RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Tak Akan Mengacuhkanmu Lagi


__ADS_3

Satu minggu setelah kepulangannya dari Jakarta, Karina mulai sibuk mencari pekerjaan. Dia sudah memasukkan beberapa surat lamaran ke beberapa perusahaan dan lamaran pekerjaannya itu direspon oleh salah satu bank swasta juga perusahaan leasing.


Karina menepikan motornya saat dia mendengar notif pesan masuk di ponselnya. Dia langsung membuka ponselnya itu, karena dia memang sedang menunggu jawaban dari perusahaan leasing yang menjanjikan akan memberikan kabar hari ini.


" Kak Gilang?" Mata Karina berbinar, sepertinya pesan dari Gilang lebih berharga dari tanggapan pihak perusahaan leasing atas surat lamaran pekerjaan yang dia tunggu.


Karina dengan cepat membuka pesan dari Gilang itu.


" Assalamualaikum, Rin. Siang ini sibuk tidak? Saya mau ajak kamu keluar makan siang."


Seraya mengembangkan senyuman Karina membalas pesan dari pria yang dia sukai itu


" Waalaikumsalam, Kak. Aku sudah nggak di Jakarta, Kak. Sudah dapat satu Minggu ini aku ada di Cirebon."


Tak lebih dari satu menit pesan Karina terkirim kini Gilang sudah melakukan panggilan telepon.


" Hallo, Kak ..." Karina menyapa Gilang terlebih dahulu.


" Kamu sedang di mana?" tanya Gilang menyahuti sapaan Karina.


" Aku baru saja dari pasar bantu Mama sebentar, Kak." Karina membalas.


" Kamu pulang ke Cirebon? Sementara atau ...."


" Aku resign dari tempat Kak Dirga." Karina memotong ucapan Gilang.


" Kenapa? Bukankah berkarir di perusahaan besar seperti Angkasa Raya itu didambakan banyak orang?" tanya Gilang.


" Aku nggak bebas di sana, Kak. Harus menuruti apa yang Kak Dirga perintahkan." Karina beralasan.


" Apa karena ajakan saya kemarin itu?" Gilang menebak jika ajakannya beberapa hari lalu yang mengajak Karina adalah salah satu penyebab Karina keluar dari pekerjaannya.


" Salah satunya," ungkap Karina jujur.


" Saya minta maaf kalau ajakan saya kemarin sudah bikin kamu bermasalah dengan kakak ipar kamu." Gilang merasa sangat menyesali.


" Kak Gilang nggak perlu minta maaf, itu bukan salah Kakak, kok. Aku rasa Kak Dirga sudah keterlaluan melarang aku dekat dengan Kak Gilang."


" Aku rasa Kakak iparmu punya alasan kenapa melarangmu dekat sama saya."


" Sudahlah, Kak. Jangan ngomong tentang Kak Dirga." Karina masih merasa kesal dengan sikap kakak iparnya itu.


" Lalu aktivitas kamu sekarang apa? Cari kerja lagi?"


" Iya, Kak. Ada bank swasta dan perusahan leasing yang merespon lamaran aku di sini," ujar Karina.


" Syukurlah kalau mereka merespon dengan baik."


" Iya, Kak."


" Ya sudah kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya. Lain waktu saya hubungi kamu lagi."


" Oke, Kak."

__ADS_1


" Jaga. kesehatan kamu, jangan keluyuran kalau malam."


Karina terkekeh mendengar nasehat Gilang. Dia merasa senang karena merasa Gilang begitu perhatian.


" Siap, Kak."


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam."


Karina mengakhiri penggilan teleponnya dengan senyum lebar di bibirnya. Mendapat perhatian dari seorang Gilang ibarat mendapatkan lotre yang membuat hatinya girang bukan kepalang.


***


Baru saja Karina selesai mandi saat tiba-tiba bel berbunyi. Karina terburu-buru mengenakan daster mamanya yang telihat ditumpukan setrikaan paling atas yang baru saja dia setrika sejak lepas Shubuh, kemudian bergegas menuju ruang tengah untuk melihat siapa yang datang berkunjung pagi-pagi begini.


Karina menatap layar monitor yang tersambung dengan kamera cctv. Dan matanya membulat sempurna saat mengetahui jika Gilang lah yang pagi ini sudah berdiri di depan gerbang rumahnya.


" Oh my God, Kak Gilang?" Karina langsung berlari ke ruang tamu. Dia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya di pintu lalu berteriak


" Kak, tunggu sebentar, ya!"


Karina kembali masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Gilang. Karina segera mengganti bajunya, dia menyisir rambutnya lalu mengikat menjadi buntut kuda dan menyapu bibirnya dengan sedikit lipbalm. Tak lupa dia menyeprotkan parfum di leher dan juga bagian dalam siku dan pergelengan tangan. Setelah Karina merasa cukup oke dia lantas beranjak keluar rumah.


" Sorry lama, Kak. Tadi baru selesai mandi," ujar Karina sembari membuka pintu gerbang rumahnya. " Kakak ada di sini? Kapan datang?" lanjutnya.


" Semalam."


" Masuk, Kak." Karina mempersilahkan Gilang untuk masuk ke dalam rumah mamanya.


" Kak Gilang mau aku buatkan kopi?" Karina menawarkan.


" Boleh, kopi hitam saja," sahut Gilang.


" Siap, Kak. Tunggu sebentar, ya!" Karina pun bergegas ke dapur dan membuatkan kopi juga roti panggang untuk Gilang.


" Ini, Kak. Dimakan dulu rotinya mumpung masih hangat. Kakak belum sarapan, kan?" Setelah beberapa menit berlalu Karina kemudian muncul kembali di hadapan Gilang dengan secangkir kopi dan dua tangkap roti panggang.


" Iya, makanya saya ke sini cari makanan." Gilang berkelakar dengan diakhiri kekehan di akhir kalimatnya.


Karina mengerjap mendengar tawa kecil dan candaan yang dilemparkan Gilang. Sudah lama dia tidak pernah melihat hal itu dari Gilang. Dan kali ini dia dapatkan kembali dari pria yang dia sukai dan itu membuat hatinya sejuk.


" Kamu kenapa melamun?" Suara Gilang kembali menyadarkan Karina yang sempat tertegun beberapa saat.


" Ah, nggak apa-apa, Kak. Aku hanya senang bisa melihat Kak Gilang bercanda lagi seperti dulu," tutur Karina sejujurnya.


" Aku tahu, apa yang sudah dilakukan Mbak Rania membuat sikap Kak Gilang berubah dingin selama ini terhadap aku." Karina berkata lirih.


" Tidak usah bicara soal itu, ya!" pinta Gilang.


" Maaf, Kak." Karina langsung menundukkan wajahnya.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu nggak salah apa-apa."

__ADS_1


Perkataan Gilang membuat Karina mengangkat kembali wajahnya dan kini pandangannya berpusat pada wajah tampan Gilang.


" Saya yang semestinya minta maaf karena memperlakukan kamu sangat buruk setelah pertunangan saya dan kakak kamu batal. Saya minta maaf terutama pada sikap saya atas kejadian saat itu. Saat saya hampir saja berbuat yang tidak seharusnya saya lakukan. Saya minta maaf untuk itu, Rin."


Serbuan hawa panas yang menyerang daerah sekitar matanya membuat bola mata Karina seketika berembun hingga akhirnya cairan bening itu menetes di pipi Karina.


" Saya minta maaf membuat kamu sedih." Gilang lalu berjalan menghampiri dan duduk di sebelah Karina lalu menyeka air mata Karina dengan ibu jarinya.


" Apa yang saya lakukan itu pasti sangat menyakiti hati kamu, ya?" tanya Gilang.


Karina menggelengkan kepalanya. " Aku, aku hanya merasa benar-benar nggak punya harga diri saat itu, Kak. Aku malu." Karina justru terisak dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.


" Saya minta maaf, seharusnya saya tidak berbuat kurang ajar seperti itu terhadap kamu. Rasa sakit hati saya saat itu benar-benar ingin saya lampiaskan saat itu terhadap kamu. Saya sempat berniat ingin membalas dengan menghancurkan kamu malam itu. Tapi untung saya masih bisa mengendalikan akal sehat dan menghancurkan niat jahat yang muncul saat itu." Gilang menyadari kesalahannya.


" Kamu pasti benci sekali terhadap saya," lanjutnya.


Karina menggelengkan kepalanya cepat.


" Aku nggak pernah membenci Kakak karena aku tahu Kak Gilang itu baik. Buat aku selamanya Kak Gilang itu orang baik. Dan itu terbukti saat akhirnya Kakak menolong aku dari orang yang berniat jahat ke aku beberapa Minggu lalu."


" Lain kali jika melepas penat jangan pergi ke tempat hiburan malam, itu tidak baik untuk anak gadis seperti kamu." Gilang mengelus pucuk kepala Karina.


" Itu semua karena Kakak!" Karina langsung mencebikkan bibirnya.


" Saya?" Gilang menunjuk dirinya sendiri.


" Iya, karena aku cemburu Kakak jalan dengan wanita lain tapi Kak Gilang mengacuhkan aku." Karina merajuk.


" Wanita lain?"


" Iya yang ketemu di restoran itu."


Gilang terkekeh, " Kan saya sudah bilang dia hanya teman lama."


" Waktu itu mana aku tahu dia teman lama atau pacar Kaka." Karina memberengut seraya melipat tangan di depan dadanya.


" Iya, deh. Saya janji tak akan mengacuhkan kamu lagi."


Karina kembali mengerjap mendengar perkataan Gilang.


" Serius, Kak?"


" Iya."


" Makasih, Kak." Karina secara refleks memeluk Gilang beberapa saat untuk melampiaskan rasa bahagianya. " Eh, maaf, Kak." Karina langsung mengurai pelukannya namun tangan Gilang lebih dulu menyentuh dan menarik tengkuk Karina hingga membuat wajah Karina dekat dengan wajahnya. Sejenak mereka berdua saling pandang begitu lekat. Saling mengagumi kesempurnaan wajah di depan mereka masing-masing sampai akhirnya detak jantung mereka tak beraturan saat akhirnya Gilang menempelkan bibirnya ke bibir Karina memberikan kecupan lembut kepada wanita itu yang dengan cepat dibalas oleh Karina dengan tindakan tangan sama.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2