RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bonchap 5 -- Kehamilan Rania


__ADS_3

" Abang, kita mau apa kemari?" tanya Kirania saat mobil yang dikendarai Dirga memasuki halaman rumah sakit ternama di Jakarta.


" Ke dalam sana." Dirga membuka seat belt kemudian membuka pintu mobilnya.


" Kamu jangan keluar dulu!" perintah Dirga sebelum dia keluar dari mobilnya.


Dirga kemudian berjalan memutar dan kemudian membukakan pintu untuk Kirania.


" Ayo turun ..." Dirga menyuruh Kirania untuk turun dari mobil.


" Memangnya kita mau menegok siapa, Abang?" Kirania akhirnya turun dari mobil namun tak lama tubuhnya seraya melayang karena saat ini tubuhnya sudah berada di atas lengan kokoh sang suami.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa Abang gendong aku?" Kirania terkesiap.


" Biar kamu tidak kecapean, Sayang." Dirga kemudian melangkah memasuki rumah sakit. Tentu saja apa yang dilakukan Dirga menarik perhatian semua orang berpapasan dengannya.


" Tapi aku nggak merasa cape, Abang. Jadi tolong turunkan aku!" Kirania meminta suaminya itu segera menurunkannya.


" Kirania Ambarwati, menurutlah pada yang suamimu ini!" tegas Dirga membuat Kirania mencebikkan bibirnya karena dia merasa malu menjadi pusat perhatian.


" Di mana ruang praktek dokter Dessy?" tanya Dirga kepada pegawai yang berada di meja resepsionis.


Pegawai itu memandang Dirga dan juga Kirania yang ada di hadapannya.


" Apa Ibu ini mau periksa ke dokter Dessy? Sudah daftar sebelumnya?" tanya pegawai itu.


" Saya ingin periksakan istri saya, tunjukkan di mana ruangan dokter Dessy?" Dirga tidak perdulikan pertanyaan pegawai resepsionis tadi.


" Abang ..." Kirania mengelus dada suaminya, sikap Dirga yang seperti ini mengingatkan sikap Dirga beberapa tahun lalu saat Dirga membawanya ke klinik Tante Dirga dulu.


" Maaf, Pak. Tapi ...."


" Kalau kamu masih ingin bekerja lama di rumah sakit ini sebaiknya kamu segera beritahukan dokter Dessy jika Dirgantara Poetra Laksmana ingin memeriksakan istrinya segera!" tegas Dirga memberikan sedikit ancaman.


" Abang ..." Kirania meminta agar suaminya itu bersikap tenang. Sementra orang-orang sudah memperhatikan mereka.


Petugas resepsionis itu kemudian terlihat menghubungi seseorang di pesawat telepon PSTN. Tak lama petugas itu langsung menghampiri Dirga.


" Saya minta maaf atas perkataan saya tadi, Pak Dirga. Mari Pak Dirga ikut saya." Petugas itu lalu mengantar Dirga ke ruang praktek dokter Dessy di lantai tiga.


" Bu Rina, ini Pak Dirgantara yang ingin bertemu dokter Dessy." pegawai di bagian resepsionis memberitahukan salah satu suster yang bertugas di poli Obgyn.


Kirania yang melihat saat ini dirinya sudah berada di ruangan yang banyak diisi oleh ibu-ibu hamil langsung mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Oh, mari Pak Dirga, silahkan ..." Suster Rina kemudian membawa Dirga dan Kirania masuk ke dalam ruangan dokter Dessy. Sudah pasti semua yang ada di ruang tunggu langsung berbisik, ada yang merasa iri melihat sikap romantis yang ditunjukkan Dirga terhadap Kirania, ada juga yang memprotes karena perlakuan istimewa yang diberikan kepada Dirga dan Kirania.


" Kak Dirga? Kak Rania?" Ada apa, Kak?" tanya Dessy, adik dari Ricky menyambut kemunculan Dirga dan Kirania di ruangannya.


" Des, tolong kamu periksa istriku ini. Apa benar jika dia sedang hamil?" Dirga lalu menaruh tubuh Kirania di atas verlos bed, ranjang periksa ibu hamil.


" A-aku hamil, Abang?"


" Kak Rania hamil, Kak?"


Kirania dan Dessy bertanya bersamaan.


" Aku tidak tahu, tapi tingkah dia belakangan ini sangat aneh. Emosinya cepat berubah-ubah." Dirga menjawab pertanyaan Dessy.


" Tapi adikmu bilang ke aku, jika kemungkinan kalau kamu sedang hamil, Sayang." Kini Dirga membelai wajah istrinya.


" Benarkah itu, Abang? Mbak Dessy benar aku sedang hamil?" Kirania seketika merasa excited mendengar penuturan suaminya itu.


" Aku belum tahu pasti, Sayang. Makanya aku bawa kamu kemari." Dirga kemudian menoleh ke arah Dessy.


" Des, cepat kau cek istriku." Dirga langsung memerintahkan Dessy untuk segera memeriksa Kirania.


Setelah beberapa saat Dessy selesai memeriksa Kirania.


" Bagaimana, Des?"


Dirga dan Kirania berebut bicara.


Dessy mengembangkan senyumannya.


" Selamat, Kak. Kalian akan segera mempunyai momongan. Kak Rania memang sedang hamil. Dan usia kehamilannya baru sekitar empat Minggu." Dessy menjelaskan hasil pemeriksaannya.


" Ya Allah, Abang. Aku hamil ... hiks." Kirania langsung terisak bahagia.


Dirga langsung memeluk tubuh Kirania seraya menghujani ciuman di wajah istrinya itu.


" Aku hamil, Abang ..." Kirania terus tersedu di dalam pelukan Dirga.


" Iya, Sayang. Alhamdulillah kamu hamil, kita akan segera punya momongan. Akhirnya kesabaran kita berbuahkan hasil." Tak terasa bola mata Dirga mengembun. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata apa yang dia rasakan saat mengetahui jika istri tercintanya sedang mengandung buah cinta mereka yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.


***


" Abang, aku senang sekali rasanya." Kirania menyadarkan kepalanya si bahu Dirga sementara tangannya melingkar di leher suaminya itu. Dia pun sudah tidak memperdulikan pandangan beberapa orang yang memperhatikan mereka.

__ADS_1


" Bukan kau saja yang senang, Sayang. Aku pun sama. Aku sangat bahagia mendengar kehamilan kamu." Dirga menyahuti.


" Kita harus memberitahukan Mama Utami, Abang. Mama Utami pasti senang sekali mendengar kabar ini. Kita ke rumah Mama Abang dulu ya sekarang," pinta Kirania.


" Pak Dirga, Bu Rania?"


Dirga dan Kirania langsung menoleh ketika seseorang menyapanya.


" Hihi, Ateu Lania malu, udah besal digendong Om Dilga." Kini suara anak kecil pun tiba-tiba tendengar mengolok Kirania.


" Arka?? A-abang, turunkan aku. Aku mau cium Arka." Kirania minta agar suaminya itu menurunkannya.


" Hai, Mbak Anin. Hai Arka." Kirania lalu berjongkok dan mencium dan mengusap pipi Arka.


" Anak-anak Mbak Anin wajahnya seperti Papanya semua, ya!" ucap Anindita kemudian.


" Iya, Bu. Baik Rama maupun Arka semuanya mirip Papanya." Anindita kemudian menatap sendu wajah Arka.


Kirania yang menyadari perubahan raut muka Anindita langsung bangkit dan mengusap punggung wanita itu, membuat Anindita akhirnya mengerjap seraya menyeka sedikit cairan bening yang mengembun di bola matanya.


" Oh, maaf, Bu." Anindita buru-buru meminta maaf.


" Tidak apa-apa, Mbak. Saya yang mestinya minta maaf bikin Mbak Anin jadi melow begini." Kirania pun mengutarakan permohonan maafnya.


" Oh ya, Pak Ricky mana? Nggak nemenin Mbak Anin kontrol?" Kirania kini mengusap perut Anindita yang mulai terlihat membuncit.


" Hmm, tadi Papanya Rama mau antar cuma tadi cancel karena dapat kabar harus memimpin rapat karena Pak Dirga berhalangan ke kantor hari ini." Anindita menjelaskan.


" Oh, iya saya berhalangan hadir karena harus memeriksakan istri saya." Dirga kini melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.


" Oh iya, saya hampir lupa tanya. Bu Rania sakit apa? Tadi saya lihat Bu Rania digendong Pak Dirga." Anindita merasa penasaran dengan ulah dari Bos Papa Ramadhan itu.


" Istri saya ini tidak sedang sakit, tapi dia sedang hamil." Dirga dengan bangga menyampaikan berita bahagia itu kepada Anindita.


" Bu Rania hamil?" Anindita nampak suprise mendengar berita yang didengarnya dari Dirga.


" Alhamdulillah, selamat ya, Bu Rania. Saya ikut senang dengarnya. Ya Allah jantung saya sampai berdebar kencang ini dengar kehamilan Bu Rania. Sekali lagi selamat, Bu." Anindita kemudian memeluk Kirania hingga kedua wanita hamil itu pun saling berpelukan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2