
Kirania berjalan menuju arah nakas saat ponselnya berbunyi, ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan bathrobe.
" Assalamualaikum, Ran. Kamu bagaimana? Janin di perut kamu apa masih bikin Mama Papanya kerepotan?" Ternyata Mama Saras yang menghubungi Kirania.
" Waalaikumsalam, Ma. Kadang-kadang sih, Ma."
" Jangan lupa vitaminnya selalu diminum dan jangan terlalu capek beraktivitas." Mama Saras menasehati Kirania.
" Iya, Ma. Mama sendiri apa kabar? Rania kangen deh sama Mama." Kirania berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
" Mama Alhamdulillah baik dan sehat," sahut Mama Saras.
" Mama harus sehat-sehat terus, ya! Biar nanti bisa gendong calon cucu Mama ini." Kirania menatap ke arah perutnya dan mengusap perutnya yang sudah nampak membuncit.
" Aamiin, Insya Allah ya, Ran. Mudah-mudahan Allah kasih kesehatan kepada Mama biar Mama juga bisa lihat cucu Mama lahir nanti."
" Mama jangan capek-capek urus toko, serahkan saja ke yang lain. Abang 'kan sudah suruh orang buat membantu pekerjaan Mama di pasar. Mama serahkan saja semuanya ke dia. Orang yang Abang kirim itu nggak sembarangan lho, Ma. Ditestnya saja sudah kayak test ujian nasional." Kirania terkekeh karena suaminya itu memang memilih orang pilihan yang akan berada di dekat Mama Saras, karena Mama dari istrinya itu tidak ditemani Kirania dan Karina di kota asalnya. Dirga memilih orang yang punya tanggung jawab dan bisa dipercaya dalam mengurus Mama Saras dan bisnis kecil-kecilan mertuanya itu.
" Hmmm, beda saja kalau punya menantu bos besar." Mama Saras pun ikut terkekeh. " Kalau dihitung-hitung, laba dari hasil penjualan di toko nggak akan bisa menutup gaji untuk mereka, Ran." Memang untuk urusan upah yang diterima oleh semua pekerja yang menemani Mama Saras, Dirga lah yang menghandlenya.
" Menantu Mama yang satu ini 'kan memang istimewa, Ma." Kirania terkikik mengingat betapa suaminya itu selalu melakukan tindakan yang berlebihan, bahkan sejak pertama kali bertemu dengannya.
" Oh ya, Ran. Lusa Bude kamu mau ke sini." Mama Saras menyampaikan berita akan kedatangan Bude Arum ke kota asal Kirania.
" Bude Arum, Ma?"
" Iya."
" Aduh, Rania ingin ketemu sama Bude, Ma. Rania besok ke sana deh, Ma. Kangen juga sama Bude." Kirania nampak antusias saat dikabari jika Budenya itu akan datang ke rumah Mamanya.
" Kamu memang boleh kemari sama suami kamu, Ran? Besok itu 'kan bukan weekend, suami kamu 'kan kerja." Mama Saras yang sangat hapal bagaimana sikap menantunya langsung menduga jika Kirania tidak akan mudah diijinkan pergi sendirian dalam kondisi hamil enam bulan seperti sekarang ini.
" Memangnya kenapa kalau hari kerja, Ma? Yang kerja itu 'kan Abang bukan Rania. Dan yang mau ke Cirebon itu Rania bukan Abang."
" Tapi apa Dirga mengijinkan kamu ke sini sendirian?"
" Kenapa nggak boleh sih, Ma? Orang Rania mau bertemu dengan orang tua sendiri, kok." sahut Kirania santai. Walaupun sebenarnya dia pun merasa jika suaminya tidak akan semudah itu mengijinkannya pergi, tapi tentu saja kehamilannya ini bisa dia jadikan alasan agar suaminya itu mengikuti kemauannya yang sedang menyandang predikat ibu hamil.
__ADS_1
***
" Abang ..." Kirania menyandarkan kepalanya di lengan kekar milik suaminya.
" Ada apa, Sayang?" sahut Dirga seraya mengusap perut istrinya yang sudah mulai membuncit.
" Aku kangen Bude Arum ..." Kirania mendongakkan kepalanya hingga kini wajah suaminya itu memenuhi penglihatannya.
" Ya sudah nanti aku suruh orang untuk jemput Bude Arum kemari. Aku juga kangen sama Bude." Dirga kembali menyahuti perkataan Kirania.
" Tapi kata Mamaku lusa Bude mau ke Cirebon."
Tangan Dirga kini berpindah mengusap wajah cantik Kirania. " Kamu pasti kangen sama Mama dan Bude juga, kan?" Sepertinya Dirga memahami apa yang diinginkan oleh Kirania.
Kirania pun langsung menganggukkan kepalanya seraya mengembangkan senyuman menanggapi ucapan suaminya. Dia merasa senang karena sepertinya suaminya itu mengerti akan kerinduannya dengan anggota keluarganya itu.
" Kalau begitu nanti aku suruh orang untuk jemput Mama dan Bude ke sini."
Senyum Kirania seketika menyurut saat dia tahu jika apa yang ada di bayangannya dengan apa yang direncanakan Dirga ternyata berbeda.
" Kok malah Mama dan Bude yang dibawa kemari sih, Abang?" protes Kirania.
" Iya, tapi bukan mereka yang kita boyong kemari."
" Lalu?"
Tangan Kirania memainkan kancing piyama Dirga dan membukanya sedikit hingga tangannya kini bisa memainkan rambut-rambut halus di dada Dirga.
" Aku yang ingin ke sana."
" Tidak, Sayang! Lusa aku harus menghadiri meeting penting. Ada relasi bisnis dari Korea yang ingin bertemu." Dirga dengan tegas menolak keinginan Kirania yang ingin pulang ke rumah orang tuanya.
" Abang, kalau Abang nggak bisa menemani aku ke Cirebon, nggak apa-apa aku sendiri saja yang pulang ke sana." Kirania tetap berusaha membujuk sang suami agar meluluskan permintaannya.
" Aku tidak mengijinkan kamu pergi ke sana jika tidak denganku!"
" Abang melarang aku bertemu orang tua aku? Abang mau jadi menantu durhaka?!" Kirania menghentikan memainkan bulu-bulu di dada Dirga. Dia merasa kesal karena suaminya itu justru terus melarangnya pulang ke kampung halaman orang tuanya.
__ADS_1
" Bukan begitu, Sayang. Aku nggak melarang kamu ketemu Mama dan Bude. Tapi nanti menunggu weekend saja kita ke sananya." Dirga yang mendapati wajah istrinya sudah memberengut langsung menjelaskan maksudnya.
" Bude cuma dua hari di Cirebon, kalau kita menunggu weekend, Bude keburu pulang ke Purwokerto, Abang." Kirania mencebikkan bibirnya.
" Ya kita tahan dulu supaya Bude jangan buru-buru pulang."
" Abang, Bude di Puwokerto itu menjaga keponakan-keponakannya. Kalau kita menahan Bude lama-lama di Cirebon, keponakan-keponakan Bude siapa yang mengurusi? Abang jangan seenaknya saya menyuruh orang mengikuti apa yang Abang rencankan, ya!" Kirania nampak sewot dengan usulan yang menyuruh Bude Arum menetap lebih lama.
Kirania kemudian merubah posisi tidurnya dan menjauh dari suaminya. Dia memiringkan posisi tidurnya ke arah kiri membelakangi Dirga.
" Sayang, kenapa tidur membelakangiku?" Dirga langsung memprotes tindakan istrinya yang langsung menjaga jarak dengannya. Dia lalu mendekati istrinya seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
" Nggak usah pegang-pegang!" ketus Kirania menepis tangan sang suami yang menyentuh pinggangnya.
" Galak banget, sih." Dirga terkekeh melihat istrinya merajuk. Dia juga seakan tidak memperdulikan istrinya yang sedang marah itu.
" Ayo kita lanjutkan. Tadi kamu sudah buka kancing piyama aku, itu kode untuk mengajak bercinta, kan?" Dirga kini mencium ceruk leher Kirania.
" Nggak ada acara bercinta sebelum Abang mengijinkan aku pulang ke Cirebon!" Kirania kemudian bangkit dan beranjak dari peraduannya.
" Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Dirga yang melihat istrinya itu berjalan ke luar dengan membawa bantal dan juga guling.
" Aku mau tidur di kamar Mama Utami, dan aku mau mengadu sama Mama kalau Abang jahat! Nggak bolehin aku menengok Mamaku!" ketus Kirania dengan tatapan mata sinis dengan ekor matanya lalu berjalan meninggalkan Dirga sendirian di kamar.
" Sayang, Sayang ... tunggu dulu!" Dirga lalu mengejar Kirania hingga kini pria itu berhasil mengangkat tubuh Kirania dengan kedua lengannya.
" Oke, oke ... besok aku antar kamu pulang. Tapi jangan lama-lama di sana, aku nggak bisa berjauhan terlalu lama denganmu, Sayang." Dirga kemudian menurunkan tubuh Kirania.
" Nah, begitu, dong! Itu namanya suami idaman." Kirania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. " Ayo, Abang! Katanya mau mengajakku bercinta ..." lanjut Kirania seraya melengkungkan bibirnya.
*
*
*
Untuk kelanjutan RTB, insya Allah nanti akan dilanjut dikisah anak mereka. Tunggu saja info selanjutnya. Makasih
__ADS_1
Happy Reading❤️