
Kirania mengerjapkan matanya saat dia merasakan suatu yang hangat menempel di pipinya. Dia melebarkan pandangannya saat mendapati wajah Dirga berada tepat di hadapannya dengan tangan membelai wajah Kirania.
" Kak Dirga?" Kirania langsung bangkit dan mendudukkan tubuhnya. " Jam berapa sekarang, Kak?"
" Jam lima." Dirga kemudian duduk di tepi tempat tidur Kirania.
" Aku mau shubuh dulu, Kak." Kirania mengikat rambutnya lalu beranjak dari peraduan.
" Ya sudah, setelah itu aku tunggu di bawah. Aku ingin mengajakmu ke pantai."
" Ke pantai?"
" Iya, menikmati sunrise di pantai, mau ikut?"
Kirania dengan cepat menganggukkan kepala.
" Ya sudah buruan sana sholat,
aku tunggu di bawah."
"Kak Dirga nggak sholat?"
" Aku sudah duluan tadi."
" Oh ya sudah ..." Kirania kemudian masuk ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian Kirania dan Dirga sudah berjalan menuju arah pantai dengan jari tangan saling bertautan seakan tak rela untuk saling melepaskan. Mereka ingin merasakan indahnya suasana menanti terbitnya sang surya yang akan mengawali pagi ini bersama orang yang terkasih.
" Kamu suka pantai?" tanya Dirga saat mereka berdua duduk di tepi pantai dengan lengan yang melingkar di pundak Kirania.
" Iya, berada di tepi pantai seperti ini kadang membuat hati terasa tenang." Kirania menjawab."
" Aku juga suka apapun yang membuat hatiku tenang dan nyaman. Seperti kamu, karena itu aku suka kamu. Karena bersamamu bisa membuat hatiku tentram dan nyaman."
Wajah Kirania langsung merona saat mendengar ucapan pujian Dirga untuknya. Dia sampai melempar pandangan ke arah lain agar Dirga tak mengetahui perubahan warna wajahnya.
" Kak, kita ini ada di daerah mana?" tanya Kirania kemudian.
Dirga mengeryitkan keningnya, " Kamu nggak tahu ini di mana?" tanyanya heran.
Kirania menggelengkan kepala. " Nggak ada yang mau kasih tahu aku, termasuk Bu Mus. Tanya tempat ini di mana saja mereka nggak memberitahu apalagi kasih aku kesempatan buat keluar begini bermain di pantai," keluh Kirania.
Dirga terkekeh mendengar keluhan Kirania.
" Kita di mana ini, Kak?" tanya Kirania kembali.
" Kita ada di pantai selatan ...."
" Pantai selatan? Kenapa aku bisa dibawa sejauh ini?"
Dirga mengedikkan bahunya. " Mungkin pikir Ricky tempat ini paling aman."
__ADS_1
" Oh ya, apa Pak Ricky sudah bisa dihubungi lagi, Kak?" tanya Kirania saat nama Ricky disebut Dirga.
" Kamu nggak akan percaya siapa yang orang yang berperan dalam penculikanmu itu."
Kirania menautkan kedua alisnya.
" Siapa?"
" Edo."
" Pak Edward?" Kirania membulatkan matanya.
" Dia memang nggak terlibat secara langsung cuma dia yang menceritakan keadaanku yang kacau karena pertunanganmu pada Ricky."
Kirania langsung menundukkan kepala karena merasa bersalah dengan keputusan meninggalkan Dirga.
" Maaf ..." lirihnya kemudian.
" Kau tahu, ada satu orang lagi yang terlibat dan aku yakin kau akan terkejut mendengar siapa orang itu."
Kirania yang tadi tertunduk langsung mendongakkan kepalanya.
" Siapa?"
" Adikmu ...."
" Karina??"
" Tapi kenapa dia sampai terlibat, Kak? Karina nggak mengenal Pak Edward atau juga Pak Ricky, kan?"
" Menurut Ricky, orang suruhannya itu yang menghubungi adikmu dan membujuk dia agar mau bekerjasama."
" Ya ampun, Karina." Kirania masih sulit percaya dengan ulah adiknya itu. Namun tiba-tiba dia teringat akan mimpinya dulu. Di mana Karina mengatakan jika adiknya itu menyukai Gilang. Apakah kesediaan adiknya membantu penculikan dirinya itu juga karena ada perasaan suka Karina terhadap Gilang?
Mengingat mimpi itu seketika dia pun teringat akan duel Dirga dan Gilang yang mengakibatkan penusukan terhadap pria yang dicintainya itu oleh tunangannya, seketika itu juga kegelisahan langsung merayapi hatinya.
" Kamu kenapa, Ran?" tanya Dirga saat mendapati wajah Kirania yang dilanda kegusaran.
" Kak, aku takut .."
" Takut apa? Ada aku di sini, kau tak usah merasa takut."
" Aku takut Kak Gilang nggak bisa menerima keputusanku ini. Dia pasti akan marah sekali karena waktu itu akulah yang meminta pertunangan itu dilaksanakan dengan cepat." Kirania menggigit bibirnya.
" Makanya kamu itu kalau ingin mengambil keputusan mesti dipikir matang-matang, kalau sudah begini kamu yang repot. Lagipula ingin menghindariku kenapa harus meminta dia menikahi kamu, sih? Memangnya kamu yakin mau menikahi orang yang tidak kamu cintai?" Punggung jari Dirga menelurusi bagian wajah Kirania yang saat ini tengah menatapnya. Hingga kini jari Dirga meraba bibir ranum Kirania, membuat wanita itu memejamkan matanya karena dia tahu apa yang akan dilakukan Dirga selanjutnya.
" Kenapa tutup mata? Ngarep aku cium ya?" Cubitan di hidung Kirania dibarengi suara tawa meledek Dirga langsung membuat Kirania terkesiap. Saat itu juga semburat warna merah langsung nampak di wajah cantiknya, dan karena rasa malu Kirania langsung menjauhkan tubuhnya dari Dirga seraya mengerucutkan bibirnya karena merasa dikerjai oleh Dirga.
Dirga sendiri langsung bangkit dan mengibas tangan ke bagian belakang tubuhnya yang banyak tertempel pasir. " Balik ke villa, yuk. Kita sarapan." Dirga mengulurkan tangannya ke arah Kirania, namun uluran tangan Dirga tak tanggapi oleh Kirania.
Kirania memilih berdiri sendiri tanpa menerima uluran tangan Dirga, dan dengan cepat dia berlari ke arah villa meninggalkan Dirga. Tingkah Kirania yang merajuk tentu saja membuat Dirga mengulum senyuman sembari menggelengkan kepala. Tak lama dia pun berjalan menyusul Kirania ke arah villa.
__ADS_1
***
Dirga menahan tangan Kirania yang hendak beranjak meninggalkannya selepas mereka menyantap sarapan pagi setelah mereka membersihkan diri sepulang dari pantai tadi. Sepanjang sarapan pun tak ada percakapan antara mereka, karena Dirga tahu jika Kirania selalu membiasakan diri untuk tidak berbicara saat berada di meja makan. Tapi saat Kirania hendak pergi dari ruang makan, Dirga merasa jika wanita yang dicintainya itu pasti sedang merajuk karena keisengannya tadi.
" Kenapa marah gini, sih? Gara-gara nggak aku cium ya?" Dirga pun kini ikut bangkit dan mendekat ke arah Kirania.
" Kalau minta cium bilang saja, dong. Jangan ngambek seperti ini," goda Dirga menyeringai.
" Siapa juga yang minta cium? Pede banget," sangkal Kirania membuang muka.
Dirga terkekeh. " Aku itu bukannya nggak ingin cium kamu tadi, tapi aku takut nggak bisa menahan diri. Aku takut nggak kuat iman dan langsung mengajakmu bercinta di pantai tadi. Memangnya kamu mau kita jadi tontonan masyarakat sekitar sini?" Dirga kembali menggoda Kirania dengan memainkan alisnya.
Sementara Kirania langsung melotot ke arah Dirga mendengar ucapan Dirga yang menurutnya sangat memalukan.
" Siang ini kita kembali ke Jakarta," ujar Dirga.
" Ke Jakarta? U-untuk apa aku ke Jakarta? Aku mau pulang ke rumah mamaku," protes Kirania.
" Kamu harus ke Jakarta, karena kamu harus memutuskan pertunanganmu dengan pria itu, dan mengembalikan ini ke dia." Dirga langsung menyodorkan cincin tunangan Kirania.
Kirania terkesiap melihat cincin yang disodorkan Dirga.
" C-cincinnya sudah ketemu? Kapan Kamu mencarinya? Kok bisa cepat banget ketemunya?" Kirania merasa bukanlah hal yang mudah mencari cincin di pasir pantai, apalagi cincin itu dilempar dari jarak yang jauh
Dirga menyeringai menanggapi pertanyaan Kirania.
" Cincin ini nggak aku cari, karena cincin ini nggak pernah aku buang."
Kirania langsung memicingkan matanya menatap Dirga dengan curiga.
" Kamu ngerjain aku ya, Kak?!"
Dirga tertawa mendengar tuduhan yang memang benar dia lakukan.
" Kamu jahat banget sih, Kak! Menyebalkan!!"
Kirania langsung berlari menaiki anak tangga dengan kesal menuju kamarnya dan kembali meninggalkan Dirga yang juga kembali hanya melebarkan senyumannya.
*
*
*
Bersambung ...
Di sini ada yang belum menyentuh novel MSI? Aku saranin berkunjunglah ke sana, kisahnya udah pasti uwu banget loh.
Aku juga rencananya mau lanjut kisah MSI, menceritakan keseruan kisah Mama Tata & Papa Yoga mengurus anak-anaknya.
Ditunggu kunjungannya di sana ya Readers tersayang, makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️