RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Aku Mencintaimu, Aku Sangat Mencintaimu ...


__ADS_3

" Apa yang sebenarnya terjadi, Nadia? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Edo memapah tubuh Nadia dan mendudukkan di sofa selepas kepergian Dirga.


" Aku tidak tahu, aku tidak mengerti kenapa Dirga semarah itu." Nadia masih terisak.


" Ayolah Nadia, jangan membohongiku. Tidak mungkin Dirga semarah itu jika kau tidak mengusiknya." Edward menyadari jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nadia terhadapnya.


" Kak, tadi aku lihat Kak Dirga keluar kelihatan seperti habis marah, ada apa?" Seorang gadis cantik yang baru masuk ke dalam rumah langsung bertanya.


" Naomi?" Nadia terkesiap saat melihat kedatangan adiknya. " Kenapa kamu ada di sini?" Karena selama ini adiknya itu bersama orang tuanya di Milan.


" Iya, aku berencana liburan di sini. Kak Nadia kenapa menangis? Apa tadi habis bertengkar dengan Kak Dirga?" tanya Naomi memeluk Kakaknya sesaat.


" Naomi, bisa temani Kayla sebentar di kamarnya, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakakmu." pinta Edward kepada Naomi.


" Oke, Bang Edo." Gadis cantik berusia dua puluh tahun itu kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamar anak dari kakaknya.


" Sekarang kau ceritakan padaku, apa yang terjadi?" Edward menghapus air mata yang masih menitik di pipi Nadia hingga sesaat membuat Nadia tertegun. " Kau percaya padaku, kan?" Nadia perlahan menganggukan kepalanya. Dan akhirnya dia menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Dari dia menemui Kirania di apartemen wanita itu hingga soal uang tebusan dan kepergian Kirania.


" Astaga, Nadia ... kenapa kamu bisa sebodoh itu?! Terang saja Dirga marah seperti tadi, masih bagus dia tidak sampai memukulmu. Kau tahu, perasaan Dirga untuk wanita itu sudah tidak bisa berubah. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Sadarlah, Nadia. Lihat dunia luar, hidupnya tidak hanya seputaran Dirgantara dan Dirgantara saja." Edward terus berusaha membuka jalan pikiran Nadia. " Kau tau, jika terus-terusan seperti ini, mengharap cinta Dirga yang jelas-jelas bukan untukmu, aku rasa lama-lama kamu bisa jadi gila."


Nadia mendelik dengan wajah terlihat kesal saat mendengar Edward mengatakan dia akan jadi gila.


" Kau cantik, masih muda juga. Apa kamu tak kasihan pada Kayla, jika akhirnya mamanya jadi stress karena terus terobsesi dengan pria yang selalu mengacuhkannya?" sindir Edward kembali membuat Nadia kesal.


" Sial*an !! Kau menyumpahiku?!" Nadia refleks memukul lengan Edward.


" Hei, siapa yang menyumpahimu? Aku hanya mengatakan kemungkinan yang akan terjadi jika kau bersikeras bertahan dengan sikapmu." Edward lalu mencengkram kedua bahu Nadia. " Aku sarankan, berhentilah mengejar sesuatu yang jelas-jelas tidak membuatmu bahagia. Raihlah kebahagiaanmu yang sesungguhnya di luar sana, ikhlaskan Dirga, aku yakin kebahagiaan akan datang kepadamu dengan sendirinya."


***


Dirga mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Emosinya yang membuncah dan tidak bisa dia lampiaskan sepenuhnya terhadap Nadia, ditambah lagi pesan masuk dari Karina yang mengabarkan jika Kirania tidak ada di rumahnya, semakin membuat emosinya semakin terbakar.


" Kamu di mana, Rania?" Dirga mengusap kasar wajahnya. Dirga mencoba mengingat apa-apa saja yang Kirania lakukan beberapa hari terakhir belakangan. Seketika dia teringat pada sosok Gilang, pria yang terakhir mengajak makan siang Kirania. Dengan cepat Dirga menghubungi Pak Wendy.


" Pa Wendy, tolong atur staff keuangan yang biasa berhubungan dengan Bank XXX, tolong cari tahu, Bank XXX cabang mana yang pimpinannya bernama Gilang pindahan dari Cirebon. Tolong kabari secepatnya."


Setelah mengucapkan hal itu, Dirga langsung mematikan panggilan teleponnya. Untung saja dia masih ingat saat Kirania mengatakan jika Gilang sekarang beposisi sebagai kepala cabang. Dan tak lebih dari lima belas menit Dirga sudah mendapatkan informasi tentang di mana Gilang berkantor sekarang. Dirga pun langsung melajukan mobilnya ke sana.


Membutuhkan waktu dua puluh menit Dirga sampai di parkiran Bank XXX. Dengan langkah tegap dia berjalan menuju arah pintu masuk.


" Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa satpam yang berjaga membukakan pintu masuk.


" Saya ingin bertemu dengan pimpinan kamu," ujar Dirga pada satpam itu.


" Maaf, apa Bapak sebelumnya sudah ada janji?" tanya satpam itu.


" Katakan saja pada atasanmu, Dirgantara Poetra Laksmana ingin bertemu," tegas Dirga.

__ADS_1


" T-tuan Poetra Laksmana?" Satpam itu langsung membelalakkan matanya. " Se-sebentar, Pak." Satpam itu lalu terlihat berjalan ke arah meja telepon, tak lama kemudian mendekati Dirga. " Mari saya antar, Pak." Satpam itu kemudian mengarahkan Dirga menuju ruangan Gilang.


" Mba Ning, ini Tuan Dirgantara yang ingin bertemu Pak Gilang." Satpam tadi memberitahukan kepada sekretaris Gilang bernama Nuning.


" Selamat siang, Pak. Mari ..." Nuning pun kemudian berjalan dan membukakan pintu ruangan Gilang.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Tuan Dirgantara sudah di depan." Nuning memberitahukan kepada Gilang.


" Suruh dia masuk," jawab Gilang.


" Baik, Pak." Sekretaris Gilang menyahuti. " Silahkan, Pak." Sekretaris Gilang mempersilahkan Dirga untuk masuk dan kemudian dia kembali menutup pintu.


" Selamat datang Tuan Dirgantara, ada angin apa yang membawa Anda berkunjung ke kantor kami?" Gilang berdiri dan berjalan menghampiri Dirga.


" Di mana Kirania??" tanpa banyak basa-basi Dirga langsung menanyakan tujuannya datang ke kantor Gilang


Gilang menaikkan alisnya ke atas seraya menyunggingkan senyuman. " Kirania? Kenapa memangnya dengan dia? Dan kenapa Anda menanyakan itu kepada saya?!" Gilang menaikkan sedikit dagunya memandang Dirga yang sedang menatapnya dengan sorot mata seperti mengajak berperang.


" Katakan di mana dia? Di mana kau menyembunyikannya?!" Geram Dirga dengan gigi mengerat.


" Wow ... tenang Tuan Dirgantara, mungkin Anda lupa jika Anda sedang bertamu di sini." Gilang menyindir.


" Aku tidak perduli aku ada di mana! Katakan di mana Kirania?!" Dirga mencengkram erat kerah baju Gilang.


Dirga langsung menghempaskan Gilang hingga pria itu mundur dua langkah.


" Aku tidak perduli apa yang kau ucapkan! Seandainya aku mendapatkan bukti bahwa kau yang membawa Kirania pergi. Aku pastikan, aku akan menghancurkanmu!!" ancam Dirga dengan penuh emosi kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Gilang.


***


Kirania menatap ruangan restoran yang dibooking Gilang untuk acara pertunangan yang diadakan Minggu malam ini. Dekorasi yang banyak dihiasi bunga mawar dan tulip berwarna putih membuat Kirania memejamkan mata seraya menelan salivanya. Setiap kali melihat mawar putih akan mengingatkannya kepada sosok Dirgantara.


Andai engkau tahu ...


Betapa 'ku mencinta ...


Selalu menjadikanmu ...


Isi dalam doaku ...


Kutahu tak mudah ...


Menjadi yang kau minta ...


Ku pasrahkan hatiku ...

__ADS_1


Takdir 'kan menjawabnya ...


Kirania tertegun saat terdengar lagu dari Afghan dari audio di ruangan itu.


" Ran ...."


Kirania langsung terperanjat saat sebuah suara terdengar lirih di telinganya. Dengan spontan dia menoleh ke asal suara itu dan segera membalikkan badannya.


" Kak Gilang?" Kirania memegangi dadanya. " Kak Gilang mengagetkan aku saja."


Gilang terkekeh lalu bertanya, " Kamu sedang melamun?"


" Nggak, Kak." Kirania dengan cepat menggeleng. " Kak Gilang kok sudah ada di sini? Keluarga Kak Gilang sudah datang juga?" Kirania mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan mencari keluarga Gilang.


" Mereka masih dalam perjalanan. Aku sengaja ke sini duluan, karena aku nggak sabar untuk ketemu kamu." Senyum lebar menghiasi wajah Gilang.


Jika aku bukan jalanmu ...


Ku berhenti mengharapkanmu ...


Jika aku memang tercipta untukmu ...


Ku 'kan memilikimu ...


Jodoh pasti bertemu ...


" Lagu ini sangat mewakili perasaan aku ke kamu, Ran. Aku tidak menyangka, masa itu akan tiba. Saat aku akan memilikimu." Gilang meraih tangan Kirania lalu menggenggamnya. Dia mengecup jemari Kirania dengan penuh perasaan membuat Kirania hanya bisa termangu.


" Terima kasih, Ran. Terima kasih kamu sudah mau menerima cintaku. Tak masalah kau belum mencintaiku, karena aku yakin suatu saat kau bisa mencintaiku. Seperti keyakinanku selama ini bahwa kau akan menerimaku, dan ternyata itu benar terjadi." Aura kebahagian yang terpancar dari wajah dan setiap kalimat yang terucap dari bibir Gilang.


Kirania tertegun, dia menyadari jika sejak masih duduk berseragam putih abu-abu kakak kelasnya itu memang sudah menyukainya, tapi selalu dia abaikan. Dan sekarang dia memutuskan untuk bertunangan dengannya walaupun sejujurnya tak ada sedikit pun cinta untuk pria itu. Kirania menelan salivanya seraya terpejam menahan buliran air mata agar tak jatuh di pipinya, tapi dia terlambat, cairan bening itu telah lolos terlebih dahulu menitik membasahi pipinya.


" Kamu jangan menangis." Tangan Gilang lalu menyeka air mata Kirania membuat Kirania membuka kembali matanya. Saat itu pandangan matanya mendapatkan sosok Dirga yang ada di hadapannya, tersenyum untuknya dan menghapus air matanya. Sontak hal itu semakin membuatnya terisak lalu berhambur memeluk tubuh Gilang yang dia sangka adalah Dirga.


" Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ..." lirihnya dalam pelukan Gilang yang kini mengembangkan senyuman bahagia.


*


*


Bersambung ...


#Ups salah alamat 'kan



Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2