
Selepas Maghrib kemarin Dirga sampai di apartemennya. Sebenarnya Dirga ingin bersilahturahmi dengan mamanya Kirania, tapi dia terlalu malu jika Mama Saras tahu alasan dia ke sana itu karena terlalu mencemaskan Kirania yang tiba-tiba pergi. Akhirnya setelah berbincang sejenak dengan Karina, Dirga memutuskan kembali ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Dirga memutuskan kembali ke apartemennya. Dia tidak berusaha mencari di mana Kirania berada, karena dia yakin, esok hari Kirania pasti akan kembali ke kantornya.
Dirga terbangun saat jarum jam menunjukkan angka tujuh lewat tujuh menit. Sebenarnya dia merasa penat karena kebodohannya kemarin membuatnya mesti pulang pergi Jakarta-Cirebon, mengendarai mobil sendiri untuk hal yang sia-sia.
***
" Rania."
Kirania menoleh saat seseorang memanggil namanya ketika dia hendak menaiki lift.
" April? Winda?" Kirania mendapati dua rekannya saat di divisi marketing itu sedang berlari mendekatinya. Akhirnya mereka pun menggunakan lift yang sama.
" Ran, benar sekarang kamu jadi Aspri big boss?" tanya April penasaran.
" Keren, dong. Baru seminggu kerja sudah jadi aspri saja. Mestinya kamu berterima kasih dong sama aku, kalau bukan karena aku suruh kamu antar arsip ke Pak Leo, belum tentu kamu bisa ketemu Pak Dirga dan dijadikan asprinya.
" Itu namanya rejekinya Rania, dong." April memprotes.
" Tapi aku penasaran sih, kok bisa-bisanya kamu dijadikan Pak Dirga sebagai aspri. Sebelumnya 'kan belum pernah ada jabatan itu, dari jamannya Pak Poetra juga nggak pernah ada." Winda makin penasaran.
" Ya mungkin karena sekarang Pak Dirga butuh Aspri, apalagi Pak Ricky sedang di luar kota." April tetap berpikir positif.
" Aku kok curiganya Pak Dirga itu naksir kamu, Ran. Atau jangan-jangan Pak Dirga kena pelet kamu."
" Astaghfirullahal adzim."
Kirania dan April kompak beristighfar.
" Kamu jangan sembarang menuduh, Win. Fitnah itu namanya." April yang memprotes.
" Yeee, aku 'kan cuma menebak-nebak. Siapa tahu emang benar." Winda tergelak, tanpa merasa berdosa.
" Gimana kerja langsung berhadapan sama big boss, Ran? Deg-degan nggak? Soalnya beliau terkenal keras banget sifatnya." April kembali bertanya.
" Kalau aku bisa pilih, aku lebih suka ditempatkan sebagai staff di divisi marketing seperti kalian." Kirania menjawab.
" Tapi gajinya gede 'kan, Ran?" Winda terkesan ingin tahu.
" Kepo banget, sih!" April menyindir.
" Nggak apa-apa, dong. Sedikit kepo, kalau gajinya gede kalau Rania menolak, aku mau mengajukan diri jadi pengganti."
Ting
" Sudah-sudah, cepat keluar!" April menarik tangan Winda saat pintu lift terbuka di lantai enam. " Kita duluan ya, Ran," ucap April sebelum akhirnya pintu lift kembali tertutup dan membawa Kirania ke lantai delapan.
__ADS_1
***
Jam setengah sembilan Dirga sudah sampai di kantornya. Sebenarnya dia ingin istirahat satu hari lagi lagi, tapi keinginan untuk segera bertemu dengan Kirania, membuat dia memaksakan dirinya tetap berangkat ke kantor, bahkan lebih awal dari jam biasa dia berangkat.
" Selamat pagi, Pak," sapa Lisna begitu mendapati kehadiran bosnya.
" Pagi, Rania mana?" tanya Dirga to the poin menanyakan keberadaan asprinya itu.
" Ada di dalam ruangan Pak Dirga." Dengan arahan jempol tangannya Lisna menunjuk.
" Ya sudah." Dirga melangkahkan kaki ke ruang kerjanya.
Kirania langsung menoleh ke arah pintu saat pintu ruang kerja dibuka seseorang. Dia terkesiap saat terlihat Dirga yang memasuki ruangan itu dengan sorot mata menatap ke arahnya.
" Pagi, Pak." Kirania menyapa seraya bangkit dari duduk dan melirik ke arah jam dinding, dia sedikit terkejut karena Dirga sudah sampai di kantor
Dirga menaruh tasnya di meja kerja, kemudian melangkah ke arah Kirania tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Kirania yang mengetahui jika Dirga berjalan ke arahnya berusaha bersikap sewajarnya, walaupun dia sebenarnya ingin tertawa geli jika mengingat pesan yang dikirimkan Kariba kepadanya kemarin siang. Tentang kelakuan bos besarnya ini.
" Ehem ... dua malam ini kamu menginap di mana?" tanya Dirga setelah sampai di depan meja Kirania.
" Di mana pun saya menginap, saya rasa itu bukan urusan Bapak. Di luar jam kantor itu sudah wilayah privacy saya. Dan Bapak tidak perlu khawatirkan keberadaan saya. Yang penting saat waktu kerja saya sudah standby di tempat tepat waktu," tegas Kirania.
Jawaban Kirania yang lugas membuat Dirga mendengus. Bagaimana mungkin wanita itu menjawab semua itu bukan urusannya? Tidak tahukah wanita ini jika dia sudah dibuat senewen sampai harus terdampar di Kota Udang karena mengetahui Kirania kabur dari kamar apartemen? Tanpa sepatah kata pun Dirga kemudian melangkah kembali ke meja kerjanya.
" Semua dokumen yang perlu Bapak tanda tangani sudah saya tandai sticky note," ucap Kirania memberitahukan.
" Ada perwakilan dari PT. Makmur Sejahtera yang akan berkunjung kemari dijadwal jam sepuluh. Sama jam dua nanti ikut menghadiri rapat antar direksi, Pak." Kirania menyebutkan jadwal yang harus dikerjakan Dirga hari ini.
" Hmmm ..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Dirga.
Selepas itu Dirga terlihat fokus dengan kerjaannya, tak banyak yang ditanyakan dan diperintahkan kepada Kirania, begitu pun saat kedatangan tamu sampai tamu itu pulang.
" Tolong kamu serahkan kembali ini ke Lisna," perintah Dirga.
" Baik, Pak." Kirania berjalan ke arah Dirga. Namun tak lama telepon Dirga berbunyi, sedangkan pria itu belum selesai menandatangani semua berkas itu.
" Halo Kayla, ada apa, sayang?" ternyata panggilan video yang masuk ke ponsel Dirga berasal dari Kayla.
" Papa, Kela kangen ..." seru Kayla dari telepon yang terdengar jelas di telinga Kirania.
" Kayla kangen papa?" tanya Dirga.
" Iya, papa napa papa nda puyang-puyang (pulang-pulang)? Kela kangen papa ..." celoteh bocah cilik itu lagi.
Kirania bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Kayla. Dirinya saja yang sudah cukup dewasa dan mengerti masih merasa kangen berpisah selama-selamanya dengan papanya, apalagi Kayla yang masih kecil yang masih butuh kasih sayang sang papa, tapi papanya malah terkesan tak perduli karena memilih hidup terpisah dengan anak dan istrinya.
" Kalau Kayla kangen papa 'kan Kayla bisa temui papa di sini."
__ADS_1
" Kela mau ke cana (sana) boleh, Pa?"
" Tentu saja boleh. Ya sudah Kayla ke sini saja sekarang, ya. Papa tunggu di kantor." Dirga mengijinkan Kayla untuk datang ke kantornya siang ini.
" Holeh (hore) Kela mau ketemu Papa." Bocah itu bersorak kegirangan.
" Ya sudah, Papa tutup teleponnya sekarang, ya."
" Iya, Pa. Dah Papa ..." Dari layar ponselnya terlihat Kayla melambaikan tangannya.
" Mana yang mesti saya serahkan kepada Mbak Lisna, Pak?" tanya Kirania.
Dirga kemudian menuntaskan tanda tangannya. " Katakan kepada Lisna, untuk memberitahukan divisi keuangan, untuk segera melakukan pembayaran pada hutang yang sudah jatuh tempo." Dirga menyerahkan arsip yang telah dia tanda tangani kepada Kirania
***
Jam dua belas lewat lima menit Kirania ijin kepada Dirga untuk melaksanakan sholat Dzuhur di mushola terlebih dahulu.
" Kamu bisa mengunakan ruangan sebelah untuk sholat, nggak perlu ke mushola kantor." Dirga memprotes keinginan Kirania.
" Tidak usah, Pak. Terima kasih ... saya ingin seperti karyawan yang lainnya di sini." pamit Kirania cepat sembari membawa travel mukenanya.
" Baiklah, setelah selesai kembalilah segera."
' Baik, Pa. Permisi ..." pamit Kirania melangkah keluar ruangan kerja Dirga yang diikuti pandangan mata Dirga kepada wanita itu.
Seperempat jam kemudian, Kirania telah menyelesaikan sholatnya. Dia kemudian meraih ponsel di saku blazernya saat dia mendengar ada notif pesan masuk.
" Cepatlah, kita makan siang sekarang."
Sudah dipastikan siapa pengirim pesan itu adalah bosnya. Kirania hanya mendengus sebelum akhirnya dia keluar menuju kembali ke ruang kerja Dirga.
Kirania tidak mendapati Lisna di mejanya membuatnya langsung melangkahkan kaki dan membuka handle pintu ruang kerja Dirga.
" Kita bisa memulainya lagi, Mas."
Kirania mengeryitkan keningnya saat mendengar suara wanita dari dalam ruangan Dirga. Dan saat pandangannya mendapati seorang wanita sedang memegang lengan Dirga dirinya langsung terkesiap.
" Oh, maaf ..." ucap Kirania merasa tak enak telah mengganggu privacy Dirga.
Dirga pun yang mendengar suara pintu terbuka langsung melirik ke arah pintu, sontak hal serupa juga dilakukan wanita yang sedang memegang lengan Dirga tadi.
Wanita itu yang melihat keberadaan Kirania langsung terperanjat, begitu juga dengan Kirania yang kini melihat jelas wajah wanita itu, sama saja terkejutnya mendapati siapa wanita yang sedang bersama Dirga saat ini.
Bersambung ..
Sambung tomorrow ya guys😁
__ADS_1
Happy Reading❤️