
Kirania yang mendengar suara Kayla langsung tersentak kaget saat dilihatnya gadis kecil itu sudah terduduk menghadap ke arah mereka. Dengan secepat kilat dia mendorong tubuh suaminya hingga milik sang suami di intinya terpaksa terlepas sebelum mereka mencapai klimaks.
Kirania segera menutupi tubuh setengah telan*jangnya dengan selimut lalu dia merebahkan Kayla kembali agar bocah itu tertidur.
" Ssssttt ... bobo lagi ya, Sayang." Kirania mengusap lembut punggung Kayla beberapa saat sebelum akhirnya Kayla pun kembali tertidur hingga membuat Kirania bernafas lega. Untung saja lampu temaram di kamar membuat Kayla tidak terlalu jelas melihat apa yang sedang Kirania dan Dirga lakukan tadi.
Selepas menidurkan kembali Kayla, Kirania menoleh ke samping di mana suaminya itu sedang memejamkan matanya dengan tangan memijat pelipisnya.
" Kamu sih, Mas. Untung Kayla langsung tidur kembali. Semoga dia nggak ingat apa yang dia lihat tadi saat bangun esok hari," keluh Kirania.
" Kayla sudah tidur lagi? Kita lanjut di kamar bawah saja, yuk." Dirga bergegas bangkit.
" Nggak deh, Mas. Kasian Kayla kalau nanti terbangun lagi nggak melihat ada siapa-siapa di sampingnya.
" Kita lakukan di sofa saja kalau begitu." Dirga menunjuk sofa santai di samping tempat tidurnya.
" Nggak mau, iihh. Aku takut Kayla melihat lagi." Kirania bersikeras menolak.
" Ya sudah, kita selesaikan di bathroom saja, gimana?"
" Ya ampun, Mas. Ini sudah jam berapa?" Kirania memicingkan matanya mencoba melihat jam dinding di bawah temaramnya cahaya lampu tidur. " Sudah hampir jam setengah satu dini hari lho itu."
" Jadi gimana ini, Yank? Bisa gila kalau tidak segera diselesaikan," keluh Dirga.
" Dipending besok lagi saja deh, Mas. Kalau Kayla sudah pulang kita masih punya banyak waktu, kan?" Kirania berucap dengan santainya.
" Nggak bisa dipending, nggak bisa ditunda kita selesaikan sekarang juga." Dirga langsung mengangkat tubuh Kirania hingga wanita itu memekik.
" Mas, mau ngapain?"
Dirga tak menjawab, dia kemudian membawa Kirania ke ruang walk in closet yang terletak di bagian belakang kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuh Kirania di atas permadani dan dia mulai membakar kembali hasrat yang tadi terhenti. Setelah kabut gairah mereka mulai terbakar, Dirga langsung mengarahkan kembali senjatanya menghujam inti istrinya yang sudah mulai lembab.
" Aaakkkhhh, Mas ... ssshhh ..." Kirania terus meracau saat sentuhan milik Dirga di dalam intinya benar-benar membuatnya seakan kehilangan akal sehat.
Sedang Dirga terus bergerak memompa tubuh sang istri sementara tangannya tak bisa diam memainkan dua bongkahan kenyal milik Kirania. Tak jarang dia memberikan gigitan di kedua asset itu hingga menghasilkan tanda merah yang tercetak jelas akibat ulahnya.
" Ssshhh, Mas ... aku sudah nggak tahan ..." rintih Kirania.
Akhirnya setelah berjalan beberapa puluh menit akhirnya Dirga menuntaskan permainan miliknya di dalam inti Kirania. Dibarengi dengan erangan kuat dan semburan cairan hangat yang membasahi rahim sang istri. Dirga pun menghempaskan tubuhnya di samping Kirania dengan nafas tersengal-sengal dan detak jantung yang berpacu sangat kuat.
" Terima kasih, Sayang." Dirga mengecup kening Kirania yang berpeluh. Sementara setelah menetralkan deru nafasnya Kirania bangkit dan menuju ke arah bathroom untuk membersihkan diri.
***
Keesokan harinya Dirga membawa Kirania mengantar Kayla pulang ke rumah Nadia.
" Ayo turun ..." Dirga mengajak Kirania turun dari mobil karena dilihatnya istrinya itu terlihat ragu.
__ADS_1
" A-aku di sini saja ya, Mas." Kirania berusaha menolak ajakan Dirga.
" Lho, kenapa?"
" A-aku, aku nggak enak bertemu dengan Bu Nadia." Kirania meremas jemari tangannya. Karena bagaimanapun juga perasaan dia sebagai seorang wanita tidak bisa dipungkiri ikut merasakan kekecewaan yang dialami Nadia karena kegagalan rumah tangga nya dengan Dirga.
" Kau harus ikut masuk ke dalam. Atau kau ingin aku gendong?"
Kirania langsung menoleh ke arah suaminya saat Dirga bicara seperti itu. Dia ingat suaminya itu sering berbuat nekat termasuk menggendongnya nanti jika dia tidak juga turun dari mobil. Akhirnya dengan sedikit ragu dia keluar dari mobil Dirga.
Kirania memandang bangunan rumah yang nampak megah menurutnya. Jika Dirga bilang ini adalah rumah pemberian mamanya atas hadiah pernikahan Dirga dan Nadia dulu. Berarti rumah yang diberikan untuk pernikahannya dan Dirga pun pasti tidak jauh seperti ini. Seketika Kiramua memijat pelipisnya, jika mengingat Dia kelak akan tinggal di rumah sebesar ini. Rumah yang mungkin cuma biasa dia lihat di televisi-televisi. Jangankan membayangkan memilikinya, berkhayal bisa masuk ke dalam rumah sebesar ini saja tidak pernah terlintas dalam benaknya.
" Selamat pagi Tuan Dirga," sapa Bi Imah saat melihat kedatangan Dirga, Kirania dan Kayla.
" Pagi, Nadia mana?" tanya Dirga.
" Ibu sedang di kolam renang, Tuan." Bi Imah menyahuti.
" Tolong panggilkan, beritahukan saya datang," tegas Dirga.
" Baik, Tuan. Permisi ..." Bi Imah pun berlalu dari hadapan mereka.
Tak lama Bi Imah ke belakang, dua pengasuh Kayla datang menghampiri dan mengajak Kayla ke kamarnya.
" Mas?"
yang basah.
" Aku antarkan Kayla pulang," ujar Dirga tanpa bangkit dari kursi.
" Oh, terima kasih." Nadia melirik ke arah Kirania yang tersenyum kikuk kepadanya.
" Bu ..." Kirania menganggukkan sedikit kepala menyapa Nadia.
" Selamat ya atas pernikahan kalian." Nadia mengucapkan selamat dengan lirih.
" Terima kasih, Bu." Kirania menundukkan kepalanya tak tega melihat air muka Nadia yang masih menampakkan kesedihan.
" Siang ini aku akan atur orang untuk mentransfer kembali uangmu yang dulu kau pinjamkan kepada Rania," ucap Dirga membuat Nadia mendesah.
" Apa kau yakin akan pindah ke Milan?" tanya Dirga kemudian.
" Iya." Nadia menjawab singkat.
" Apa kau sudah membicarakan ini dengan Edo?"
Nadia mengeryitkan keningnya menatap Dirga.
__ADS_1
" Untuk apa aku bicara dengannya? Dia tidak berkepentingan dengan kehidupanku." Nadia beralasan.
" Apa kamu yakin tidak mempunyai perasaan dengan Edo? Aku rasa sudah saatnya kamu memulai hubungan baru yang lebih serius dengan pria lain. Kayla butuh sosok papa baru untuknya. Dan aku lebih merasa tenang jika Edo yang bisa mengisi posisi itu."
" Tolong jangan campuri urusan pribadiku. Aku sudah bersedia melepasmu, jadi tolong jangan merepotkan diri kalian untuk mengatur hidupku," tegas Nadia.
" Tapi, Nad ...."
" Mas ..." Kirania menyentuh lengan Dirga, meminta suaminya itu menuruti apa yang dikatakan Nadia. Apa yang sudah dialami wanita cantik itu sudah sangat menyakitkan. Diacuhkan orang yang dicintainya, dihamili oleh kakak dari orang yang dicintainya sampai akhirnya ditinggal selama-selamanya oleh orang yang mestinya bertanggung jawab atas kehamilannya.
" Kalau sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kalian bisa meninggalkan rumah ini. Permisi ..." Nadia pun berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Kirania yang memandang kepergian Nadia, hati nuraninya merasa terusik. Karena bagaimanapun dia juga seseorang wanita, pasti dia juga bisa merasakan luka yang Nadia rasakan, walaupun wanita itu pernah menghalangi hubungannya dengan Dirga tapi selebihnya, Nadia tidak pernah bersikap buruk atau berkata kasar terhadapnya.
*
*
*
Bersambung ...
Aku mau minta pendapat readers, dari novel Mengejar Suami Impian dan Rindu Tak Bertuan, rencananya aku mau ngembangin 3 cerita:
Kisah tentang cinta segitiga Alden, Kayla, Falisha
Kisah tentang Gilang dan Karina.
Kisah Azkia
Untuk poin ke 2 rencananya aku ingin teruskan di RTB ini saja, gimana menurut pendapat reader semua?
__ADS_1
Happy Reading❤️