
Hai Kalian yang mencariku😁, Bang Dirga lagi pulkam dulu ya😂
Kirania memandangi kumpulan awan putih yang terlukis indah di langit biru yang membentang seakan menyatu dengan lautan lepas di hadapannya. Tiap Minggu pagi seperti ini kondisi pantai selalu banyak didatangi pengunjung. Pengunjung yang ingin berenang, yang ingin bermain-main air dan pasir, juga beberapa orang yang ingin terapi penyembuhan. Karena mitos yang sangat terkenal di pantai itu, berendam dengan air dan lumpur di pantai ini dapat menyembuhkan penyakit.
" Zidan, aku cinta kamu ...!!"
Kirania menoleh seraya mengeryitkan kening ke arah adiknya yang sedang berteriak-teriak mengatakan ungkapan cinta kepada kekasihnya itu.
" Kirania, Dirgantara cinta kamu !"
Sekelebat bayangan Dirgantara saat meneriakkan kalimat itu muncul di benaknya membuat hatinya terasa tergigit.
" Ya Allah, kapan siksaan ini akan berhenti?" keluh Kirania dalam hati. Apakah kali ini dia mendapatkan karma karena dulu telah mencampakkan pria yang sungguh mencintainya itu. Mengingat hal itu membuat air mata mulai mengembun di bola matanya.
" Kirania?"
Kirania terkesiap saat seseorang memanggil namanya. Dia segera menoleh ke arah suara tadi berasal.
" Tante Dini?"
" Kamu di sini juga? Sama siapa?" tanya Tante Dini kemudian.
" Sama mama, Tan." Kirania menunjuk mamanya yang sedang duduk dengan kaki tertimbun pasir pantai. " Sama Karina juga." Tangannya kemudian menunjuk adiknya yang sedang melakukan panggilan video dengan kekasihnya dengan menunjukkan kondisi pantai pagi ini yang terlihat ramai. "
" Oh ada Saras juga ..." Tante Dini menyahuti.
" Tante sendiri dengan siapa kemari?" tanya Kirania berbasa-basi.
" Tuh, sama Gilang." Tante Dini yang merupakan orang tua dari Gilang menunjuk ke arah Gilang yang sedang menggendong anak kecil di atas pundaknya. " Lang, ini ada Rania ...!" teriak Tante Dini kepada Gilang.
" Rania, kamu ada di sini?" tanya Gilang berjalan mendekat.
" Iya, Kak." Kirania menyahuti.
" Ini anaknya Mbak Wulan ya, Tante?" tanya Kirania.
" Iya, Ran. Cucu pertama Tante," jawab Tante Dini. Wulan adalah kakak sulung Gilang. " Tante ke mama kamu dulu ya, Ran." Tante Dini segera berpamitan sengaja meninggalkan Kirania dan Gilang.
" Apa kabar, Ran?" tanya Gilang menurunkan anak kecil yang digendongnya.
" Alhamdulillah baik, Kak. Adik cantik siapa namanya?" Kirania membungkukkan badannya, mencubit lembut pipi gembil gadis kecil itu.
" Tasya, Ateu cantik," jawaban Gilang langsung menyemburkan rona merah muda di pipi Kirania.
" Dendong ... dendong." Gadis kecil bernama Tasya itu merentangkan tangannya ke arah Kirania.
__ADS_1
Kirania membulatkan matanya melihat gadis berumur sekitar dua tahun itu meminta menggendongnya.
" Tasya mau minta digendong sama Tante?" Kirania langsung menggendong Tasya.
"Wah, anaknya lucu sekali. Cantik seperti mamanya." Tiba-tiba seorang wanita hamil mendekat ke arah Kirania yang menggendong Tasya.
" Mamanya cantik, papanya ganteng, pantas anaknya cantik lucu begini," ucap wanita hamil tadi.
Kirania dan Gilang saling berpandangan. Senyuman langsung mengembang di bibir Gilang, sementara Kirania hanya menghela nafas panjang.
" Saya juga sedang hamil, katanya anak perempuan. Semoga wajahnya cantik seperti Mbak ini." Wanita itu menunjuk ke arah Kirania.
" Aamiin, Mbak. Saya doakan semoga anak Mbak secantik dia." Gilang menyahuti melirik ke arah Kirania.
" Makasih, Mas. Semoga langgeng ya Mbak sama Mas nya," ucap wanita itu lagi.
" Aamiin, Mbak." Gilang kembali terkekeh, sebelum wanita itu pergi melangkah meninggalkan Kirania dan Gilang.
Satu jam kemudian saat Kirania, Karina dan mamanya kembali ke rumah ....
" Ran, tadi mamanya Gilang ngobrol sama mama. Dia tanya kalau kamu sudah ada calon belum," ucapan Mama Saras membuat Kirania menghentikan langkahnya.
" Lalu Mama bilang apa?"
" Mama bilang, kamu nggak pernah cerita apa-apa. Mama Gilang ingin kamu menjadi menantunya. Mama rasa Gilang itu anak yang baik. Dia sudah lama suka sama kamu. Kenapa kamu nggak mencoba menjalani hubungan yang lebih serius dengan Gilang, Ran?"
" Mama hanya berharap, kamu bisa berubah pikiran, dan memikirkan untuk segera berumah tangga." Mama Saras berujar sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarnya.
***
Kirania membaca surat yang disodorkan Pa Harun kepadanya.
" Selamat ya, Ran. Akhirnya kamu bisa masuk ke kantor pusat." Pak Harun memberikan selamat.
" Ini kesempatan buat kamu mengembangkan karir kamu, Ran. Siapa tahu nanti bisa duduk di posisi seperti saya sekarang ini." Bu Rose berseloroh seraya terkekeh.
" Saya nggak berharap sejauh itu, Bu." Kirania berusaha merendah.
" Tapi kesempatan itu bukan tidak mungkin kamu raih, Ran. Mungkin beberapa tahun ke depan kamu bisa mencapai posisi yang lebih layak dari yang kamu dapat sekarang ini. Karena saya lihat kinerja kamu sangat bagus. Cara kamu menghandle anak buah kamu juga sangat baik. Kamu sangat akrab dengan mereka tapi mereka tetap menghormati kamu sebagai atasan mereka," sambung Bu Rose.
" Itu karena saya banyak belajar dari Ibu." Kirania menjawab.
" Kalau begitu bukan tidak mungkin kamu bisa seperti Bu Rose, Ran." Pak Harun menimpali. " Siapa tahu berapa tahun yang akan datang, kamu yang jadi atasan saya, Ran." Pak Harun berseloroh.
" Aamiin, Pak. Tapi saya nggak berambisi ke arah sana. Saya hanya ingin bekerja sebaik mungkin," balas Kirania. " Lalu kapan saya harus mulai bekerja di sana, Pak?" tanya Kirania kemudian.
" Kemungkinan awal pekan depan," jawab Pak Harun.
__ADS_1
" Kalau begitu saya mesti mencari tempat kost di sana terlebih dahulu."
" Kalau tidak salah untuk karyawan yang naik dari kantor cabang daerah dapat fasilitas mess. Jadi kamu nggak usah khawatir untuk urusan tempat tinggal, Ran." Bu Rose menerangkan.
" Syukurlah kalau begitu." Kirania sedikit agak tenang saat mengetahui dia tak perlu mencari tempat untuk tinggal.
" Ya sudah, kamu bisa kembali ke tempat kamu, Ran," kata Bu Rose lagi.
" Baik, Bu. Terima kasih ya, Bu. Permisi ..." Kirania berpamitan dan kembali ke ruangannya.
" Kenapa, Bu? Kok lemas gitu?" tanya Widya saat melihat Kirania melangkah memasuki ruangannya dengan langkah gontai.
" Bu Rose marah, kah?" Fifi turut bertanya.
Kirania menggelengkan kepala menyahuti pertanyaan Widya dan Fifi.
" Minggu depan aku akan pindah ke Jakarta," lirih Kirania.
" Serius, Bu?"
" Memang kenapa pindah, Mbak?
" Siapa yang pindah?" Arnan yang baru datang dari luar kantor bersama Hendra ikut melontarkan pertanyaan.
" Mba Rania Minggu depan pindah ke Jakarta, Mas." Fifi yang menjawab pertanyaan Arnan.
" Beneran, Ran?" tanya Hendra, dibalas anggukan kepala Kirania.
" Kok mendadak, memang ada apa?" tanya Arnan lagi
" Aku terpilih untuk naik ke kantor pusat, Nan," sahut Kirania.
" Wuih ... keren, dong! Kesempatan bagus mengembangkan karir di sana, Ran." Hendra berkomentar.
" Yah ... kita pisah dong, Bu." Widya langsung memeluk tubuh Kirania.
" Aku juga sedih kalau Mbak Kirania pindah, kita nggak bisa bersama lagi." Fifi juga ikut memeluk.
" Aku juga ikut sedih." Arnan memeluk tubuh Hendra membuat Hendra mengedikkan bahunya.
" Ngapain lu peluk-peluk gue?"
" Gue sedih, Dra. Gue sedih karena nggak bisa ikutan meluk mereka." Arnan pura-pura merajuk membuat suasana di ruang itu seketika ramai dengan suara gelak tawa rekan Kirania karena ulah Arnan yang mencairkan suasana.
Sementara Kirania sendiri bingung harus sedih atau bahagia menerima keputusan ini. Dia senang karena kesempatan meraih yang lebih baik dari yang dia dapatkan selama ini terbuka lebar. Tapi di sisi lain dia merasa sedih, bukan karena hanya harus jauh dari keluarganya tapi juga dia harus kembali dan menetap ke kota yang telah mengukir kenangan kisah cintanya dengan Dirga.
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading❤️