RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Battle


__ADS_3

Kirania terus terisak dalam pelukan pria yang dicintainya, itulah yang ada di pikirannya. Dia bahkan mempererat pelukan serta semakin dalam menenggelamkan wajahnya pada pria di hadapannya yang dia duga adalah Dirga. Dia benar-benar tidak perdulikan apapun, dia seolah benar-benar tidak bisa lagi menahan perasaannya saat pandangan matanya mendapati sosok Dirga di hadapannya. Kirania tidak menyadari jika itu hanya halusinasinya saja.


Gilang pun yang mendapatkan pelukan tak terduga dari Kirania, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Yang pasti tentu saja rasa bahagia luar biasa, mungkin saat ini rasanya dia serasa terbang ke ke angkasa.


" Duh aduh, yang mau tunangan sudah pada nggak sabar rupanya sampai pelukan gitu. harus secepatnya dihalalkan ini, Mbak Saras." Suara Tante Dini, orang tua dari Gilang langsung menyadarkan kedua orang yang sedari tadi asyik berpelukan.


Kirania yang tadi merasakan kenyaman dalam pelukan seseorang langsung mendonggakan kepalanya, dan betapa kagetnya dia saat mendapati Gilang lah yang saat ini memeluknya.


" Kak Gilang?" Kirania langsung mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Gilang.


" Iya ini aku, kenapa, Ran?" tanya Gilang melihat Kirania yang kini nampak seperti terkejut melihatnya.


" Gilang kapan datang? Kok Mama nggak lihat kamu datang tadi?" tanya Mama Saras, yang berdiri si samping Tante Dini.


" Tadi selepas Maghrib, Ma." Gilang menyahuti. Tak beda jauh dengan Dirga, Gilang yang saat itu mendengar Dirga meminta memanggil mama pada Mama Kirania itu, dia pun mulai saat itu mengganti panggilan Tante Saras menjadi mama.


" Anakku ini sepertinya sudah nggak sabar ingin menjadikan Kirania ini sebagai istrinya lho, Mbak Saras," goda Tante Dini.


" Sepertinya memang begitu, Mbak Dini. Syukurlah keinginan Gilang sejak dulu sebentar lagi akan terwujud." Mama Saras menyahuti.


" Benar, Mbak Saras. Saya bersyukur sekali untuk itu. Akhirnya kita benar-benar bisa besanan." Tante Dini memeluk Mama Saras dengan melingkarkan lengannya ke pinggang Mama Saras.


Sementara itu Kirania yang sempat terkesiap saat menyadari dirinya salah mengira orang hanya terdiam tak konsentrasi apa yang dibicarakan mamanya dengan Tante Dini.


" Ran, kamu kenapa, Sayang? Kok wajah kamu pucat begitu?" tanya Gilang yang melihat Kirania yang hanya tercenung dengan wajah yang memucat. " Ran ...?" Gilang sampai menyentuh lengan Kirania hingga akhirnya wanita itu tersadar.


" I-i-iya, Kak."


" Kamu sakit? Ayo duduk dulu." Gilang memapah Kirania ke tempat duduk. " Kamu kenapa?" Gilang duduk berlutut di hadapan Kirania. " Kamu baik-baik saja, kan?" Gilang menyampirkan rambut Kirania ke belakang telinga."


" A-aku nggak apa-apa kok, Kak." Kirania menyingkirkan tangan Gilang dengan halus.


" Kamu yakin?" Kirania menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gilang.


" Gilang, Kirania, bagaimana kalau kita mulai saja acaranya sekarang?" Tante Dini menyarankan agar mereka memulai acara agar tidak banyak makan waktu.


" Iya, Ma. Sudah kumpul semua 'kan?" tanya Gilang.


" Sudah." Tante Dini menyahuti.


" Ran, ayo ..." Gilang mengulurkan tangannya kepada Kirania.


" Hmmm, Kak. A-aku mau cari udara segar di luar sebentar, bolehkah?" tanya Kirania mengigit bibir bawahnya.


" Kenapa, Ran? Apa kamu ragu? Bukankah tadi kamu bilang, kalau kamu juga mencintaiku." selidik Gilang yang merasa curiga akan perubahan sikap Kirania.


" A-aku butuh waktu sebentar saja kok, Kak. Aku nggak akan berubah pikiran. Aku hanya butuh udara segar sekarang."


" Ya sudah, aku temani kamu, ya?"


" Emmm, nggak usah, Kak. Biar aku sendiri saja." Kirania menolak ditemani.


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama, oke?!"


Kirania kembali menganggukkan kepala menanggapi permintaan Gilang. Dia pun kemudian berjalan ke arah luar restoran, menuju taman di belakang restoran itu.


" Hiks ... hiks ..."


Kirania mempertajam pendengarannya saat dia mendengar suara orang menangis dari arah kursi taman. Matanya membulat sempurna saat mendapati adiknya yang sedang duduk sendirian sambil terisak.


" Karina? Kamu kenapa menangis?" Kirania dengan cepat menghampiri adiknya, lalu melingkarkan lengannya di pundak adiknya.

__ADS_1


" Hiks, aku sedih, Mbak ..." Karina dengan cepat merebahkan kepalanya di bahu Kirania.


" Sedih?? Sedih kenapa?"


" Aku sedih Mbak bertunangan dengan Kak Gilang."


Kirania membulatkan matanya mendengar alasan Karina menangis. Dia langsung mengurai pelukannya.


" Kenapa?" tanya Kirania heran.


" Aku itu berharap Mbak Rania sama Kak Dirga bukan sama Kak Gilang. Kalau Mbak Rania tunangan sama Kak Gilang, pupus sudah harapan aku jadi istri Kak Gilang, hiks ...."


Kirania kembali membelalakkan matanya. " Kamu bukannya sama Zidan?" tanya Kirania karena setahunya adiknya itu sudah mempunyai kekasih.


" Aku sudah putus sama dia. Dia ngajakin nikah terus tapi aku nggak mau, karena aku mau Mbak Rania dulu yang menikah. Terus dia mutusin aku dan sekarang dia sudah tunangan sama cewek lain, hiks ..." Karina mengusap air mata di pipinya. " Lagian kenapa Mbak Rania nggak sama Kak Dirga saja, kalian itu 'kan saling cinta?"


" Dia sudah berkeluarga, Mbak 'kan sudah cerita semua sama kamu." lirih Kirania.


" Karina, Rania, kenapa kalian di sini?" Tiba-tiba terdengar suara Bude Arum dari arah belakang mereka duduk.


" Bude ..." Dua kakak beradik itu menyahuti.


" Karina, kamu masuk ke dalam dulu, ada yang mau Bude bicarakan dengan Mbakmu," pinta Bude Arum yang langsung dituruti oleh Karina.


" Kenapa, Ran? Apa kamu ragu dengan keputusanmu ini?" tanya Bude Arum selepas Karina menjauh dari mereka.


Kirania menarik nafas panjang, selanjutnya hanya bisa menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Bude Arum.


" Siapa yang meminta diadakan acara pertunangan secepat ini?" tanya Bude Arum.


" Rania, Bude ..." lirih Kirania.


" Iya, Bude ..." sahut Kirania dengan suara tercekat.


" Ya sudah, kita masuk ke dalam, yuk!" ajak Bude Arum yang diangguki oleh Kirania


***


Acara demi acara dilewati Kirania tanpa konsentrasi, kata-kata sambutan dari Om Malik, adik dari almarhum papanya, juga penyampaian maksud dan tujuan dari keluarga Gilang yang disampaikan oleh Om Burhan, papa dari Gilang pun tak didengarnya. Seketika hatinya merasakan kecemasan, entah apa yang akan terjadi, tiba-tiba perasaan tak enak menyeruak di hatinya. Dia kemudian menatap ke arah Gilang yang duduk yang berhadapan dengannya hanya berjarak sekitar tiga meter. Terlihat pria itu tak pernah berhenti menatap dan tersenyum kepadanya.


" Sekarang saatnya untuk saling bertukar cincin antara sepasang kekasih. Silahkan, Mas Gilang ... Mbak Kirania ..." suara Om Malik yang disambut riuh tepuk tangan kedua pihak keluarga seketika menyadarkan Kirania. Dia kemudian melihat kembali ke arah Gilang yang kini berdiri dan mengambil cincin yang diberikan oleh Mbak Wulan, kakak dari Gilang.


" Ran ..." Gilang mengulurkan tangannya kepada Kirania yang masih terduduk.


Kirania menatap uluran tangan Gilang kemudian menaikan pandangannya menatap wajah Gilang yang mengembangkan senyuman seraya menganggukkan kepala seolah mengarahkannya untuk menyetujui melaksanakan sesi tukar cincin sebagai pengikat hubungan mereka.


Kirania pun perlahan menerima uluran tangan Gilang dan bangkit dari duduknya. Kemudian melangkah bersama Gilang ke tengah dan kini saling berhadapan.


" Silahkan Mas Gilang, menyematkan cincin tanda ikatan kepada kekasih tercinta. Diikat jangan sampai terlepas lho, Mas Gilang." Om Malik berseloroh yang dibarengi tawa keluarga.


Gilang pun kemudian menyematkan cincin di jari manis kiri Kirania dengan mantap.


" Sekarang giliran Mbak Kirania yang menyematkan cincin ke jari Mas Gilang," ucap Om Malik.


Mbak Wulan menyodorkan cincin ke Kirania. Kirania menelan salivanya sesaat, dengan perlahan dia meraih cincin itu. Dia kembali menatap Gilang untuk beberapa saat. Sorot mata pria itu terlihat berusaha meyakinkan Kirania dengan mengedipkan kedua matanya untuk meminta Kirania segera menyematkan cincin itu di jarinya.


Setelah menarik nafas yang terasa tercekat secara perlahan Kirania memasang cincin itu di jari manis Gilang.


" Rania, jangan ...!!"


Semua orang tersentak saat suara seseorang menahan niat Kirania yang ingin memasang cincin itu.

__ADS_1


" Kak Dirga??" lirih Kirania terkesiap saat didapati Dirga ada di hadapannya.


" Alhamdulillah Kak Dirga akhirnya datang juga." celetuk Karina spontan, sehingga kini mereka yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangan dari Dirga ke Karina kecuali Kirania dan Gilang. Gilang malah kini memandang dengan tatapan tak bersahabat kepada Dirga.


" Apa yang Anda lakukan di sini?!" geram Gilang.


" Ran, aku mohon kamu hentikan semua ini. Kamu tidak mencintainya, kau hanya memcintai aku." Dirga berjalan menghampiri Kirania tapi Gilang menghalangi.


" Saya tidak mengundang Anda di acara pertunangan saya, jadi sebaiknya Anda segera pergi dari sini!" usir Gilang.


Dirga membalas tatapan penuh kebencian Gilang. " Aku tidak ada urusan dengan Anda! Aku kemari hanya ingin menjemput Rania!" tegas Dirga.


" Rania tunangan saya! Anda tidak berhak membawa dia pergi," ketus Gilang.


" Rania tidak mencintai Anda, apa Anda tidak menyadari jika petunangan ini hanya alasan Rania untuk menghindariku?!"


" Saya tak perduli!" Saya tidak perduli perasaan Rania kepada saya seperti apa, asalkan saya bisa bersama Rania, asalkan Rania menjadi istri saya!" Kedua orang pria sebaya itu terlihat saling beradu argumentasi dan saling mengintimidasi.


Dirga yang melihat Gilang begitu kuat menghalanginya langsung mendorong bahu Gilang hingga terhuyung ke belakang dan segara menarik tangan Kirania.


" Ikut aku!"


" A-aku nggak mau." Kirania berusaha menahan tubuhnya, tapi tenaga Dirga begitu kuat menarik lengannya.


" Kirania ...."


" Rania ...."


" Nak Dirga ...."


" Kak Dirga ...."


Suara beberapa anggota keluarga meneriaki Kirania yang dibawa paksa Dirga.


Gilang yang menyadari calon tunangannya dibawa paksa Dirga dengan cepat berlari dan menendang punggung Dirga dari belakang, hingga kini Dirga lah yang terhuyung. Tak cukup sampai di situ Gilang langsung meraih guci setinggi pinggang orang dewasa yang ada di dekatnya dan menghantamkan guci itu ke kepala Dirga, membuat semua yang ada di sana memekik tak terkecuali Kirania.


" Kak Gilang, Jangaaaannn !!" pekik Kirania tapi dia terlambat karena Gilang sudah lebih dulu memukul Dirga hingga Dirga sampai jatuh tersungkur terkena hantaman guci oleh Gilang.


" Astaga Gilang, apa yang kamu lakukan, Nak?" Om Burhan benar-benar terkejut dengan aksi brutal yang dilakukan putranya.


" Kak Dirga ...!" Kirania hendak mendekati Dirga tapi Gilang mencengkram lengan Kirania.


Gilang berjalan mendekati Dirga " Kau pergilah dari sini dan jangan pernah mengganggu tunangan saya!!" ancam Gilang.


Dirga yang merasa kesakitan di sekitar punggung dan kepalanya dengan kekuatan tersisa mencoba menendang kaki Gilang hingga membuat Gilang kembali terhuyung. Gilang yang sudah kehilangan kesabaran saat melihat Dirga yang mulai bangkit berdiri dengan cepat menyambar dan memecahkan gelas dari atas meja. Dengan gerakan cepat dia menghujamkan pecahan gelas kaca di tangannya sebanyak dua kali ke perut Dirga hingga membuat Dirga memekik kesakitan.


" Aawwww ...!!" pekik orang-orang yang ada di sana.


" Astaghfirullahal adzim, Gilang ...!!" pekik keluarga Gilang syok.


Sedangkan Kirania yang melihat kejadian itu seketika melemas, air mata sudah berhamburan. Sekejap kemudian dia sudah berlari mendekati Dirga tubuh pria itu ambruk dengan darah mengalir dari perutnya yang masih tertancap pecahan gelas kaca itu.


" Kak Dirgaaaaaa !!!" Kirania menangis dan berteriak histeris seraya memeluk tubuh pria yang dia cintai selama ini yang kini telah kehilangan kesadarannya.


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2