RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Sudah Cukup Dengan Mencintaiku


__ADS_3

Dirga memperhatikan wajah cantik istrinya yang nampak kelelahan. Karena semalam setelah pelepasan pertama, Dirga kembali membuat sang istri kelelahan setelah dia memacu kembali gerakan miliknya di daerah inti Kirania hingga membuat tubuh Kirania menggelinjang hebat. Dirga benar-benar tak memberi ampun sang istri sampai Kirania merengek minta berhenti.


Dirga tersenyum dengan jari tangannya yang kini memainkan anak rambut Kirania. Sungguh dia pun tidak pernah menyangka jika wanita ini lah yang akhirnya dinikahinya. Wanita yang enam tahun lalu dia dekati karena iseng dan rasa penasaran. Awal pertemuan di kantin yang mungkin tidak pernah dia duga akhirnya hatinya benar-benar terpatri pada wanita cantik yang sedang terlelap di pelukannya itu.


Jika mengingat perjalanan kisah cintanya dengan Kirania sungguh Dirga benar-benar merasa bersyukur, dia akhirnya dijodohkan dengan wanita biasa ini yang sanggup meluluh lantahkan hatinya. Perjalanan cinta yang tak mudah untuk mereka berdua. Terpisah jarak dan waktu, bahkan kabar masing-masing pun tak mereka ketahui.


Dirga sangat menyayangkan sikapnya dulu yang terlalu cepat memvonis jika Kirania mengkhianatinya saat wanita itu memintanya berpisah. Seandainya dia lebih tenang dan mau mencari tahu penyebab Kirania menginginkan pisah, mungkin mereka tidak akan tersiksa lama seperti ini. Mungkin mereka sudah sejak beberapa tahun lalu menjadi suami istri.


Dirga menyeka air mata di sudut matanya, rasanya tak terlalu berlebihan jika saat ini dia menangis karena rasa bahagia yang tak terhingga. Dirga kini menciumi seluruh bagian wajah Kirania, tanpa ada bagian yang terlewatkan sedikitpun hingga membuat sang istri menggeliat karena merasa tidurnya terusik.


Melihat gerakan yang dilakukan Kirania, Dirga kembali menggoda istrinya itu. Tangannya kini mulai bergerilya masuk ke dalam selimut, menyentuh bagian-bagian sentisif tubuh istrinya.


" Iiihh ... " Kirania menyingkirkan tangan Dirga yang kini bermain di kedua bongkahannya dengan mata masih terpejam.


Dirga terkekeh mendapati istrinya itu yang mungkin tak menyadari jika dia sedang dijahili olehnya.


" Apaan, sih ..." Kirania kembali menangkis tangan Dirga yang kini menyentuh area sensitifnya.


Dirga yang tak tahan akhirnya menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya dan langsung mengungkung tubuh Kirania, hingga akhirnya membuat Kirania mengerjapkan mata karena sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.


" Astaghfirullahal adzim, kamu siapa? Maling ... maling ... tolooonngg ... hmmpptt ..." Suara teriakan Kirania langsung terhenti saat tangan Dirga membekap mulut istrinya.


" Sssttt ... ini aku suamimu, Sayang." Dirga kemudian melepas tangannya dari mulut Kirania saat wanita itu terlihat lebih tenang.


" Kak Dirga??"


" Iya ini aku suamimu, Nyonya Dirgantara."


Wajah Kirania langsung bersemu saat mendengar Dirga mengatakan itu. Dia langsung menutup wajah dengan telapak tangannya.


" Kenapa ditutup-tutupi seperti itu sih?" tanya Dirga.


" Aku malu, Kak."


" Malu kenapa, hmm?" Dirga kembali mencium leher jenjang sang istri. " Kita ulangi lagi yang semalam, ya?"


Kirania menggelengkan kepala sementara dia mencoba menahan gelenyar yang kembali muncul setiap kali Dirga menyentuhnya.


" Kenapa nggak mau? Yang semalam kita lakukan itu 'kan enak." Dirga terkekeh.


" Masih kerasa sakit, Kak." Akhirnya Kirania membuka tangannya yang menutupi wajahnya.


" Kita lakukan lagi biar sakitnya hilang ya?" Kali ini Dirga kembali menciumi wajah dan berakhir dengan mengecap bibir manis Kirania hingga mereka pun saling bertukar saliva setelah beberapa saat pertemuan bibir mereka.


" Apa kamu bahagia menikah denganku?" tangan Dirga mengusap kepala Kirania.


" Aku bahagia, Kak."


" Mulai sekarang berhenti memanggilku dengan sebutan 'Kak', kita sudah tidak kuliah, kan?"


Kirania mengeryitkan keningnya. " Lalu aku harus panggil apa?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


" Terserah kamu mau panggil apa, sayangku, cintaku, suamiku ...."


Kirania terkekeh mendengar ucapan Dirga.


" Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


Kirania menggelengkan kepalanya sementara tangannya menangkup wajah sang suami.


" Aku mencintaimu, Mas," ucap Kirania. " Aku bahagia menjadi istrimu."


Dirga tersenyum mendengar ucapan cinta dari istrinya.


" Aku juga mencintaimu, Sayang." Sejurus kemudian Dirga kembali memimpin percintaan mereka. Setelah diawali dengan sentuhan-sentuhan hingga diakhiri oleh penyatuan yang membuat suhu di kamar hotel itu memanas karena pergu*mulan di antara sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta sampai pelepasan itu didapat oleh keduanya.


***


Kirania mengeringkan rambutnya dengan hair dryer masih dengan menggunakan bathrobe. Dari kaca cermin dia bisa melihat pantulan tubuh gagah pria yang telah menjadi suaminya keluar dari sana yang juga mengenakan bathrobe senada dengannya. Kirania tersipu malu saat pandangannya bertabrakan dengan sorot mata elang milik Dirga yang juga menatap ke arahnya.


Dirga melempar handuk kecil yang dia kenakan untuk mengeringkan rambutnya kemudian berjalan mendekat ke arah Kirania berdiri di depan cermin, lalu dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping wanita itu.


" Apa masih sakit?" Dirga menyanggah dagunya di pundak Kirania.


" Sedikit."


" Kita di sini saja, ya?"


" Kenapa, Kak?"


" Hmmm, maaf ... Mas."


" Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu di sini."


" Aku capek, Mas. Aku nggak mau lagi."


Dirga terkekeh mendengar keluhan Kirania.


" Memangnya kenapa? Kita nggak akan melakukan aktivitas seperti tadi, kok. Hanya tidur-tiduran saja, saling berpelukan, berbincang, menonton televisi."


" Membosankan."


" Berdua denganku membosankan kamu bilang?"


" Bu-bukan begitu maksudnya. Tapi apa nggak sebaiknya kita keluar atau pulang ke rumah mama."


" Kita duduk di balkon saja kalau begitu." Dirga kemudian menggandeng tangan Kirania membawa wanita itu ke arah balkon.


" Aku belum ganti baju, Mas."


" Nggak usah ganti baju, biarkan saja kita pakai bathrobe gini."


Sesampainya di balkon mereka duduk dengan saling berpelukan di ayunan rattan sintetis. Dirga melingkarkan lengannya di pundak Kirania, sedang Kirania melingkarkan tangannya di pinggang dan perut Dirga.

__ADS_1


" Kamu ingat saat kita pacaran dulu, kita duduk berdua di balkon apartemenku?"


" Iya aku ingat."


" Apa saat itu kamu berpikir kalau aku ini kelak menjadi suamimu?"


Kirania menggelengkan kepala hingga membuat Dirga menoleh ke arahnya.


" Kenapa?"


" Karena aku nggak yakin kamu benar-benar suka sama aku. Aku ragu kalau kamu mencintaiku." Kirania mendongakkan kepalanya menatap wajah Dirga." Kamu juga 'kan, Mas? Kamu juga nggak berpikir kalau kita nantinya akan menikah seperti ini."


Dirga tak menjawab, dia hanya mengedikkan bahunya.


" Awalnya mungkin aku nggak yakin, tapi semakin lama dekat sama kamu, aku semakin yakin dengan perasaan aku ke kamu. Makanya saat itu aku ingin mengajakmu bertemu dengan papa."


Kirania menundukkan kepalanya. " Aku nggak sempat bertemu dengan papamu, Mas. Maafkan aku ..." lirih Kirania.


" Sudahlah, sekarang aku paham kenapa kamu bersikap insecure seperti itu." Dirga membelai kepala dan mengecup pucuk kepala Kirania.


" Aku berharap setelah perjalanan kisah kita yang panjang dan berliku ini, kebahagian selalu menyertai kita ya, Mas?"


" Insya Allah, aku akan berusaha memberikan kebahagiaan untukmu, Sayang. Apapun yang sanggup aku lakukan, aku akan lakukan untukmu."


" Aamiin ..." Kirania menyahuti. " Mas, aku boleh tanya sesuatu?"


" Tanya apa? Katakan saja."


" Soal maskawin. Apa nggak terlalu berlebihan, Mas?"


Dirga tergelak. " Kamu tahu berapa harga jual perunit apartemen milik Angkasa Raya, kan? Harganya di atas nominal maskawin itu. Justru nilai segitu terlalu sedikit jika dibanding kebahagiaan aku bisa menikahimu." Dirga mengusap lembut wajah Kirania.


Kirania langsung terkekeh. " Aku mendadak kaya raya gara-gara maskawin itu, Mas."


" Bukan hanya maskawin, Sayang. Sejak kamu berstatus sebagai Nyonya Dirgantara, seluruh harta pribadi milikku juga akan menjadi milik kamu."


Kirania menggelengkan kepala. " Jangan, Mas. Biarkan itu menjadi milik kamu saja. Buat aku kamu sudah mencintaiku saja itu sudah lebih dari cukup. Nafkahi aku sewajarnya saja, jangan terlalu berlebihan, walaupun aku tahu mendapatkan uang dalam jumlah besar bukanlah perkara sulit untukmu. Aku ingin menjadi seperti aku apa adanya, walaupun saat ini aku menikah dengan seorang pengusaha kaya raya."


" Inilah yang membuat aku jatuh cinta padamu, Rania. Kesederhanaanmu juga sikap kamu yang tak tergoda dengan harta duniawi yang semakin lama semakin membuat hatiku takluk kepadamu." Dirga menyematkan kecupan manis di bibir Kirania mengakhiri kalimatnya.


*


*


*


Bersambung ...


Kalau kita flashback ke belakang gimana awal mereka jumpa, gmn cara gokil pdkt Dirga ke Kirania. Ditentang oleh Pakde Danang, ditolak sama Mama Dirga dan masih banyak lika-likunya. Perjalanan menuju halalnya begitu panjang. Bikin readers sesak nafas, bikin readers emosi bahkan sampai diprank berkali²🤭 Hingga mereka berdua ada di titik ini tuh rasanya terharu banget.


Oh ya ada yg penasaran kira² si Abang bisa ga mengalahkan 'liar' nya Yoga😂😂. Abang kan badboy mestinya sih bisa lebih dari Yoga ya, tapi entahlah, Othor ga dapet feel buat mengeksplore mereka. Berbeda Ama Yoga yg kebetulan dapet ceweknya Natasha yg sangat mendukung😂

__ADS_1


Bersambung❤️


__ADS_2