
Kirania menghampiri adiknya yang sedang packing baju ke dalam kopernya. Sepertinya Karina memang sudah bersikeras untuk pulang kembali ke Cirebon.
" Dek, apa kamu nggak pikir-pikir dulu keputusanmu itu?" tanya Kirania mengekori langkah adiknya.
" Selama Mbak dan Kak Dirga membatasi gerakku, aku lebih baik pergi di sini," tegas Karina.
" Tapi Abang melakukan itu demi kebaikan kamu, Dek. Abang nggak ingin sampai terjadi seperti dulu lagi." Kirania tetap mencoba memberi pengertian kepada Karina.
" Dan yang menyelamatkan aku pada kejadian itu Kak Gilang 'kan, Mbak? Kak Gilang itu baik, kenapa kalian menghalangi aku dekat dengan Kak Gilang hanya karena Kak Gilang dulu mencintai Mbak? Kenapa Kak Dirga hanya memikirkan diri sendiri?" geram Karina.
" Aku juga ingin seperti Mbak, bahagia dengan orang yang aku cintai dan juga mencintai aku. Saat ini sikap Kak Gilang mulai melunak ke aku, Mbak. Tapi kenapa kalian berdua mengacaukannya? Apa Mbak nggak senang lihat aku bahagia?" ketus Karina penuh emosi.
" Mbak nggak seperti itu, Dek. Mbak juga ingin melihat kamu bahagia." Kirania menepis anggapan adiknya itu.
" Kalau begitu biarkan aku bersama Kak Gilang."
Kirania menghela nafas perlahan. Perdebatan suami dengan adiknya itu benar-benar membuat pusing kepalanya.
***
" Kenapa?" Dirga melingkarkan lengannya ke leher Kirania sambil menciumi pipi istrinya itu.
Kirania melerai lengan Dirga lalu menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya itu.
" Aku bingung menghadapi kalian. Kalian sama-sama orang yang aku sayang dan kalian sama-sama keras kepala." Kirania menghela nafas.
" Kau jangan terlalu memikirkan hal itu." Dirga membelai kepala Kirania.
" Bagaimana bisa aku bersikap acuh? Kalau kalian berselisih paham seperti ini aku jadi serba salah, Abang." Kirania memeluk tubuh kekar Dirga dan membenamkan wajahnya ke dada sang suami.
" Kamu pikir cuma aku dan adikmu saja yang keras kepala? Memangnya kamu sendiri tidak merasa keras kepala, hmm?" Dirga membalas pelukan istrinya.
" Setidaknya aku keras kepala hanya sama Abang saja bukan sama yang lain." Kirania mendongakkan kepala menatap wajah tampan sang suami. " Habis Abang dulu menyebalkan." Kirania kembali membenamkan wajahnya ke dada Dirga.
" Aku menyebalkan?" Dirga mengerutkan keningnya.
" Iya, dulu tingkah kamu selalu menyebalkan."
" Tapi biarpun menyebalkan, kamu selalu merindukanku, kan? Sampai kau tidak juga membuka hati pada pria lain," sindir Dirga.
" Apa Abang sendiri bisa membuka hati pada wanita lain? Sudah menikah dengan Kak Nadia pun Abang tidak bisa membuka hati juga, kan?" Kirania balas menyindir.
Dirga tergelak mendengar sindiran istrinya itu.
" Oh ya, sudah bicara dengan Mama soal wedding party nanti?" tanya Dirga.
" Sudah."
" Lalu?"
" Aku bilang terserah mama."
" Kenapa terserah mama? Yang punya acara 'kan kita."
" Untuk hal ini biarkan mama yang kasih ide, Abang. Lagipula aku nggak paham soal tema-tema acara wedding party gini. Aku hanya nggak ingin mempermalukan Abang juga mama jika aku salah memilih tema." Kirania memberi pengertian kepada suaminya.
" Ya sudah kalau itu mau kamu." Dirga menyetujui apa yang inginkan istrinya itu.
***
...Welcome to the wedding...
__ADS_1
...of...
...Azzahra Faranisa Abdullah...
...and...
...Gavin Richard...
Kirania membaca tulisan wedding sign di depan ballroom hotel tempat diadakannya acara wedding party rekan bisnis Dirga.
Kirania menatap kagum acara pesta pernikahan yang terlihat sangat mewah dan berkelas. Menurut informasi yang dia terima dari suaminya, mempelai pria adalah anak dari pemilik beberapa hotel bintang lima di beberapa kota besar di Indonesia. Pantas saja jika perayaan begitu mewah, pikir Kirania.
" Kirania ...!"
Kirania menoleh saat seseorang memanggil namanya.
" Natasha?" Kirania terkesiap saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
" Kita ketemu lagi." Natasha langsung memeluk Kirania tak lupa memberikan cipika-cipiki.
" Ah, iya ..." Kirania membalas cipika-cipiki Natasha.
" Oh ya, selamat ya atas pernikahan kalian, Rania, Pak Dirga. Semoga samawa, langgeng selamanya." Natasha kemudian menyalami Dirga.
" Terima kasih," Dirga dan Kirania membalas bersamaan.
" Oh ya, Yoga mana?" Kirania menanyakan keberadaan suami dari Natasha itu.
" Sayang, kenapa kamu mencari dia?" Dirga langsung memprotes istrinya yang menanyakan Yoga.
" Ya karena Natasha ini 'kan istri Yoga, masa aku mesti cari yang lain." Kirania memutar bola matanya menanggapi sikap posesif suaminya.
Natasha terkekeh mendengar perdebatan kecil pengantin baru itu.
" Pak Dirga ini relasi bisnis Kak Gavin, ya?" tanya Natasha kemudian.
" Bukan, Tuan David lah yang jadi relasi bisnisku." Dirga menjelaskan.
" Oh, Om David."
" Kau kerabat dari Tuan David?" tanya Dirga karena mendengar Natasha terlihat akrab dengan memanggil dengan sebutan Om David.
" Kak Gavin itu kakak sepupuku, anak dari kakak mamaku. Dan mempelai wanitanya itu kerabat dekat keluarga Mas Yoga." Natasha menerangkan.
" Oh, begitu." Dirga mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kalian sendiri kapan akan rame-rame?" tanya Natasha menanyakan acara wedding party Kirania dan Dirga.
" Insya Allah bulan depan," jawab Kirania.
" Jangan lupa undang kami, ya!" pinta Natasha.
" Pasti, kalian pasti kamu undang." Kali ini Dirga yang membalas perkataan Kirania.
" By the way kamu sudah isi belum?" tanya Natasha melirik ke arah perut Kirania.
Kirania tersenyum samar. " Belum, Nat. Kamu sendiri apa sudah isi?"
" Alhamdulillah sudah jalan empat Minggu." Natasha menyahuti dengan sumringah.
" Syukur Alhamdulillah, selamat ya, Nat. Semoga aku bisa menyusul," ucap Kirania.
__ADS_1
" Aamiin." Natasha menyahuti. " Pak Dirga harus semangat lagi dong, bikin Rania hamil."
Ucapan Natasha sontak membuat wajah putih Kirania merona.
" Tak perlu kamu suruh, saya sudah pasti lakukan itu," sergah Dirga menanggapi sindiran Natasha
" Sayang, kita kasih ucapan selamat dulu ke mempelai." Dirga kemudian menggenggam tangan Kirania.
" Nat, aku ke sana dulu." Kirania menunjuk stage pelaminan.
" Oke, Ran." Natasha menyahuti.
Dirga kemudian menggandeng Kirania menuju stage pelaminan pengantin.
" Selamat datang Tuan Muda Laksmana, terima kasih sudah mau datang ke undangan kami." Tuan David menyambut kedatangan Dirga bersama Kirania.
" Oh ya, pengantin baru juga Tuan Dirga ini, kan?" tanya Tuan David yang menoleh ke arah Kirania.
" Ahaaa, benar sekali Tuan David, perkenalkan ini istri saya, Kirania." Dirga lalu memperkenalkan istrinya kepada Tuan David.
" Selamat Tuan David atas pernikahan putra Anda." Dirga kemudian memberikan selamat pada Tuan David.
" Terima kasih, Tuan Dirga." Tuan David membalas ucapan selamat dari Dirga.
Dirga lalu memberikan selamat kepada kedua pengantin, Namum saat memberikan selamat pada mempelai wanita, Kirania menangkap dugaan jika mempelai wanita itu seperti mengenal Dirga dari cara mempelai wanita itu memandang suaminya.
" Selamat Nona atas pernikahan Anda, semoga langgeng hingga maut memisahkan." Dirga memberikan ucapan selamat seraya mengulurkan tangannya, namun sang pengantin wanita hanya merespon dengan mengatupkan kedua tangan di dekat dadanya dan berucap, " Terima kasih, Tuan."
" Oh ... maaf." Dirga memahami sikap mempelai wanita yang tidak memperbolehkan dirinya menyentuh tangan wanita itu.
" Selamat Tuan Gavin." Kini Dirga memberikan selamat kepada Gavin.
" Gav, beliau ini Tuan Dirgantara. Dulu Daddy bekerja sama dengan Angkasa Raya Group, milik Papa dari Tuan Dirga ini saat pembangunan hotel ini dan juga yang di Jakarta." Tuan David memperkenalkan Dirga kepada putranya.
" Oh, terima kasih Tuan Dirga atas kehadiran Anda." Gavin pun menyapa Dirga.
" Sama-sama, Tuan Gavin." Dirga membalas.
" Saya harap kerjasama yang sudah dirintis orang tua kita bisa dilanjut oleh kita sebagai penerus perusahaan, Tuan Dirga." ucap Gavin.
" Saya harap juga begitu, Tuan Gavin." Dirga menyahuti.
Setelah memberikan ucapan selamat, Dirga dan Kirania pun turun untuk mengambil makanan.
" Abang, apa Abang kenal dengan mempelai wanita?" tanya Kirania penasaran.
" Tidak, memang kenapa?" tanya Dirga menoleh kembali ke arah mempelai wanita.
" Tadi aku lihat dia memperhatikan Abang terus."
Dirga menatap istrinya seraya menyeringai mendengar kata-kata istrinya tadi.
" Kenapa? Apa kamu cemburu pada wanita itu?"
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Apa ada yang ingat kenapa mempelai wanita terus memperhatikan Dirga?
Happy Reading❤️