RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kencan Pertama


__ADS_3

Kirania segera menuju kamar dan meraih ponselnya yang dia letakan di atas nakas, kemudian langsung menghubungi nomer Dirga.


" Hallo, Sayang ... ada apa? Kangen ya baru beberapa jam berpisah?"


Kirania menjauhkan benda pipih itu sejenak, lalu kembali mendekatkan ke telinganya.


" Assalamualaikum, kamu apa-apaan, sih?" sembur Kirania saat mendengar Dirga menyahuti panggilannya.


" Waalaikumsalam, ada apa ini?"


" Maksud kamu apa kirim-kirim makanan segala?" Masih dengan deru nafas tak beraturan Kirania berbicara. Jika sedang kesal atau emosi, dia memang langsung diserang sesak nafas


" Kenapa memangnya? Aku 'kan sediain kamu menu buat buka puasa," jawab Dirga santai.


" Nggak usah kamu kirim-kirim seperti itu. Aku cuma puasa beberapa jam bukan sebulan, untuk apa kasih makanan banyak-banyak?!"


" Kan bisa untuk Pakde sama Bude kamu, Sayang. Jangan marah-marah gitu, dong. Aku ini 'kan sedang berusaha jadi pacar yang baik yang perhatian sama kamu, jadi nggak apa-apa 'kan aku kirim makanan, kalau kebanyakan bisa kamu bagi ke tetangga di sana."


Kirania mendengus kesal mendengar alasan Dirga.


" Kamu sudah mandi?"


" Sudah." Masih dengan nada ketus Kirania menjawab.


" Pantas wanginya sampai ke sini."Ā  Dirga terkikik.


Kirania memutar bola matanya. " Sudahlah, males ngomong sama kamu. Assalamu'alaikum ..." Kirania hendak menutup obrolan tapi Dirga melarangnya.


" Jangan ditutup dulu dong, aku masih kangen."


Kirania berdecak. " Aku mau buka ...."


" Mau aku bukain, nggak?"


" Jangan kurang ajar, ya!"


" Kurang ajar apanya, sih? Orang aku nawarin bukain makanannya, kok. Makanannya masih dibungkus, kan? Aku bukain, biar karet atau isi staplernya nggak masuk ke makanan. Atau biar aku sekalian suapin kamu, biar kelihatan romantis gitu."


" Dasar orang aneh," gerutu Kirania.


" Aku normal lho, nggak aneh. Kalau aku orang aneh, nggak akan mungkin suka cewek cantik kaya kamu."


" Sudahlah, Assalamu'alaikum." Kirania langsung menutup teleponnya sebelum mendapat persetujuan dari Dirga.


" Ingat, Ran. Kamu jangan sampai tergoda semoga rayuannya. Anggap saja Dirga itu syaiton yang berwujud manusia." batin Kirania.


***


Kirania melipat mukenah saat Bude Arum masuk ke kamarnya.


" Sudah selesai sholat isya-nya?" tanya Bude Arum masih berdiri di pintu.


" Sudah, Bude." Kirania lalu menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya kembali.

__ADS_1


" Ada Nak Dirga di luar, cepat kamu ganti pakaiannya," ucap Bude Arum melihat Kirania yang menggunakan piyama tidur panjang warna pastel bermotif tsum-tsum kegemarannya.


Kirania pun mengikuti arah pandang Bude Arum memperhatikan baju yang dia pakai.


" Memangnya kenapa baju aku, Bude?" tanya Kirania merasa heran, karena merasa tidak ada yang salah dengan pakaian yang dikenakannya.


" Ini 'kan malam Minggu, masa diapelin pacarnya pakai baju tidur begitu." Bude Arum tertawa geli.


Kirania langsung mendudukkan tubuhnya ke tempat tidur.


" Siapa juga yang mau malam mingguan?" ucapnya kemudian.


" Lho, itu Nak Dirga sudah datang, sudah rapih, sudah ganteng gitu, lho. Dia 'kan datang mau ngapel, jalan-jalan malam mingguan." Bude Arum berjalan menghampiri Kirania.


" Rania nggak mau pergi, Bude." Kirania merengek manja.


Bude Arum tersenyum sembari mengelus lembut kepala keponakan dari suaminya itu.


" Kamu nggak boleh seperti itu, Ran. Jangan selalu bersikap buruk pada Nak Dirga. Kalau kamu nggak mau pergi, setidaknya kamu temui dia di luar, ganti bajunya yang lebih pantas. Masa diapelin cowok ganteng pakai piyama tidur begini." Bude Arum terkekeh.


" Biarkan sajalah, biar dia nggak betah lama-lama di sini." Kirania langsung beranjak keluar dari kamarnya membuat Bude Arum menggelengkan kepalanya.


***


Dirga memandang Kirania dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebenarnya dia ingin tertawa geli demi mendapati wanita yang saat ini sedang dikencani. Demi apapun juga ini adalah hal teraneh yang dialaminya selama ini.


Bayangkan saja selama dia mengenal wanita, baru wanita satu ini yang tak pernah menyambut baik kedatangannya. Jika selama ini para wanita yang dia kencani akan berdandan dengan bedak setebal mungkin dan wangi yang sangat menyengat di penciumannya, tapi kali ini wanita yang menjadi pacarnya ini dengan santai mengenakan piyama dengan rambut dicepol, dengan wajah polos tanpa riasan make up, dengan wajah ditekuk. Beda dengan wanita lain yang langsung tersenyum lebar dan langsung bergelayut manja di lengannya. Tapi semua itu tak mengurangi wajah cantik alami wanita itu.


" Mau apa kemari?" tanya Kirania jutek.


" Ngapain ganti baju? Orang nggak mau ke mana-mana." Kirania menjawab pertanyaan Pakdenya dengan santai kemudian duduk di kursi depan Dirga.


Pakde Danang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keponakannya itu.


" Ya sudah, Pakde ke dalam dulu ya, Nak Dirga." Pakde Danang pamit meninggalkan Dirga dan Kirania berdua di ruang tamu yang berukuran kecil itu.


" Kamu nggak mau jalan keluar?" tanya Dirga setelah Pakde Danang masuk ke ruangan dalam.


Kirania mengedikkan bahunya. " Nggak."


" Kamu sudah makan? Makan di luar, yuk?"


" Masih kenyang."


" Ya sudah, temani aku makan saja kalau gitu, aku lapar banget, nih."


" Kalau lapar ngapain ke sini? Bukannya cari tempat makan." Kirania memalingkan wajahnya masih dengan wajah tak bersahabat.


Dirga tersenyum. " Kan aku mau jemput pacar aku, ingin ditemani kamu makannya."


" Aku 'kan bilang, aku nggak lapar."


" Ya sudah nggak masalah, cukup temani aku saja."

__ADS_1


" Aku malas ganti baju," Kirania bersikukuh mencari alasan agar dia tak harus keluar rumah.


" Nggak masalah kamu pakai seperti ini juga, lagipula aku nggak mau kalau kamu berhias cantik -cantik, nanti malah ada cowok lain yang naksir kamu." Dirga pun tak mau kalah.


Kirania mendengus kesal, rasanya dia frustasi jika harus berdebat dengan Dirga, mungkin dia lupa jika pria di hadapannya itu sosok penakluk wanita.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Kirania menemani Dirga makan di luar. Kirania hanya menambah sweater untuk membalut piyamanya, juga tak memoles wajahnya walaupun sekedar menggunakan bedak atau lip balm, Kirania sengaja ingin agar Dirga malu karena membawanya dengan pakaian alakadarnya dan wajah polos tanpa make up. Dia berharap agar Dirga kapok dan tak akan membawanya pergi kencan lagi lain waktu.


***


Dirga mengajak Kirania ke rumah makan seafood. Sepanjang jalan memasuki rumah makan itu, entah berapa puluh pasang mata yang menatap ke mereka berdua, khususnya kepada Kirania yang berpenampilan aneh untuk kategori kencan.


Kirania sebenarnya jengah menjadi perhatian banyak orang, tapi karena niatnya membuat malu Dirga, apapun akan dia lakukan.


Kirania memperhatikan menu yang tersaji di meja, ada ikan bakar, udang goreng tepung, sambal cumi juga cah kangkung yang dia rasa tidak akan cukup dimakan Dirga sendirian.


" Kamu ikut makan, ya." Dirga mengambilkan piring untuk Kirania.


" Aku bilang aku ...."


" Mau makan sendiri atau mau aku suapi?" Dirga memotong perkataan Kirania. Dia bahkan mengambilkan nasi untuk wanita itu, dan ini adalah pertama kalinya dia harus melayani seorang wanita seperti ini, karena biasanya dialah yang dilayani wanita-wanita pemujanya.


Akhirnya dengan rasa kesal Kirania mengambil piring yang dipegang Dirga dengan agak kasar, dia sama sekali tidak perduli Dirga akan tersinggung dengan ulahnya, bahkan mungkin itulah yang dia harapkan. Dirga menjadi tersinggung, dan menyerah mendapatkannya.


Satu jam kemudian, Dirga memarkirkan mobilnya di sebuah mall.


" Kita mau ke mana?" Kirania mengeryitkan keningnya saat mobil Dirga memasuki kawasan sebuah mall besar.


" Turun saja dulu." Dirga membuka seat belt dan hendak turun, tapi ekor matanya memperhatikan gerakan Kirania yang kesulitan membuka seat belt yang dikenakannya.


" Kenapa? Susah bukanya?" Dirga langsung mencondongkan tubuhnya hendak membantu Kirania tapi dengan cepat tangan Kirania mendorong tubuhnya.


" Jangan dekat-dekat! Kamu mau ngapain?" Kirania beringsut ketakutan.


Dirga yang melihat wajah ketakutan Kirania, langsung menggoda gadis itu.


" Menurutmu aku mau apa, hemm?" Dirga melepas jaket yang dikenakannya, membuat wajah Kirania menegang dengan mata membulat sempurna.


" Kamu jangan macam-macam, ya! Aku akan teriak kalau kamu berbuat kurang ajar!" ancam Kirania dengan suara bergetar, dia semakin terlihat ketakutan mencengkram erat tali seat belt yang membelit dadanya.


Dirga yang tak perdulikan ketakutan Kirania semakin menggeser tubuhnya mendekati Kirania. Kirania menggelengkan kepala, cairan bening mulai menganak sungai di matanya. Ada rasa geli di hati Dirga, dia tidak menyangka jika wanita yang sekarang dikencaninya ini benar-benar masih polos. Tapi jiwa usilnya tetap berlanjut, tak menghiraukan kegusaran yang dirasakan Kirania.


" Kak, aku mohon jangan ..." Tetesan air mata tanpa permisi langsung luruh di pipi mulus Kirania.


" Kamu kenapa pakai nangis segala? Orang aku cuma mau bantu buka seat belt nya, kok." Tangan Dirga kemudian melepas tali yang mengikat tubuh Kirania dari kursi. Setelah itu dipandanginya wajah lugu di depannya yang terlihat bengong menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Kalau saja wanita ini tak sepolos ini, ingin rasanya dia menyergap bibir yang dari beberapa hari lalu menggodanya untuk disentuh. " Ayo turun." Dirga menelan salivanya karena harus menahan serbuan gairah yang tiba-tiba saja menyerangnya.


"


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2