
" Stop, di sini saja, Pak." ujar Karina kepada Abang Ojol yang mengantarnya ke depan rumah dinas Gilang. Sebelumnya dia sempat meminta alamat tempat tinggal Gilang ke Tante Dini, orang tua dari Gilang.
" Di sini tempatnya, Mbak?" tanya Abang Ojol itu.
" Iya, benar ... makasih ya, Pak." Karina langsung merogoh uang dua puluh ribu dari dompetnya. " Ini, Pak."
" Lho, sudah pakai G-pay 'kan tadi, Mbak," tolak Abang Ojol.
" Nggak apa-apa, ambil saja buat bensin."
" Waduh, terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga rejekinya mengalir terus, dikasih kesehatan dan panjang jodohnya. Semoga urusannya dilancarkan ya, Mbak." Abang Ojol itu langsung mendoakan Karina.
" Aamiin ... makasih, Pak."
Karina kemudian mendekat ke arah pintu rumah yang tak berpagar itu. Dia menekan tombol bel yang menempel di dekat pintu. Tak berapa lama pintu terbuka dengan seorang wanita muncul dari balik pintu.
" Assalamualaikum, Mbak ..." sapa Karina kepada wanita yang dia duga ART Gilang.
" Waalaikumsalam, cari siapa ya, Mbak?" tanya ART itu memperhatikan Karina.
" Kak Gilang nya ada, Mbak?"
" Pak Gilang?"
" Iya."
" Mbak ini siapa, ya?"
" Saya Karina, kerabat Kak Gilang dari Cirebon."
" Oh silahkan masuk, Mbak. Nanti saya beritahukan Pak Gilang." ART itu mempersilahkan Karina masuk.
" Makasih, Mbak " Karina pun duduk di sofa yang ditunjuk ART Gilang.
Beberapa menit Karina menunggu ...
" Ada perlu apa lagi kamu menemui saya?" Suara Gilang dari lantai atas terdengar membuat Karina mendongakkan kepalanya mencari asal suara Gilang.
" Kak Gilang?" Karina langsung berdiri.
" Mau apa lagi kamu ketemu saya?" ketus Gilang tanpa turun ke ruang tamu
" A-aku mau minta maaf, Kak."
" Kamu nggak punya salah, jadi nggak perlu minta maaf. Sebaiknya kamu pulang saja, saya sudah nggak ingin berurusan dengan kamu juga keluarga kamu!" tegas Gilang, membuat Karina menelan salivanya mendengar kalimat-kalimat bernada ketus dari Gilang. " Pulanglah!" usir Gilang kemudian memutar tubuhnya ingin kembali ke kamarnya.
" Aku suka Kakak ..." seru Karina hingga membuat Gilang mengurungkan niatnya, dan kembali menoleh ke arah Karina yang masih berdiri di lantai bawah.
" Apa yang kamu bilang tadi?"
" A-aku suka Kak Gilang ..." lirih Karina menggigit bibir bawahnya.
" Maksud kamu apa?"
" Aku bersedia menggantikan posisi Mbak Rania."
" Kamu gila? Kamu pikir bisa seenaknya saja menggantikan posisi orang? Otak kamu itu ditaruh di mana? Apa kakak kamu itu yang menyodorkan kamu sebagai gantinya?!" Tak ada bahasa yang halus yang keluar dari mulut Gilang.
" Tidak, Kak. Mbak Rania nggak menyuruh aku melakukan ini, ini karena inisiatif aku sendiri. Aku nggak tega lihat Kak Gilang sedih. Aku nggak tega melihat Kak Gilang kecewa. Aku ...."
" Saya baik-baik saja, nggak perlu kamu cemaskan seperti itu. Saya pun tidak akan mati karena perlakuan kakak kamu terhadap saya."
__ADS_1
Deg
Hati Karina serasa diremas-remas dengan semua ucapan Gilang.
" Sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah datang lagi menemui saya, baik di sini atau juga di kantor! Jangan ganggu waktu saya lagi!"
" Tapi, Kak ..."
" Mau keluar sendiri atau saya paksa kamu keluar dari sini?!"
Cairan bening seketika menganak sungai di mata Karina. Dadanya seakan sesak dengan nafas yang terasa tercekat.
" Ratih!!" teriak Gilang kencang memanggil ART-nya.
" I-iya saya, Pak." Tak lama ART yang dipanggil dengan nama Ratih pun muncul dari arah dapur.
" Antar dia keluar! Dan tolong kamu ingat, jika besok-besok dia datang lagi kemari, saya larang kamu membawa dia masuk ke dalam rumah ini. Kamu paham?!" Ada nada emosi terdengar dari kalimat Gilang.
" B-baik, Pak." Ratih menyahuti.
" Sudah antar dia keluar!" Perintah Gilang sebelum beranjak masuk ke dalam kamarnya.
" Kak Gilang ..." Dengan berderai air mata yang tak bisa lagi ditahannya, Karina ingin berlari mengejar Gilang tapi tangan Ratih lebih dulu mencekalnya.
" Mbak, mari saya antar." Ratih menarik lengan Karina.
" Tapi saya ingin bicara dengan Kak Gilang, Mbak."
" Mbak nggak lihat Pak Gilang tadi kelihatan marah seperti itu? Sebaiknya Mbak segera pergi daripada Pak Gilang tambah marah lagi." Ratih mencoba menasehati Karina.
" Tapi, Mbak ...."
Akhirnya dengan terpaksa Karina pun keluar dari rumah Gilang dengan berurai air mata.
***
" Mas, bangun ... sudah hampir jam lima, kamu belum sholat Shubuh." Kirania menepuk halus pipi Dirga, berusaha membangunkan suaminya yang masih bergelung di bawah selimut.
" Mas, bangun ..." Kirania sampai mengoyang lengan kekar Dirga karena suaminya itu masih bergeming.
" Abang sayang ... ayo bangun, sholat dulu nanti telat nggak kebagian Shubuh, lho."
Kali ini Kirania sukses membuat Dirga mengerjap.
" Kamu panggil apa tadi?" ucapnya dengan suara parau.
" Apa?"
" Kamu panggil aku dengan panggilan apa tadi?"
Pipi Kirania langsung merona saat mengingat panggilan iseng yang dia sematkan untuk membangunkan suaminya itu.
" Kenapa diam saja?" Tangan Dirga terulur membelai lembut pipi istrinya.
" A-abang?"
" Abang apa?"
" Abang sayang ..." Kirania menunduk malu seraya menggigit bibirnya.
" Aku suka panggilan itu, kamu panggil aku dengan sebutan itu saja, ya!"
__ADS_1
" Abang sayang?"
" He-em."
" Aku malu, Mas."
" Iiissshh sudah rubah lagi panggilannya. Panggil aku seperti tadi."
" Hmmm ...."
" Kenapa mesti pakai mikir, sih? Cepat panggil seperti tadi."
" A-bang ...."
" Kurang lengkap."
" Abang sayang ...."
" Ada apa adik abang tersayang?" Dirga membalas dengan langsung merengkuh tubuh Kirania dan membawanya bergelung ke dalam selimut.
" Ya Allah, Mas. Kamu belum shubuh juga." Kirania mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya tapi tak juga berhasil.
" Abang ..." protes Dirga.
" Eh iya, Abang ... sholat dulu sana."
" Jam berapa sekarang?"
" Jam lima kurang lima belas menit."
" Lima belas menit lagi kalau begitu." Dirga makin mengeratkan pelukannya.
" Sekarang, Abang ... nggak ada nanti-nanti. Kalau mau berbuat yang enak-enak mintanya buru-buru nggak boleh sampai telat, kalau suruh ibadah pakai nanti-nanti. Buruan ayo bangun!" Kirania mencubit pinggang Dirga hingga suaminya itu mengurai pelukannya. " Ayo cepat bangun, mandi terus sholat!" perintah Kirania seraya berkacak pinggang membuat Dirga akhirnya bangkit dari tempat tidur.
" Aku suka kamu seperti ini, dari kenal sampai sekarang galaknya konsisten nggak hilang-hilang." Dirga menyeringai sembari membenamkan sebuah kecupan di pipi Kirania.
" Iya mesti digalakin biar nurut." Kirania menyahuti. " Buruan mandi nanti keburu abis waktu shubuhnya."
" Mandiin ...."
Kirania langsung mendelik saat suaminya itu berucap manja.
" Ampun ..." Dirga mengangkat kedua tangannya dan langsung berlari ke dalam bathroom dengan tergelak saat melihat istrinya itu langsung melotot ke arahnya.
Selepas Dirga masuk ke kamar mandi dengan cepat Kirania merapihkan tempat tidur dan menyiapkan baju yang akan dipakai suaminya sebelum akhirnya dia turun ke bawah menuju arah dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya itu.
***
*
*
*
Bersambung ...
Jangan lupa kasih like & komen ya, hal yang simple tapi sangat berharga untuk karya Othor ini biar bisa naik level lagi. Jadi mohon dukungan readers semua,
Aku butuh visual cowok nih buat kisah Alden nih, ada yang punya ide? Aku ga bisa mupon dari visual Abang Dirga & Akang Yoga soalnya😁makasih🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1