
Seorang pria tengah membaca dengan serius surat yang ada dalam genggamannya, seraya menelan salivanya. Segera dia menekan tombol talk pada intercom di meja kerjanya.
" Ris, ke ruangan saya segera," ucap pria itu.
Tak berapa lama pintu ruangannya diketuk dan seorang pegawai wanita masuk ke dalam ruangan pria itu.
" Pak Bildan memanggil saya?" tanya Risa karyawan yang dipanggil oleh pria yang ternyata adalah Pak Bildan.
" Siapa yang menaruh ini di meja saya?" Pak Bildan menunjuk surat di tangannya.
" Saya, Pak."
" Siapa yang menyerahkan ke kamu surat ini?"
" Itu, asisten pribadi Pak Dirga kalau saya nggak salah ingat, Pak."
" Kapan dia kasih surat ini?"
" Kemarin sore, Pak."
Pak Bildan menghela nafas dalam-dalam seraya melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 09.30.
" Kamu kembalilah ke tempatmu," perintah Pak Bildan kepada karyawannya.
" Baik, Pak. Permisi." Risa pun segera pamit meninggalkan ruangan Pak Bildan.
Selepas Risa keluar ruangan Pak Bildan lalu menekan nomer extension sekretaris Dirga.
" Halo, Lis. Apa Kirania ada di tempat?" tanya Pak Bildan setelah panggilan itu tersambung.
" Kirania belum datang Pak. Kemungkinan bersama Pak Dirga ketemu klien pagi ini. Ada apa memangnya, Pak?"
" Tidak ada apa-apa. Ya sudah ... terima kasih, Lis."
" Sama-sama, Pak."
Pak Bildan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya seraya menghela nafas panjang. Dia sudah bisa bayangkan akan seperti apa marahnya Dirga jika sampai mengetahui surat pengunduran diri Kirania beserta bukti transfer itu.
***
Hampir jam sebelas siang Dirga kembali ke kantor setelah melakukan pertemuan kembali dengan Pak Dicky. Syukurlah dia tak membawa Kirania tadi, kalau dia mengajak wanita yang dia cintai itu, sudah pasti Pak Dicky akan terus berupaya mendekati Kirania.
__ADS_1
" Selamat siang, Pak." Lisna menyambut kedatangan Dirga.
" Siang." Dirga membalas. " Kirania ada di dalam? Dari tadi saya telepon nomernya nggak bisa dihubungi," tanya Dirga kemudian.
" Kirania? Memangnya dia nggak sama Pak Dirga?" tanya Lisna terheran.
" Saya pergi sendiri, memangnya dia nggak ada?" Dirga bergegas ke ruangannya untuk memastikan keberadaan Kirania.
" Ke mana dia?" Nada suara Dirga mulai sedikit mengeras saat tak dijumpainya Kirania di ruang kerjanya. Dirga pun kembali keluar menemui Lisna.
" Saya juga tidak tahu, Pak. Karena dari pagi saya tidak melihat Kirania datang." Lisna menyahuti. " Tapi ...."
" Tapi apa??" Dirga memotong perkataan Lisna dengan cepat.
" Tadi Pak Bildan juga tanya sama saya, apa Kirania ada?"
" Pak Bildan?" Dirga mengeryitkan keningnya.
" Iya, Pak."
" Suruh Pak Bildan ke ruangan saya sekarang!" perintah Dirga.
" Baik, Pak."
Tok tok tok
" Permisi, Pak." Pak Bildan yang muncul dari balik pintu. " Bapak mencari saya?" tanyanya kemudian.
" Lisna bilang Pak Bildan mencari Kirania, ada apa?" Dirga bertanya dengan sorot mata yang tajam membuat Pak Bildan menelan salivanya, apalagi jika Dirga tahu tentang Kirania yang mengundurkan diri.
" Maaf, Pak Dirga. S-saya tadi mencari Kirania karena, karena pagi tadi saya menemukan surat ini di atas meja saya, Pak." Pak Bildan yang sudah menduga jika Dirga akan menanyakan hal ini, mengantisipasi dengan membawa surat itu saat menemui Dirga.
Dirga dengan cepat menyambar surat yang disodorkan Pak Bildan kepadanya. Mata Dirga langsung terbelalak saat membaca surat pengunduran diri dari Kirania terlebih lagi bukti transfer senilai tujuh ratus dua puluh juta ke rekening perusahaan. Seketika gigi Dirga mengerat, rahang tegasnya pun semakin mengeras dan aura gelap seolah mulai menutupi wajah tampan pria itu.
" Apa maksudnya dengan semua ini?" Dengan suara menyentak Dirga mengacungkan surat yang dipegangnya ke arah Pak Bildan.
" Kirania resign dari perusahaan ini, Pak."
" Bagaimana bisa?!" bentak Dirga dengan dengan sorot mata tajam bak elang yang siap menyerang mangsanya. " Kenapa Pak Bildan tak menahannya? Kenapa Pak Bildan tidak segera memberitahu saya tentang hal ini?!" hardik Dirga dengan suara menggelegar.
" M-maaf, Pak Dirga. Saya juga baru mengetahui tadi pagi. Menurut staff saya, Kirania menyerahkan surat itu kemarin sore." Pak Bildan menjelaskan.
__ADS_1
Dirga menautkan kedua alisnya. " Kemarin sore? Jam berapa?" selidik Dirga, karena kemarin sore Kirania pulang bersamanya.
" Sebelum waktu pulang, sekitar jam empat-setengah limaan, Pak."
Dirga kembali teringat sekitar jam segitu, Kirania ijin kepadanya untuk ke toilet, dan ternyata digunakan wanita itu untuk mengantarkan surat itu ke bagian HRD.
" Tolong Pak Bildan cek ke divisi keuangan, suruh Pak Wendy selidiki dari cabang mana transaksi pembayaran ini. Dan suruh tanya pihak bank siapa pengirim dana ini, minta bantuan pihak bank agar bisa melihat rekaman cctv sesuai jam transaksi siapa-siapa saja orang yang datang saat transaksi penyetoran dana itu terjadi," perintah Dirga dengan nada dingin. " Aku ingin tahu siapa yang telah berani membantu Rania, Rania tidak mungkin bertindak sendiri, dia tidak mungkin membayar uang itu jika bukan karena ada yang membantunya." Batin Dirga dengan dada terasa mendidih dan wajah yang memerah karena emosi.
***
" Kamu serius, Ran? Apa kamu sudah memikirkan semuanya matang-matang? Masa depan kamu lho, yang dipertaruhkan, jangan gegabah mengambil keputusan." ujar Sabilla saat mereka berbincang di tepi kolam renang rumah milik Sabilla. Kirania memang memilih mengunjungi rumah Sabilla, dia akan memilih bersembunyi di rumah Sabilla sebelum kembali ke Cirebon Sabtu nanti untuk melakukan pertunangan dengan Gilang.
" Aku nggak punya pilihan lain, Bil. Aku nggak mau disebut pelakor, meskipun rumah tangga Kak Dirga dengan istrinya tanpa dilandasi rasa cinta, tapi orang tidak akan melihat alasan yang sebenarnya. Orang akan menganggap aku orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga Kak Dirga," lirih Kirania.
Sabilla menghela nafas panjang, jika diingat olehnya, kisah cinta sahabatnya itu dengan Dirga sejak awal memang rumit. Ada saja hal yang menghalangi mereka untuk bersatu meskipun mereka sama-sama saling mencintai.
" Kenapa kamu nggak jujur mengatakan semuanya pada Kak Dirga, Ran? Kenapa kamu terus menutupi kesalahan mamanya dan juga istrinya?"
" Nggak, Bil. Terlebih harus menceritakan jika mamanya yang dulu meminta aku menjauhinya. Aku nggak ingin dia nantinya akan marah atau bahkan membenci mamanya sendiri, Bil. Aku nggak ingin memperkeruh hubungan Kak Dirga dengan mamanya."
" Aku hanya bisa berdoa semoga langkah yang kamu ambil adalah yang paling tepat, dengan siapapun kamu memutuskan untuk mengarungi bahtera rumah tangga."
" Aamiin ... aku juga capek dengan kondisi seperti ini terus menerus, Bil. Aku percaya Kak Gilang sangat mencintai aku, aku berharap lambat laun aku bisa menerimanya dan belajar mencintainya." Kirania menyeka air mata yang menetes di pipinya.
Bersambung ..
Dear Readers yang budiman ...
Novel ini diberi judul RINDU TAK BERTUAN di prolog pun sudah dijelaskan jika hubungan kisah asmara Dirga dan Rania itu akan rumit, melewati jalan yang terjal, mendaki gunung mengarungi samudra.
Kisah ini dari awal sampai akhir sudah ada alurnya akan seperti apa? Othor ga mempercepat atau memperlambat dengan dibuat terbelit-belit kisahnya.
Kalau ada readers yang ga sanggup mengikuti lanjutan kisah ini dan berhenti membaca, itu hak readers, apalah daya Othor hanya menulis cerita🤭 Jika readers masih sanggup bertahan dan tetap mengikuti alur kisah ini, aku atas nama Othor yang senengnya bikin readers jadi bengek😁 mengucapkan berlipat-lipat terima kasih atas dukungannya sejauh ini🙏🙏😘😘🤗🤗
Percayalah, semua akan indah pada waktunya.
Afghan bilang "Jodoh Pasti Bertemu" Percayalah pada hatimu ... uhuuuk 😁😁😁
Salam hangat penuh cinta
Othor rese🤭
__ADS_1
REZ Zha❤️