RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Benar Kau Tidak Merindukanku?


__ADS_3

Dirga dengan sedikit berlari memasuki bangunan Villa dekat dengan pantai itu.


" Ricky!! Di mana kau!!" teriak Dirga saat sampai di teras Villa.


" Tuan Dirga?" Wanita paruh baya menyambut kedatangan Dirga.


" Mana Ricky?" tanya Dirga masih dengan nada tinggi.


" Den Ricky sudah pergi tadi pagi, Tuan," jawab Ibu itu.


" Di mana Rania?"


" Rania? Neng Kiran?"


" Iya."


" Ada di kamar atas, Tuan." Wanita paruh baya itu menyahuti.


Dengan gerak cepat Dirga berlari menaiki anak tangga. Sesampainya di depan kamar yang ditunjukkan Bu Mus, wanita yang sudah lama merawat Villa pribadi milik Ricky, asisten dari Dirga itu, Dirga langsung membuka knop pintu yang tak terkunci. Dia mengedar pandangan tapi tak dijumpainya siapa pun di kamar itu. Pandangannya kini berpusat pada pintu balkon yang terbuka hingga membuat gorden pintu itu melambai-lambai tertiup angin dari arah laut.


Dirga bergegas melangkah menuju arah balkon, hingga suara hentakan sepatu pantofelnya cukup terdengar keras. Namun langkahnya langsung terhenti di pintu balkon saat dia mendapati sosok wanita yang berdiri membelakanginya di tepi balkon. Wanita itu terlihat termenung, hingga tak perdulikan rambut panjangnya yang terurai menari-nari diterpa angin sore ini. Seketika dadanya bergemuruh, rasa rindu yang menyeruak di hatinya seakan tak tertahankan, hingga akhirnya dia mendekati wanita itu secara perlahan. Wanita yang selama enam tahun ini benar-benar mengobrak-abrik hati dan pikirannya.


Saat langkahnya terhenti dibelakang wanita yang merupakan pujaan hatinya itu, Dirga langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Kirania dan menopang dagunya di pundak Kirania hingga membuat wanita itu tersentak kaget, menggeliat dan menoleh ke arahnya sembari berucap, " Tu-Tuan, apa yang Anda lakukan? Lepaskan!"


Dirga sendiri tidak melihat bagaimana ekspresi wajah wanita yang dicintainya itu selanjutnya seperti apa. Karena rasa rindu yang teramat sangat membuatnya lebih memilih memejamkan matanya menikmati pelukannya pada tubuh wanita yang membuat dia melewati beberapa hari ini dengan tak tenang. Bahkan kata, " Ka-kamu ..." dari bibir Kirania pun tak membuat dia merubah posisinya.

__ADS_1


Beberapa saat mereka hanya terdiam, pelukan itu seolah-olah mewakili perasaan mereka yang paling dalam. Berdiri berpelukan di tepi balkon, diterpa angin semilir, dengan suara deburan ombak, benar-benar membuat suasana senja kali ini terasa syahdu untuk mereka berdua.


Tapi tak lama Kirania langsung tersadar. " Lepaskan!!" Kirania kembali berontak dalam dekapan Dirga. " Kenapa Bapak bisa ada di sini?" Kirania masih menggunakan kalimat yang formal saat berbicara dengan Dirga. Dirga pun kemudian merenggangkan pelukannya hingga kini Kirania dapat memutar tubuhnya dan berhadapan dengan pria yang sungguh sangat dirindukannya itu.


Dengan wajah kesal Kirania langsung berkata, " Apa Bapak dalang penculikan saya? Kenapa Bapak tega melakukan hal ini terhadap saya?!" tuding Kirania yang langsung berpikir jika Dirga lah orang yang menyuruh pria penculik itu membawanya ke tempat ini.


" Kau salah, aku tidak tahu tentang rencana penculikan kamu." Dirga menyangkal karena memang tidak tahu menahu soal penculikan Kirania, walaupun ternyata yang membawa Kirania kemari adalah asistennya sendiri.


" Bohong! Tidak mungkin Bapak ada di sini jika bukan karena Bapaklah yang merencanakan ini!" geram Kirania.


" Demi Allah bukan aku yang merencanakan ini, Rania. Ini semua ulah Ricky, villa ini milik Ricky. Kau ingat 'kan Ricky, asistenku yang aku tugaskan ke Kalimantan. Aku pun tidak tahu pasti kenapa bisa Ricky yang merencanakan hal ini. Aku masih belum bisa menghubunginya." Dirga mencoba menjelaskan.


Kirania sendiri menatap Dirga dengan penuh kebingungan. Apakah benar yang dikatakan Dirga? Ricky adalah asisten Dirga, mana mungkin sampai Dirga tidak tahu apa yang dikerjakan oleh asistennya itu.


" Percayalah, Ran. Aku benar-benar tidak terlibat. Aku justru sampai menyuruh orang untuk menyelidiki keberadaanmu. Aku tahu keberadaanmu sekarang ini dari video yang dikirim dari ponselmu ke Mama Saras. Mama Saras yang memberikan info ini ke orang suruhanku. Dari sanalah akhirnya bisa terlacak keberadaanmu saat ini." Dirga mengengam lengan Kirania.


" Aku benar-benar merindukanmu, Ran. Sangat merindukanmu ..." Dirga mencium pucuk kepala Kirania.


Apa yang dilakukan Dirga kepada dirinya membuat Kirania membeku. Dadanya bergejolak, degup jantungnya berdetak tak karuan. Bagaimana bisa dia menyangkal kalau saat ini dia pun sebenarnya merindukan pria yang kini sedang memeluknya dengan erat. Bagaimana dia bisa berdusta jika bertemu dengan Dirga saat ini sesungguhnya membuat hatinya bahagia. Namun seketika akal sehatnya kembali bekerja. Dia menyadari apa yang dia lakukan dengan Dirga adalah suatu hal salah.


" Lepaskan saya, Pak." Kirania kembali berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tubuh Dirga.


" Kenapa? Bukankah kamu juga sangat merindukanku?" goda Dirga dengan senyum di sudut bibirnya.


" Siapa juga yang merindukan Bapak?!" Kirania menyangkal sembari melempar pandangan ke arah samping, membuat senyuman Dirga semakin melebar.

__ADS_1


Tangan Dirga terulur menarik lembut wajah Kirania, hingga saat ini wajahnya dan wajah Kirania saling berhadapan. Dan kini tangannya sibuk merapihkan rambut Kirania yang tak bisa diam terus melambai tertiup angin. Dengan sangat telaten dia menyatukan rambut panjang Kirania kemudian dia mengikat dengan sapu tangan yang ada di saku celananya.


Kali ini punggung jari Dirga membelai wajah Kirania, membuat Kirania sampai harus menelan salivanya.


" Benar kau tidak merindukanku?" ucapnya dengan ibu jari yang kini mengusap bibir ranum Kirania, sampai wanita itu tak sadar membuka sedikit bibirnya. Tentu saja hal itu tak disia-siakan oleh Dirga. Dengan gerakan perlahan dia mendekatkan dan menautkan bibirnya dan bibir warna peach milik Kirania.


Kirania langsung membulatkan matanya saat bibir Dirga menyentuh bibirnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Sedetik kemudian matanya terpejam dengan tangan meremas blouse panjang sebawah lutut yang dipakainya. Dia seakan tak sanggup menolak serangan Dirga itu.


Melihat tak ada penolakan dari Kirania, Dirga semakin memperdalam ciumannya. Ini bukanlah ciuman pertamanya dengan Kirania, tapi entah mengapa sentuhan yang dia rasakan pada bibir wanita di hadapannya terasa berbeda. Seperti ada candu yang membuatnya ingin terus melu mat dan mengecap bibir semanis madu milik Kirania. Dirga terus dominan melancarkan aksinya, memberikan sentuhan-sentuhan bibirnya hingga mampu menggoyahkan pertahanan Kirania yang awalnya hanya diam menikmati, kini wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu pun mulai merespon apa yang dilakukan Dirga kepadanya. Hingga kini suara decapan kedua bibir yang saling bertautan itu menyatu dengan suara deburan ombak. Dan langit berwarna oranye sore ini seakan menjadi saksi akan begitu besar dan dalamnya perasaan dua insan yang memang saling merindukan, menahan rasa yang selama enam tahun berlalu dengan percuma.


*


*


*


Bersambung ...


Bubar, bubar, bubar ...!! Mau Maghrib awas kena sawan (sambil lempar air seember) πŸ˜‚πŸ˜‚


Cieee, cieee ... yang seneng liat Abang sama Neng Rania ketemu cieee ... ati2 tuh diprank Ama Othor lohπŸ˜‚


Nah kan ketahuan, ternyata Ricky Sang Asisten pelakunya 😁😁 selama ini namanya selalu disebut tp ga pernah dimunculkan.


Lalu bagaimana Ricky bisa beraksi menculik Kirania? Besoklah jawabannya, hari ini cukup 2 bab aja ya 😁😁

__ADS_1


Happy Reading❀️


__ADS_2