RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Perasaan Yang Gamang


__ADS_3

" Kenapa kau bersembunyi dariku, Nadia?" tanya Edward penuh selidik, dengan sorot mata lekat menatap ke arah Nadia, membuat Nadia merasa jengah diperhatikan dengan tatapan seperti itu.


" Nggak usah didengar, itu cuma celotehan anak-anak." Dengan mengibas tangan ke udara Nadia berusaha menyangkal.


" Tapi Kayla tadi bilang jika Naomi yang mengatakan." Edward masih merasa penasaran, karena dia menduga memang ada sesuatu yang sengaja Nadia tutupi darinya.


" Ck, itu cuma keisengan Naomi saja. Jangan dianggap serius." Nadia menutup pintu kamar Kayla, karena sedari tadi berbincang di depan pintu kamar Kayla. " Kita bicara di sana saja." Tangan Nadia nenunjuk sofa di depan kamar Kayla yang merupakan ruang keluarga di lantai atas.


Mereka berdua berjalan menuju arah yang ditunjuk Nadia dan akhirnya duduk di sofa yang berbeda.


" Ada apa kamu kemari?" Nadia sengaja mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, karena dia tak ingin jika Edward kembali membahas masalah yang tadi dikatakan Kayla. Dia tak ingin Edward tahu jika dia memang sengaja ingin menghindar dari pria blasteran sepupu dari Dirga dan Bima itu.


" Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Karena sejak terakhir kita ketemu saat aku antar kamu pulang dari apartemen Dirga, kamu susah sekali dihubungi. Teleponku nggak kamu angkat, pesanku pun nggak kamu baca. Saat terakhir bertemu pun kamu langsung lari ke dalam rumah tanpa bicara apa-apa. Memangnya ada apa?".


Nadia menghembuskan nafas perlahan karena pertanyaannya tadi malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Edward malah semakin membahas masalah perubahan sikap dirinya itu.


" Oh, itu ... kemarin aku ke luar kota, mungkin sinyal jelek." Nadia menjawab sekenanya.


" Ke luar kota? Ke mana?" selidik Edward.


Nadia kembali berdecak. " Tidak semua yang aku lakukan perlu kamu tahu, kan?!" ketus Nadia.


Edward tersenyum tipis mendengar jawaban ketus Nadia. Wanita yang sudah dia kenal cukup lama sejak mereka berempat sama-sama satu sekolah.


" Oh ya, tadi aku ke kantor calon mantan suamimu. Kau tahu ... dia sedang patah hati. Dan sepertinya dia sudah menyerah mengejar cintanya."


Nadia langsung menoleh ke arah Edward dan mendengar serius apa yang dikatakan pria itu.


" Tapi jangan kau anggap ini kesempatan untuk berputar arah agar bisa kembali bersamanya. Dia menyerah tapi dia tidak bisa mengikhlaskan. Alhasil dia akan melampiaskan kepada siapapun yang membuatnya kesal. Dan kau ... kau bersama Tante Utami adalah orang yang punya andil besar dalam menghancurkan hubungan mereka."


Akhir kalimat yang diucapkan Edward sanggup membuat bulu kuduk Nadia merinding. Dia ingat kejadian beberapa waktu lalu saat Dirga datang dan marah seperti kesetanan terhadap dirinya. Sungguh, selama dia mengenal sosok Dirga, dia tidak pernah mendapati sosok Dirga semurka itu.


* Aku nggak menyangka seorang Dirgantara bisa luluh pada seorang wanita sederhana sampai keluarganya pun sanggup menaklukannya," lanjut Edward.

__ADS_1


Nadia memicingkan matanya mencoba mencerna maksud dari ucapan Edward.


" Dia sudah bertunangan ..." Edward menjawab tatapan mata Nadia yang seolah meminta penjelasan atas ucapannya tadi.


" Iya aku tahu ..." jawab Nadia lirih.


" Kamu sudah tahu? Kamu tahu dari mana?" Edward merasa heran jika Nadia lebih dulu mengetahui tentang apa yang dia ucapkan padahal dia sendiri tidak menyebutkan nama siapa yang bertunangan.


Nadia membulatkan matanya, karena keceplosan mengatakan tahu Kirania telah bertunangan. " Dia sendiri yang bilang kalau telah bertunangan dengan pria lain." Akhirnya Nadia berkata sejujurnya.


" Kau bicara dengan dia? Di mana? Kapan?" Edward mendesak Nadia untuk berbicara yang jujur.


Nadia mendesah seraya memejamkan matanya sesaat. " Aku menemuinya kemarin."


Kali ini Edward lah yang membulatkan matanya. " Kamu bertemu dia, di mana?"


" Aku pergi ke kota dia."


Nadia menoleh seraya menganggukkan kepalanya.


" Kenapa kamu nggak kasih tahu aku ingin pergi menemui dia? Kalau aku tahu kamu ke sana, aku 'kan bisa ikut dan culik dia sekalian." Edward terkekeh seraya berkelakar membuat Nadia mengeryitkan keningnya.


" Kamu mau culik dia? Untuk apa?"


" Untuk aku bawa kabur menenamiku di luar negeri. Daripada dia menikah dengan orang lain, mending aku jadikan dia istriku, menjadi Nyonya Edward Wiranata." Edward tergelak tak perdulikan warna muka Nadia yang langsung berubah muram saat mengetahui ternyata Edward juga meminati Kirania.


***


" Ran, Pak RT kemarin menawarkan saudaranya yang punya salon buat hajatan nanti, tapi Mama bilang mau diskusi dulu sama kamu," ujar Mama Saras saat duduk menonton sinetron televisi yang saat ini sedang booming. Sementara Kirania sendiri selesai mengecek pintu rumah dan menutup jendela karena waktu sudah menunjukkan jam delapan malam


Kirania langsung mendudukkan tubuhnya di samping mamanya. " Kak Gilang bilang nanti pakai WO saja karena acaranya juga 'kan di gedung." Kirania menjawab tak bersemangat sambil menyandarkan kepalanya di pundak kiri Mama Saras.


Tangan Mama Saras mengusap lembut kepala Kirania yang bersandar di pundaknya. Sebenarnya Mama Saras sendiri pun baru mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Kirania dan Dirga dulu saat anaknya itu kuliah di Jakarta dari Bude Arum. Karena setelah acara pertunangan selesai, Mama Saras sangat penasaran dengan keributan yang terjadi di luar. Dan akhirnya Bude Arum menjelaskan semuanya kepada adik dari almarhum suaminya itu.

__ADS_1


" Ran, apapun keputusan kamu, Mama pasti dukung asalkan itu yang terbaik untuk kamu. Dan Mama minta, kamu jaga nama baik keluarga kita. Kamu sudah memilih Gilang, Mama harap kamu harus bisa ikhlas menerima dia sebagai suamimu. Dan bisa mencintai dia sebagai imammu nantinya."


Kata-kata Mama Saras membuat hati Kirania mencelos, bahkan lelehan air mata tak tertahankan menetes di pipi wanita berwajah cantik itu.


Mama Saras yang menyadari anaknya menangis akhirnya mengangkat wajah Kirania agar kembali tegak menghadapnya.


" Mama bisa merasakan bagaimana rasanya harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai dan harus meninggalkan pria yang paling kita sayangi. Tapi kamu lihat Mama dan almarhum papamu, selama ini keluarga kita baik-baik saja, kan? Rumah tangga kami selama ini harmonis sampai akhirnya maut yang memisahkan. Dan sampai saat inipun perasaan sayang Mama terhadap almarhum papamu tak tergantikan." Mama Saras kemudian membelai wajah putrinya. " Mama yakin, kamu juga bisa melalui semua itu, asal kamu ikhlas menjalaninya."


Kirania langsung berhambur memeluk tubuh mamanya hingga membuatnya semakin terisak dalam rengkuhan wanita yang melahirkannya. Wanita yang sejak dia lahir selalu memberikannya limpahan kasih sayang. Jika mamanya bisa melewati semua itu dengan ikhlas hingga akhirnya rasa cinta itu tumbuh di antara kedua orang tuanya. Apakah dia juga bisa melewati hal yang sama. Entahlah, yang pasti hingga detik ini perasaannya masih saja gamang dengan keputusannya itu.


***


Ciiiitttt


Kirania mendadak mengerem motornya saat sebuah mobil menghadang motor yang dikendarainya.


" Astaghfirullahal adzim ..." Kirania sampai memegang dadanya karena rasa terkejut yang dia rasakan. Dia kemudian melihat dua orang keluar dari mobil itu dengan mengunakan masker dan tutup kepala serba hitam berjalan ke arahnya.


Kirania yang melihat di sekitar daerah itu sepi berniat kembali menyalakan motor maticnya dan pergi dari tempat itu. Tapi gerakan kedua orang itu lebih gesit menarik tubuhnya. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi salah satu orang yang menyerangnya itu membekap mulutnya hingga dia kesulitan untuk mengeluarkan suara. Kirania terus berontak mencoba melepaskan diri tapi tenaga orang yang membekapnya itu lebih kuat, hingga tubuhnya melemas disertai pandangannya semakin samar, dan lama-lama menjadi gelap hingga membuat tubuhnya terkulai tak berdaya.


***


*


*


*


Bersambung ...


Hayo siapa nih yang menghadang Rania? ๐Ÿค”๐Ÿค” Othor mencurigai #TimRaniaDirga garis keras yang bersarang di GC ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Happy Readingโค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2