RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Hati Yang Terluka


__ADS_3

" Totalnya Dua ratus tiga puluh dua ribu lima ratus rupiah ..." Petugas kasir menyebutkan nominal yang mesti dibayar Kirania, saat Kirania menyerahkan buku yang dia beli ke kasir.


Dirga langsung menyodorkan kartu debit ke petugas kasir saat dilihatnya Kirania sedang merogoh dompet di dalam tasnya. Kirania langsung menoleh ke arah kekasihnya itu dengan tangannya yang kini telah berhasil menemukan dompetnya.


" Jangan, Kak. Biar aku bayar sendiri saja." Kirania langsung menarik kartu ATM dari slot di dompetnya. " Pakai yang ini saja, Mbak." Kirania melarang petugas kasir menggesek kartu debit milik Dirga.


" Sudah pakai yang punya saya saja, nggak apa-apa, Mbak," perintah Dirga kepada kasir yang dibalas dengan anggukan kepala oleh kasir tersebut. Sementara tangannya meraih kartu debit Kirania dan mengambil paksa dompet Kirania yang ada di genggaman wanita itu. Memasukan kartu ATM tadi ke slotnya. Lalu mengembalikan dompet itu kepada Kirania.


" Nggak enak kalau pakai uang kamu, Kak. Sudah minta antar, dibayarin juga." Kirania merasa tidak enak jika harus merepotkan Dirga.


" Cuma dua ratus ribuan doang, kok." Dirga berucap santai. Kirania mungkin lupa kalau untuk seorang Dirga, uang segitu mungkin tak ada artinya sama sekali.


" Silahkan PIN-nya, Mas." Petugas kasir itu mendekatkan mesin EDC salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.


" Tolong pencet PIN-nya tanggal lahir kamu." Ucapan Dirga sontak membuat Kirania terkesiap sambil menoleh ke arah Dirga.


" Buruan itu dipencet, kasian itu Mbaknya nunggu." perintah Dirga membuat Kirania menurutinya.


" Kak, kenapa kartu ATM kamu PIN-nya pakai tanggal lahir aku?" tanya Kirania penasaran setelah mereka keluar dari toko buku itu.


" Itu menandakan aku benar-benar serius sama kamu, sayang," Dirga kemudian mengacak rambut Kirania.


" Iisshh ... kebiasaan banget, sih." Kirania menggerutu sambil merapihkan rambutnya. Sementara Dirga langsung melingkarkan lengannya di pundak Kirania.


" Kita ke mana sekarang?" tanya Dirga.


" Pulang saja, Kak. Tapi aku mau ke toilet dulu." Kirania menyahuti.


" Siap, Tuan Putri," sahut Dirga terkekeh.


Mereka berdua pun berjalan ke arah toilet.


" Boo ..."

__ADS_1


Dirga terperanjat saat melihat Nadia keluar dari arah toilet.


" Nadia ..." gumam Dirga.


Nadia memperhatikan sosok Kirania yang saat itu sedang dalam rangkulan tangan kekar Dirga.


" Dia siapa, Boo?" Mata Nadia memandang lekat ke arah Kirania.


Kirania yang dipandangi wanita cantik di hadapannya terlihat sangat kikuk. Bermacam dugaan sudah muncul di benaknya. Siapa wanita yang memanggil Dirga dengan panggilan "Boo" ini? Apakah wanita ini mantan pacar Dirga? Apakah wanita ini tidak akan terima jika tahu kini dialah yang sekarang menjadi kekasih Dirga? Apakah dia akan dilabrak oleh wanita itu? Apakah dirinya akan dicaci maki oleh wanita itu?


" Apa dia yang sudah membuat cinta kamu berpaling dari aku, Boo?"


Deg


Kirania tersentak dengan ucapan wanita bernama Nadia itu. Berarti dugaan yang sempat hadir di pikirannya tadi benar. Dan kini wanita itu menuduh dirinya yang membuat cinta Dirga berpaling dari wanita itu. Dan itu membuat dada Kirania terasa sesak. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.


" Dirga?? Kamu ada di sini??" Suara di belakang Nadia lebih membuat Dirga tercengang. Sedangkan Kirania yang awalnya tertunduk mulai mengangkat wajahnya kembali, demi untuk mengetahui siapa lagi yang mengenali kekasihnya itu. Pandangannya menjumpai seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan tampilan yang sangat elegan.


Kirania sendiri langsung terkesiap saat Dirga menyebut wanita paruh baya itu dengan sebutan 'Mama'. Seketika itu hati Kirania merasa menciut apalagi saat Dia merasa Dirga melepaskan rangkulannya.


" Siapa wanita ini, Dirga?" tanya Mama Dirga memandang Kirania penuh selidik.


" Dia ... dia teman kuliah aku, Ma."


Deg


Hati Kirania seketika mencelos saat Dirga memperkenalkan dirinya sebagai teman kuliah. Apakah Dirga malu memperkenalkan dirinya di depan mamanya itu? Ini kedua kalinya Dirga memperkenalkan dirinya sebagai teman kuliah kepada keluarganya. Dulu saat dikenalkan kepada tantenya yang seorang dokter saja, dirinya kecewa padahal dia masih belum punya rasa sayang pada pria itu. Tapi kini, saat rasa sayang itu mulai tumbuh dan bermekaran di hatinya. Mendengar pengakuan yang sama, hati Kirania serasa disayat sembilu. Bukankah beberapa hari yang lalu justru Dirga bersemangat ingin mengenalkan dirinya ke orang tua Dirga. Tapi sekarang kenapa tak ada keberanian dari Dirga untuk mengakui dia sebagai kekasihnya? Apakah karena kehadiran Nadia?


" Dirga, kamu ikut kami. Ada yang harus kita bicarakan mengenai kelanjutan hubungan kamu dengan Nadia," tegas Mama Dirga.


Hati Kirania serasa diremas-remas mendengar ucapan Mama Dirga. Hawa panas sudah merayap ke bagian matanya, dan siap menumpahkan cairan bening ke pipinya.


" Jangan sekarang, Ma. Dirga mesti antar Kirania pulang dulu," ujar Dirga dengan nada serba salah.

__ADS_1


" Nggak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri, kok. Saya permisi, Tante. Assalamualaikum ..." tanpa menunggu balasan atas salam yang diucapkan dan tanpa menunggu persetujuan dari Dirga Kirania langsung membalikkan badan. Dengan langkah cepat dan sedikit berlari dia meninggalkan Dirga, mamanya juga Nadia, dengan air mata yang akhirnya mulai berhamburan di pipinya.


" Ran, tunggu ..." Dirga bersiap mengejar Kirania tapi tangan Nadia mencengkram lengannya.


" Boo ..."


Dirga memperhatikan tangan Nadia yang mencekal lengannya, tapi tak lama dia langsung menepis tangan Nadia dan berlari menyusul Kirania.


Dengan mendekap buku yang baru dia beli, Kirania sibuk menghapus air mata yang tak juga berhenti mengalir di pipinya. Bahkan Kirania tidak memperdulikan orang-orang yang berpapasan dengannya memandangnya heran penuh tanda tanya.


" Rania, tunggu ..."


Dirga yang berhasil menyusul langkah Kirania langsung menarik lengan Kirania tapi dengan cepat wanita itu tepis.


" Sayang, maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya."


Kirania tak perdulikan apa yang diucapkan Dirga. Dia justru mempercepat langkahnya. Dengan rasa sakit di hatinya dan dengan dada yang bergejolak, rasanya dia ingin cepat-cepat sampai di kamarnya dan menangis sepuasnya di sana.


" Sayang, dengarkan aku dulu. Semua itu nggak seperti yang kamu bayangkan. Tolong dengarkan aku dulu, Yank." Dirga menghalangi langkah Kirania, membuat Kirania mencari jalan lain untuk melangkah pergi tapi jalan itu kembali dihalangi Dirga. Dan kini mereka sudah menjadi tontonan orang-orang yang ada di sekitar situ.


" Sayang, tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Kedua tangan Dirga mencengkram pundak Kirania. Sementara Kirania justru menjadi terisak karena sedari tadi dia tahan untuk tidak mengeluarkan suara tangisan, hanya air matanya saja yang terus mengalir di pipinya.


" Kita cari tempat untuk bicara, ya?"


" Nggak usah! Nggak ada yang perlu kita bicarakan. Semuanya sudah jelas. Posisi aku juga sudah jelas sekarang. Ternyata kamu sudah punya kekasih dan aku hanya sekedar teman buat kamu. Kamu nggak pernah benar-benar sayang sama aku." Dengan nafas turun naik dan tangis yang juga tak berhenti, Kirania masih sanggup mengatakan hal itu.


" Bukan seperti itu, Yank. Kamu jangan salah paham dengan ucapan aku tadi." Dirga mencoba menjelaskan.


" Sudahlah, Kak. Aku mau pulang. Mulai saat ini, aku mohon. Jangan pernah dekati aku lagi. Aku nggak ingin disebut sebagai perusak hubungan orang lain!" tegas Kirania langsung berlari pergi menjauh dari Dirga dengan hati yang terluka.


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2