
Kirania menatap Dirga yang sedari sore tadi lebih banyak berdiam diri. Bahkan saat menunggu isya tadi yang biasanya dihabiskan untuk mengobrol, dihabiskan Dirga dengan bermain catur bersama Pakde Danang.
" Kamu kenapa, sih, Kak? Dari tadi cemberut saja." Kirania sebenarnya menebak jika perubahan sikap Kirania itu. pasti ada hubungannya dengan kehadiran Reyhan tadi. Tapi Kirania tidak mengerti kenapa Dirga mesti marah? Bukankah kehadiran Reyhan itu bukan karena sengaja mengunjunginya? Lagipula Reyhan itu adalah dosen mereka, kenapa harus cemburu kepadanya?
" Kita pulang saja deh, Kak." Kirania kembali berucap saat dilihatnya Dirga tak merespon perkataannya.
Dirga kini menoleh ke arah Kirania. " Kenapa? Sudah nggak mood jalan sama aku, karena sudah puas bersama Pak Reyhan tadi?" sindirnya bernada ketus.
" Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, deh."
" Gimana nggak berpikiran aneh. Kamu tahu nggak, kalau Pak Reyhan itu seorang duda? Sekarang anaknya malah dekat sama kamu. Kamu dengar sendiri 'kan waktu anaknya tadi bilang kenapa kamu perginya nggak sama mereka. Jangan-jangan nanti anak Pak Reyhan itu minta kamu menikah dengan papanya lagi." Dirga mengungkapkan semua kegundahannya.
Kirania pun terdiam. Dia mencoba memahami apa yang diresahkan oleh Dirga. Sikap Reyna yang terlihat begitu akrab dengannya padahal baru dua kali bertemu. Sedangkan menurut Reyhan, Reyna ini anak yang susah menerima kehadiran orang asing. Tapi tentang ketakutan Dirga yang menganggap jika Reyna kemungkinan menginginkan dirinya menjadi mama tiri gadis kecil itu, rasanya terlalu berlebihan. Memangnya dia itu siapa? Sampai diinginkan Reyna untuk menikah dengan papanya.
" Ya sudah, sebaiknya kita pulang saja. Percuma kita pergi keluar, kalau kamu kesal kaya gini." ketus Kirania kini ikut merasa kesal.
" Kamu nggak senang pergi sama aku?!" Dengan sedikit menaikkan intonasinya Dirga bertanya.
" Yang nggak senang itu siapa? Kamu yang berpikiran macam-macam, Sekarang malah tuduh aku yang tidak-tidak! Percuma kita jalan kalau kamu marah-marah seperti ini." Kirania pun ikut menaikkan intonasi nada bicaranya.
" Yang marah itu siapa?"
" Kalau nggak marah lantas apa? Kamu yang dari tadi diam saja."
Hening, seketika itu tak ada lagi perdebatan di antara mereka. Mereka sama-sama terdiam dengan isi pikirannya masing-masing. Dirga sendiri tetap melajukan mobilnya tak berputar arah kembali ke rumah Pakde Danang.
***
Dirga memarkirkan mobilnya memasuki restoran ayam bakar favoritnya. Tempat pertama kali dia membawa Kirania makan di luar, saat pertama kali dia mengantar Kirania pulang.
" Kita makan dulu." Dirga mematikan mesin mobil kemudian keluar dari mobilnya. Kirania sendiri masih terdiam duduk di kursi di samping kemudi. Tiba-tiba pintu mobil dibuka oleh Dirga.
" Ayo turun ..."
" Aku nggak lapar. Lebih baik kita pulang saja," ucap Kirania pelan.
Dirga membungkukkan sedikit tubuhnya. " Aku minta maaf, kalau aku terlihat marah tadi. Aku hanya merasa nggak nyaman melihat kedekatan kamu sama anak Pak Reyhan tadi. Aku minta maaf." Dirga membelai pucuk kepala Kirania dan memberikan kecupan di sana. Menandakan jika dia merasa menyesal telah berkata kasar yang membuat Kirania kecewa. Air mata yang sedari tadi ditahan Kirania akhirnya menetes di pipi mulusnya.
" Hei, jangan menangis. Aku 'kan sudah minta maaf. Maafkan aku jika aku menyakiti kamu dengan sikap dan perkataan aku tadi." Dirga meregkuh tubuh Kirania, dan itu membuat Kirania semakin tersedu.
" Sudah jangan menangis. Kita sudah mau makan. Nggak malu dilihat orang matanya sembab?" Dirga mengurai pelukannya. Jarinya mencoba mengusap air mata yang masih menetes di pipi Kirania. " Kalau kamu nggak berhenti menangis juga, aku cium kamu sekarang, nih." Dirga memberikan ancaman membuat Kirania memberikan pukulan ke lengan kekasihnya itu.
Selesai makan Dirga membawa Kirania ke tempat karaoke. Awalnya Kirania menolak, tapi Dirga meyakinkan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akhirnya Kirania pun setuju Dirga ajak ke sana.
" Kita benaran aman 'kan, Kak?" Walaupun setuju tapi tetap ada rasa was-was di hati Kirania. Karena dia baru masuk ke tempat hiburan seperti ini. Dan bayangan dia tempat hiburan ini sudah dipenuhi hal-hal negatif.
__ADS_1
" Aman, kok. Nggak semua tempat hiburan begini seperti yang ada di pikiranmu." Dirga terkekeh. Dia sepertinya mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Kirania.
Dan akhirnya kini mereka berada di sebuah room karaoke.
" Kamu lihat tadi karyawan di sini? Pakaiannya sopan-sopan, kan? Ini Family Karaoke. Di sini mengusung konsep tempat hiburan untuk keluarga. No alcohol juga, jadi aman." Dirga mencoba menjelaskan.
" Kamu biasa ke sini? Sepertinya hapal banget tempat ini."
" Tahulah, ini 'kan punya Tanteku."
" Serius?"
" Iya, Tanteku yang jadi dokter itu, lho."
Mengingat tentang tante Dirga yang seorang dokter, Kirania teringat kejadian memalukan saat Dirga menggendongnya dan memperkenalkan dirinya kepada tante pria itu.
" Tante kamu ada di sini nggak, Kak?" tanya Kirania penasaran.
" Kenapa? Ingin ketemu?"
" Aku justru ingin sembunyi kalau ketemu tante kamu itu."
Dirga mengeryitkan keningnya. " Kenapa?"
Kirania mendelik ke arah Dirga. " Pakai tanya kenapa? Ini semua gara-gara kamu!" Kirania mencebik.
" Iya, kalau bukan karena sikap kamu yang memalukan itu, nggak mungkin aku jadi malu begini," gerutu Kirania.
" Ya sudah, tenang saja. Tanteku nggak mungkin beredar malam-malam di sini. Malam Minggu begini biasanya dia kumpul sama keluarganya," ucap Dirga menenangkan.
" Kamu mau lagu apa? Pop? Dangdut? Rock? Indo? Manca?"
" Terserah kamu yang mau nyanyi. Aku cuma mendengar saja."
" Nggak asyik kalau kamu nggak nyanyi. Aku ingin dengar kamu nyanyi."
" Aku nggak bisa nyanyi, Kak."
" Nggak bisa nyanyi, bisanya apa? Nangis?" kelakar Dirga, membuat dirinya langsung kena serangan pukulan dari Kirania. Dirga kemudian memilih lagu yang akan dinyanyikan olehnya. Tak lama intro lagu Scorpion langsung terdengar di dalam room yang tidak terlalu luas itu.
Time, it needs time ...
To win back your love again ...
I will be there, I will be there ...
__ADS_1
Love, only love ...
Can bring back your love someday ...
I will be there, I will be there ...
Kirania memandang wajah Dirga yang terlihat menghayati lagu yang dinyanyikannya. Dirga yang diperhatikan langsung menoleh ke arahnya.
Fight, babe, I'll fight ...
To win back your love again ...
I will be there, I will be there ...
Love, only love ...
Can bring down the wall someday ...
I will be there, I will be there ...
Dirga meraih jemari tangan Kirania dan mengecupnya. Dia melewatkan bait-bait selanjutnya mengaktifkan vokal lagu itu kini suara Klaus Meine lah yang terdengar.
Dirga kini membelai penuh kelembutan wajah Kirania yang tak berhenti memandangnya.
" Apa aku boleh mencium kamu?"
Kirania langsung memicingkan matanya mendengar permintaan Dirga.
" Sekali ini saja. Aku janji nggak akan meminta lagi jika bukan kamu yang menginginkannya."
Dirga perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Kirania, membuat Kirania membelalakkan matanya. Dia tak sempat bisa menolak saat tiba-tiba bibir Dirga langsung mengecup bibir manis Kirania. Mengecap dan melu mat bibir Kirania yang kini seolah membeku karena ciuman pertamanya itu.
If we go again all the way from the start ...
I would try to change ...
The things that killed our love ...
Your pride has built a wall ...
So strong that I can't get through ...
Is there really no chance to start once again?
I'm loving you ...
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️