
Dirga memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua yang terasa asing untuk Kirania.
" Ini rumah siapa, Kak?" tanya Kirania penasaran.
" Kamu nggak tahu ini rumah siapa?" Dirga balik bertanya.
Kirania menggelengkan kepalanya. " Nggak tahu ..." balasnya.
" Ini rumah orang yang sebentar lagi menjadi mantan tunanganmu."
Kirania membelalakkan matanya mengetahui jika rumah yang didatanginya itu adalah rumah Gilang.
" Ayo kita turun." Dirga membuka seat belt yang membelit tubuhnya.
" Kak, aku takut."
Perkataan Kirania membuat Dirga menoleh ke arah Kirania.
" Kamu nggak usah takut, aku akan menemani. Ayo ..." Dirga membuka pintu mobil.
" Kak, tunggu!" Kirania menahan tangan Dirga hingga menghentikan Dirga yang hendak keluar dari mobil.
" Kenapa lagi?" Dirga merangkum wajah Kirania. " Aku 'kan sudah bilang, kamu nggak perlu khawatir, aku akan menemanimu." Dirga mencoba menenangkan. " Ayo ...."
" Kak, biar aku saja yang menemuni Kak Gilang." Sebenarnya bukan karena akan bertemu Gilang yang membuat Kirania khawatir, tapi kehadiran Dirga yang menemaninya lah yang membuatnya cemas. Peristiwa di mimpinya itu begitu kuat mempengaruhi pikirannya.
" Tidak! Aku nggak akan membiarkan kau bertemu dengannya berdua saja." Dirga menolak dengan tegas.
" Kak, aku mohon. Ini urusan aku dengan Kak Gilang, biar aku sendiri yang menyelesaikannya berdua dengan Kak Gilang. Aku takut akan ada emosi di antara kalian jika kamu ikut menemani ke dalam." Kirania mencoba menjelaskan.
" Aku tetap nggak setuju!" tolak Dirga kembali.
" Kak, please ... aku nggak ingin ada keributan di antara kalian." Kirania memohon.
Dirga mendengus seraya mengusap kasar wajahnya. " Aku takut kamu berubah pikiran." Dirga akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya.
Kini giliran Kirania yang menghela nafas, dia menyadari karena sifatnya yang plin-plan kemarin membuat Dirga tak bisa sepenuhnya percaya terhadap dirinya.
" Aku tahu kamu meragukan aku, tapi percayalah ... kali ini aku akan memutuskan yang terbaik untuk kita." Kirania menggenggam tangan Dirga, menyakinkan pria itu agar mempercayainya.
Dirga menatap lekat Kirania.
" Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu cepat kau berteriak agar aku bisa langsung ke dalam." Dirga terlalu berlebihan dengan kekhawatirannya.
" Iya." Kirania menyahuti, lalu dia melepaskan seat beltnya dan hendak membuka pintu mobil, tapi tangan Dirga yang kini menahannya.
" Aku mencintaimu." Dirga mengecup lembut kening Kirania sebelum melepaskan Kirania turun memasuki rumah Gilang.
__ADS_1
***
Kirania menekan tombol bel pintu rumah Gilang. Tak begitu lama seorang wanita keluar dari dalam rumah Gilang.
" Assalamualaikum, apa Kak Gilang ada di rumah?" tanya Kirania kepada wanita berumur sekitar tiga puluh tahunan itu.
" Waalaikumsalam, Mbak ini siapa, ya?" tanya wanita itu.
" Saya Kirania, Mbak. Kak Gilang ada di rumah?"
" Mbak Kirania? Oh, Mbak ini tunangannya Mas Gilang, ya?"
Kirania tersenyum tipis membalas pertanyaan wanita itu. " Kak Gilang nya ada, Mbak?"
" Ada, Mbak ... ada. Mari silahkan masuk ..." Wanita itu mempersilahkan Kirania untuk masuk ke dalam rumah Gilang.
" Terima kasih, Mbak," sahut Kirania memasuki ruang tamu rumah Gilang. Sementara wanita yang dia kira ART di rumah Gilang itu langsung berjalan ke lantai atas.
Kirania menunggu kehadiran Gilang dengan gelisah. Dengan tangan saling bertautan dan meremas satu sama lain.
" Rania?"
Kirania langsung mendongakkan kepala ke arah tangga saat terdengar suara Gilang dari arah sana. Gilang langsung berlari ke arahnya dengan wajah bahagia.
" Rania, kamu dari mana saja? Ya Tuhan, aku sangat mengkhawatirkanmu, apa kamu baik-baik saja." Gilang sampai ingin memeluk Kirania karena saking bahagianya melihat Kirania saat ini ada di hadapannya dengan selamat.
" Oh, maaf ... aku terlalu senang melihat kamu, Ran." Gilang menyadari jika Kirania berusaha menghindarinya.
" Kamu baik-baik saja 'kan, Ran? Kamu dari mana saja, Ran? Apa ada orang yang membawamu pergi? Lalu kenapa bisa kamu ada di sini? Kamu tahu dari mana rumah aku, Ran?" Tak henti pertanyaan keluar dari mulut Gilang menuntut penjelasan dari Kirania.
" Aku baik-baik saja, Kak." Kirania menjawab pertanyaan.
" Kamu dari mana selama ini, Ran?" Gilang menyuruh Kirania untuk duduk.
" Aku, aku pergi ke suatu tempat."
" Apa ada orang yang membawa kamu, Ran? Karena tidak ada kabar darimu beberapa hari ini. Kami semua mencemaskanmu."
" Aku ... ada yang ingin aku sampaikan, Kak." Kirania mencoba memulai menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Gilang.
" Ada apa, Ran? Kamu mau ingin bicara apa? katakan saja."
Kirania meremas jemarinya seraya menggigit bibirnya. Dia pun harus menelan salivanya, karena yang akan dia sampaikan bukanlah hal yang mudah. Kesalahannya dalam mengambil keputusan bisa berakibat putusnya hubungan silaturahmi kedua keluarga yang selama ini terjalin baik.
" Sebelumnya aku minta maaf jika apa yang ingin aku sampaikan mengecewakan Kak Gilang." Kirania menundukkan kepala merasa sangat bersalah.
" Apa maksudnya, Ran?" Gilang menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Kirania mengeluarkan cincin dari dalam sling bag dan meletakan cincin itu di atas meja.
" Apa maksud semua ini, Ran? Kenapa kamu melepas cincin pertunangan kita?" Gilang mulai merasakan kecurigaan.
" A-aku, aku minta maaf, Kak. Aku nggak bisa melanjutkan pertunangan kita," lirih Kirania kembali tertunduk.
Gilang sampai membelalakkan matanya mendengarkan ucapan Kirania. " Kamu jangan bercanda, Ran. Apa maksud semua ini? Kenapa kamu ingin memutuskan pertunangan kita? Apa ada orang yang mempengaruhimu? Apa ada orang yang mengancammu? Katakan padaku siapa yang sudah mempengaruhimu? Siapa orang yang sudah mengancammu, Rania?!" Gilang duduk bersimpuh di hadapan Kirania dengan tangan menggenggam tangan Kirania.
Kirania menggigit bibirnya, matanya yang sudah mulai berkaca-kaca menatap wajah penuh kekecewaan Gilang atas keputusannya. Sungguh rasa bersalah kini menyeruak di dalam hatinya, karena dialah satu-satunya orang yang paling bersalah atas semua permasalahan ini.
Kirania membasahi tenggorokan yang terasa kering dengan menelan salivanya sebelum dia memulai kembali berkata-kata.
" Maafkan aku, Kak. Aku yang paling bersalah dalam hal ini. Seharusnya aku nggak melibatkan Kak Gilang dalam hal ini," lirih Kirania berusaha untuk tak menjatuhkan air matanya.
" Tidak, Ran! Ini tidak mungkin! Kamu yang meminta pertunangan ini dilaksanakan secepatnya, kan? Ran, aku bisa menerima kalau kamu masih belum mencintaiku, aku bisa terima itu. Tapi aku nggak ingin pertunangan kita batal, Ran. Aku mencintaimu, Rania. Kamu dari dulu tahu jika aku menyukai, aku mencintaimu." Gilang menggenggam erat tangan Kirania. Dia sungguh tak rela jika harus melepas wanita yang sejak dulu dicintainya, jauh sebelum Kirania mengenal Dirga tentunya.
Kirania menatap tangannya yang digenggam erat Gilang. Air mata yang tak tertahankan akhirnya luruh di pipinya. Sungguh dia tidak membayangkan juga memikirkan akan jadi seperti ini akibatnya.
" Maaf aku sudah mengecewakan Kakak."
Gilang menggelengkan kepala menolak apa yang dikatakan Kirania.
" Nggak, Ran. Aku nggak akan menerima permintaanmu. Aku nggak akan melepaskanmu." Gilang bersikukuh.
" Kak ...."
" Siapa yang membuatmu berubah pikiran? Apa dia? Karena dia tidak bisa menerima kekalahannya karena tidak bisa mendapatkanmu lalu dia mempengaruhi, mengancammu?!" Gilang kini bangkit dengan rahang yang mulai mengeras. Dia mulai mencurigai Dirga yang telah membuat Kirania merubah keputusannya.
" Ini bukan salah Kak Dirga, Kak. Ini semua murni kesalahanku." Kirania menepis tuduhan Gilang.
" Berarti benar, kan? Dia yang ada dibalik semua ini, dia yang ada dibalik menghilangnya kamu kemarin. Dia yang sudah mempengaruhimu, karena itu kamu ingin memutuskan pertunangan kita?!" geram Gilang dengan emosi yang sudah mulai tersulut mengetahui Dirga lah orang yang sudah mempengaruhi Kirania.
" Karena bukan kamu yang dia cintai, itu jawabannya."
Seru suara dari arah pintu membuat Kirania dan Gilang langsung menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk.
*
*
*
Bersambung ...
Mohon maaf kalau belakangan agak telat up, karena ada kesibukan dikit di RLš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1