RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Pantas Diperjuangkan


__ADS_3

Setelah hampir seharian menghabiskan waktu di kamar hotel dengan berbincang, bersantai dan memadu kasih, sore harinya mereka sengaja berkunjung ke rumah Mama Saras. Dan ternyata suasana di rumah Mama Saras masih ramai, masih ada tetangga yang berkunjung ke sana.


" Assalamualaikum ..." sapa Kirania saat memasuki ruangan tamu.


" Waalaikumsalam ..." balas Mama Saras dan beberapa tamu bersamaan.


" Duuhh pengantin baru, auranya kelihatan cerah sekali, ya," celetuk Bu RT saat Kirania dan Dirga menyalami Mama Saras membuat wajah Kirania merona.


" Selamat ya, Rania. Beruntung banget kamu, dapat suaminya. Sudah ganteng kaya raya pula. Kasih tahu Ibu caranya gimana biar anak Ibu bisa dapat jodoh boss besar seperti suami kamu ini, Rania," salah satu tetangga yang lain berkomentar.


" Caranya harus bisa bersikap seperti Rania dan keluarganya. Bersikap sederhana dan tidak silau dengan harta." Dirga yang menjawab pertanyaan ibu itu dengan lugas.


" Hmmm, kami permisi ke dalam ya, ibu-ibu." Kirania langsung menarik tangan Dirga menjauh dari ibu-ibu tadi.


" Kenapa ditarik-tarik gini sih, Yank? Sudah nggak sabar ya?" goda Dirga menanggapi tindakan istrinya itu.


" Aku cuma nggak mau kamu terlalu meladeni ibu tadi." Kirania menyangkal.


" Oh, kirain kamu sudah nggak sabar mau ngajakin ehem-ehem," ledek Dirga membuat Kirania bersemu.


" Apaan sih, Mas." Kirania langsung meninggalkan Dirga menuju dapur membuat Dirga terkekeh mengikuti langkah sang istri.


" Assalamualaikum, Bude," sapa Kirania kepada Bude Arum yang sedang berbincang dengan Karina di meja makan.


" Waalaikumsalam, eh kamu, Ran." Bude Arum menjawab seraya menerima uluran tangan Kirania yang menyalaminya.


" Cieeee ... pengantin baru. Gimana rasanya, Mbak? Enak nggak?" Karina menggoda kakaknya.


" Makanya kamu buruan nikah juga biar tahu rasanya gimana," sahut Kirania.


" Sabarlah, Mbak. Nanti juga coming soon hahaha ..." seloroh Karina.


" Carilah pria yang baik untuk dijadikan suamimu kelak." Dirga yang juga muncul mengacak rambut Karina.


" Iya, Kak. Insya Allah dia pria baik, kok." Karina menyahuti.


" Ngomong-ngomong siapa sih calon kamu, Rin? Apa Mbak kenal orangnya?" Kirania penasaran.


" Mbak kenal, kok." Karina menyahuti.


" Siapa?"


" Nanti Mbak juga akan tahu, sekarang masih rahasia, dong." Karina tergelak seraya meninggalkan mereka membuat Kirania mencebikkan bibirnya.


" Oh ya, Ran ... besok pagi Bude mau pulang, ya." Bude Arum yang sejak tadi menjadi pendengar percakapan kakak beradik itu akhirnya kembali berbicara.


" Buru-buru amat, Bude." Dirga cepat menyahuti.


" Iya, Bude. Kenapa nggak lebih lama lagi tinggal di sini?" tanya Kirania.

__ADS_1


" Sebenarnya Bude ingin lebih lama tapi Bude mesti menjaga anaknya keponakan Bude, Ran."


" Ya sudah, nggak apa-apa, Bude," sahut Kirania. " Mas, mau bikin kopi?" Kirania menawari Dirga.


" Boleh, Yank." Dirga menyahuti.


" Bude turut bahagia atas pernikahan kalian," ujar Bude Arum pada Dirga.


" Terima kasih, Bude," sahut Dirga.


" Seandainya Pakde Rania masih ada, pasti turut merasa bahagia kalian akhirnya menikah seperti sekarang ini."


" Iya, Bude."


" Kamu sudah menunjukkan keseriusan kamu terhadap Rania. Kesungguhan kamu, kegigihan kamu."


" Rania pantas untuk saya perjuangkan, Bude. Karena saya memang benar-benar mencintainya." Dirga tersenyum menatap istrinya yang sedang membuatkan kopi untuknya.


" Kenapa senyum-senyum gitu, Mas?" tanya Kirania menyodorkan secangkir kopi saat melihat Dirga yang tersenyum melihatnya.


" Aku tersenyum karena melihat istriku ini cantik sekali," ucapan Dirga kembali membuat Kirania merona.


***


" Kita malam ini tidur di sini saja ya, Mas." ujar Kirania saat mereka berdua sampai di kamar Kirania.


" Iya, kenapa memangnya?" Kirania mengeryitkan keningnya.


" Nggak takut rintihan kamu terdengar oleh mama, bude atau Karina? Karena kita akan melakukan hubungan intim suami istri lagi. Dan aku akan membuat kamu menjerit seperti semalam." Dirga mencium ceruk leher Kirania membuat Kirania memejamkan mata seraya menelan salivanya apalagi saat tangan nakal Dirga mulai meremas kedua aset kembar Kirania.


" Mas ..." lirih Kirania yang seketika membuat darahnya berdesir.


" Kenapa, Sayang?" bisik lembut di telinga Kirania.


" Ini belum jelang Maghrib, jangan sekarang," ucapan Kirania membuat Dirga terkekeh.


" Nggak apa-apa, cuma remas-remas doang." Dirga menggigit lembut cuping telinga Kirania.


" Mas ...."


" Hmmm ..." Dirga terus memberikan sentuhan bibirnya di leher Kirania.


" Kita balik ke hotel saja deh."


Dirga terkekeh mendengar ucapan Kirania. " Belum Maghrib lho, Yank. Kamu nggak sabaran banget sepertinya ingin mengulang seperti yang semalam rupanya." Wajah Kirania kembali merona mendengar godaan dari Dirga.


" Bu-bukan itu maksudku, Mas." Kirania dibuat salah tingkah membuat Dirga tergelak.


" A-aku mau siapin makan dulu ya, Mas?" Kirania hendak berlalu tapi Dirga melarangnya.

__ADS_1


" Nggak usah kamu yang siapin, ada mama ada bude juga."


" Nggak enak, Mas. Masa yang tua mesti meladeni yang muda."


" Mereka mengerti kok, Sayang. Kita ini 'kan pengantin baru."


" Tapi, Mas ... aakkhhh ..." Kirania tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat tangan Dirga mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala bridal style dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, tak lama Dirga menin*dih tubuh istrinya itu.


" Kita pemanasan dulu ya? Masih jam lima, masih ada waktu buat kita bercinta sebelum Maghrib."


" Tapi, Mas ... hhmmpptt ..." Dirga langsung menyergap bibir Kirania tak memberi kesempatan istrinya itu melanjutkan kalimatnya.


Sementara tangannya perlahan mulai melucuti kancing baju Kirania.


Kirania harus menahan nafasnya saat suaminya itu berhasil melepas pengait dan meloloskan bra yang dikenakannya. Apalagi saat kedua asetnya itu dijelajahi oleh bibir Dirga hingga darahnya berdesir karena sentuhan memabukkan yang diberikan sang suami.


Setelah beberapa saat pemanasan yang dilakukan Dirga membuat di bagian inti Kirania lembab akhirnya Dirga melakukan penyatuan miliknya ke inti sang istri. Dan sekitar setengah jam berlalu Dirga segera mengakhiri penyatuannya saat mereka berdua merasakan pelepasan. Dirga sengaja mempercepat aksinya karena waktu hampir menjelang Maghrib.


" Nanti di hotel kita ulangi lagi yang lebih lama biar mendesahnya lebih maksimal ya, Yank," ucap Dirga seraya mengedipkan matanya saat Kirania bergegas ke arah kamar mandi di kamarnya membuat Kirania mencebikkan bibirnya.


***


" Ran, maskawinnya apa nggak riskan di taruh di rumah? Mama takut mengundang orang yang gelap mata." Mama Saras menyampaikan kekhawatirannya selepas mereka menyelesaikan makan malam.


" Gimana, Mas?" Kirania meminta saran suaminya.


" Kamu simpan di bank saja, sewa safe deposit box. Besok kita ke bank sebelum pulang ke Jakarta. Atau kau ingin taruh di bank di Jakarta?"


" Di sini saja deh, Mas."


" Ya sudah, besok kita ke bank, di taruh di bank lebih aman jadi nggak perlu khawatir."


" Syukurlah kalau bisa dititip di bank. Mama takut soalnya ada barang berharga nilainya besar seperti itu. Apalagi kalau siang Mama di pasar, di rumah nggak orang." Mama Saras bernafas lega.


" Ma, apa sebaiknya Mama istirahat di rumah saja? Toko serahkan sama orang yang Mama percaya untuk urus." Dirga menarankan.


" Mama sudah terbiasa dengan kegiatan di pasar, di rumah saja nggak ada kegiatan pasti akan terasa membosankan." Mama Saras beralasan.


" Kamu malu ya, punya mertua dagang di pasar?" tuding Kirania.


" Astaga, Yank. Kenapa aku mesti malu? Aku cuma kasihan sama Mama, biar Mama istirahat nggak capek urus toko." sanggah Dirga.


" Mama nggak apa-apa, kok. Dirga. Kamu nggak perlu khawatir." Mama Saras mencoba meyakinkan Dirga.


***


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2