RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Bantu Memijat


__ADS_3

Kirania sengaja meninggalkan pesan ke Lisna, jika dia ingin pergi makan siang dengan teman yang ciri-cirinya menyerupai Gilang. Dia pun mengatakan kepada Lisna jika temannya itu sedang dalam perjalanan menjemputnya. Entahlah, pengusiran secara halus yang dilakukan Dirga tadi seolah mengusik hatinya, apalagi saat Dirga terlihat berbincang akrab dengan Angela, rasanya hatinya serasa tertusuk-tusuk. Memangnya apa yang ingin mereka bicarakan hingga menyuruh dirinya keluar? Apa kehadirannya membuat Dirga tidak bebas menerima semua godaan yang disodorkan wanita itu?


Rasanya ingin sekali membalas perbuatan Dirga terhadapnya. Karenanya saat Gilang menghubunginya timbullah ide itu, mengingat bagaimana beberapa waktu lalu Dirga sampai pernah terdampar sampai ke Cirebon gara-gara dibuat senewen olehnya.


Dia sudah memprediksikan jika bosnya itu akan marah. Mengetahui dirinya keluar makan tanpa Dirga saja, pria itu akan marah, apalagi saat Dirga mendengar jika Kirania pergi bersama pria lain.


Kirania menghela nafas dalam-dalam sebelum melangkah ke arah pintu masuk ruang kerja. Setelah mengetuk pintu, Kirania pun membuka handle pintu dan memasuki ruangan Dirga.


" Sudah selesai kencan makan siangnya??"


Kehadiran Kirania langsung disambut suara bernada dingin dan ketus Dirga yang saat itu dia lihat sedang duduk bersandar di punggung kursi dengan kedua kaki naik ke atas meja.


Kirania tak berniat menjawab Dirga, dia melangkah menuju meja kerjanya.


" Saya sedang bicara sama kamu." Dirga menurunkan kakinya lalu beranjak mendekati Kirania yang langkahnya langsung terhenti mendengar suara Dirga.


" Dari mana kamu?" tanya Dirga sedikit membentak, " Senang ya, makan siang dengan pria lain? Bicara apa kalian tadi, hahh?!" Dirga melipat tangan di dadanya kini berdiri di hadapan Kirania.


" Apa yang kami bicarakan itu bukan urusan Bapak. Saya juga 'kan nggak bertanya sama Bapak, apa saja yang Bapak bicarakan dengan klien Bapak tadi di dalam ruangan sampai menyuruh saya keluar." Dengan nada penuh emosi Kirania mengungkapkan unek-uneknya.


Dirga langsung menarik satu sudut bibirnya ke atas, sebenarnya dia menyadari jika wanita yang sangat dia cintai sedang dalam mode jealous. Dia sudah merasakan saat dia duduk mendekat ke arah Angela, sudut ekor matanya bisa melihat kekesalan pada diri Kirania dari gestur tubuh wanita itu. Apalagi saat dia menyuruh Kirania keluar tadi.


" Apa kamu cemburu?"


Pertanyaan Dirga membuat Kirania menaikan wajahnya menatap Dirga yang sedang memandangnya dengan sorot mata yang sanggup langsung menghunus ke jantungnya. " Yang sepantasnya cemburu itu istri Bapak, bukan saya." ketus Kirania kemudian melempar pandangan ke lain tempat.


" Bilang saja kalau kamu itu cemburu karena Angela, kan?" Dirga langung menarik pinggang ramping Kirania hingga kini tubuh mereka saling merapat membuat Kirania membelalakkan matanya.


" Lepaskan saya, Pak Dirga!" Kirania membentak.


" Katakan dulu jika kamu memang cemburu. Kamu sengaja 'kan pergi dengan pria itu untuk membalasku?" Satu punggung jari Dirga mengelus pipi mulus Kirania.


" Lepaskan saya!" Kirania menepis tangan Dirga yang mengusap pipinya tanpa menghentikan aksinya melepaskan diri dari pelukan Dirga.


" Bilang dulu jika kamu cemburu." Dirga semakin menggoda Kirania.

__ADS_1


Kirania yang merasa kesalnya berlipat-lipat tanpa pikir panjang langsung mengerakkan lututnya menendang ke arah junior Dirga hingga membuat pria itu memekik kesakitan dan melepas belitan tangannya dari pinggang Kirania.


" Shit !! Astaga Rania !!" seraya terus meringis Dirga kini membungkuk dengan tangan memegangi juniornya.


Kirania yang menyadari tindakannya itu telah menyakiti alat vital Dirga langsung terperanjat, apalagi saat dia melihat mata Dirga hampir berkaca-kaca.


" Ma-maaf, Pak." Kirania merasa sangat bersalah karena telah melakukan kekerasan kepada Dirga.


" Aaarrgghh ..." Dirga mengerang seraya mendudukkan tubuhnya di sofa sambil menahan rasa ngilu yang teramat sangat.


Kirania pun ikut duduk di samping Dirga.


" S-sakit ya, Pak?" Kirania meggigit bibirnya saat melihat Dirga yang sampai memejamkan matanya menahan rasa sakit. " Maaf, Pak. Saya nggak sengaja," lirih Kirania.


Sambil menahan sakit Dirga melirik ke arah Kirania yang telihat merasa bersalah.


" Kamu ... kamu hampir merusak masa depanku, Rania."


" Saya minta maaf, habis Bapak saya suruh lepas nggak juga lepasin saya, jadinya saya refleks melakukan hal tadi. Itu nggak ada unsur kesengajaan kok, Pak. Demi Allah, saya nggak bermaksud mencelakai Bapak."


" Bertanggung jawab? Maksudnya?" Kening Kirania sampai berkerut dibuatnya.


" Alat ini adalah mesin pencetak penerus-penerus kita, kalau sampai terluka dan tidak berfungsi gimana? Kamu mau nanti kita nggak punya keturunan? Selain mesin pencetak keturunan, ini juga alat pencipta kenikmatan yang sanggup membawamu terbang ke atas awan. Makanya harus dirawat dan dijaga baik-baik agar tidak terluka, bukannya malah ditendang seperti tadi. Kalau sampai patah gimana?"


Kirania hanya terdiam seraya menelan salivanya mencoba mencerna kata-kata Dirga.


" Aawww ..."


Kirania langsung menoleh kembali ke arah Dirga yang kembali merintih.


" Rasanya ngilu banget, serasa kaya terkilir." Dirga melirik Kirania. " Apa kamu nggak mau membantu menghilangkan rasa sakitnya?"


" Membantu apa?"


" Bantu memijat, siapa tahu rasa ngilunya akan hilang kalau kamu pijat yang kamu tendang tadi."

__ADS_1


Kirania langsung membelalakkan matanya menanggapi perkataan Dirga tadi seraya menjauhkan tubuhnya dari Dirga.


" Bapak jangan mengambil kesempatan, ya!"


" Mengambil kesempatan apanya, sih? Kamu nggak sadar apa yang kamu lakukan tadi itu benar-benar menyakiti senjataku yang paling berharga ini?"


" Ya tapi nggak sampai harus melakukan apa yang Bapak perintahkan tadi, kan?"


" Coba deh, kalau kamu mengalami terbentur kepala atau kaki, yang akan dipegang itu 'kan pasti bagian terbentur tadi. Memberi pijatan atau meraba bagian itu. Lantas apa bedanya dengan juniorku yang sudah kamu ciderai tadi?"


" Kalau gitu saya panggilan tukang urut saja, kalau Bapak merasa bagian itu Bapak terkilir." Kirania yang mulai menyadari jika Dirga sengaja mengerjainya langsung mendapatkan ide itu.


Dirga menautkan kedua alisnya. " Tukang urut?"


" Iya, Biar nanti yang lebih ahli saja yang membantu memijatnya, sekalian minta dicek apa masih berfungsi atau tidak alat Bapak itu." Kirania langsung mengambil ponselnya.


" Kamu mau apa?" selidik Dirga.


" Saya mau coba hubungi Mbak Lisna, siapa tahu punya kenalan tukang urut."


" Jangan macam-macam kamu, ya!" ancam Dirga.


" Saya cuma mau membantu Bapak, kok." Kirania bangkit.


" Tidak perlu! Aku nggak butuh tukang urut, tukang pijat atau lainnya. Juniorku ini hanya bisa disembuhkan oleh orang yang mencederainya." Dirgantara menarik lengan Kirania hingga kini tubuh Kirania terduduk di pangkuan Dirga.


" Aawww, aawww ..." Dirga kembali memekik saat merasa tubuh Kirania menindih bagian juniornya yang sempat ditendang Kirania tadi


" Salah Bapak sendiri kenapa menarik saya?!" sahut Kirania seraya bangkit dan bergegas kembali menuju meja kerjanya.


,


,


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2