
" Abaaaanngg ...!!"
Dirga tergesa menghampiri istrinya yang terdengar berteriak dari arah dapur pagi ini.
" Ada apa kamu teriak-teriak seperti itu, Sayang?" tanya Dirga saat mendapati Kirania sedang berkacak pinggang.
" Abang, seblak yang aku minta mana?" tanya Kirania.
" Seblak? Sudah aku buang semalam," sahut Dirga
" Kok dibuang?" Kirania mengerutkan keningnya
" Ya ... karena semalam kamu tertidur jadi aku buang." Dirga mengatakan hal yang sejujurnya.
" Tapi aku masih mau seblak, Abang." Kirania merengek manja.
" Pagi-pagi begini makan seblak? Apa perut kamu nggak sakit?" tanya Dirga heran.
" Tapi aku ingin seblak."
" Ya sudah nanti aku suruh orang belikan untukmu." Dirga hendak menyuruh orang dengan menekan beberapa nomor di ponselnya namun ucapan Kirania berikutnya langsung menghentikan niatnya.
" Aku nggak mau seblak yang dapat beli. Aku mau seblak yang buatan Abang seperti semalam."
" Sayang, buatan aku itu nggak enak. Kamu pasti nggak akan suka." Dirga beralasan.
" Tapi aku mau buatan Abang."
" Kirania Ambarwati, kenapa kamu dari kemarin membantah terus perkataan suamimu ini?!" Dirga sedikit meninggikan suaranya.
Kirania yang mendapati Dirga menyentaknya, seketika membuat bola matanya berkaca-kaca, tak lama dia langsung terisak kencang.
" Sa-sayang, maafkan aku. Aku nggak bermaksud berkata kasar ke kamu, Sayang. Aku minta maaf, kamu jangan menangis, ya!" Dirga langsung merengkuh istrinya, sejujurnya dia sendiri terheran dengan perubahan emosi istrinya yang tiba-tiba cepat mudah merajuk dan menangis.
" Ya sudah, nanti aku buatkan seblaknya, ya! Kamu jangan nangis lagi." Dirga menyeka air mata di pipi Kirania sehingga akhirnya Kirania menghentikan tangisannya seraya menganggukkan kepala mirip seorang anak yang berhenti merajuk setelah dibujuk orang tuanya.
" Kamu tunggu di sini, aku buatkan seblaknya dulu." Dirga pun lalu menggulung kemejanya sampai siku dan memakai apron.
Kirania yang melihat suaminya mengenakan apron itu langsung terkekeh.
" Kamu sek*si banget deh pakai celemek gitu, Abang."
" Sudah pasti, dong. Suami kamu ini pria paling sek*si mau pakai apapun apalagi kalau tidak pakai apa-apa." Dirga berkelakar seraya mengedipkan matanya membuat Kirania langsung memutar bola matanya.
Setengah jam kemudian ...
" Ini sudah jadi seblaknya." Dirga menyodorkan semangkuk seblak ke hadapan istrinya itu.
" Hmmm, baunya lezat sekali ini, Abang." Kirania mengenduskan hidungnya ke dekat mangkuk seblak itu.
" Bismillah," setelah membaca doa terlebih dahulu, Kirania menyendok satu sendok seblak dan menyantapnya.
__ADS_1
" Hmmm, enak ini, Abang." Kirania kemudian memindahkan mangkuk itu ke hadapan Dirga yang duduk di sebelahnya.
" Mau aku suapi?" tanya Dirga melihat istrinya itu menyodorkan mangkuk seblak ke hadapannya.
Kirania menggelengkan kepalanya. " Abang yang makan seblaknya," lanjutnya
" Aku yang makan ini?" Dirga membelalakkan matanya.
" Iya ...."
" Kenapa aku yang makan? Kan kamu yang minta."
" Ya karena aku ingin lihat Abang makan seblak."
" Aku nggak suka makanan seperti itu." Dirga menolak.
" Abang harus coba, ini enak, kok." Kirania kemudian menyendokkan kembali seblak itu lalu mengarahkan ke mulut Dirga.
" Aaaa ... ayo Abang buka mulutnya, biar aku yang menyuapi." Kirania memaksa suaminya itu untuk menuruti kemauannya.
" Aku nggak suka itu, Sayang! Aku nggak mau makan makanan itu!" Dirga terus menolak keinginan Kirania.
Kirania mendengus kesal kemudian dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan seketika terisak.
Dirga yang melihat istrinya tiba-tiba menangis langsung terkesiap. Dia benar-benar dibuat bingung dengan tingkah aneh istrinya itu.
" Sayang, kenapa kamu nangis lagi?" Dirga mengurai tangan Kirania yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
" Sayang, bukan seperti itu ..." Dirga lalu melirik semangkuk seblak di hadapannya.
" Baiklah, nanti aku makan itu." Akhirnya dengan sangat terpaksa Dirga menyantap habis makanan itu, walaupun dia hampir tidak kuat ingin memuntahkan kembali makanan itu, namun dia tahan demi melihat istrinya tidak merengek kembali.
***
" Assalamualaikum, Dek ..." sapa Kirania saat pintu rumah Karina terbuka hingga menampakkan wanita yang terlihat sedang hamil besar itu dari balik pintu.
" Waalaikumsalam, Mbak Rania?" Karina langsung menyambut kedatangan kakaknya.
" Ayo masuk, Mbak, Kak Dirga." Karina langsung menarik tangan kakaknya itu dan membawanya ke sofa.
" Pelan-pelan dong, Dek. Kasihan dedek bayinya." Kirania menunjuk ke arah baby bump Karina.
" Bayiku ini sudah terlatih mengikuti gerak mamanya yang aktif kok, Mbak." Karina terkekeh.
" Rin, Kakak titip Mbak mu ini, ya! Dia bilang ingin ketemu sama keponakannya," ujar Dirga.
" Yaaaahh telat, deh! Pasha baru saja dibawa ke neneknya ke rumah Mbak Wulan." Karina menyahuti.
" Mbak kangen sama Pasha, Dek. Diambil saja deh Pasha nya, suruh pulang ke sini," pinta Kirania.
" Nggak bisa dong, Mbak. Mereka mungkin baru saja sampai ke rumah Mbak Wulan, masa disuruh pulang lagi?!"
__ADS_1
" Ya tapi Mbak kangen sama Pasha, Dek."
" Ya sudah, nanti kalau Pasha datang, kita langsung main ke tempat Kak Dirga, deh." Karina menyarankan.
" Tapi Mbak mau ketemu Pasha sekarang, Dek. Kita ke rumahnya Mbak Wulan sekarang saja, yuk!" Kirania menarik tangan adiknya
" Sayang jangan ditarik-tarik begitu, dong! Kasihan Karina, kasian dedek di perutnya juga." Dirga mencoba menasehati istrinya.
" Tapi aku ingin ketemu Pasha, Abang. Aku kangen Pasha." Kirania mulai merengek.
" Ya sudah, kamu video call saja ama Pasha nya, ya?" Kali ini Dirga yang memberikan saran.
" Nggak mau! Aku ingin ketemu langsung sama Pasha. Aku ingin gigit pipinya yang seperti bakpau." Kirania merajuk dengan mencebikkan bibirnya.
" Ayo, Abang ... kita ke rumah Mbak Wulan." Kirania kini menarik lengan suaminya itu.
" Sayang, sayang ... aku mesti berangkat ke kantor. Pagi ini aku ada meeting penting." Dirga menolak ajakan Kirania.
" Abang jahat!! Nggak mau nurutin permintaan aku! Abang nggak sayang sama aku!!" Kirania lalu bergegas lari keluar rumah Karina.
" Sayang, tunggu!!" Dirga kemudian mengejar langkah Kirania dan diikuti oleh Karina yang terlihat kerepotan harus berjalan cepat karena perutnya yang sudah semakin membuncit.
" Sayang, buka pintunya!" Dirga mengetuk kaca mobilnya karena Kirania menguncinya dari dalam.
" Mbak Rania kenapa, Kak? Kok aneh begitu?" tanya Karina yang merasa heran dengan sikap kakaknya yang terlihat manja padahal setahunya kakaknya itu adalah wanita yang sangat mandiri.
" Aku nggak tahu, Rin. Beberapa hari ini tingkahnya agak aneh, terutama emosinya. Cepat sekali menangis. Kalau ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dia pasti merengek seperti tadi. Kakak juga bingung menghadapi sikap kakakmu itu." Dirga mengadukan kelakuan Kirania kepada adik dari istrinya.
Karina langsung menautkan alisnya mendengar cerita kakak iparnya itu.
" Kak, apa Mbak Rania mengalami muntah-muntah terutama pagi hari?" Karina mencurigai sesuatu, karena dia berpengalaman dan pernah merasakan apa yang Kirania rasakan.
" Muntah-muntah? Ya-iya kemarin itu dia sempat muntah-muntah. Kenapa memangnya?" tanya Dirga.
" Kapan Kak Dirga dan Mbak Rania jeda dalam berhubungan suami istri? Maksudku jeda dalam waktu satu Minggu karena Mbak Rania berhalangan menstruasi?" selidik Karina.
" Entahlah, aku lupa tapi sepertinya sudah lama. Karena hampir setiap malam kami melakukannya, Tiap minggu paling jeda satu dua hari saja." Dirga jujur menceritakan aktivitas hubungan suami istrinya kepada Karina tanpa rasa sungkan.
Senyuman Karina langsung mengembang mendengar cerita Dirga.
" Kak, sebaiknya Kak Dirga periksakan Mbak Rania ke dokter kandungan. Karena kalau aku dengar cerita Kak Dirga tentang perubahan sikap Mbak Rania, aku curiga sepertinya Mbak Rania itu sedang hamil."
Dirga langsung terkesiap dengan mata terbelalak saat mendengar kalimat yang diucapkan adik iparnya itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️