RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Pengakuan


__ADS_3

Dirga terus mengejar langkah Kirania. Dia tak ingin meninggalkan Kirania sendirian apalagi dalam kondisi seperti ini. Dirga sadar jika sikapnya yang terkesan plin plan pasti sangat mengecewakan hati wanita itu.


Sambil mengikuti langkah Kirania, Dirga mencoba menghubungi seseorang lewat ponselnya.


" Hallo, baiklah kita bicarakan sekarang. Tentukan saja tempatnya di mana?"


Saat Dirga sudah mendapatkan jawaban di mana tempat akan bertemu, Dirga kemudian berlari menyusul Kirania.


" Rania, sayang ... tunggu." Dirga meraih lengan Kirania tapi kembali ditepis oleh Kirania.


" Lepaskan!!" geram Kirania.


" Aku nggak akan melepaskan kamu, sayang."


" Berhentilah dengan omong kosong kamu itu! Kamu nggak pernah sayang sama aku. Hiks ..." sambil terisak dan dipenuhi emosi Kirania berucap.


" Aku benar-benar sayang kamu, Ran. Aku cinta kamu. Kalau kamu nggak percaya, ikut aku." Dirga menarik Kirania untuk mengikuti langkahnya.


" Aku nggak mau. Lepaskan aku!!" geram Kirania lagi.


" Berhentilah berteriak. Kamu nggak malu dilihat banyak orang?"


Kirania langsung menundukkan kepalanya. Dia sadar jika saat ini mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


" Aku nggak mau ikut kamu. Tolong lepaskan! Apa kamu nggak puas menyakiti aku terus?" lirih Kirania. Dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi agar Dirga mau melepaskannya.


Dirga tak perdulikan keluhan hati Kirania, yang dia inginkan adalah segera sampai ke tempat yang ingin dia tuju.


Dirga memasuki sebuah restauran yang sudah ditentukan sebagai tempat dia berjanji untuk bertemu.

__ADS_1


" Selamat siang, Mas. Silahkan ..." sapa pelayan restoran yang membukakan pintu Dirga.


" Saya mau ke private room reservasi atas nama Ibu Utami." ujar Dirga.


" Oh, Ibu Utami Laskmana, ya? Mari saya antar, Mas." Pelayan itu berujar ramah mengarahkan Dirga yang masih menggandeng tangan Kirania menuju tempat yang telah dipesan.


" Silahkan, Mas. Ini private room yang dipesan. Sudah ada yang menunggu di dalam."


Dirga langsung membuka pintu ruangan itu. " Ayo masuk!" perintahnya pada Kirania.


Kirania tersentak, dia malah menahan tubuhnya agar tak bergerak mengikuti langkah Dirga. Saat mendapati dua orang yang sudah menunggu di ruang itu. Dua orang yang dia temui tadi. Mama dan kekasih Dirga, entah Kirania sendiri tidak mengingat siapa namanya.


Tak berbeda jauh dengan Kirania, Mama Dirga dan Nadia pun sama terkejutnya saat Dirga datang menggandeng Kirania.


" Aku mau pulang." Kirania mencoba menarik tangannya yang digenggam erat Dirga.


" Kamu harus tetap di sini. Supaya kamu tahu, apa artinya kamu buat aku," tegas Dirga. Dia kemudian berjalan mendekati mama dan Nadia yang sudah duduk lesehan saling berhadapan di depan meja yang sudah dihidangkan beberapa macam makanan.


" Kenapa Nadia harus pindah di sebelah Mama? Kamu saja yang duduk di sebelah Nadia," perintah Mama Dirga.


" Nggak apa-apa, Tante. Biar Nadia pindah ke situ saja." Nadia yang mendapat sorot mata tajam dari Dirga langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh Dirga.


" Kamu duduk di sini, Ran." Dirga menyuruh Kirania duduk di depan Nadia bersebelah dengan dirinya yang duduk di depan mamanya.


" Baiklah, seperti yang mama bilang tadi, jika ada hal yang harus kita bicarakan. Aku ingin menjelaskan dan menyelesaikannya sekarang juga." Dirga mulai membuka topik pembicaraan.


" Sebelumya aku ingin mengenalkan kalau wanita yang di sebelah aku ini, namanya Kirania. Rania bukan hanya sekedar teman kuliah aku. Tapi dia adalah wanita yang spesial buat aku. Dia wanita yang aku cintai saat ini."


***

__ADS_1


Sejak memasuki ruangan private room, perasaan Kirania rasanya tak karuan. Dia tidak habis pikir dengan sikap Dirga saat ini. Beberapa waktu lalu pria itu memperkenalkan dirinya sebagai teman kuliah. Kini pria itu malah membawanya menemui mamanya juga kekasihnya itu.


Kirania dibuat terkesiap saat Dirga menyuruh Nadia berpindah tempat duduk. Dan justru menyuruh dialah yang duduk di samping Dirga dengan tangan kiri Dirga yang masih menggenggam jemarinya.


Sejak mendudukkan tubuhnya, Kirania hanya mampu menunduk. Dia tidak mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan Nadia apalagi dengan Mama Dirga yang saat ini sedang memandang dengan tatapan mata yang penuh selidik.


Apalagi saat tiba-tiba didengarnya pegakuan dari diri Dirga tentang siapa dirinya.


" Sebelumya aku ingin mengenalkan kalau wanita yang di sebelah aku ini, namanya Kirania. Rania bukan hanya sekedar teman kuliah aku. Tapi dia adalah wanita yang spesial buat aku. Dia wanita yang aku cintai saat ini."


Deg


Kirania yang sedari tadi hanya menunduk kini mendongakkan kepala menatap penuh rasa tak percaya ke arah Dirga. Bukan rasa bahagia yang dia rasakan saat mendengar Dirga mengucapkan kalimat itu. Tapi rasa cemas dan takutlah yang lebih dominan dia rasakan saat ini. Bagaimana mungkin Dirga berani mengatakan hal itu di depan Nadia, wanita yang Kirania duga adalah kekasih sebenarnya Dirga. Apa jadinya kalau kedua orang di hadapannya ini menganggapnya sebagai perebut kekasih orang. Apa jadinya jika dia akan dituding sebagai wanita yang merusak hubungan asmara orang lain


Bukan hanya Kirania, Mama Dirga dan Nadia, mereka berdua pun begitu terkejut dengan pengakuan Dirga itu. Mereka berdua kini menatap tajam ke arah Kirania. Itu membuat hatinya kembali menciut.


" Apa maksud kamu, Dirga?! Kamu tega selingkuh di belakang Nadia dengan dia?!" tuding Mama Dirga geram.


" Ma, kemarin aku sudah jelaskan kepada Nadia tentang perasaan aku ke dia sekarang ini seperti apa. Aku kenal dan dekat dengan Kirania belum lebih dari setengah tahun. Sedangkan perasaan aku ke Nadia sudah berubah sejak hampir dua tahun lalu. Perubahan rasa cinta aku ini bukan Kirania penyebabnya. Aku tidak ingin kalian menudingnya sebagai orang ketiga yang menghancurkan hubungan aku dan Nadia." Dirga lalu menatap ke arah Kirania. " Karena itulah, Yank. Aku tadi mengenalkan kamu sebagai teman kuliah. Karena aku nggak mau mama atau Nadia menuduh kamu yang bukan-bukan. Aku berusaha melindungi kamu, tapi justru akulah yang menyakiti kamu."


Kirania balik menatap Dirga dengan mata berkaca-kaca. Kirania benar-benar bingung saat ini harus bersikap bagaimana. Apalagi saat dia bisa mendengar Nadia yang kini pun mulai menangis.


" Mama masih nggak bisa menerima ini. Ini nggak adil untuk Nadia. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini kepada Nadia, Dirga? Kalian ini saling mencintai. Nadia itu sangat mencintai kamu." Mama Dirga melancarkan protes menunjukkan rasa keberatannya.


" Untuk hal ini mutlak karena Dirga yang salah, Ma. Mungkin karena Dirga nggak tegas. Tapi Dirga sudah sering bilang ke Nadia jika Dirga merasa nggak akan bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh. Dirga sudah meminta Nadia untuk memilih pria lain. Dirga pikir dengan sikap Dirga yang mulai mengacuhkan Nadia dua tahun ini, membuat Nadia mengerti, jika Dirga benar-benar tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Jika ada yang layak disalahkan, akulah yang bersalah dalam hal ini," Dirga berkata dengan penuh penyesalan.


" Tapi bukan berarti hubungan kalian tidak bisa diperbaiki, kan? Kalian dulu saling mencintai. Nadia sudah memutuskan pindah ke Jakarta. Mama yakin jika kalian bisa saling bertemu, rasa cinta kamu pasti akan tumbuh kembali, Dirga." Mama Dirga tetap bersikukuh dengan keinginannya.


" Maaf, Ma. Kirania lah wanita yang aku inginkan saat ini dan selamanya. Jika Mama memaksa aku untuk tetap bersama Nadia, aku rasa itu hanya akan menyakiti hati Nadia, Ma. Apa Nadia mau menghabiskan waktu bersama orang yang tidak mencintainya? Itu akan jadi hal yang sia-sia yang akan Nadia lakukan." Dirga membelai lembut kepala Kirania. " Aku nggak perduli keputusan aku ini ditentang atau tidak. Aku tidak perduli Mama akan setuju atau tidak. Yang pasti hati aku saat ini hanya dipenuhi oleh satu orang wanita, Kirania ...."

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading❤️


__ADS_2