RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Pletak


Kembali terdengar suara yang sama, membuat Nadia beranjak menuju arah balkon dan mendongakkan kepala ke bawah kamarnya. Matanya membulat sempurna saat dia mendapati sosok pria yang sedang dia tangisi sedang berdiri di bawah kamarnya.


" Edo? Kenapa kamu masih belum pulang?" tanya Nadia.


" Apa kau tak ingin menahanku agar tetap menemanimu?"


Nadia mengeryitkan keningnya tak paham apa maksud ucapan Edward.


" Apa kau ingin aku pergi dan entah kapan kita bisa bertemu kembali?"


Pertanyaan Edward kali ini sukses membuat Nadia terisak seraya menutup mulutnya. Edward yang melihat Nadia menangis langsung melihat ke arah pohon yang dahannya menjuntai hingga dekat arah balkon kamar Nadia. Dengan cepat Edward menaiki pohon itu membuat Nadia terbelalak dan memekik kaget.


" Edo, apa yang kamu lakukan, itu bahaya!" pekik Nadia saat Edward berusaha melangkah dari dahan pohon ke tembok tepi balkon yang berjarak hanya satu meter. Saat dirasa sudah pas, Edward langsung melompat ke dalam balkon kamar Nadia.


" Kamu gila, ya? Itu bahaya jika sampai terjatuh." Nadia menggerutu seraya menghapus air matanya.


Edward terkekeh seraya berucap, " Semua sudah aku perhitungkan, tidak akan jatuh."


" Lalu untuk apa kamu naik kemari? Bukankah aku sudah memintamu untuk segera pergi."


Edward berjalan menghampiri Nadia lalu tangannya terulur menghapus cairan bening yang membasahi pipi Nadia.


" Apa kau yakin menginginkan aku pergi?" tanya Edward lembut.


Sikap Edward yang seperti itu spontan membuat dada Nadia bergemuruh. Mungkin benar yang dikatakan Naomi jika kebersamaannya bersama Edward membuat dirinya merasa nyaman. Benar juga kata Dirga jika dia mulai menyukai Edward. Seandainya bisa dia ingin langsung berhambur memeluk tubuh pria di hadapannya itu, tapi dia takut. Nadia takut tidak bisa mengontrol perasaannya, sedangkan dia dengar sendiri jika Edward bukanlah tipe pria yang suka terikat dengan suatu hubungan yang serius.


" Bukankah kau memang ingin pergi? A-aku ti-tidak punya hak untuk melarangmu pergi," lirih Nadia dengan wajah tertunduk.


" Aku memang akan pergi, tapi aku ingin kau ikut bersamaku." Edward kini menggenggam kedua tangan Nadia membuat Nadia mengangkat kembali wajahnya.


" M-maksud kamu?" Nadia menautkan kedua alisnya hingga menghasilkan sedikit kerutan di keningnya.


" Ikutlah bersamaku, aku ingin kau menemaniku di mana pun aku berada." Edward terus menggenggam jemari berkulit halus Nadia. " Kita bisa memulai suatu hubungan, tinggalah bersamaku."

__ADS_1


Jantung Nadia berdebar semakin kencang, bahkan untuk benafas pun seakan tiba-tiba sulit untuk dihirupnya saat mendengar ucapan Edward yang berhasil melenakan sukmanya tadi. Namun Nadia segera tersadar, dia menarik kedua tangannya dari genggaman Edward dan berjalan menjauh dari pria itu. Pengakuan Edward bahwa pria itu tidak berminat dengan pernikahan dan juga pengakuan Edward yang sempat dia curi dengar saat menelpon dengan Dirga masih terngiang di telinganya. Edward mengatakan jika dia bukanlah wanita tipe pria itu.


" A-aku tidak bisa, Do." Tangan Nadia kini memeluk tubuh rampingnya sendiri.


" Kenapa? Bukankah kau menyukaiku?"


Mata Nadia terbelalak saat mendengar pertanyaan Edward tadi.


" Ti-tidak! Siapa yang mengatakan itu? A-aku tidak mungkin menyukaimu," tepis Nadia mencoba membohongi hatinya.


" Tidak perlu ada orang yang mengatakan hal itu, karena aku bisa merasakannya sendiri." Edward kembali mendekat ke arah Nadia. Dia lalu menarik lembut pundak wanita itu hingga kini mereka kembali saling berhadapan. " Aku bisa merasakan kalau kau menyukaiku, kau merasa nyaman jika di dekatku, dan kau merasa sedih harus berpisah dariku. Karena itu ikutlah bersamaku." Dengan penuh percaya diri Edward mengatakan hal itu membuat Nadia tidak kuasa untuk tidak terisak.


" Tolong jangan lakukan ini, Do. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan Kak Bima dulu." Masih dengan tersedu Nadia berkata-kata.


" Kenapa kau takut? Aku bisa memberikan kebahagian yang selama ini tidak kamu dapatkan dari pria mana pun, bahkan Dirga sekalipun." Edward kini merangkum wajah cantik Nadia membuat Nadia harus berulang-ulang menelan salivanya dengan dada yang tak karuan rasanya.


" A-aku tidak bisa mengikuti gaya hidupmu yang bebas karena aku tidak ingin ada Kayla-Kayla lain yang lahir karena hubungan di luar nikah. Aku menginginkan sebuah keluarga yang harmonis bukan hanya untuk bersenang-senang semata. Dan kau tidak bisa mewujudkan itu, Edo." Nadia mengurai tangan Edo yang menangkup kedua pipinya.


" Menikahlah denganku ...."


Perkataan Edward kali ini benar-benar membuat Nadia terperangah dan seolah membeku.


Mata Nadia mengerjap saat kembali Edward mengatakan kalimat yang membuat kakinya melemas, bahkan mungkin saja dia langsung terkulai jika tangannya tidak segera meraih tepi balkon untuk menahan tubuhnya agar tak luruh jatuh. Apalagi saat punggung jemari Edward kini menyusuri kulit wajahnya hingga membuat jantungnya berdebar lebih kuat dari biasanya.


" Bagaimana? Apa kau mau?" ucapan Edward kali ini berhasil mengembalikan akal sehatnya.


" B-bukankah kau tidak menyukai ikatan pernikahan?" Nadia ingin beranjak menjauh tapi lengan berotot liat milik Edward lebih cepat meraih pinggang Nadia hingga saat ini wanita itu sudah berada dalam rengkuhan tubuh kekar Edward.


" Mungkin awalnya seperti itu, tapi saat aku mengetahui kisah hidupmu, nasehat Dirga tentang pernikahan dan permintaan Kayla yang memintaku untuk menjadi papa barunya membuat aku berubah pikiran."


" Permintaan Kayla? J-jadi Kayla bilang ke kamu dia ingin punya papa baru?" Nadia terbelalak.


" Iya, dia meminta aku menjadi papanya." Punggung jari Edward kembali membelai lembut wajah Nadia.


" Ya Tuhan ..." Nadia buru-buru memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tak nampak jelas oleh Edward.

__ADS_1


" Aku rasa tidak ada salahnya aku menjalankan apa yang dikatakan sepupuku itu untuk memberanikan diri menjalin sebuah ikatan suci pernikahan."


" Bukankah tadi di bawah pun kau bilang tak berniat menginginkan pernikahan?" Nadia harus mati-matian menghilangkan rasa gugupnya karena saat ini posisinya terlihat sangat intim dengan Edward.


" Aku sengaja mengatakan hal itu, aku ingin tahu reaksimu. Sebenarnya aku berharap kau bisa menahanku dengan mengatakan ' Jangan pergi, temani aku di sini' tapi ternyata kau cukup gengsi mengatakan hal itu walaupun sebenarnya kau merasa sedih dan menangisi aku?" sindir Edward menggoda Nadia.


" Siapa yang menangisimu?" Nadia menyangkal dengan cepat.


" Matamu ini sudah berkali-kali meneteskan air mata untukku dan kau masih menyangkalnya, hmm?"


" A-aku ..." Suara Nadia seolah tercekat di tenggorokan hingga hanya bisa menundukkan kepala, rasanya sangat malu sekali jika perasaannya diketahui oleh Edward.


" Setelah masa iddah mu selesai, aku akan segera menikahimu."


Nadia kembali menegakkan kepalanya dengan mata membulat sempurna.


" K-kau?"


" Sekarang ini waktunya kau bahagia. Kau jangan mau kalah dengan mantan suamimu itu. Dia sudah menikah dan bahagia dengan istrinya. Kau juga harus bahagia dengan calon suamimu ini." Edward tersenyum membuat Nadia hanya termangu. Apalagi saat wajah Edward mendekat ke wajahnya. Dan saat bibir tebal Edward menyentuh bibirnya, memberikan sebuah sentuhan yang langsung membuat darahnya berdesir hebat. Edward begitu sanggup membuai dirinya hingga saat ini Nadia merasa terbang ke atas awan menerima sentuhan dari pria yang secara tidak sengaja memasuki hatinya. Sebuah sentuhan yang entah dia sendiri lupa kapan terakhir dia merasakan sentuhan lembut seperti sekarang ini.


*


*


*


.Bersambung ...


Nadia ❤️ Edward happy ending ya. Seperti yang aku janjikan jika Othor akan memberikan jodoh masing² tiap tokoh yang hadir di sini.



Visual Nadia


__ADS_1


Visual Edward


Happy Reading❤️


__ADS_2