" Sayang kita balik lagi ke atas ya, nanti mama kamu cariin." Kirania sambil duduk berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Kayla, kemudian menggendong gadis kecil berumur tiga tahun itu.


" Lepas ...!! Ateu jahat ...!! Ateu jeyek !!(jelek) Ateu mau cuyik (culik) Kayla!! Papa ... Kela mau dicuyik!!" Kayla terus meronta-ronta sambil menangis dan teriak, hingga pintu lift terbuka di lantai empat karena memang sudah ada yang menunggu lift itu di lantai itu.


" Lho, kenapa, Mbak?" tanya dua orang karyawan yang masuk ke ruang lift di mana Kirania dan Kayla berada.


" Anak ini tadi main di lift, Pak. Saya suruh dia keluar tapi menolak akhirnya saya ikuti dia. Saya bermaksud kembali ke lantai delapan di mana anak ini tadi berada." Kirania menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi.


" Anak ini kalau nggak salah anaknya big bos." Salah satu karyawan itu mengenali siapa gadis kecil yang sedang mengamuk dalam gendongan Kirania.


" Oh iya benar. Wah ... mbak hati-hati, lho. Mbak bisa kena masalah berurusan dengan anaknya bos." Karyawan lainnya menimpali.


" Sebaiknya Mbak cepat kembalikan anak ini ke tempat tadi Mbak menemukannya," ucap karyawan tadi.


" I-iya, Pak. Makasih." Akhirnya setelah mengantar dua karyawan tadi ke lantai tujuh, kini lift pun berhenti di lantai delapan. Tempat di mana Kirania mendapatkan anak kecil itu berlari masuk ke dalam lift.


Ting


Saat pintu terbuka, pendengaran Kirania menangkap suara seseorang bicara dengan suara tinggi dan menggelegar dengan nada penuh emosi.


" Kalian berdua kerja nggak becus! Menjaga satu anak umur tiga tahun saja sampai kecolongan begini!! Kalian berdua mau saya pecat?!"


Bersambung ...



Gimana-gimana, udah pada siap ketemu Big Bos?? 😁


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2