
Kirania membulatkan matanya saat Dirga menyebutkan posisi yang akan dia tempati saat ini.
" Asisten pribadi? Maksud Bapak?" tanya Kirania masih dalam kebingungannya.
" Iya, kamu asisten pribadi saya sekarang." Dirga menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi.
" T-tapi saya tidak punya keahlian di bidang itu, Pak." Kirania berusaha menolak tugas barunya itu.
" Tidak perlu keahlian khusus untuk tugas kamu itu. Kamu hanya perlu ada di dekat saya, menyiapkan apa yang saya perlukan selama saya di dalam dan di luar kantor. Menemani saya saat menemui relasi bisnis, membantu saya jika ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di rumah. Pokoknya segala hal yang berhubungan dengan saya mesti bisa kamu handle. Jadi kamu mesti standby dua puluh empat jam tiap kali saya butuhkan." Dirga menjelaskan pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh Kirania.
" Dua puluh empat jam?" Kirania tercengang. " Bapak pikir saya robot harus bekerja dua puluh empat jam?" protes Kirania.
" Saya bilang standby dua puluh empat jam, bukan harus bekerja selama dua puluh empat jam. Artinya kapanpun saya butuh kamu, kamu mesti siap. Lagipula kamu pikir saya juga tidak butuh istirahat, tidur? Kalau saya tidur tidak mungkin saya memerintah kamu, kecuali ..." Seringai tipis langsung mengembang di sudut bibir Dirga. " Kamu mau menemani saya tidur."
Kirania langsung mendelik mendengar ucapan Dirga tadi, sedang Dirga hanya terkekeh, karena berhasil menggoda Kirania.
" Dan karena kamu mesti standby dekat saya. Maka saya akan mencarikan tempat tinggal kamu yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Biar tidak memakan banyak waktu saat saya butuh bantuan kamu di rumah."
Kirania menatap tajam Dirgantara yang terlihat santai. Tangannya mengepal, seandainya tidak berbuntut panjang, rasanya dia ingin sekali meninju wajah bosnya itu. Yang telah dengan seenaknya memindah tugaskan dirinya ke posisi yang sangat tidak menguntungkan dirinya. Menjadi asisten pribadi, membuatnya akan selalu berada dekat dengan Dirga, pria yang justru ingin dihindarinya. Jika dia menerima tugas ini, selamanya dia tidak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan kisah cinta masa lalunya itu. Tidak, Kirania merasa dia tidak ingin terbelenggu di tempat ini. Dia harus keluar, dia tidak akan sanggup berada dan harus berhubungan dengan mantannya yang kini sudah berkeluarga itu.
__ADS_1
" Maaf, Pak. Saya rasa ... saya tidak bisa menerima tugas baru saya." Suara Kirania terasa tercekat di tenggorokan.
" Tidak bisa menerima bagaimana maksud kamu? "Dirga kemudian mengambil posisi duduk lebih serius dengan tangan diletakkan di atas meja.
" Saya keberatan dengan tugas yang Bapak berikan terhadap saya. Jika Bapak berkenan, biarkan saya di posisikan kembali di divisi marketing atau divisi lainnya."
" Bukankah kamu pernah berkata pada Pak Bildan jika kamu bersedia ditempatkan di bagian mana saja sesuai yang ditunjuk oleh perusahaan?" Nada suara Dirga terdengar mulai sedikit ketus.
" I-iya, tapi saya ... saya tidak bisa jika harus ada di posisi yang Bapak berikan." Kirania menundukkan kepalanya. Entahlah rasanya dadanya serasa tak karuan.
" Kamu ini karyawan, jangan kebanyakan tingkah pilih-pilih kerjaan!" Ketus Dirga membuat Kirania memejamkan matanya mencoba menetralisir percikan emosinya yang mulai muncul di hatinya.
" Maaf, Pak. Saya bukannya menawar pekerjaan, tapi menjadi asisten pribadi, rasanya saya tidak akan bisa menjalani tugas itu." Kirania menggigit bibirnya. Tentu saja setiap pekerjaan bisa dijalani dengan ikhlas dan mempelajari perkerjaan itu dengan sungguh-sungguh. Tapi menjadi asisten pribadi seorang mantan, satu-satunya mantan yang pernah dia miliki, rasanya dia tak akan mampu menjalaninya.
" Kamu tidak bisa atau kamu tidak sanggup karena harus terus berdekatan dengan saya?" sindir Dirga yang bisa menebak alasan Kirania menolak.
" Kamu tahu berapa salary yang akan kamu terima? Dua kali lipat dari nominal yang tertera di kontrak ini. Bacalah berapa nominal yang ada di kontrak itu." Dirga menyodorkan salinan kontrak kerja yang tadi ditandatangani Kirania kepada wanita itu.
Perlahan Kirania mencari poin tentang gaji yang akan diterimanya. Dia langsung menelan salivanya saat mendapati angka yang berjejer di kontrak kerja itu tertulis sepuluh juta rupiah.
" Bisa kamu hitung berapa yang akan kamu terima perbulan? Dua kali lipat dari nominal itu."
Seakan sesak nafas yang Kirania dapatkan. Gila, digaji dua puluh juta perbulan? Benar-benar sangat menggiurkan. Kapan lagi dia bisa memperbanyak pundi-pundi tabungannya jika bukan sekarang ini? Tapi tidak mungkin Kirania bisa menerima ini. Sebisa mungkin dia harus menjauh dan harus meminimalisir kemungkinan selalu berhadapan dengan Dirga.
__ADS_1
" Maaf, tapi saya tetap tidak bisa, Pak." Kirania tetap bersikukuh dengan keputusannya. " Bapak bisa menempatkan saya di tempat lain, dengan gaji seperti yang dijanjikan di divisi marketing, saya bisa terima, Pak."
" Apa kamu lupa jika kamu sudah menandatangi kontrak kerja? Jika kamu menolak tugas yang saya berikan, sama saja kamu telah melakukan wanprestasi. Kamu tahu 'kan apa artinya? Kamu harus membayar denda karena kelalaian atau tidak terpenuhinya kamu menjalankan tugas yang diberikan oleh perusahaan." Ada nada ancaman dalam ucapan yang keluar dari mulut Dirga. " Kamu tahu berapa denda yang mesti kamu bayar? Bacalah ...."
Kirania mencari pasal soal wanprestasi di kontrak kerja yang dia pegang. Mata Kirania terbelalak lebar saat mengetahui kurang lebih nominal yang mesti dia bayar.
" Dua kali lipat dari nominal yang kamu terima perbulan dikalikan sisa masa kerja kamu selama kontrak itu berlangsung." Dirga menyeringai licik. " Karena kamu menolak di hari pertama kamu kerja, artinya kamu harus membayar dua puluh juta dikali tiga puluh enam bulan. Jika kamu bisa membayar denda itu sekarang, silahkan kamu mengundurkan diri, saya tidak akan menahan kamu. Tapi jika kamu tidak bisa membayarnya, nikmati saja pekerjaan kamu itu selama tiga tahun ke depan."
Dada Kirania seakan bergejolak, emosinya seketika berkobar demi mendengar penjelasan Dirga soal denda. Mana mungkin dia punya uang sebanyak itu. Darimana dia bisa mendapatkan uang itu sejumlah tadi.
" Bapak menjebak saya, kan?" geram Kirania dengan nafas turun naik dia bangkit dari duduk.
" Saya menjebak kamu? Kapan saya menjebak kamu?" Dirga pun ikut bangkit dan kini berjalan mendekati Kirania. " Kamu sendiri yang menandatangani surat kontrak itu. Kenapa kamu asal tanda tangan saja, tidak mempelajari terlebih dahulu isi kontrak kerja itu? Ceroboh sekali."
Hawa panas sudah menyerbu daerah sekitar mata Kirania, sebentar lagi gelombang air mata siap tumpah di pipinya.
" Kembali ke tempatmu itu." Dirga melirik jam di tangannya. " Tugas pertama kamu hari ini adalah, menemani saya makan siang di luar." Dirga mengacak rambut Kirania, kemudian kembali ke tempatnya untuk mematikan lap top dan membereskan beberapa dokumen yang mesti dia tanda tangani selepas makan siang nanti. Sementara lelehan air mata sudah langsung jatuh berhamburan tak terbendung di pipi mulus Kirania.
Bersambung ...
Sambung besok ya, Maaf cuma bisa up max 2 bab aja.🙏
Terima kasih buat yang udah meramaikan di komen, di GC juga di IG yang mau gabung grup silahkan masuk aja ya, yg mau gabung di ig silahkan follow rez_zha29 jangan lupa baca novel aku lainnya juga ya. soalnya tiap-tiap novel saling berkaitan🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️