
Kirania menoleh ke arah Dirga yang mendudukkan tubuhnya sedikit agak kasar di kursi yang ada di taman kampus. Hari Senin ini karena Kirania berpuasa, membuat Dirga akhirnya menemani kekasihnya itu di taman.
" Kelihatannya suntuk banget. Kenapa, Kak?" tanya Kirania saat mendapati wajah kekasihnya itu, yang terlihat seperti menyimpan suatu masalah.
Dirga menghempas nafas. " Papa suruh aku handle perusahaannya."
" Terus masalahnya di mana? Kamu 'kan anaknya. Jadi wajar kalau disuruh handle perusahan papa kamu," ujar Kirania.
" Tapi aku mau lanjut kuliah."
" Sambil kerja juga 'kan bisa lanjut kuliah."
" Tapi aku mau kuliahnya tetap bisa ketemu kamu seperti ini. Kalau aku urus perusahaan papaku, mana mungkin tiap pagi aku bisa kuliah."
" Kita masih bisa ketemu, kan? Kalau kamu pulang kerja, kamu bisa datang ke rumah pakde."
" Iya tapi nggak puas waktunya, Yank. Aku tuh maunya seperti sekarang ini. Bisa bersama seperti ini."
" Ya mau gimana lagi? Itu 'kan kewajiban kamu sebagai anak terhadap orang tua."
Dirga mendengus kesal. " Mestinya ini tuh tugasnya Bima."
" Bima?" Kirania mengeryitkan keningnya.
Dirgantara menoleh ke arah Kirania. " Abangku, Bimantara."
" Kalau itu tugas kakakmu, kenapa dia nggak menghandle perusahaan papamu, Kak?" tanya Kirania heran.
" Dia itu pekerja seni. Baginya hidup adalah melukis. Dia tinggal sesuka hati dia. Minggu ini dia ada di negara A, mungkin Minggu depan bisa ada di negara B. Selalu berpindah-pindah. Mana minat dia sama urusan pekerjaan kantoran." Dirga menyisir rambut tebalnya dengan jemarinya.
" Berarti mau nggak mau kamu yang mengambil tugas itu, Kak. Kalau bukan Kak Bima dan Kak Dirga, siapa lagi yang berkewajiban meneruskan usaha papa kamu?"
Dirga mendengus kasar. " Itu artinya aku akan kehilangan banyak waktu dengan kamu, Yank." Dirga menoleh ke arah Kirania yang sedang duduk miring ke arahnya.
" Tapi bukan berarti kita nggak bisa ketemu sama sekali, kan?"
" Bisa tapi sedikit. Aku takut nanti ada pria lain yang mendekatimu saat aku nggak bisa memberikan banyak waktu untuk kamu." Dirga mengungkapkan kecemasannya.
" Kamu nggak percaya sama aku, Kak?" Tangan Kirania terulur mengelus rahang Dirga. Entah dari mana datangnya keberanian itu. Yang pasti apa yang dilakukan Kirania membuat Dirga terkesiap.
Dirga kemudian mengambil tangan Kirania lalu menautkan jari berkulit halus itu dengan jemarinya. Kemudian Dirga mengecup berkali-kali punggung tangan Kirania. Kali ini justru Kirania lah yang terperanjat. Dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman Dirga.
__ADS_1
" Kak, iihhh ... ini kampus. Malu kalau dilihat orang," protes Kirania.
" Lagian siapa yang mulai? Kamu dulu yang mengelus pipiku," sindir Dirga.
" Itukan aku nggak sengaja."
" Nggak sengaja? Wah kalau begitu aku berharap kamu sering-sering saja bertindak nggak sengaja seperti ini. Siapa tahu besok-besok ngelus pipinya nggak pakai tangan, tapi pakai bibir." Dirga mencondongkan tubuhnya ke arah Kirania seraya memainkan alis naik turun.
" Kak, iiihh ... apaan, sih!" Kirania memukul lengan Dirga membuat pria itu tergelak. Sementara sudah bisa dipastikan jika saat itu juga pipinya langsung bersemu kemerahan.
***
Kirania menoleh ke arah Dirga, saat tiba-tiba mobil yang dikendarai pria itu berhenti di sebuah toko florist. Apalagi saat dia lihat pria itu membuka seat belt nya.
" Mau apa, Kak?" tanya Kirania heran.
" Kamu tunggu sebentar." perintah Dirga kemudian dia bergegas turun dari mobilnya dan memasuki toko florist itu.
Dari dalam mobil Kirania memperhatikan arah pintu masuk toko florist itu. Tak lama dia melihat Dirga yang keluar membawa buket bunga.
" Bunga buat siapa, Kak? Mama kamu, ya?" tanya Kirania saat Yoga masuk ke dalam mobil.
" Bukan buat mama, kok. Tapi buat kamu." Dirga menyerahkan buket yang berisi beberapa tangkai mawar putih itu kepada Kirania.
" Ya Allah cantik banget bunganya." Masih dengan perasaan tidak menyangka Kirania akhirnya menerima buket itu.
" Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik juga."
Kirania dibuat merona oleh kata rayuan Dirga.
"Aku pikir yang seperti ini cuma ada di film saja." seloroh Kirania, dia tak ingin Dirga tahu kalau saat ini pipinya sedang merona. Karena dia merasa surprise diberi buket mawar cantik oleh Dirga. "Terima kasih ya, Kak." sambungnya.
" Cuma terima kasih doang?"
" Terus harus gimana?"
" Ya siapa tahu, kamu nggak sengaja ...."
Cup .
Dirga dibuat membeku saat tiba-tiba Kirania mengecup pipi kirinya. Sesungguhnya ucapan dia hanya bercanda. Dia tidak pernah menyangka jika Kirania akan berani melakukan hal tadi.
__ADS_1
Kirania sendiri setelah memberi kecupan ke pipi Dirga langsung menyembunyikan wajahnya di balik buket mawar yang diberikan Dirga untuknya. Dia sendiri tak menduga bisa senekat itu memberikan kecupan di pipi Dirga.
" I-ini nggak salah, kan? A-aku nggak mimpi 'kan, Yank?" Dirga menyentuh pipi kirinya. layaknya ABG yang baru saja kasmaran saat merasakan pertama kalinya mendapatkan kecupan dari pacarnya.
" Maaf, Kak ..." lirih Kirania merasa sangat malu akan tingkahnya yang dengan lancang mengecup pipi pria itu.
Dirga kini mulai kembali dengan kesadarannya. Bahkan kini senyum mengembang di bibirnya. Tangannya kini mencoba menyingkirkan buket mawar yang digunakan kekasihnya itu untuk menutupi wajahnya.
" Kenapa ditutupi gitu, sih? Kamu harus tanggung jawab, lho!"
Kirania langsung menjauhkan buket dari wajahnya. Dan kini terlihatlah wajahnya yang bersemu. " Tanggung jawab apa, Kak?" kening Kirania berkerut.
Dirga yang melihat wajah merona Kirania langsung saja berpikiran untuk mengerjai wanita itu.
" Kamu sudah lancang berani cium pipi aku tanpa ijin terlebih dahulu. Kamu pikir aku ini cowok murahan, mau dicium-cium gitu?!" ketus Dirga, sengaja menggunakan intonasi orang marah.
" Maaf, Kak. Aku janji nggak akan melakukan hal itu lagi." Kirania langsung menunduk. Kirania tidak menyangka aksi spontannya tadi menggundang kemarahan Dirga. Karena dia pikir Dirga memang menginginkan dia menciumnya. Ternyata dugaan dia salah.
" Enak saja minta maaf." Dirga melihat air muka Kirania yang berubah sedih. Rasanya dia ingin terbahak dan langsung memeluk kekasihnya saat itu juga. " Karena kamu sudah lancang mencium pipi kiri aku. Sekarang kamu harus mencium pipi aku yang satunya," perintah Dirga.
" Hah?" Kirania langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Dirga.
" Cepat cium pipi kanan aku." Dirga kemudian menyodorkan pipi kanannya mendekat ke arah Kirania. " Atau kalau nggak. aku yang akan cium kamu. Gimana?" Dirga menyeringai sembari memainkan alisnya. Membuat akhirnya Kirania tersadar jika dia sedang dikerjai oleh pria itu.
" Kamu ngerjain aku ya, Kak?" Seketika Dirga terpingkal dengan sangat keras membuat Kirania mencebikkan bibirnya kesal.
" Nggak lucu!" ketusnya memalingkan wajah ke luar jendela.
" Yah ... marah. Digodain segitu saja langsung ngambek." Tangan Dirga mengacak rambut Kirania tapi langsung ditepis dengan kasar oleh Kirania.
Dirga terkekeh. " Sini lihat aku ..." Dirga kembali membelai lembut kepala Kirania. Kali ini Kirania bergeming. " Kamu tahu nggak, kalau kita wajib membalas orang yang sudah baik sama kita. Karena kamu sudah berbaik hati mencium aku, maka aku wajib membalas mencium kamu, dong."
Kirania melirik ke arah Dirga. " Dasar modus!" umpatnya, membuat Dirga kembali terpingkal. Tapi dia bisa memanfaatkan kesempatan saat Kirania meliriknya dengan cepat dia mengecup pipi kanan Kirania
Cup
" Kak, iihh ...!" Kirania memegang pipi kanannya setelah mendapatkan kecupan dari Dirga. Membuat pipinya semakin merona.
" Kamu cium pipi kiri aku, aku cium pipi kanan kamu. Kita impas, kan? Skor kita imbang satu sama ..." Dirga kembali terkekeh sambil mengacak rambut Kirania, sebelum akhirnya dia menjalankan mobilnya menuju kediaman Pakde Danang. Sementara Kirania sendiri, walaupun sikapnya seolah menentang tindakan Dirga tapi hatinya berbanding terbalik. Hatinya kini serasa berbunga-bunga dengan sentuhan bibir Dirga di pipinya.
Bersambung ...
__ADS_1
Aku masih kasih yang manis-manis dulu, deh😁
Happy Reading❤️