
Jam sebelas malam Kirania sampai di rumahnya. Setelah Dirga berpamitan pulang, Kirania langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Kirania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah rasa apa yang paling dominan dia rasakan saat ini. Kaget, malu, takut, senang, sedih, bingung, semua campur menjadi satu. Kirania merasa ini adalah ciuman pertamanya. Dia tidak menyangka Dirga berani melakukannya. Kirania mungkin lupa jika Dirga adalah seorang penakluk wanita. Melakukan hal itu bukanlah suatu hal yang sulit untuk pria itu, tentunya. Kirania merutuki dirinya sendiri karena dia tidak mampu menolak keinginan Dirga tadi. Walau dia tidak membalas tapi dia menikmati sentuhan ciuman manis yang diberikan Dirga tadi. Apalagi saat Dirga mulai menarik tengkuknya, hingga pria itu memperdalam ciumannya. Kirania tetap bergeming, tak berniat menolaknya.
Rasanya malu sekali jika harus menegakkan kepala jika bertemu Dirga lagi. Karena tadi pun sepanjang berkaraoke, Kirania selalu menutup wajahnya dengan tangan, atau dia hanya menundukkan kepalanya menahan malu. Sudah dipastikan warna mukanya akan seperti apa saat itu.
Kirania menyentuh dadanya. Masih terasa debaran sangat kencang jantungnya. Walaupun ciuman itu sudah terlewat beberapa jam lalu. Bahkan saat ciuman berlangsung tadi, dia merasa jantungnya itu terasa akan copot dari tempatnya. Dia berharap Dirga konsisten pada janjinya untuk tidak melakukan hal tadi lagi. Karena dia pastikan, jantungnya akan bermasalah jika sering melakukan hal seperti tadi.
"""
Untung hari ini hari Minggu, jadi Kirania tak perlu bertemu Dirga dulu saat ini. Dia bahkan melarang Dirga untuk tidak berkunjung ke rumah hari ini. Walaupun sudah pasti ditentang Dirga larangan itu. Tapi bukan Dirga namanya jika tidak melanggar suatu larangan. Nyatanya pagi-pagi sekali pria itu sudah ada di teras rumah Pakde Danang.
Karena dia merasa kesal Dirga tidak mematuhi keinginannya, dia berani menemui Dirga. Mungkin kalau dia tidak sedang dalam keadaan kesal, rasanya ingin bersembunyi saja dari kekasihnya itu untuk sementara waktu.
Kirania memperhatikan pria yang saat ini menggenakan celana training dan sweater hoodie warna navy dengan sneakers warna senada.
" Kak mau apa kemari? Bukannya aku sudah larang kamu jangan kemari hari ini?" Kirania menggerutu.
" Aku mau ngajak kamu joging di GBK, yuk!" Dirga lantas berdiri. " Aku tadi sudah minta ijin pakde kamu."
" Ck, kamu ini pemaksa banget sih, jadi orang!" umpat Kirania kesal.
" Habis kamu senangnya dipaksa." Dirga terkekeh sambil mengacak rambut Kirania. " Buruan ganti baju sana," perintah Dirga tak terbantah.
Akhirnya di sinilah Kirania berada. Menemani Dirga di seputaran Senayan. Berlari kecil mencari keringat.
" Kamu hitung ya, aku sanggup berapa kali." Dirga mengambil ancang-ancang melakukan push up.
__ADS_1
" Satu, dua, tiga, empat, lima ... empat delapan, empat sembilan, lima puluh, lima ..." Berhitung Kirania terhenti saat Dirga menghentikan push up nya.
Kirania bisa melihat peluh yang mulai mengembun di wajah dan lengan Dirga. Dirga memakai kaos tanpa lengan, hingga nampaklah otot kekar di lengan kekasihnya itu. Sedangkan sweater hoodie-nya Kirania yang pegang.
" Kayanya tiap Minggu kita mesti olah raga ke sini deh, Yank." Dirga meraih air mineral dan meneguknya saat dia duduk berselonjor di tepi jalan.
" Tiap Minggu? Malam Minggu ketemu. Minggu pagi ketemu. Tiap hari dari pagi sampai sore ketemu. Kamu nggak bosen ketemu aku terus?" tanya Kirania heran.
" Kalau perlu, tiap malam aku tidur sambil peluk kamu juga aku nggak akan bosen, Yank." Dirga menyeringai, membuat Kirania melotot. " Kalau sudah halal, Yank." Dirga menambahkan kalimatnya, kemudian bangkit dari posisi duduk selonjor.
" Kita cari sarapan, yuk." Dirga melirik arlojinya yang sudah menunjukkan jam delapan pagi.
" Kamu mau makan apa, Yank?" tanya Dirga kemudian.
" Terserah kamu saja, Kak. Kamu maunya makan apa?" Kirania balik bertanya.
Kirania refleks memukul lengan Dirga dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dirga. Hembusan nafas Dirga di telinganya sukses membuat darahnya berdesir. Apalagi ditambah kalimat yang diucapkan Dirga yang berkonotasi negatif.
" Kita makan bubur ayam saja, mau?" Dirga menawarkan menu makanan yang akan mereka santap.
" Ya, sudah." Kirania menjawab.
" Sekarang sudah nggak malu lagi, Kan?" tanya Dirga saat mereka menunggu pesanan bubur ayam, yang ternyata ramai sekali pagi ini.
Kirania mengeryitkan kening. Sesaat kemudian wajahnya bersemu mengingat kejadian semalam. Tentang ciuman pertama yang dia dapat dari kekasihnya itu.
" Kak, jangan ingatkan aku tentang itu, deh." Kirania langsung menutup wajah dengan telapak tangannya, membuat Dirga terkekeh.
__ADS_1
" Nggak usah ditutupi gitu mukanya, dong." Dirga mencoba mengurai tangan Kirania yang menutupi wajah cantik wanita itu.
" Kamu salah pakai skin care, ya? Wajahnya jadi merah-merah gini warnanya." Dirga meledek membuat Kirania tertunduk dengan bibir mengerucut.
" Ini buburnya, Mas. Minumnya air mineral." Penjual bubur mengantarkan pesanan Dirga
" Terima kasih, Pak." Dirga membalas ucapan penjual bubur. " Dimakan dulu buburnya, Yank. Jangan cemberut saja. Nanti aku cium lagi juga, nih!" ancaman bernada ledekan terucap dari mulut Dirga membuat mata Kirania mendelik dan hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Dirga.
***
Dirga memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang berukuran luas. Seketika membuat hatinya sedikit terusik karena dia mengenali mobil itu milik siapa. Dengan langkah sedikit agak ragu, Dirga memasuki rumah orang tuanya.
Suara tawa yang terdengar dari ruang keluarga membuat Dirga menelan salivanya. Saat dia melihat mobil yang terparkir tadi, dia berharap itu suatu kebetulan ada tamu mamanya yang mempunyai mobil yang sama. Walaupun dengan nomer plat yang sama dengan mobil yang dia kenali, rasanya tidak mungkin itu milik orang lain.
Semakin dekat langkah Dirga semakin jelas pula suara dari orang yang dia kenal, bahkan sangat dia kenal. Apa lagi saat dia melihat sosok wanita itu kini sedang berbincang dengan mamanya yang kini duduk membelakanginya.
" Dirga ...!" seru Mama Utami, mamanya. Membuat sosok yang sedang berbicara dengan mamanya itu sontak menoleh ke arahnya.
" Boo..." Sosok itu langsung bangkit dan berhambur ke arah Dirga dan memeluk tubuh Dirga yang kini mematung. " Kamu dari mana sih, Boo? Dari tadi aku tunggu di sini, lho. Aku kangen banget sama kamu, Boo." Sosok wanita itu kini menenggelamkan wajahnya di dada Dirga yang masih bergeming.
" Nadia baru sampai kemarin dari Milan, Ga. Dia datang dari jam sembilan tadi nungguin kamu. Ponsel kamu dihubungi nggak ada respon." Mama Utami menjelaskan. " Ya sudah kalian temu kangen dulu, Mama mau suruh Bi Rumi siapkan makan siang." ucap Mama Utami meninggalkan anaknya dan wanita yang dipanggilnya dengan nama Nadia itu.
" Boo, kamu nggak kangen sama aku, ya? Kok diam saja, sih?" Wanita bernama Nadia itu mendongakkan kepala menatap wajah Dirga yang juga sedang menatapnya dengan tatapan mata yang sulit untuk dijabarkan.
Bersambung...
Happy Reading❤️
__ADS_1