RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
( Masih ) Kisah Nadia & Bima


__ADS_3

Sejak sore tadi Bima mencoba membujuk Nadia agar mau keluar dari kamar, karena sejak berlari meninggalkannya di pantai tadi, Nadia mengurung diri di kamarnya. Sepertinya wanita itu merajuk karena sikapnya tadi.


" Nad, buka pintunya. Sudah waktunya makan malam." Bima mengetuk kamar Nadia. Hampir setengah jam berlalu tapi wanita itu tak juga membuka pintu kamarnya


" Nad, kalau kamu nggak juga membuka pintunya, aku tinggal pulang ke Jakarta lho, ya!" ancam Bima, memancing Nadia untuk menyerah.


" Oke, aku balik Jakarta, ya! Nanti kamu pulanglah sendiri!" seru Bima kemudian.


Tak lebih dari satu menit pintu kamar Nadia terbuka, dengan tubuh wanita itu berhambur keluar karena takut ditinggal. Namun sedetik kemudian tubuh ramping itu ditangkap lengan kekar Bima, dan kini sudah berada dalam dekapan tubuh atletis pria itu.


" Mau ke mana, hmm?" bisik Bima di telinga Nadia.


" Kak Bima, lepaskan aku!" pekik Nadia, tapi suara Nadia teredam telapak tangan Bima.


Bima langsung membawa masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Nadia, lalu mengunci pintunya. Tentu saja hal itu membuat Nadia ketakutan. Nadia terus berontak berusaha lepas dari belitan lengan kokoh Bima.


Bima kemudian membawa ke arah balkon, hal ini membuatnya terkesiap. Dia pikir Bima akan melecehkannya karena mengurung di kamarnya. Ternyata dugaannya salah, Bima justru menyiapkan candle light dinner di balkon kamarnya.


" Duduklah ..." Bima menarik kursi untuk diduduki Nadia.


Nadia tercenung mendapati perlakuan Bima yang tak pernah dia dapat dari Dirga. Seketika cairan bening langsung menganak sungai di matanya.


" Buon Compleanno, Signorina. ( Selamat ulang tahun, Nona )" Bisik Bima mengucapkan selamat ulang tahun dalam bahasa Italia. Kemudian dia melingkarkan sebuah kalung berlian ke leher jenjang Nadia, membuat Nadia tersentak.


Bima kemudian duduk di hadapan Nadia, kemudian menuangkan minuman ke dalam flute glass. " Mari kita bersulang, untuk kebahagianmu di hari ulang tahunmu ini, cantik. Cheers ..." Bima mengacungkan flute glass ke arah Nadia berharap Nadia pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Satu jam berlalu ...


" Kak, sudah aku sudah nggak kuat, kepalaku rasanya berat. Mataku juga sudah mulai berbayang. Astaga ... ada gempa, ya? Kok rasanya bergoyang-goyang semuanya," celoteh Nadia yang sudah kehilangan sebagian kesadarannya karena terlalu banyak minuman yang dia tenguk.


Nadia kemudian bangkit dari kursi hendak berdiri." Eh-eh-eh, tuh 'kan ada gempa. Ayo Kak, kita keluar dari sini. Aku nggak mau mati tertimpa bangunan ini." Nadia menarik lengan Bima. Tapi karena dibawah pengaruh alkohol hingga tenaga Nadia seolah tak kuasa menopang tubuhnya membuatnya hampir luruh ke lantai, namun dengan cepat Bima tangkap, hingga saat ini tubuh ramping Nadia sudah ada dalam pelukannya.


Nadia yang merasa dirinya dipeluk langsung menoleh orang yang memeluknya. Kemudian matanya mengerjap saat mendapati bayangan Dirga lah yang saat ini sedang mendekapnya.


" Boo ... Sayang, kamu ada di sini? Akhirnya kamu datang juga, Boo ..." Nadia langsung mengeratkan pelukannya kepada Bima yang dia anggap Dirga. Tapi tak lama dia mengurai pelukannya pada tubuh Bima, sembari menoleh mencari seseorang.


" Cari siapa?" tanya Bima


" Kakakmu yang menyebalkan itu."


Bima mengeryitkan kening mendengar Nadia menyebutnya menyebalkan.


Bima sendiri yang mendapati wajah cantik menggemaskan Nadia yang terlihat manja menatapnya, tak kuasa menahan hasratnya sebagai laki-laki normal. Akhirnya serbuan godaan itu meruntuhkan iman Bima yang memang sangat menginginkan menyentuh wanita mantan pacar adiknya itu.


Bima mendekatkan wajahnya pada wajah Nadia, dia mengecup bibir sen sual Nadia. Dan Nadia yang menganggap pria yang memeluknya adalah Dirga langsung membalas ciuman itu. Semakin lama aktivitas itu berlangsung, ciuman itu semakin menuntut. Mereka semakin berga irah saling menge cap, melu mat dan saling bertukar saliva. Hasrat Bima semakin terbakar, dia menginginkan lebih dari sekedar beradu mulut dan lidah. Dia kemudian mengangkat tubuh Nadia yang setengah mabuk dan membaringkannya ke atas springbed. Dengan tak sabar dia melucuti kancing baju yang pakaian Nadia.


" Boo ..." Nadia menahan gerakan tangan Bima yang sangat aktif membuka satu persatu kancing bajunya.


Bima tersenyum sambil kembali melu mat bibir Nadia. " Aku ingin memberikan kado spesial untukmu," bisik Bima sembari menggigit cuping telinga Nadia yang membuat bulu kuduk Nadia seketika berdiri.


" Aku takut ..." ucap Nadia.

__ADS_1


" Tak ada yang perlu kamu takutkan, aku akan bertanggung jawab. Aku tak akan meninggalkanmu." Bima mengecup kening Nadia berusaha meyakinkan Nadia meluluskan apa yang diinginkannya.


Nadia yang berada dalam kondisi setengah sadar pun hanya bisa pasrah menerima perlakuan Bima. Akhirnya malam itu juga Bima berhasil membawa Nadia serasa terbang ke langit ke tujuh. Memberikan sentuhan kenik matan yang baru pertama kali dirasakan oleh Nadia. Hingga Nadia berkali-kali mendesah, melenguh, mengerang dan menge jang berkali-kali karena beberapa kali merasakan pelepasan.


***


Nadia mengerjapkan matanya saat terasa sinar mata hari menembus jendela kamar resort yang dia tempati. Dia merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit. Kepalanya pun terasa sangat pening karena terlalu banyak minum. Nadia terkesiap saat terdengar suara dengkuran halus dari arah tubuhnya berbaring. Nadia menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang mendengkur tadi. Matanya langsung membulat sempurna dengan mulut terbuka lebar saat dia melihat wajah Bima yang sedang tertidur dengan jarak yang sangat dekat dengan wajahnya. Seketika itu juga Nadia langsung bangkit dari tidurnya. Tapi dia langsung terperanjat saat mendapati tubuh polosnya yang hanya terbungkus selimut dengah beberapa tanda merah di bagian dua aset berharga di daerah dadanya. Nadia langsung menyibak bagian bawah tubuhnya karena dia merasakan sakit di bagian intinya. Seketika Nadia berteriak saat dia melihat noda darah di sprei warna putih yang terlihat kusut karena pergu mulan semalam.


" Aakkkhhh ..." pekik Nadia seraya menutupi lagi tubuhnya dengan selimut.


Teriakan Nadia tentu saja membuat Bima terbangun


" Kenapa, Nad? Ada apa?" tanya Bima tanpa dosa.


" Kak Bima jahat! Kenapa Kak Bima tega lakukan ini padaku?! Hiks ... hiks ..." Nadia menangis sambil memukuli tubuh Bima.


" Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku, Nad." Bima menyahuti dengan tenang.


" Hiks ... kenapa Kakak tega lakukan ini padaku, Kak?" Nadia mengulang lagi pertanyaannya.


" Karena aku menginginkannya. Karena aku menginginkan kamu sejak lama, Nad. Tapi kamu lebih memilih Dirga. Karena itulah aku memilih pergi menjauh ke luar negeri, karena aku tak ingin melihat kemesraan kamu dengan Dirga. Dan saat aku kembali ke tanah air, saat aku tahu jika hubungan kalian merenggang. Aku rasa aku punya kesempatan untuk mendekatimu. Dan kesempatan ini datang kemarin. Hanya cara ini yang bisa membuatmu terikat denganku. Hanya cara ini yang membuat kamu tak akan pernah bisa menolakku, Nadia."


Nadia semakin berurai air mata mendengar ucapan-ucapan Bima. Dia merasakan jika dia telah hancur, dia telah kotor. Kesucian yang dia jaga hanya untuk pria yang dicintainya, kini telah hilang yang mirisnya telah terenggut oleh kakak dari pria yang dia cintai itu. Seketika dia merasa bersalah karena telah mengkhianati Dirga yang sebenarnya tak pernah lagi memikirkan tentang dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2