RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Membahas Ricky


__ADS_3

Beberapa jam sebelumya ...


" Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa kami bantu? Mau ke customer services atau mau ke teller?" sapa pak satpam yang berjaga di depan saat seorang wanita muda berusia dua puluh dua tahun masuk ke dalam bank.


" Tidak, Pak. Hmmm ... saya mau bertemu dengan Kak Gilang," ujar Karina, wanita muda itu.


" Kak Gilang? Maksud Mbaknya?" tanya pak satpam itu bingung.


" Hmmm, maksud saya ... Pak Gilang, Gilang Aditya." Karina cepat meralat ucapannya.


" Pak Gilang?" Pak Satpam itu memperhatikan Karina dari ujung kepala sampai ujung kaki. " Maaf, Mbak sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Gilang?" selidik pak satpam tadi.


" Emmm, bilang saja Karina adik sepupunya dari Cirebon ingin bertemu," ujar Karina kemudian.


" Oh, baik mohon tunggu sebentar." Pak Satpam mempersilahkan Karina untuk duduk menunggu.


Sekitar lima menit berselang ...


" Maaf, Mbak ... Pak Gilang sedang ada tamu." Pak Satpam memberitahukan.


" Kalau begitu saya tunggu saja di sini nggak apa-apa 'kan, Pak?" tanya Karina.


" Oh, silahkan, Mbak ..." Pak Satpam mempersilahkan.


Dua jam berlalu ...


Karina memperhatikan arloji di tangannya, sudah menunjukkan pukul 12.15 menit.


" Pak, Maaf ... apa Pak Gilang masih ada tamu, ya? Saya sudah dua jam lebih menunggu di sini." Karina kembali mendekat ke pak satpam.


" Sebentar saya tanyakan ke sekretarisnya ya, Mbak."


Sementara itu di ruangan kerja Gilang.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Maaf ... tamu yang bernama Karina masih menunggu di luar, katanya mau bertemu dengan Bapak," ujar Nuning, sekretaris Gilang.


Gilang mendengus kasar mendengar kata-kata Nuning.


" Dia sudah menunggu dari dua jam lalu , Pak." Nuning melanjutkan kalimatnya.


" Baiklah, suruh dia masuk." Gilang memerintahkan sekretarisnya itu.


" Baik, Pak." Nuning kembali ke tempatnya dan menelepon ke bagian security untuk membiarkan Karina masuk.


Tak lama security yang berjaga di depan mengantar Karina menemui Nuning.

__ADS_1


" Siang Mbak Ning ... ini tamunya Pak Gilang." Pak Satpam memperkenalkan Karina kepada Nuning.


" Mari, Mbak ... silahkan." Nuning membawa Karina ke ruang kerja Gilang. " Permisi Pak, ini Mbak Karina yang ingin bertemu." Setelah mempersilahkan Karina masuk, Nuning pun kembali ke tempatnya.


" Assalamualaikum, Kak ... Apak kabar?" sapa Karina selepas Nuning pergi.


Gilang melirik ke arah Karina, " Waalaikumsalam, ada keperluan apa kemari?" Gilang menjawab sapaan Karina dingin.


Karina menghampiri Gilang seraya meremas jemarinya. " A-aku, Kak Gilang apa kabar?" Karina nampak gugup, karena tidak biasanya Gilang bersikap dingin seperti itu. Selama ini, sejak menyukai kakaknya, Gilang selalu bersikap humble meskipun selalu diacuhkan oleh Kirania, tak sedikit pun pria itu bersikap tak ramah kepadanya.


" Saya sibuk, banyak urusan pekerjaan yang mesti diselesaikan. Jika tidak ada hal penting yang perlu disampaikan, sebaiknya kamu pulang saja."


Deg


Karina menelan salivanya mendengar ucapan yang lebih mirip pengusiran terhadapnya.


" A-aku minta maaf atas keputusan Mbak Rania yang pasti sangat mengecewakan Kak Gilang," lirih Karina tertunduk.


" Maaf, saya tak ada waktu untuk membicarakan urusan pribadi. Jika memang tak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, saya akan suruh satpam antar kamu keluar." Gilang kemudian memencet tombol di intercom meja kerjanya.


" Ning, tolong antar tamu saya keluar."


" Tapi, Kak ..." sergah Karina. " Kak, aku benar-benar minta maaf atas kesalahan Mbak Rania, kalau Kak Gilang berkenan, aku bersedia menebus kesalahan Mbak Rania."


Bersamaan dengan Karina selesai mengucapkan kalimatnya, Nuning pun masuk ke dalam ruangan Gilang.


" Mari, Mbak ..." Nuning mempersilahkan Karina untuk keluar ruangan Gilang.


Gilang seakan tak perdulikan apa diucapkan Karina, dia sengaja menenggelamkan diri dengan kesibukan dengan kertas-kertas yang ada di atas mejanya.


" Mari, silahkan ..." Nuning kembali berucap membuat Karina hanya bisa mendesah pasrah seraya melangkahkan kaki mengikuti langkah Nuning.


" Assalamualaikum, Kak ..." pamit Karina sebelum menghilang dari ruangan Gilang, tapi dia tidak sempat mendengar jawaban Gilang karena Nuning sudah lebih dahulu menutup pintu. Akhirnya dengan rasa kecewa Karina pun berjalan dengan gontai menuruni anak tangga meninggalkan kantor Gilang.


Jam sudah hampir pukul satu siang, Karina mencoba mencari hotel tempat untuk dia menginap malam ini. Sembari menunggu jam check in pukul dua nanti, dia memutuskan mencari tempat makan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu di restoran seafood yang terletak tak jauh dari hotel yang dia reservasi untuk menginap.


Karina memilih tempat duduk dan memesan beberapa menu makanan karena tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Sejak kemarin dia memang ijin ke mamanya akan ke luar kota karena ada urusan pekerjaan di Bekasi. Dia memang sempat menginap di salah satu rumah sahabatnya di Bekasi, dan barulah pagi ini dia mencari tempat dinas Gilang, tentu saja tak ada yang mengetahui rencananya itu selain Layla, sahabatnya yang dia singgahi untuk menginap itu.


Saat asyik menyantap gurame goreng dan sambal, matanya menangkap sosok seorang wanita dan dua orang pria tampan. Satu dari pria itu dia tak mengenalinya tapi pria yang satu


lagi dan sang wanita, tentu saja dia sangat kenal karena mereka adalah kakak dan kakak iparnya. Sesungguhnya Karina tidak menyadari jika pria yang tak dikenal itu adalah otak penculikan kakaknya yang secara tak langsung melibatkan dirinya juga.


Karina yang menyadari kehadiran Kirania dan Dirga segera menyelesaikan makannya dan bergegas ke kasir untuk melakukan pembayaran. Sayangnya saat selesai dia membayar dan memutar tubuhnya, dia mendapati kakaknya itu berjalan ke arah toilet yang berada di dekat kasir restoran hingga membuatnya bergegas keluar dari arah belakang, tapi dia sendiri menyadari jika kakaknya itu sempat melihatnya. Karena itulah dia berjalan cepat untuk menghindar dan menonaktifkan ponselnya.


***


" Mas?"

__ADS_1


" Hmmm ..." sahut Dirga tanpa menghentikan aktivitasnya menjelajahi leher jenjang sang istri.


" Kalau Pak Ricky itu sudah menikah atau belum, sih?"


Dirga langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar perkataan Kirania.


" Kenapa kamu tanya-tanya soal Ricky?" selidiknya tak suka.


" Aku cuma tanya saja, kok. Memang Pak Ricky itu usia berapa? Sepertinya dia sudah sangat matang. Nggak mungkin belum berkeluarga 'kan, Mas?" tanya Kirania lagi penasaran.


" Ck, nggak usah ngomongin dia bisa nggak sih, Yank? Kalau berdua seperti ini di atas tempat tidur cukup bahas tentang kita, atau tidak perlu bahas apa-apa, tapi melakukan sesuatu yang menghasilkan sesuatu."


" Melakukan sesuatu yang menghasilkan sesuatu? Maksudnya?" Kirania menautkan kedua alisnya tak memahami maksud perkataan sang suami.


" Astaga, kamu polos banget sih, Yank. Maksudnya itu melakukan hal yang enak yang bisa menghasilkan anak." Dirga menyeringai seraya memainkan alisnya.


" Ya ampun ..." Kirania menutup mulut dan melebarkan bola matanya.


" Paham kan, Sayang?"


Kirania menganggukkan kepala mulai memahami maksud sang suaminya.


" Jadi bisa kita mulai lagi sekarang?"


Kirania kini menggelengkan kepalanya cepat.


" Kenapa menggelengkan kepala?"


" Aku masih mencemaskan Karina, Mas. Aku belum tenang sebelum mendapatkan kabar dari dia." Kirania mengeluh.


" Ya sudah kamu tinggal diam saja menikmati biar aku yang bekerja."


" Aku stress mikirin Karina mana mungkin bisa menikmati, Mas." Kirania merajuk.


" Kamu ini ada saja alasannya. Besok aku suruh orang untuk mencari adikmu itu, sekarang nikmati saja malam percintaan kita." Dirga kembali mendekatkan bibirnya ke ranumnya daging tak bertulang semanis madu istrinya.


" Mas, bagaimana kalau kamu minta bantuan Pak Ricky saja untuk mencari Karina?"


" Ricky lagi ... Ricky lagi ... kenapa kamu tiba-tiba senang sekali menyebut namanya? Apa yang sudah Ricky lakukan saat mengurungmu dulu hingga sepertinya kau tertarik sekali membahas tentang asistenku itu, hmm?"


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Menurut Readers RTB, moment Dirga & Kirania mana yang menurut kalian paling sweet? Kalo menurutku sih suka waktu jogging ke GBK, waktu Rania disuruh pegang hoddie terus itung Abang push up sampe 50 kali, keliatan simple tapi suka liatnya.


Happy Reading❤️


__ADS_2