
Karina memperhatikan wajah Ricky yang belakangan hari ini terlihat aura berbeda dari asisten kakak iparnya itu saat mereka berdua berada di dalam lift sebuah mall besar. Ricky dan Karina diperintahkan Dirga untuk memantau pameran expo property di sana.
Ricky menoleh ke arah Karina yang sedang memperhatikannya.
" Apa yang sedang kamu lihat? Jangan bilang jika kau mulai tertarik dengan saya." Ricky menarik sedikit sudut bibirnya.
Karina menyeringai. " Pak Ricky itu memang ganteng, tapi saya nggak tertarik sama Pak Ricky." Karina menyahuti penuh percaya diri.
" Lalu kenapa dari tadi kamu memperhatikan saya seperti itu?" tanya Ricky menyelidik.
" Saya cuma merasa belakangan ini Pak Ricky terlihat berbeda." Karina menyampaikan pendapatnya tentang apa yang dia lihat dari Ricky.
" Apanya yang beda? Mata, hidung, mulut saya masih di tempat yang sama, kan?" Ricky berkelakar membuat Karina sontak tertawa.
" Aura Pak Ricky sekarang ini kelihatan sangat bahagia. Apa Pak Ricky sudah menemukan wanita yang Pak Ricky cari?" tanya Karina menelisik.
Ricky menoleh dan menatap Karina seraya mengembangkan seringai tipis di bibirnya.
" Kamu kepo sekali sama urusan saya." Ricky menjawab acuh.
" Itu salah Pak Ricky sendiri karena menceritakan kisah Bapak kemarin ke saya, jadinya 'kan saya penasaran, Pak." Karina menyeringai dan Ricky pun kembali hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Ting
Karina dan Ricky pun keluar dari lift menuju hall mall tersebut di mana pameran expo itu dilaksanakan.
Karina memperhatikan seorang pria yang terlihat serius memperhatikan penjelasan dari seorang wanita tepat di stand depan milik Angkasa Raya Group. Karina tersenyum memandangi wajah yang selama ini selalu dirindukannya itu.
" Karina, kau tunggulah sebentar di sini. Saya ada keperluan sebentar." Suara Ricky yang sedikit agak kencang membuat pria yang diperhatikan oleh Karina itu menoleh asal suara Ricky, lalu berpindah ke arah Karina yang sedang berhadapan dengan Ricky.
" Iya, Pak." Karina menjawab.
Karina bukannya tidak tahu jika saat ini Gilang, pria yang sempat dipandangnya tadi kini sedang memperhatikannya. Tapi dia sengaja untuk berpura-pura tidak menyadari kehadiran Gilang di sana.
" Sudah banyak yang terjual, Mbak?" Karina memilih bertanya kepada sales marketing yang ada di dekatnya.
" Sudah hampir tujuh puluh lima persen, Mbak." Sales Marketing itu menjawab.
" Wow ... lumayan, ya?" Karina tercengang dengan angka penjualan perumahan elit milik kakak iparnya.
" Mbak nya barangkali mau beli, pasti dibeliin sama Pak Ricky tuh." Sales Marketing itu berseloroh.
" Kenapa mesti minta sama Pak Ricky?" Karina mengeryitkan keningnya.
" Lho, memang Mbak ini pacarnya Pak Ricky, kan?"
__ADS_1
" Mmpptt ..." Karina menahan tawanya. " Mbak, kalau saya mau perumahan ini, saya nggak akan minta ke Pak Ricky, tapi saya langsung minta ke Kak Dirga," sambungnya kemudian.
" Maksud Mbak Pak Dirga? Pak Dirgantara?" tanya sales itu memicingkan matanya.
" Iyalah, yang punya perumahan itu 'kan Kak Dirga."
" Memang Mbak ini siapanya Pak Dirga? Mbak kenal sama Pak Dirga?" Sales itu penasaran.
" Saya? Saya sih bukan siapa-siapa, Mbak." Karina mengibas tangannya ke udara. " Cuma sekedar adik ipar doang," lanjutnya santai.
" Adik ipar? Kamu adik iparnya Pak Dirga? Berarti kamu adiknya Kirania, dong?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Karina segera menoleh ke arah suara tadi. Dia melihat seorang pria yang kini sudah berdiri di sampingnya.
" Iya, aku adiknya Mbak Rania. Bapak kenal Mbak Rania, ya?" Karina merespon pertanyaan pria itu.
" Iya, dulu aku sama Rania satu divisi di Marketing. Perkenalkan saya Pandu." Pandu mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya pada Karina.
" Karina." Karina menyambut uluran tangan pria itu.
" Kakak adik sama-sama cantiknya ternyata." Pandu tak segan memuji kecantikan Karina dan Kirania.
" Gimana kakaknya ya beginilah adiknya." Karina berseloroh seraya terkekeh. Dia sampai melupakan jika ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya. Apalagi saat seorang pria mendekati dan malah terlihat akrab berbincang dengan Karina seketika dia mendengus kesal.
" Ada apa, Pak? Apa ada yang kurang berkenan?" Wanita yang sedang menerangkan ke Gilang langsung merespon.
" Apa ada yang kurang jelas, Pak?" tanya wanita itu.
" Sudah, saya rasa sudah cukup, terima kasih." Gilang langsung bangkit dan hendak beranjak dari stand property itu dan saat itu juga. Karina pun melakukan hal yang sama karena ingin pergi ke arah toilet.
Karina bangkit dan memutar tubuhnya hingga kini dia dan Gilang pun saling berhadapan dengan jarak sekitar tiga meter dan pandangan mereka saling bertautan beberapa saat sebelum akhirnya Karina memulai untuk menyapa.
" Hai, Kak Gilang ... " Seperti biasanya Karina yang mempunyai sifat yang periang menyapa Gilang dengan ramah. " Kak Gilang ada di sini juga?" tanya Karina berbasa-basi.
" Iya." Gilang menjawab singkat.
Setika itu juga suasana di sekitar mereka terasa kaku.
Ddrrtt ddrrtt ddrrtt.
Suara ponsel memecahkan suasana kaku di antara Gilang dan Karina. Karina pun segera meraih ponselnya.
" Halo, iya, Pak?" Karina menjawab panggilan telepon dari Ricky.
" Rin, kemungkinan saya akan lama. Kalau kamu sudah selesai dan mau pulang, kamu pulang saja dulu, jangan menunggu saya."
__ADS_1
" Oh, baik, Pak. Nanti saya pulang sendiri saja kalau begitu."
" Hati-hati kalau pulang sendiri."
Karina tersenyum mendengar nasehat yang disampaikan Ricky. Entah mengapa dia merasa jika Ricky sangat perduli padanya. Tapi bukan kepedulian seorang pria dewasa terhadap seorang wanita dewasa karena ketertarikan. Tapi lebih rasa keperdulian seorang kakak terhadap adiknya. Apalagi sejak dia tahu kisah masa lalu Ricky tentang wanita yang dulu pernah dinodainya.
" Kak, aku permisi duluan." Karina berpamitan kepada Gilang yang entah mengapa masih tetap berdiri di sana..
Gilang hanya mengangguk kecil, tak lama dia memperhatikan punggung Karina yang berjalan menjauh darinya.
***
Karina keluar dari arah toilet wanita namun langkahnya terhenti saat dilihatnya Gilang sedang berdiri di depan toilet.
" Kak Gilang mau ke toilet juga ya?" tanya Karina seraya mengembangkan senyumannya membuat wajah wanita itu semakin cantik.
" Iya." Gilang kembali hanya menjawab singkat.
" Ya sudah aku duluan ya, Kak." Kirania berjalan melewati Gilang.
" Kekasihmu tadi meninggalkan kamu?" tanya Gilang dengan nada dingin.
Karina menghentikan langkahnya mendengar perkataan Gilang.
" Dia bukan kekasih aku kok, Kak. Dia itu asistennya Kak Dirga." Karina tetap berkata dengan nada santai.
" Aku permisi, Kak." Karina kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Gilang.
" Kau sudah makan siang?"
Karina kembali menghentikan langkahnya seraya membulatkan matanya. Sebuah senyuman kembali terbit dari sudut bibirnya. Dia tak memutar tubuhnya hanya menoleh dan berkata, " Kalau aku belum makan, memangnya Kak Gilang mau traktir aku makan siang?"
" Kamu mau makan di mana?"
Serasa bertemu Adzan Maghrib saat di bulan puasa, bola mata Karina pun semakin terbelalak lebar saat mendapat pertanyaan Gilang yang bisa diartikan sebuah ajakan. Tak bisa dilukiskan lagi perasaan hatinya saat ini. Yang pasti serasa ada ribuan kelopak bunga yang bermekaran di sana.
*
*
*
Bersambung ...
Jangan lupa like & komennya, makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️